Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Mengobrol santai dengan Uwo
《Tambah cantik imut manis dipandang!, cucu Uwo sudah menjadi gadis dewasa, dulu masih kecil masih bisa uwo gendong!.》 " ucap Uwo kepada inara ia tersenyum dengan bibir yang sedikit keriput.
"Hah! uwo bisa aja, aku bisa terbang karena pujian uwo." Ucap Inara malu, lalu ia melihat paman yang sedang mengcangkul tanah.
"Paman,jangan terlalu keras bekerja istirahatlah sebentar aku bawa makanan juga camilan titipan dari bunda." Ucap Inara memanggil pamannya.
"Iya, paman mencuci tangan lebih dahulu" ucap paman Inara lalu ia meninggalkan pekerjaan lebih dahulu, karena jarang ponakannya itu datang berkunjung.
Inara membawa neneknya kembali kedalam begitu pula dengan bibinya. Inara mengeluarkan beberapa kotak camilan yang telah disipakan oleh bunda Dewi.
Uwo bibi, saat mengetahui bahwa aku pergi kekota Pariaman, bunda telah menyiap makanan ini untuk uwo juga bibi dan paman." Ucap Inara lalu ia membuka salah satu kotak.
"Ini rendang, buat apa repot-repot membuat rendang segala, disana pasti susah membeli daging sapi." Ucap Uwo sambil menutup kembali tutup kotak tersebut.
"Uwo, kini khusus dibuat untuk uwo, bunda sudah memasaknya cukup empuk, supaya uwo bisa memakan, cobalah dagingnya tidak keras sama sekali."
Ucap Inara ia membuka kembali tutup itu, lalu mengambil satu potong daging memberikan kepada uwonya.
"Uwo..!!! bunda tidak berada disisimu, ia ia sangat cemas ia hanya bisa memberikan dan membuatan kamu beberapa makan yang kamu suka?, ini tanda bakti bunda uwo, jika uwo tidak menerimanya pasti bunda merasa khawatir."
Ucap inara dengan sedih, terpaksa uwo memakan potongan daging tersebut dari tangan inara, kapan lagi cucu perempuan menyuapinya pikirnya.
"Amak kau balabiahan sakali, apa nan dicamehannyo disiko ado paman dan bibimu manjago uwo,, uwo ndak surang disiko ado cucu-cucu uwo lainnyo."
《Bundamu berlebihan sekali, apa yang dia cemaskan disini ada paman dan bibimu yang menjaga, uwo tidak sendirian disini masih ada cucu-cucu uwo yang lainnya. 》"
Ucap Uwo sambil memakan daging itu.
"Sabana lunak, ampuak, ba'a caro mambuek e ko? Dewi sajak dulu mang suko mamasak, kininyo berhasil dalam bidang makanan!."
《Benar-benar lunak, empuk! Bagaimana cara membuatnya? Dewi sejak dulu memang suka memasak, sekarang dia sudah sukses dibidang kuliner!.》 "
ucap uwo inara sambil memakan daging itu, lalu ia mengingat sesuatu, dan menyitak kening Inara!.
Tak...!!!
"Aaww..!! Uuwoo mengapa menyentil jidatku, mengapa semua orang suka sekali menyentil jidatku termasuk uwo juga".
Inara sangat kenal, setiap orang menyentil jidatnya karena itu benar-benar sakit, ia sangat tidak suka rasa sakit seperti itu. Ia mengelus-ngelus jidatnya sambil cemberut.
"Uwoo kesal padamu apa maksudnya daging lunak, gigiku masih ada, uwo selalu merawat gigi." Ucap uwo dengan kesal.
"Iya, jangan marah! maksud bunda sekalian mempromosikan bahan-bahan yang dia gunakan dalam masakan ini"
"supaya uwo dan bibi bertanya-tanya bumbu apa yang digunakan bunda!." Ucap ia membuat uwonya melupakan masalah gigi.
"Oh tadi kata uwo masih ada cucu-cucu uwo yang lain, pantas saja uwo jarang menelponku, ternyata sudah ada yang menemani."
Ucap Inara pura-pura mengabaikan uwonya dan dia melanjutkan mengeluarkan beberapa kotak lagi makanan dan memberikan kepada bibinya.
"Indak begitu nak! 《Bukan begitu nak!》 " ucap uwo berusaha menghibur Inara, tetapi inara masih sibuk mengeluar barang dalam kopernya.
"Bibi ini untuk bibi dan paman, simpanlah." Ucap Inara lagi, lalu ia mengeluarkan beberapa madu.
"Uwo bunda juga menyiapkan madu lebah asli, untuk uwo dan bibi disini." Ucapnya lagi.
"Onde mande ya tuhan! Dewi-dewi ... suko bana mahabihan pitih, kalau disimpan bisa digunoan untuak uang kawin anak-anak, kini anak-anaklah gadang. ."
《Astaga, ya tuhan! Dewi-dewi... suka sekali menghabiskan uang, kalau disimpan bisa digunakan untuk mas kawin anak-anak, anak sudah besar sakarang.》
Ucap uwo sambil menepuk paha-paha karena merasa putrinya telah boros dan juga terkejut apa diberikan putri dan cucunya.
"Uwo jangan khawatir bunda sudah menabung untuk ku dan Varel, hanya saja ini memang disisihkan untuk uwo jika uwo tidak menerimanya takut nya bunda kecewa." Ucap Inara lagi memang bisa membujuk Uwonya.
"Dan satu lagi yang perlu Uwo ingat! aku masih kecil tidak perlu tergesa-gesa menyiapkan mas kawin, lagian masalah mas kawin aku sendiri yang menyiapkan nya, bunda tidak perlu menabung untuk mas kawinku."
Ucap Inara lagi, tidak terima jika menikah cepat, kalau untuk mas kawin ia memang berniat menyiapkan sendiri, dia hanya ingin menikah dengan Kenzo, tiada yang lain.
"Kamu itu ya! Sangat pandai mengeluarkan kata-kata manis, meredakan kemarahan uwo!!" Ucap Uwo sambil mengelus kepala Inara.
"Tapi kamu juga harus ingat, meski kamu sendiri yang menyiapkan mas kawinmu!, orang tua mu harus menyiapkan nya karena itu kewajibannya, jadi kamu boleh saja menyiapkannya sendiri untukmu, tapi kewajiban orang tuamu tentu tidak boleh dilupakan" Ucap Uwo lagi dengan lembut.
"Iya Uwo aku tahu, " ucap inara sambil memeluk uwonya.
Semuanya hanya tertawa melihat kedekatan nenek dan cucu itu, sudah melupakan semua kekesalan tentang bunda Dewi.
Uwo bukannya marah pada bunda Dewi memberikan sesuatu padanya tapi ia hanya khawatir pada anak perempuan itu, dia jauh dari sisinya, ia hanya ingin putrinya hidup dengan baik disana.
"Nah! Karena semuanya sudah istirahat dan juga sudah makan camilan dariku, maka kita semua lanjutan menggali tanah untuk menanam ubi jalar." Ucap Inara semangat ia berlari kehalaman belakang.
"Nara kamu duduk saja, biarkan pamanmu yang bekerja bagian yang berat dia laki-laki." Ucap Uwo memanggil inara lagi, karena ia melihat Inara mengambil cangkul.
"Tapi aku juga ingin mencobanya." Ucap Inara sambil menunjuk cangkul.
"Kalau begitu cukup menanam ubi saja." Ucap Bibi dan Uwo pun juga setuju karena itu bukan pekerjaan berat.
Jadi Inara hanya menanam ubi dan singkong kedalam tanah, bagian memangkul khusus untuk pamannya.
Tidak lama setelah itu anak-anak dari paman dan bibi pulang kerumah, saat sampai dirumah meraka tidak melihat seorang pun, lalu mendengar suara ribut dibelakang, dan juga suara tertawa.
"Seperti suara Uni Nara." Ucap Riki dia anak paman Nara yang nomor dua sekarang ia duduk dibangku SMP sudah kelas tiga tahun ini ia lebih tua satu tahun dari Varel, tetapi dia tidak setinggi Varel.
Memang Varel mengikuti gen ayahnya tinggi sedangkan inara mengikuti gen ibunya, hanya tinggi rata-rata sebagai perempuan.
"Benarkah, jadi Nara datang, mengapa dia tidak mengabariku." Ucap Riko lalu ia berlari kehalaman belakang untuk melihat Inara.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?