NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurang yang terbentang

​Sore itu, langit di atas gubuk Mak Inah tampak mendung, seolah-olah awan ikut merasakan kegundahan yang menggelayuti penghuni rumah sederhana tersebut. Siti pulang dari sekolah dengan napas yang masih sedikit memburu. Ia segera memarkirkan sepedanya di bawah pohon sawo dan berlari masuk ke dapur, di mana Mak Inah dan suaminya, Pak Darmo, sedang duduk berhadapan sembari menikmati teh tawar hangat.

​"Bu! Pak! Siti sudah dari sana!" seru Siti sambil meletakkan tas sekolahnya di kursi kayu yang sudah reyot.

​Mak Inah dan Pak Darmo serentak menoleh. Wajah Siti yang kemerahan karena sinar matahari dan antusiasme yang bercampur ketakutan membuat kedua orang tua itu segera mempersilakannya duduk.

​"Pelan-pelan, Siti. Tarik napas dulu. Bagaimana? Apa kamu bertemu dengan Nak Mirasih?" tanya Mak Inah dengan nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

​Siti mengangguk mantap. "Ketemu, Bu. Tapi... Siti seperti tidak sedang bertemu Mbak Mirasih yang dulu. Rumahnya, Gusti... benar-benar gedong, Pak! Pagarnya tinggi sekali, setinggi pundak orang dewasa. Lantainya mengkilap seperti kaca, Siti saja takut mau menginjaknya. Dan Mbak Mirasih... dia sudah seperti nyonya besar di kota. Cantik sekali, badannya berisi, baunya wangi bunga melati yang sangat kuat."

​Siti menceritakan setiap detail pertemuannya, termasuk bagaimana Mirasih menerima arem-arem buatan Mak Inah dengan cara yang anggun namun terasa sangat berjarak. Ia menceritakan tentang para pelayan yang kini lalu-lalang di rumah itu, dan bagaimana Mirasih bicara tentang kekuasaan dan suara yang didapat dari kekayaan.

​Mendengar penuturan Siti yang menggebu-gebu, Mak Inah dan Pak Darmo terdiam seribu bahasa. Ruangan dapur itu mendadak terasa semakin sempit oleh kenyataan pahit yang dibawa Siti. Pak Darmo, yang biasanya lebih banyak diam, menghela napas panjang hingga bahunya yang sudah renta tampak merosot.

​"Hanya dalam kurun waktu sebulan dua bulan..." gumam Pak Darmo pelan.

"Bagaimana bisa manusia berubah secepat itu? Harta dari mana yang bisa membangun istana dalam semalam?"

​"Itulah yang membuat Ibu tidak tenang, Pak," sahut Mak Inah dengan suara bergetar. "Ibu merasa ada yang tidak beres. Perubahan fisik Mirasih yang Siti ceritakan... itu bukan seperti orang yang baru sehat.

​Pak Darmo menyesap tehnya yang sudah dingin, lalu menatap Siti dan istrinya bergantian. Sorot matanya kini tampak tegas, sebuah ketegasan yang lahir dari rasa harga diri seorang lelaki kecil.

​"Siti, dengarkan Bapak," ucap Pak Darmo dengan nada berat. "Mulai sekarang, jangan lagi kamu terlalu sering main ke sana. Dan Ibu... tolong sampaikan pada Aditya nanti saat dia pulang: jangan pernah lagi mengharapkan Mirasih menjadi mantu kita atau iparmu, Sit."

​"Tapi kenapa, Pak? Dulu kan Bapak suka sama Mbak Mirasih," protes Siti pelan.

​"Dulu dia adalah Mirasih yang malang, yang setara dengan kita. Sekarang, jurang di antara kita sudah terlalu dalam, Nduk," Pak Darmo memukul meja dengan pelan. "Lihat perbedaannya. Kita masih makan nasi aking dicampur jagung, sedangkan dia sudah duduk di kursi rotan mahal dengan baju sutra.

Laki-laki seperti Aditya, jika dia tetap mengejar Mirasih, dia hanya akan menjadi keset di rumah itu. Dia akan diinjak-injak oleh paman dan bibinya Mirasih, bahkan mungkin oleh Mirasih sendiri."

​Pak Darmo menarik napas dalam-dalam. "Biarkan Aditya mencari jodoh yang setara. Yang mau diajak susah bersama, yang sederajat agar kelak dalam rumah tangga dia tidak diremehkan. Mirasih sudah memilih jalannya, dan jalan itu bukan untuk orang seperti kita."

​Mak Inah hanya bisa menunduk, menyeka air mata yang mulai mengalir. Di hatinya, ia merasa kehilangan sosok "anak perempuan" yang dulu sangat ia sayangi. Namun, ia tahu suaminya benar. Kekayaan Mirasih yang misterius itu telah menciptakan tembok yang tak tertembus oleh cinta tulus seorang kuli bangunan.

​Sementara itu, berita tentang "Sang Ratu Emas" dari desa sebelah telah menyebar luas hingga ke pelosok-pelosok kecamatan. Mirasih kini bukan lagi sekadar gadis yatim piatu yang malang; ia telah menjadi simbol kesejahteraan dan kecantikan yang mistis. Hal ini memicu gairah para pemuda dari kalangan keluarga kaya di beberapa desa untuk mencoba peruntungan mereka.

​Di mata mereka, Mirasih adalah investasi sekaligus trofi. Mereka tidak peduli dari mana asal kekayaan itu; yang mereka tahu, siapa pun yang berhasil memperistri Mirasih akan mendapatkan kunci menuju hidup mewah seumur hidup.

​Salah satu yang paling ambisius adalah Agus. Ia adalah anak dari Haji Mahmud, pemilik bos material terbesar di wilayah itu. Agus merasa dirinya paling pantas karena statusnya sebagai "anak orang kaya lama". Ia sering datang ke depan rumah Mirasih dengan mengendarai motor besar yang knalpotnya sengaja ia buat bising agar menarik perhatian.

​Suatu siang, Agus datang membawa bingkisan besar berisi buah-buahan impor yang mahal. Ia berdiri di depan gerbang besi Mirasih dengan sombongnya.

​"Sampaikan pada Nona Mirasih, Agus anak Haji Mahmud datang bertamu," ucap Agus kepada salah satu penjaga rumah (yang kini sudah disewa Mirasih dari pemuda desa setempat).

​Mirasih, yang sedang duduk di balkon lantai dua, hanya melirik dari balik jendela. Ia menyuruh pelayannya untuk tidak menerima bingkisan itu dan juga melarang Agus masuk.

​"Katakan padanya, saya sedang tidak ingin menerima tamu yang suaranya lebih besar dari otaknya," perintah Mirasih dingin.

​Agus pulang dengan perasaan dongkol namun makin penasaran. Di kepalanya, ia berpikir bahwa Mirasih hanya sedang "jual mahal" sebagaimana layaknya wanita kaya pada umumnya.

​Selain Agus, ada pula Herman. Ia adalah putra dari pemilik toko pengrajin kayu jati yang sukses. Herman berbeda dengan Agus; ia lebih menggunakan pendekatan "intelektual" dan seni. Herman sering mengirimkan surat yang diselipkan dalam ukiran kayu jati kecil yang sangat halus, mencoba memuji keanggunan Mirasih yang ia sebut sebagai "Dewi yang turun ke bumi".

​Suatu sore, Herman berhasil berpapasan dengan Mirasih saat Mirasih sedang meninjau pembangunan pasar desa. Herman segera turun dari sepedanya dan membungkuk hormat.

​"Nimas Mirasih," ucap Herman dengan nada manis yang dibuat-buat. "Saya sangat mengagumi visi Anda dalam membangun desa ini. Jika Anda memerlukan pasokan kayu jati terbaik untuk mebel di istana Anda, saya akan memberikannya secara cuma-cuma sebagai tanda perkenalan."

​Mirasih berhenti sejenak, menatap Herman dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan Mirasih begitu tajam, seolah sedang menghitung nilai nyawa pemuda di depannya itu.

​"Kayu jati darimu tidak akan sanggup menahan hawa dingin di rumahku, Herman," jawab Mirasih dengan nada yang membuat bulu kuduk Herman berdiri. "Simpan saja rayuanmu untuk gadis-gadis yang masih percaya pada janji. Aku tidak butuh kayu, aku butuh kesetiaan yang tidak bisa kau berikan."

​Mirasih berlalu begitu saja, meninggalkan Herman yang terpaku di pinggir jalan, merasa kecil dan tidak berarti di bawah aura Mirasih yang begitu dominan.

​Para pemuda desa lainnya pun tak mau kalah. Ada yang mencoba mendekati melalui Paman Broto, memberikan rokok-rokok mahal dan menjanjikan kesejahteraan bagi keluarga Broto jika mereka diizinkan melamar Mirasih. Namun, mereka semua lupa satu hal: Mirasih bukan lagi milik manusia.

​Paman Broto, meskipun merasa senang karena kembali banyak didekati orang-orang penting, sebenarnya merasa ngeri. Ia tahu siapa yang sebenarnya "menjaga" Mirasih setiap malam Selasa Kliwon. Setiap kali ada pemuda yang bertanya tentang kriteria calon suami Mirasih, Broto hanya bisa tersenyum kecut sambil mengusap bahunya yang masih sering terasa sakit akibat cengkeraman ghaib waktu itu.

​"Kalian boleh mencoba," bisik Broto dalam hati dengan nada sinis. "Tapi pastikan nyawa kalian punya cadangan sebelum berani menyentuh apa yang sudah menjadi milik Ki Ageng Gumboro."

​Mirasih sendiri menikmati drama ini. Baginya, Agus, Herman, dan semua pemuda kaya itu hanyalah bidak-bidak yang mempertegas kedudukannya. Ia sengaja membiarkan mereka mengejarnya, bukan karena ia ingin memilih salah satu dari mereka, melainkan karena ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri—dan pada bayangan Aditya—bahwa ia sekarang adalah wanita yang diperebutkan oleh mereka yang dulu mungkin tak akan pernah meliriknya.

​Di dalam kamarnya, Mirasih tertawa pelan sambil membelai kalung berliannya. "Lihat, Aditya... mereka semua berlomba sujud di kakiku. Anak bos material, anak juragan kayu... semuanya kecil di mataku. Dan kau? Kau yang hanya seorang kuli, berani-beraninya mengirim surat pemutusan janji padaku?"

​Dendam di hati Mirasih kian berurat berakar, dipupuk oleh pujian-pujian palsu dari para lelaki yang hanya menginginkan hartanya. Ia telah menjadi bunga yang sangat cantik, namun kelopak-kelopaknya terbuat dari pisau, dan siapa pun yang mencoba memetiknya tanpa izin dari sang penguasa kegelapan, hanya akan menemui kehancuran.

​Mirasih kini hanya menunggu kepulangan Aditya. Ia ingin melihat ekspresi Aditya saat menyadari bahwa wanita yang ia campakkan telah menjadi Ratu yang bahkan tak bisa disentuh oleh orang-orang terkaya di wilayah itu sekalipun.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!