"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengecup bibir Syifa
..."Seujung kuku dari kematian, sedekat hembusan napas dari pengabdian."...
......................
Ponsel di atas nakas rumah sakit itu terus bergetar tanpa henti, memecah kesunyian ruang perawatan yang dingin. Layarnya menyala terang, menampilkan deretan panggilan tak terjawab dari satu nama yang seolah tak punya rasa lelah: Penyang.
Di atas ranjang, Syifa masih terlelap dalam tidur yang sangat dalam, nyaris seperti koma. Jiwanya seolah tersesat di alam mimpi yang gelap, efek dari terkurasnya seluruh energi saat raga dan batinnya menjadi medan tempur antara Kambe Kukang dan pusaka Tatu Hiang.
Agung duduk di sampingnya dengan wajah kuyu. Tangannya yang terbalut perban putih tebal terasa berdenyut nyeri. Jahitan demi jahitan yang kini menyatu dengan dagingnya akan meninggalkan bekas permanen—sebuah "tato" paksa atas nama perjuangan cinta yang ia yakini.
Derdering ponsel itu mulai membakar emosi Agung. Dengan sisa tenaga dan rasa sakit di tangannya, ia meraih ponsel Syifa. Tanpa ragu, ia membuka pengaturan kontak. Nama 'Penyang' ia hapus dengan kasar, lalu jemarinya mengetik nama baru dengan penuh kebencian: "Dukun Pencabut Nyawa".
Agung tak bisa membuka kunci layar untuk membalas pesan WhatsApp karena terkunci pola, namun notifikasi balon terus bermunculan di baris atas layar. Ia membacanya dengan tatapan sinis. Di sana, pesan dari Penyang terlihat seperti sebuah "pengemisan" yang memuakkan bagi Agung:
Syifa, toko hancur total. Pemiliknya minta ganti rugi ratusan juta. Kita juga harus segera buat ritual barasih (pembersihan) untuk minta maaf pada penghuni benda-benda itu. Tolong, aku tidak punya uang, transfer untuk ganti rugi ini...
Agung mendengus meremehkan. Baginya, pesan itu hanyalah kedok tipu-tipu seorang dukun yang gagal mencelakai Syifa dan kini mencoba memeras uang. Ia membanting ponsel itu kembali ke nakas.
"Dasar penipu," desis Agung pelan sembari menatap Syifa yang masih pucat. "Setelah membuatmu seperti ini, dia masih berani menagih uang?"
Dendam itu kini semakin mengakar. Agung bersumpah, bukan hanya bekas luka di tangannya yang akan ia selesaikan, tapi juga urusan dengan si 'Dukun Pencabut Nyawa' itu.
Agung tak beranjak sedikit pun. Dalam remang lampu ruang perawatan, ia mendekap tangan Syifa dengan sangat posesif. Ia membawa jemari wanita itu ke arah dadanya, membiarkan Syifa merasakan detak jantungnya yang menderu di balik kemeja yang berantakan. Luka di telapak tangannya yang terbebat kasa putih tak lagi terasa perih; rasa itu telah kalah oleh luapan emosi yang begitu intim.
Bagi Agung, cinta bukan tentang diam dan memuja dari jauh. Syifa adalah ratunya, dan ia tak akan membiarkan wanita ini hancur. Ia ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa Syifa masih bisa bernapas malam ini.
Tiba-tiba, Syifa tersentak hebat. Tubuhnya melengkung di atas ranjang dengan napas yang terputus-putus, seolah jiwanya baru saja ditarik paksa dari dasar sumur yang gelap. Matanya terbelalak, menatap langit-langit dengan ngeri.
"Sstt... aku di sini," bisik Agung. Ia segera mendekatkan wajahnya, membiarkan napasnya menyentuh kulit pipi Syifa. "Kau sudah aman, Sayang."
Syifa menoleh pelan, pandangannya masih berkabut. Bau obat-obatan menusuk hidungnya, menggantikan bau amis darah yang sempat ia hirup di toko tadi. Ia mencoba bicara, tapi tenggorokannya terasa kaku. Matanya kemudian turun ke arah tangan mereka yang bertautan, terpaku pada balutan perban tebal membalut tangan pria tampan itu.
"Tanganmu..." suara Syifa serak, penuh luka. "Kenapa... begitu?"
Agung menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang mencampuradukkan kasih sayang dan amarah yang terpendam. Ia mengeratkan genggamannya, seolah tak ingin ada celah sedikit pun di antara mereka.
"Benda tajam itu hampir saja menembus ulu hatimu," ucap Agung dengan suara rendah yang menggetarkan udara di antara mereka. "Aku menangkapnya tepat sebelum ia menyentuh kulitmu. Aku tidak peduli tangan ini hancur, Syifa. Aku lebih memilih kehilangan lengan daripada harus kehilanganmu."
Syifa tertegun. Jantungnya berdegup kencang, sebuah debaran yang menyakitkan sekaligus manis. Kilasan ingatan itu muncul seperti guntur: bayangan sebilah mandau yang bergerak sendiri, seolah memiliki nyawa dan mata yang hanya ingin mencabut nyawanya. Ia ingat betapa haus baja itu akan darahnya, dan ia ingat betapa kokoh punggung Agung melindunginya.
"Kau... menahannya untukku?" bisik Syifa, air mata mulai menggenang.
"Selamanya," balas Agung. Ia mengusap air mata di pipi Syifa dengan ibu jarinya yang tak terluka. "Si dukun itu, Penyang... dia hampir membunuhmu dengan mainannya. Tapi aku di sini sekarang. Tak ada yang bisa menyentuhmu lagi."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan menyesakkan. Jarak di antara mereka kian menipis. Di tengah aroma rumah sakit yang dingin, ada kehangatan yang meledak di antara keduanya—sebuah janji yang tertulis dengan darah di telapak tangan Agung.
Ruangan itu seakan melenyap, menyisakan hanya mereka berdua dalam kepungan cahaya remang lampu nakas yang kekuningan. Keheningan rumah sakit yang dingin mendadak berubah menjadi atmosfer yang berat dan panas. Agung masih menggenggam tangan Syifa, namun kini jemarinya mulai mengusap lembut punggung tangan wanita itu, memberikan sensasi hangat yang merambat hingga ke ulu hati.
Syifa menatap mata Agung yang dalam, namun hatinya justru didera rasa malu yang pedih. Ia melihat pemujaan yang begitu murni di sana, sebuah tatapan yang seharusnya ia dambakan. Namun, ia tahu rahasia gelap di balik kulitnya.
Apakah ini benar-benar dia, atau hanya khasiat Kukang yang menghipnotisnya? batin Syifa getir. Ia minder, merasa seperti penipu yang mencuri ketulusan pria ini melalui minyak terkutuk itu. Namun, di saat yang sama, separuh jiwanya yang telah tercemar justru merasa haus akan perhatian itu.
Tatapan Syifa masih terlihat linglung, bibirnya sedikit terbuka, mencoba menghirup udara yang kian menipis. Bagi Agung, setiap jengkal wajah Syifa adalah candu. Cahaya lampu yang jatuh di tulang pipi Syifa membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari khayangan. Pandangan Agung perlahan turun ke bibir Syifa yang ranum dan sedikit gemetar.
Ada rasa lapar yang tak tertahankan mendesak di dada Agung. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga aroma parfum Syifa yang bercampur bau samar bunga melati memenuhi rongga hidungnya. Tanpa sadar, Agung menunduk dan mengecup bibir Syifa dengan sangat pelan—sebuah sentuhan yang lembut namun penuh desakan.
DEG.
Jantung Syifa seolah meledak. Ia tersentak, seluruh sarafnya menegang akibat debar liar yang ia tahu adalah efek minyak Kukang yang sedang bereaksi. Sentuhan itu memicu gairah yang tak masuk akal, membuat darahnya terasa mendidih di dalam pembuluh.
"Kamu...?" bisik Syifa parau, matanya berair menatap Agung.
Agung segera menarik diri, napasnya menderu pendek, wajahnya memerah karena rasa malu yang mendalam. "Maaf... tak sengaja. Aku benar-benar kehilangan akal sehat melihatmu."
"Tak sengaja?" Syifa mengulanginya, suaranya sedikit bergetar antara marah dan damba.
Agung menunduk, tak berani menatap Syifa karena merasa telah melanggar kesucian momen ini. Namun, di bawah selimut, tangan Syifa mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih. Ia sedang berperang melawan dirinya sendiri. Ia marah karena ingin sekali meraih leher Agung, menarik pria itu kembali ke pelukannya, dan menekannya di atas ranjang rumah sakit ini.
Agung tidak tahu bahwa kecupan "tak sengaja" itu baru saja menyulut api di dalam sangkar. Kambe Kukang di dalam raga Syifa menggeliat senang, menghisap aroma nafsu yang terpancar dari ketulusan Agung. Makhluk itu mulai merangkak naik, mencoba memicu hasrat Syifa agar ia menyerah pada insting manusianya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba