Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Gold has been tested
Istana Araluen
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika Anthenia terbangun.
Bukan oleh mimpi—melainkan kesunyian yang terlalu rapi.
Ia duduk perlahan, mata menyapu kamar. Tirai masih tertutup. Lilin di sudut ruangan sudah padam. Namun instingnya—yang dibentuk oleh kehidupan lain—menyala.
Ada yang salah.
Anthenia bangkit tanpa suara, meraih mantel tipis. Ia membuka pintu kamar sedikit, cukup untuk mengintip koridor.
Kosong.
Terlalu kosong.
Langkah kaki ringan terdengar—bukan ksatria, bukan pelayan. Terlalu terlatih untuk disebut kebetulan.
Anthenia mundur selangkah, menutup pintu perlahan. Tangannya meraih vas kecil di meja—bukan senjata, tapi cukup berat. Ia berdiri di sisi pintu, menahan napas.
Kunci berputar pelan.
Pintu terbuka setengah jengkal.
Anthenia bergerak cepat—mendorong pintu, menghantam tangan penyusup dengan vas. Bunyi retak terdengar, disertai desahan tertahan.
Sebelum sosok itu sempat bereaksi, Anthenia menarik pergelangan tangannya dan memutar—teknik sederhana untuk menjatuhkan keseimbangan. Tubuh itu terhuyung, nyaris jatuh berlutut.
“Apa yang kau cari?” bisiknya dingin.
Penyusup itu membeku. Seorang pelayan istana—atau lebih tepatnya, seseorang yang berpakaian sebagai pelayan.
“Kau salah kamar,” katanya gugup.
Anthenia mendekat, suaranya rendah. “Kau salah orang.”
Langkah berat menghentak koridor.
“Lepaskan.”
Suara William.
Dalam sekejap, pintu didorong terbuka. Dua ksatria elit Aurelius masuk, pedang terhunus. William berdiri di ambang pintu, mata kelabunya tajam.
Anthenia melepaskan cengkeramannya. Pelayan itu jatuh terduduk, gemetar.
“Bawa,” perintah William singkat.
Ksatria menarik sosok itu pergi.
Sunyi kembali turun.
William menatap Anthenia—bukan marah, bukan terkejut. Menilai.
“Kau tidak berteriak,” katanya.
“Tidak perlu.”
“Kau tidak panik.”
“Tidak membantu.”
Ia menghela napas pelan. “Siapa yang mengirimnya?”
William menggeleng. “Belum tahu. Tapi ini terlalu cepat untuk kebetulan.”
Anthenia duduk di tepi ranjang, tenang. “Artinya aku sudah menjadi ancaman.”
“Atau alat.”
“Lebih buruk.”
William menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Aku seharusnya berangkat pagi ini.”
“Kau menunda?”
“Ya.”
Anthenia mengangkat alis. “Demi Araluen?”
William tersenyum tipis—nyaris tak terlihat. “Demi stabilitas.”
Ia berbalik pergi, lalu berhenti. “Mulai sekarang, jangan pernah sendirian setelah matahari terbenam.”
“Dan sebelum terbenam?”
William menoleh. “Belajarlah membaca wajah.”
Pintu tertutup.
Anthenia menatap telapak tangannya sendiri. Tidak gemetar. Tidak dingin.
Jane, bisik ingatan itu lagi.
Anthenia, jawabnya.
Di kejauhan, lonceng berbunyi tiga kali—pertanda pagi.
Dan di sayap barat istana, sebuah cangkir teh jatuh dan pecah.
Heilen Valerius tersenyum tipis.
“Menarik,” gumamnya. “Sangat menarik.”
Api belum membakar.
Tapi emas sudah diuji.
Kabar tentang penyusup itu tidak pernah diumumkan.
Namun Araluen tahu.
Penjagaan bertambah. Rute para pelayan diubah. Wajah-wajah lama diganti tanpa penjelasan. Istana bergerak senyap—tanda bahwa sesuatu yang berbahaya telah disentuh.
Di ruang audiensi kecil, Duke Kaelen Blackwood berdiri berhadapan dengan Permaisuri Lunara. Tidak ada protokol. Tidak ada saksi selain satu lilin yang menyala tenang.
“Penyusup,” ucap Kaelen dingin. “Di kamar putriku.”
Permaisuri tidak terkejut. “Aku menduganya.”
“Dan kau tetap menempatkannya di sisimu.”
“Aku menempatkannya di pusat,” jawab Lunara lembut namun tegas. “Karena di pinggir, ia akan lebih mudah disingkirkan.”
Kaelen mengepalkan tangan. “Dia baru delapan belas.”
“Dan terlalu cepat dewasa,” balas Lunara pelan. “Sama sepertimu dulu.”
Hening.
“Apa keputusanmu?” tanya Permaisuri.
Kaelen menarik napas dalam. “Aku tidak akan menariknya dari Araluen.”
Alis Lunara terangkat sedikit.
“Tapi,” lanjut Kaelen, “aku juga tidak akan membiarkannya berjalan tanpa perlindungan.”
Ia menatap Permaisuri lurus. “Mulai hari ini, Anthenia Blackwood berada di bawah perlindungan langsung Duke Blackwood dan Putra Mahkota.”
Keputusan itu berat. Dan jelas—politik.
Permaisuri tersenyum tipis. “Kau sadar artinya?”
“Semua mata akan mengarah padanya,” jawab Kaelen. “Dan siapa pun yang menyentuhnya… menyentuh kami.”
Lunara mengangguk. “Baik.”
—
Sore itu, Anthenia dipanggil ke ruang ayahnya.
Kaelen berdiri membelakanginya, menatap lambang Blackwood yang tergantung di dinding.
“Kau diserang,” katanya tanpa basa-basi.
“Dicoba,” jawab Anthenia.
Kaelen menoleh tajam—lalu berhenti. Ia melihat wajah putrinya. Tidak takut. Tidak rapuh.
“Kau tidak bilang padaku.”
“Aku tahu Ayah akan bereaksi.”
“Dan kau benar,” katanya rendah. “Aku akan membakar istana ini jika perlu.”
Anthenia menatapnya pelan. “Aku tidak ingin Ayah kehilangan posisi karena aku.”
Kaelen terdiam lama.
Akhirnya ia berkata, “Mulai sekarang, kau tidak lagi bergerak sebagai putri Duke saja.”
Anthenia menyimak.
“Kau adalah Anthenia Blackwood dari Araluen,” lanjutnya. “Dan itu berarti setiap langkahmu adalah pernyataan.”
Ia menatap putrinya dalam-dalam. “Jika kau berjalan ke api—kau pastikan api itu layak.”
Anthenia mengangguk. “Aku tidak akan mundur.”
Kaelen menghela napas berat—lalu mengulurkan sebuah benda.
Sebuah belati pendek, gagang hitam berukir lambang Blackwood.
“Bukan untuk menyerang,” katanya. “Untuk mengingatkan.”
Anthenia menerimanya dengan kedua tangan. “Aku akan mengingat.”
—
Di malam hari, Anthenia kembali ke balkon. Angin Araluen terasa lebih dingin.
Ia menatap langit.
Penyusup.
Perlindungan resmi.
Dan pesta yang tinggal hitungan hari.
Dunia ini tidak memintaku berubah, pikirnya.
Ia hanya membuka pintu.
Di kejauhan, suara tawa bangsawan terdengar samar—ceria, buta.
Anthenia menutup matanya.
“Datanglah,” bisiknya pelan. “Aku siap.”
Di sayap barat istana, Alistair Valerius menatap lilin yang hampir padam.
“Dia bertahan,” gumamnya.
Heilen Valerius tersenyum tipis. “Untuk sekarang.”
Lilin padam.
....
Malam itu, hujan turun tanpa suara.
Di menara pengawas selatan, seorang penjaga berganti sif. Ia tidak melihat apa pun yang mencurigakan—dan justru itu yang membuat laporan singkatnya ditandai merah oleh Panglima Aurelius.
William berdiri di ruang peta, sendirian. Jubah perangnya tergantung rapi, pedang bersandar di meja. Tangannya bertumpu pada peta Araluen, tepat di titik yang ditandai lambang Blackwood.
“Langkah terlalu cepat,” gumamnya.
Ia mengingat cara Anthenia bergerak pagi tadi—bukan seperti bangsawan, bukan pula seperti ksatria. Ada jeda sepersekian detik yang hanya dimiliki orang yang terbiasa membaca bahaya sebelum muncul.
Itu bukan insting yang lahir di Araluen.
Ketukan singkat terdengar.
“Masuk.”
Leopold Windsor melangkah masuk, rautnya serius. “Aku melihat pergerakan aneh di dapur barat. Pelayan yang sama muncul di dua sayap berbeda dalam satu jam.”
William mengangguk. “Nama?”
“Belum. Tapi pola.”
“Itu cukup.”
William menutup peta. “Jangan beri tahu siapa pun kecuali aku.”
Leopold ragu. “Termasuk Ayahanda Kaisar?”
“Terutama beliau,” jawab William dingin.
Leopold menelan ludah. “Kalau begitu… ini sudah lebih dari sekadar kecemburuan.”
William menatap lilin yang bergetar. “Ini sudah menjadi permainan.”
—
Di kamar Permaisuri Lunara, Nelia duduk di karpet, memeluk lutut. Ia menatap ibunya dengan mata cemas.
“Kak Anthenia akan baik-baik saja, kan?”
Lunara mengelus rambut putrinya lembut. “Dia lebih kuat dari yang mereka kira.”
“Termasuk Kak Liam?”
Permaisuri tersenyum samar. “Terutama Kak Liam.”
Nelia terdiam sejenak. “Aku tidak suka cara mereka memandangnya.”
“Belajarlah,” kata Lunara pelan. “Itu cara mereka memandang ancaman.”
—
Sementara itu, di tempat yang jauh lebih sunyi—
Heilen Valerius berdiri di depan cermin, membuka sarung tangan sutranya satu per satu. Wajahnya tenang, nyaris anggun.
“Dia tidak takut,” katanya pada bayangannya sendiri. “Dan itu berbahaya.”
Alistair berdiri di belakangnya. “Apa langkah berikutnya?”
Heilen menoleh, matanya tajam. “Kita tidak menyerangnya.”
Alistair terkejut. “Lalu?”
“Kita biarkan orang lain melakukannya,” jawab Heilen lembut. “Dengan alasan yang tampak… terhormat.”
Alistair tersenyum perlahan. “Pesta Musim Gugur.”
Heilen membalas senyum itu. “Araluen menyukai tragedi yang dibungkus kemewahan.”
—
Kembali di balkonnya, Anthenia menyandarkan punggung ke dinding batu. Belati Blackwood terselip rapi di balik mantel.
Ia menatap hujan.
Dulu aku bertahan hidup dengan mencurigai semua orang, pikirnya.
Sekarang… aku harus hidup sambil tersenyum pada mereka.
Ia tertawa kecil—tanpa suara.
“Dunia berbeda,” bisiknya. “Aturan sama.”
Hujan semakin deras.
Dan jauh di bawah, Araluen bersiap berpesta—
tanpa tahu bahwa emas yang mereka kagumi
telah diasah cukup tajam
untuk melukai siapa pun yang meremehkannya.