NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penglihatan

​Waktu di desa itu seolah merayap seperti kabut pagi yang lambat, menyelimuti rumah besar Paman Broto dengan keheningan yang menyesakkan. Bagi penduduk desa, Mirasih kini adalah sebuah keajaiban sekaligus teka-teki. Gadis yang dulunya dianggap sebagai kutukan keluarga, yang selalu terlihat kumal dengan baju yang robek di sana-sini dan aroma keringat yang bercampur debu jalanan, kini telah bermetamorfosis menjadi sosok yang nyaris tak dikenali.

​Kehidupan Mirasih kini sangat tenang, namun itu adalah ketenangan permukaan danau yang di dasarnya menyimpan bangkai. Hatinya telah menjadi padang salju yang dingin; tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak, tidak ada lagi tawa riang. Segalanya terasa palsu. Ia menjalani hari-harinya seperti sebuah pementasan sandiwara yang tak kunjung usai. Namun, di tengah kekosongan jiwa itu, raga Mirasih justru mengalami perubahan yang luar biasa.

​Berkat asupan makanan terbaik yang selalu tersedia dan perawatan yang mewah, berat badan Mirasih mulai naik secara perlahan. Tubuhnya yang dulu hanya tulang berbalut kulit kini mulai berisi dan padat. Kulitnya yang dulu kusam karena panas matahari kini menjadi cerah, halus, dan tampak bercahaya, seolah-olah ada pendar ghaib yang memancar dari pori-porinya. Setiap sore, ia menjalani ritual mandi bunga setaman yang khusyuk. Kini, tubuhnya tidak lagi berbau debu atau dapur, melainkan selalu semerbak wangi mawar, melati, dan kantil—aroma yang telah menjadi tanda pengenal bagi kehadirannya, sekaligus aroma yang sangat disukai oleh "suami" ghaibnya.

​Malam itu, Mirasih duduk di dalam kamarnya yang megah. Sebuah televisi layar datar besar menyala di depannya, menayangkan sebuah acara komedi yang tengah hits. Suara tawa penonton dari layar memenuhi ruangan, namun wajah Mirasih tetap datar. Ia menatap layar itu dengan pandangan kosong. Jika orang normal akan terpingkal melihat lelucon di depannya, Mirasih hanya diam membeku. Matanya tidak berkedip, jiwanya seolah-olah berada di dimensi lain.

​Saat acara berganti menjadi drama romantis yang penuh dengan kesedihan dan perpisahan, Mirasih pun tidak bergeming. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada rasa simpati yang muncul. Baginya, emosi-emosi manusia yang ditampilkan di layar kaca itu terasa seperti bahasa asing yang sudah lama ia lupakan. Ia telah kehilangan kemampuan untuk merasakan simpati karena hatinya sendiri telah mati rasa.

​Tiba-tiba, suhu di dalam kamar turun drastis. Lampu di ruangan itu meredup, menyisakan cahaya biru dari layar televisi yang memantul di mata Mirasih. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau singkong bakar yang khas mulai memenuhi sela-sela wangi bunga di kamarnya.

​Sepasang lengan yang kuat dan dingin melingkar di bahunya dari belakang. Sosok pria dengan wajah rupawan, jelmaan Ki Ageng Gumboro, muncul di sisi tempat tidurnya. Wajahnya begitu tampan, namun sorot matanya yang purba menatap Mirasih dengan ketajaman yang sanggup menembus lapisan rahasia terdalam.

​"Kau sedang melamun, Istriku?" bisik sang Genderuwo. Suaranya berat dan berwibawa, bergema di dalam batin Mirasih.

​Mirasih tersentak kecil, lalu menatap sosok di sampingnya. "Aku hanya sedang menonton, Tuan."

​Genderuwo itu duduk di sampingnya, mengamati wajah Mirasih yang kini jauh lebih cantik daripada saat pertama kali ia merenggutnya. Namun, ia juga melihat lubang hitam di dalam jiwa Mirasih. "Kau berbohong. Televisi itu menyala, tapi jiwamu sedang berkelana ke tempat yang jauh. Apakah kau masih memikirkan laki-laki brengsek yang telah membuangmu itu? Apakah Aditya masih menghuni singgasana di hatimu?"

​Mirasih terdiam sejenak, lalu tawa pendek yang kering keluar dari bibirnya. "Aditya? Siapa dia? Dia hanya masa lalu yang sudah kuhapus dari ingatan. Aku tidak memikirkannya lagi, Tuan."

​"Matamu tidak bisa berbohong padaku, Mirasih," balas sang Genderuwo dengan nada rendah. "Manusia sering kali menghibur diri dengan kebohongan agar mereka tidak hancur. Tapi aku, aku adalah kebenaran yang gelap. Kau ingin tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang di tanah rantau itu?"

​Mirasih hendak memprotes, namun sebelum kata-kata keluar dari mulutnya, sang Genderuwo telah meletakkan telapak tangannya yang besar dan dingin di atas mata Mirasih.

​"Lihatlah sendiri..." bisiknya.

​Seketika, pandangan Mirasih berubah. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia seolah-olah ditarik menembus ruang dan waktu, melintasi ribuan kilometer hingga sampai ke sebuah bedeng pekerja yang sempit dan kumuh di sudut Jakarta.

​Di sana, Mirasih melihat Aditya. Namun, pemandangan itu seperti belati yang berputar-putar di jantungnya.

​Ia melihat Aditya yang sedang terbaring lemah, namun ia tidak sendirian. Di sampingnya, duduk seorang gadis manis bernama Ningsih. Mirasih melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ningsih dengan sangat tulus menyuapi Aditya bubur. Ia melihat bagaimana Ningsih mengusap keringat di dahi Aditya dengan penuh kasih sayang.

​Hati Mirasih mendidih, namun rasa sakit yang lebih besar datang saat ia melihat Aditya tersenyum kepada Ningsih. Mereka berdua terlibat dalam obrolan yang tampak sangat hangat dan akrab. Dalam penglihatan ghaib yang disajikan sang Genderuwo, Mirasih tidak bisa mendengar suara teman-teman Aditya yang berada di luar. Yang ia lihat hanyalah fokus kamera ghaib itu pada Aditya dan Ningsih saja.

​Mereka tertawa bersama. Lalu, sebuah momen terjadi: tangan Ningsih tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Aditya saat ia memberikan gelas teh. Aditya tidak menarik tangannya dengan cepat; ia justru menatap Ningsih dengan tatapan yang dalam setidaknya begitulah yang tampak dalam penglihatan manipulatif itu.

​Malam telah larut di Jakarta, namun gadis itu masih di sana, setia di samping dipan Aditya, seolah-olah dialah yang memiliki hak atas raga laki-laki itu.

​"Lihatlah betapa cepatnya ia menemukan penggantimu," bisik suara Genderuwo itu tepat di telinga Mirasih, sementara penglihatan itu terus berputar. "Selagi kau meratapi nasibmu di sini, dia sedang membangun kebahagiaan baru dengan wanita yang lebih 'sehat' dan tidak 'tercemar' sepertimu. Janjinya hanyalah omong kosong para pendusta."

​Mirasih merasakan napasnya tersengal. Dada yang tadi datar tanpa emosi, kini bergemuruh oleh rasa cemburu, amarah, dan pengkhianatan yang meledak-ledak. Ia melihat Ningsih membetulkan selimut Aditya, dan Aditya tampak sangat menikmati perhatian itu.

​"Cukup! Berhenti!" teriak Mirasih dengan histeris.

​Penglihatan itu seketika menghilang. Mirasih kembali ke kamarnya, tersengal-sengal di bawah temaram lampu yang berkedip. Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini tumpah tak terbendung. Pertahanannya hancur total. Rasa sakit karena merasa dibuang lewat surat kini diperkuat dengan bukti visual yang ia yakini sebagai kebenaran mutlak.

​"Dia... dia benar-benar sudah melupakanku..." tangis Mirasih pecah.

​Ia tidak lagi peduli pada harga dirinya. Ia berbalik dan langsung memeluk sosok Genderuwo yang masih berwujud manusia tampan itu. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang dingin itu, menangis sejadi-jadinya, mencari perlindungan pada mahluk yang seharusnya ia takuti.

​"Tuan... tolong aku... hatiku sakit sekali..." rintih Mirasih di sela isakannya.

​Sang Genderuwo melingkarkan lengannya pada tubuh Mirasih, memeluknya dengan protektif. Sebuah senyum kemenangan tersirat di wajah rupawannya yang ghaib. Ia telah berhasil. Ia telah memutus benang merah terakhir yang menghubungkan Mirasih dengan dunianya yang lama. Sekarang, Mirasih tidak hanya menyerahkan tubuhnya karena terpaksa, tapi ia menyerahkan jiwanya karena keputusasaan.

​"Tenanglah, Istriku... Jangan menangis untuk manusia yang tidak berharga," ucap mahluk itu sambil mengelus rambut Mirasih yang harum melati. "Biarkan dia dengan dunianya. Di sini, kau adalah ratuku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan memberikanmu segalanya, asalkan kau hanya melihat ke arahku."

​Mirasih semakin erat memeluk mahluk itu. Di dalam pikirannya, ia bersumpah untuk menghapus nama Aditya selamanya. Jika Aditya bisa tertawa dengan wanita lain, maka Mirasih akan memastikan bahwa saat mereka bertemu nanti, Aditya-lah yang akan menangis merangkak di kakinya.

​Dalam pelukan sang Genderuwo, Mirasih merasakan kegelapan yang semakin pekat menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu bahwa semua yang diperlihatkan tadi adalah manipulasi yang sengaja dibuang konteksnya oleh sang mahluk agar ia benar-benar jatuh ke dalam pelukan kegelapan. Malam itu, di bawah perlindungan sang penguasa hutan, Mirasih menyerahkan sisa-sisa kemanusiaannya demi sebuah janji pembalasan yang akan membara lebih panas dari api neraka.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!