Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setahun telah berlalu sejak malam terkutuk di depan kelab 'Vanguard', dan Cambridge telah berganti musim sebanyak empat kali. Bagi Archelo St. Clair, waktu satu tahun itu terasa seperti sebuah penebusan dosa yang sunyi. Ia telah berubah, tidak ada lagi aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya, tidak ada lagi mata merah karena kurang tidur, dan namanya kini tercatat di jajaran mahasiswa terbaik Fakultas Ekonomi. Namun, ada satu hal yang tetap tidak berubah, pintu maaf dari Florence Edison tetap tertutup rapat.
Kini, kehidupan asrama yang dulu mempertemukan mereka telah berakhir. Archelo mendengar kabar dari selentingan mahasiswa kriminologi bahwa Flo tidak lagi tinggal di asrama kampus.
Gadis itu telah pindah ke sebuah apartemen kecil di dekat Harvard Square. Archelo sendiri memilih untuk menempati apartemen pribadinya, sebuah penthouse minimalis yang tenang, menjauh dari riuh rendah kehidupan kampus yang dulu sering membuatnya ingin melarikan diri ke kegelapan.
Bertemu di koridor kampus kini terasa seperti melewati sebuah monumen kesedihan. Mereka benar-benar menjadi dua orang asing yang memiliki ingatan terlalu banyak.
Suatu pagi, Archelo sedang berdiri di depan mesin kopi di kantin fakultas saat ia melihat Flo berjalan masuk. Gadis itu tampak semakin dewasa, rambutnya sedikit lebih panjang, dan tatapan matanya tetap setajam dulu. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Flo tidak sendirian.
Seorang pria senior, mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Hukum yang dikenal cerdas dan berkharisma, berjalan di sampingnya. Pria itu merangkul bahu Flo dengan posesif, dan Flo gadis yang dulu menyebut Archelo "tikus kelab malam" tampak tersenyum kecil, sebuah senyum tulus yang tidak pernah Archelo dapatkan.
Archelo membeku, tangannya yang memegang gelas kopi sedikit gemetar. Ia segera membuang muka, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia tidak lagi mengejar Flo, tidak lagi mengirim pesan permintaan maaf, dan tidak lagi menghadang jalannya. Ia sadar, memaksa masuk kembali ke hidup Flo hanya akan menambah rasa jijik gadis itu padanya.
Malam harinya, di apartemennya yang mewah namun sepi, Archelo berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Cambridge yang berkelap-kelip. Ia teringat bagaimana hatinya berdenyut nyeri saat melihat Flo bersama pria itu tadi pagi.
"Ini hanya rasa bersalah, Chello," bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan logika yang mulai goyah. "Kau merasa sakit karena kau belum dimaafkan, bukan karena hal lain."
Archelo meyakini bahwa perasaan menyesakkan di dadanya adalah sisa-sisa trauma dari kata-kata kasarnya dulu. Ia mengira bahwa rasa ingin melindunginya, rasa ingin berada di dekatnya, dan rasa cemburu yang membakar saat melihat Flo tertawa dengan pria lain hanyalah manifestasi dari keinginannya untuk menebus kesalahan.
Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin wajah Flo memenuhi pikirannya. Ia teringat bau peppermint dari gadis itu, keberaniannya saat menggerebek markas, dan cara Flo menyebutnya Pengecut yang dulu ia benci namun sekarang ia rindukan. Pria senior itu bisa memberikan Flo keamanan dan reputasi yang baik, sesuatu yang Archelo rasa tidak akan pernah bisa ia berikan setelah skandal masa lalunya.
Archelo mulai melakukan ritual yang menyakitkan, mencintai dari jauh. Ia akan sengaja duduk di perpustakaan pada jam-jam Flo biasa belajar, hanya untuk bisa melihat puncak kepala gadis itu dari balik rak buku hukum yang tinggi. Ia tidak menyapa, tidak juga menampakkan diri. Cukup baginya melihat Flo baik-baik saja, meski itu berarti Flo sedang berbahagia dengan pria lain.
Suatu hari, hujan deras mengguyur Cambridge. Archelo melihat Flo berdiri di bawah halte bus, tampak sedang menelepon seseorang dengan wajah kesal, mungkin kekasihnya tidak bisa menjemput. Archelo sudah berada di dalam mobilnya, tangannya sudah memegang kunci untuk menyalakan mesin dan menawarkan tumpangan.
Namun, ia berhenti. Ia teringat tatapan Flo saat menyebutnya sampah. Jika ia mendekat sekarang, ia hanya akan merusak ketenangan Flo. Archelo hanya diam di dalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan, menunggu sampai bus datang dan memastikan Flo naik dengan aman. Setelah bus itu pergi, barulah Archelo melajukan mobilnya dengan hati yang terasa kosong.
Di apartemennya, Archelo membuka sebuah buku sketsa tua. Di sana, ada coretan-coretan tangan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sketsa wajah seorang gadis dengan tatapan menantang.
"Aku mencintainya," aku Archelo akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar di ruangan yang luas itu.
Pengakuan itu datang seperti hantaman ombak yang menghancurkan benteng penyangkalannya. Itu bukan sekadar rasa bersalah. Jika itu hanya rasa bersalah, ia tidak akan merasa sesak setiap kali melihat Flo tersenyum pada orang lain. Jika itu hanya rasa bersalah, ia tidak akan menghabiskan malam-malamnya dengan membayangkan bagaimana jika malam itu ia tidak mengucapkan kata-kata menjijikkan tersebut.
Ia sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada satu-satunya wanita yang benar-benar melihat siapa dirinya di balik nama St. Clair. Flo adalah orang yang menariknya dari lumpur, meski dengan cara yang kasar. Flo adalah orang yang membuatnya ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Namun, kesadaran itu datang terlambat. Archelo kini sadar bahwa mencintai Flo berarti harus membiarkan Flo pergi. Ia sadar bahwa harga dari "menghargai diri sendiri"—seperti pesan ibunya—adalah dengan menerima bahwa beberapa kesalahan tidak bisa diperbaiki, dan beberapa orang tidak ditakdirkan untuk kembali, meskipun kita sudah berubah menjadi pria yang paling sempurna sekalipun.
Archelo menutup bukunya, mematikan lampu apartemennya, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan. Ia adalah seorang St. Clair, pria yang memiliki segalanya, namun kini harus belajar hidup dengan satu hal yang tidak bisa ia miliki: maaf dan cinta dari Florence Edison.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰