Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: JOKO KEMBALI
Hari ke-2.340. Pagi. Sepuluh hari setelah surat terakhir.
"Selamat pagi, Pak."
Aku membeku. Suara itu. Suara yang sudah setahun tak kudengar. Suara yang menghantui mimpiku.
Joko berdiri di depan pagar. Tersenyum. Rapi. Baju batik cokelat. Celana hitam. Sepatu pantofel mengilap. Seperti mau kondangan. Bukan seperti preman yang dulu teror kami.
Di tangannya, kue kotak. Dibungkus kertas kado warna merah. Pita emas.
"Ini, Pak. Buat keluarga. Oleh-oleh dari perantauan."
Aku tak bergerak. Masih di balik pintu. Tanganku mengepal. Siap kalau ia macam-macam.
Joko tertawa. Tawa yang dulu membuat bulu kudukku berdiri.
"Tenang, Pak. Saya nggak bawa niat buruk. Saya cuma mau silaturahmi. Sekalian... ngasih tahu."
Ia taruh kue di pagar. Dorong sedikit. Lalu berkata, "Saya buka usaha di sini. Toko bangunan. Seberang pasar. Suplai material. Besok grand opening. Bapak diundang."
Aku masih diam. Mulutku terkunci. Otakku bekerja cepat mencerna semua ini.
Joko melanjutkan, "Saya tahu Bapak nggak percaya. Tapi ini serius. Saya kapok. Saya mau jadi orang baik. Bapak lihat nanti."
Ia berbalik. Langkahnya pelan. Sebelum naik motor—motor baru, hitam, besar—ia menoleh.
"Oh iya, toko saya buka 24 jam. Kapan pun Bapak butuh sesuatu, datang aja. Harga khusus untuk tetangga."
Ia pergi. Motor itu melaju pelan. Hilang di ujung gang.
Aku masih di pintu. Membeku. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Dari dalam, suara Risma. "Pa... Pa..." panggilnya. Suaranya lembut. Seperti biasa.
Aku masuk. Gendong dia. Bawa ke jendela. Risma lihat ke luar. Ke arah Joko pergi. Matanya... matanya berubah. Bukan penasaran. Tapi takut.
Matanya membesar. Napasnya mulai cepat. Dadanya naik turun, naik turun.
"Nak, Bapak di sini. Bapak nggak akan biarkan dia dekat kamu."
Risma pegang bajuku. Erat. Sangat erat. Seperti takut dilepas. Seperti takut aku pergi kejar Joko.
Di luar, kue itu masih di pagar. Pita merahnya berkibar-kibar kena angin.
Aku turunkan Risma. Suruh Dewi jaga. Aku ke luar. Ambil kue itu. Buang ke tempat sampah.
Tak akan kuterima apa pun dari iblis itu.
---
Besoknya, undangan resmi datang.
Bukan selebaran biasa. Tapi undangan cetakan bagus. Kertas mengilap. Warna emas. Foto Joko di dalam, pakai jas, tersenyum lebar.
Nama Joko tercetak sebagai pemilik "Joko Bangunan". Alamatnya: seberang pasar, persis di tanah kosong yang dulu sering dipakai main anak-anak.
Grand opening besok. Ada doa bersama, potong tumpeng, hiburan. Semua warga diundang.
Aku sobek undangan itu. Buang ke tempat sampah.
Dewi lihat dari dapur. "Mas, jangan-jangan dia mau apa?"
Aku tenangkan dia, meski hatiku sendiri tak tenang. "Kita waspada, Ri. Jangan percaya dia. Dia Joko. Iblis itu nggak akan berubah cuma karena pakai baju bagus."
Dewi mengangguk. Tapi matanya... matanya cemas.
---
Suatu sore, seminggu setelah grand opening.
Aku di teras, lagi benerin becak. Tiba-tiba, suara motor. Pelan. Mendekat.
Joko lewat depan rumah. Naik motor baru. Hitam. Besar. Knalpotnya berisik.
Ia pelankan motornya. Lihat ke arah rumah. Cari sesuatu. Atau seseorang.
Risma di kursi dekat jendela. Di kamarnya. Aku selalu letakkan ia di situ kalau aku di luar. Biar ia bisa lihat pemandangan.
Begitu Risma lihat Joko, tubuhnya berubah.
Gemetar. Hebat. Tangannya yang biasanya tenang, kini bergerak tak terkontrol. Napasnya cepat. Cepat sekali. Seperti orang kehabisan udara.
Aku lari masuk. Gendong Risma. Jauhkan dari jendela. Bawa ke kamar belakang.
"Udah, Nak... udah... dia pergi. Bapak di sini. Bapak jagain kamu."
Tapi Risma terus gemetar. Matanya terpejam rapat. Air mata mengalir di pipinya. Ia takut. Sangat takut.
Aku peluk erat. Sangat erat. Sampai ia tenang. Perlahan.
"Nak, Bapak janji. Nggak akan ada yang bisa sakiti kamu. Bapak di sini."
Risma buka mata. Lihat aku. Lalu tangannya... tangannya meraih wajahku. Menyentuh pipiku. Lembut.
Seperti bilang, "Aku percaya, Pa. Tapi aku takut."
Aku nangis. "Maaf, Nak. Maaf Bapak belum bisa usir dia jauh-jauh."
---
Dewi mulai berubah sejak Joko kembali.
Awalnya hanya gelisah. Sering bolak-balik ke jendela. Kalau lihat motor lewat, ia tegang. Matanya awas.
Lalu ia mulai susah tidur. Tengah malam, aku bangun, ia sudah duduk di kursi. Memandang kosong ke jendela.
Aku tanya, "Ri, kenapa belum tidur?"
Dewi jawab, "Nunggu Joko."
Aku kaget. "Ri, Joko nggak akan datang malam-malam. Istirahat."
Dewi geleng. "Dia datang. Aku tahu. Dia mau ambil Risma."
Aku peluk dia. "Ri, nggak ada yang ambil Risma. Aku di sini. Jaga kalian semua."
Tapi Dewi mulai cemas berlebihan. Obat tidurnya mulai dikonsumsi lagi—padahal sudah setahun lepas.
Suatu malam, aku dengar ia nangis di kamar mandi. Aku ketuk pintu. "Ri, kenapa?"
Dewi buka pintu. Matanya sembab. "Mas, aku takut. Takut dia hancurkan kita lagi. Takut aku kambuh. Takut masuk RSJ lagi."
Aku peluk istrinya. Erat. "Nggak akan, Ri. Kita kuat. Kita sudah lewati yang lebih berat. Ingat, Risma nunggu kita. Budi nunggu kita."
Dewi nangis. "Tapi Mas, bayang-bayang dia... selalu ada. Aku lihat dia di mana-mana."
Aku usap punggungnya. "Itu cuma ketakutan, Ri. Joko cuma manusia. Kita bisa lawan."
Tapi dalam hati, aku juga takut. Takut Dewi kambuh. Takut kehilangan istrinya lagi.
---
Sejak Joko kembali, Budi dilarang main di luar.
Hanya di halaman depan. Itu pun diawasi. Kalau aku lagi di rumah, aku temani. Kalau lagi kerja, Dewi yang jaga.
Budi protes. Wajahnya cemberut.
"Pa, Budi mau main sama teman. Riko, Andi, mereka main bola. Budi mau ikut."
Aku duduk di sampingnya. Jelaskan dengan lembut.
"Nak, orang jahat itu kembali. Bapak takut sesuatu terjadi sama kamu."
Budi diam. Lalu tanya, "Joko?"
Aku kaget. "Kamu tahu Joko?"
Budi mengangguk. "Kakak takut sama dia. Budi lihat. Mata Kakak kayak... kayak takut banget."
Aku nangis. Budi, umur 5 tahun, lebih peka dari yang kukira.
Budi lanjutkan, "Budi jagain Kakak aja di rumah. Biar Kakak nggak takut."
Aku peluk dia. "Makasih, Nak. Makasih udah jadi anak baik."
Budi balas peluk. "Budi sayang Kakak, Pa."
---
Aku tak bisa diam. Harus tahu apa motif Joko sebenarnya.
Aku datang ke tokonya. Pura-pura jadi pembeli. Pakai baju jelek biar nggak dikenali.
Tokonya besar. Baru dicat. Nama "Joko Bangunan" dengan huruf besar warna merah. Di dalam, ramai. Banyak pelayan. Ada yang jaga kasir, ada yang antar barang, ada yang tawar-tawar sama pembeli.
Joko di dalam. Duduk di kursi besar. Pakai kemeja lusuh—beda dari waktu kondangan. Ngobrol sama pelanggan. Tampak sibuk.
Aku keliling. Lihat-lihat. Akhirnya tanya ke salah satu karyawan.
"Mas, bosnya baik?"
Karyawan itu—muda, umur 20-an—jawab antusias. "Baik banget, Pak. Ramah. Gaji selalu tepat waktu. Bahkan kadang dikasih bonus kalau toko lagi ramai."
Aku pura-pura kaget. "Serius? Saya dengar dulu dia... preman."
Karyawan itu tertawa. "Itu dulu, Pak. Orang bisa berubah. Sekarang beliau rajin ibadah. Sering sedekah. Saya malah dikasih pinjaman buat nikah."
Aku bingung. Apa Joko benar-benar berubah? Atau ini topeng?
Aku pulang dengan pikiran kacau.
---
Malam harinya, Pak RT datang ke rumah.
Wajahnya tegang. Bawa termos berisi kopi. Ia duduk di teras, lama diam.
"Pak RT, ada apa?"
Pak RT hela napas panjang. "Pak Aryo, saya dengar dari camat. Joko mau beli tanah di belakang rumah Bapak."
Aku kaget. "Tanah belakang? Tanahnya Mbah Dul?"
"Iya. Tanah kosong itu. Sekarang lagi diurus surat-suratnya. Mbah Dul sudah setuju jual."
Aku pucat. Tanah itu satu-satunya akses belakang. Kalau Joko beli, maka rumah kami terkepung. Depan jalan raya, belakang toko Joko. Jalan satu-satunya keluar masuk kampung, harus lewat depan toko itu.
Pak RT lanjutkan, "Dia mau perluas toko. Katanya butuh lahan parkir dan gudang. Tapi saya curiga... ini cara dia jebak Bapak."
Aku diam. Pikiranku kacau.
"Makasih, Pak RT. Makasih infonya."
Pak RT pergi. Aku duduk di teras. Lama. Pandangi rumah. Pandangi Risma di dalam. Pandangi Budi yang tidur di sampingnya.
Aku tak akan biarkan itu terjadi.
Tapi bagaimana cara melawan pengusaha kaya dengan segala liciknya?
---
Minggu berikutnya. Spanduk besar terpasang.
Merah. Kuning. "Segera Dibangun: JOKO BANGUNAN. Pusat Material Terlengkap."
Spanduk itu dipasang di tanah kosong belakang rumah. Persis di batas pagar belakang kami.
Aku lihat dari jendela dapur. Tanah yang dulu kosong, sekarang dipatok-patok. Ada alat berat mulai masuk. Joko serius.
Rumah kami sekarang diapit. Depan jalan raya, belakang toko Joko. Jalan satu-satunya keluar masuk kampung—lewat depan toko itu. Lewat depan Joko.
Aku genggam pagar besi. Tanganku gemetar.
Dari dalam, Risma panggil. "Pa... Pa..."
Aku masuk. Risma di kursi. Matanya ke arahku. Lalu ke jendela belakang. Seperti ia tahu. Seperti ia merasakan bahaya.
Aku pegang tangannya. "Nak, Bapak di sini. Bapak nggak akan biarkan dia dekat kita."
Risma pegang jariku. Erat.
---
Malam itu, Joko datang lagi.
Kali ini bawa proposal. Sampul biru. Dijilid rapi.
"Pak, saya mau tawari Bapak kerja sama."
Aku diam. Joko lanjutkan, "Saya butuh karyawan. Bapak cocok jadi kepala gudang. Gaji 3 juta sebulan. Plus bonus. Bapak bisa hidup layak, anak Bapak bisa terapi lebih baik."
Aku terkejut. 3 juta. Lebih dari dua kali lipat penghasilanku sekarang.
Joko tersenyum. "Bapak pikir dulu. Saya tunggu."
Ia taruh proposal di pagar. Pergi.
Aku ambil proposal itu. Baca. Semua rincian jelas. Jam kerja, gaji, tunjangan. Bahkan ada asuransi kesehatan.
Dari mana Joko tahu kebutuhan kami? Dari mana ia tahu Risma butuh terapi?
Aku curiga. Tapi Dewi yang dengar, mulai berpikir.
"Mas, 3 juta. Bisa buat terapi Risma. Bisa buat sekolah Budi."
Aku geleng. "Jangan percaya, Ri. Ini jebakan."
Dewi diam. Tapi malam itu, aku lihat ia membaca proposal itu berulang kali. Matanya... matanya mulai berubah. Ada harapan di sana.
"Mas, mungkin ini kesempatan. Mungkin Joko benar-benar berubah."
Aku pegang tangannya. "Ri, ingat ular itu. Ingat api yang membakar rumah kita. Ingat rumah sakit jiwa."
Dewi nangis. "Aku ingat, Mas. Tapi aku capek. Capek lihat kamu banting tulang. Capek lihat Risma terapi seadanya. Kalau ini kesempatan..."
Aku diam. Tak bisa jawab.
Aku lihat Risma. Risma menatapku. Matanya... matanya takut. Seperti bilang, "Pa, jangan terima. Jangan percaya dia."
Aku peluk Risma. "Nggak, Nak. Bapak nggak akan terima."
---
Malam itu, Dewi tak bisa tidur.
Aku dengar ia bolak-balik di kamar. Kadang ke jendela. Kadang ke kamar mandi. Kadang cuma duduk di kursi.
Jam 2 pagi, aku bangun. Lihat Dewi tak ada di kamar.
Aku cari. Di dapur. Di kamar mandi. Di teras. Tak ada.
Di meja makan, secarik kertas. Tulisan tangan Dewi.
"Mas, aku ke toko Joko. Mau lihat sendiri. Jangan khawatir. Aku cuma mau pastikan. Aku cinta kamu. Aku cinta Risma dan Budi. Aku akan kembali."
Aku panik. Lari ke toko Joko.
Di sana, lampu masih nyala. Toko buka 24 jam, kata Joko. Aku masuk.
Di dalam, Dewi duduk di kantor Joko. Minum teh. Tersenyum. Joko di sampingnya, bicara ramah. Wajahnya tenang.
Aku lari masuk. Tarik Dewi. "PULANG!"
Joko berdiri. Tersenyum. "Pak, tenang. Saya cuma tawari Ibu kerja juga. Kasir. Gaji 2,5 juta. Ibu-ibu butuh penghasilan tambahan, kan? Anak Bapak butuh terapi."
Dewi menatapku. Matanya... matanya bingung. Seperti tak tahu harus pilih siapa.
"Mas, ini mungkin rezeki..."
Aku lihat Dewi. Lihat Joko. Lihat proposal di meja. Lihat senyum Joko yang tak pernah bisa dipercaya.
Aku lihat ke luar jendela. Rumahku di kejauhan. Risma di dalam. Budi tidur. Mereka tak tahu ibu mereka di sini. Dengan iblis.
Aku harus memilih: percaya pada iblis yang berubah jadi malaikat, atau kembali ke hidup susah.
Tapi di balik senyum Joko, aku lihat sesuatu. Sinar mata yang sama seperti dulu. Saat ia kirim ular ke kamar Risma. Saat ia bakar rumah kami. Saat ia tertawa melihat kami hancur.
Iblis itu masih di sana. Hanya bersembunyi di balik topeng.
Aku tarik Dewi. "Pulang, Ri. Sekarang."
Kami pergi. Meninggalkan Joko yang masih tersenyum.
Di luar, fajar mulai merekah. Tapi hatiku gelap.
Di belakang, aku dengar suara Joko. Pelan. Tapi cukup jelas.
"Kembalilah, Bu. Saya tunggu."
Aku percepat langkah. Dewi diam. Tak berkata apa-apa.
Sampai di rumah, aku kunci pintu. Semua jendela kututup. Rapat.
Aku gendong Risma. Peluk Budi. Duduk di kursi.
"Nak, Bapak janji. Apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama."
Risma pegang jariku. Erat.
Budi pegang kakiku. "Pa, Budi takut."
Aku usap kepalanya. "Nggak apa-apa, Nak. Bapak di sini."
Dewi duduk di sudut. Menunduk. Nangis.
Aku tahu. Perang baru akan dimulai. Dan kali ini, medan perangnya bukan di luar. Tapi di dalam. Di hati istriku. Di pikiran keluargaku.
Joko tak perlu bawa ular lagi. Ia cukup bawa uang.
[BERSAMBUNG KE BAB 34: Jebakan Berkedok Rezeki]