NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG MENGHANCURKAN

Matahari Jakarta siang itu terasa membakar kulit, tapi tidak lebih panas dari api yang berkecamuk di dada Rangga. Setelah semalaman tidak bisa memejamkan mata karena bayangan struk restoran mewah itu, Rangga memutuskan untuk menjemput kebenaran yang selama ini dia takuti. Pagi-pagi sekali, dia sudah sibuk di dapur kecilnya yang pengap. Dengan telaten, dia memasak nasi goreng kesukaan Laras, lengkap dengan telur mata sapi yang pinggirannya agak garing—persis seperti yang istrinya suka dulu.

Rangga menaruh nasi itu ke dalam kotak makan plastik yang sudah kusam warnanya. Dia membungkusnya rapi dengan kantong kain, berharap kalau kejutan makan siang ini bisa mencairkan suasana. Mungkin kalau aku lebih perhatian, Laras bakal sadar kalau aku sayang sekali sama dia, batinnya mencoba menghibur diri sendiri. Dia cuma ingin rumah tangganya selamat. Dia cuma ingin Rinjani tetap punya orang tua yang lengkap.

Dengan motor bututnya yang sesekali mengeluarkan asap putih, Rangga membelah kemacetan. Dia tiba di gedung perkantoran mewah tempat Laras bekerja. Dia merasa minder, jujur saja. Bajunya cuma kaus berkerah yang warnanya sudah memudar, kontras sekali dengan gedung kaca yang menjulang angkuh di depannya. Tapi, rasa sayangnya mengalahkan rasa malu itu. Dia berjalan masuk melewati lobi, mengabaikan tatapan sinis dari satpam yang menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Lantai empat. Itu adalah tempat Laras bekerja. Suasana kantor sepi karena memang sudah jam istirahat. Sebagian besar karyawan pasti sedang makan di luar atau di kantin bawah. Rangga berjalan perlahan menyusuri lorong yang dingin karena AC. Jantungnya berdegup kencang sekali, seolah-olah mau melompat keluar dari rongga dadanya.

Begitu sampai di depan ruang kerja Laras yang pintunya sedikit terbuka, langkah Rangga seketika terhenti. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat itu, dia menatap pemandangan yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya sebagai lelaki.

Laras, istrinya yang tadi pagi pamit dengan wajah ketus, sedang duduk di meja kerja sambil tertawa manja. Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja slim-fit mahal sedang merangkul pinggang Laras dengan sangat akrab. Pria itu—yang Rangga yakini sebagai Badru—membisikkan sesuatu di telinga Laras yang membuat wanita itu tersipu malu, lalu mendaratkan kecupan di pipi Laras.

Prang!

Kotak makan yang dipegang Rangga jatuh begitu saja. Tutupnya terbuka, membuat nasi goreng yang dia masak dengan penuh harapan itu tumpah berhamburan di atas lantai marmer yang mengilap. Rangga mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya terasa panas, tapi air matanya tertahan oleh rasa syok yang luar biasa hebat.

Laras dan pria itu seketika menoleh. Wajah Laras sempat pucat sesaat, tapi cuma sekejap. Seketika itu juga, raut wajahnya berubah menjadi angkuh. Tidak ada raut bersalah, tidak ada ketakutan. Dia justru berdiri dengan tenang, merapikan rok span-nya yang sedikit berantakan.

"Kok kamu bisa di sini sih?" tanya Laras dengan suara melengking. Tidak ada sedikit pun rasa menyesal di nada bicaranya.

"Laras... apa ini? Siapa dia?" suara Rangga bergetar hebat. Dia menunjuk pria itu dengan jari yang gemetar.

Laras mendengus sinis, lalu dia melirik Badru yang sekarang berdiri dengan tangan di saku celana, menatap Rangga dengan pandangan meremehkan. "Ya seperti yang kamu lihat deh. Kenalin, ini Mas Badru. Pria yang jauh lebih pantas buat aku daripada kamu yang cuma ojek serabutan," ucap Laras dengan nada yang sangat tajam, menusuk tepat di jantung Rangga.

Rangga menatap nasi goreng yang berserakan di lantai. "Aku masakin ini buat kamu, Ras... aku cuma mau kita baik-baik saja..."

"Ah, nggak usah drama deh! Lihat tuh, nasi sampah kamu bikin kotor kantor aku tahu nggak! Mas Badru tadi habis traktir aku makan di restoran Jepang, lah kamu cuma bawa nasi goreng murahan?" Laras tertawa sinis, membuat air mata Rangga akhirnya luruh juga.

Keributan kecil itu memancing beberapa rekan kerja Laras yang baru kembali dari istirahat untuk mendekat. Mereka berdiri di depan pintu, berbisik-bisik sambil menatap Rangga yang tampak sangat menyedihkan. Laras yang menyadari ada penonton, justru makin menjadi-jadi. Dia tidak mau terlihat malu karena punya suami seperti Rangga.

"Kalian lihat kan?" Laras berteriak sambil menunjuk ke arah Rangga. "Ini orang yang selama ini ngaku-ngaku jadi suami aku. Dia ini pengangguran yang kerjaannya cuma numpang hidup sama aku! Malas-malasan di rumah, tiap hari cuma minta duit hasil kerja keras aku!"

Rangga ternganga. "Laras! Kok kamu tega fitnah aku begitu? Aku kerja di bengkel, aku ngojek sampai tengah malam buat kamu dan Rinjani!"

"Halah, alibi! Hasil ojek kamu itu nggak cukup buat beli bedak aku pun, Rangga! Selama ini aku yang nanggung semua biaya rumah, kamu itu cuma beban!" Laras terus memaki, wajahnya merah padam karena amarah yang dibuat-buat agar orang-orang di kantornya percaya. "Malu-maluin banget sih datang ke sini dengan baju dekil begini. Kamu mau bikin aku malu di depan temen-temen aku, hah?"

Badru, pria selingkuhan itu, melangkah maju dengan gaya yang sangat sombong. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang tebal, mengambil selembar uang seratus ribu, lalu melemparnya ke arah dada Rangga. Uang itu jatuh tepat di atas nasi goreng yang tumpah di lantai.

"Nih, buat ongkos bensin motor butut kamu. Mending kamu pergi deh, jangan ganggu waktu kami. Anggap aja itu uang ganti rugi karena kamu sudah merusak suasana makan siang kami yang indah," ucap Badru sambil tersenyum meremehkan.

Rangga menatap uang itu, lalu menatap Laras. Dia berharap ada sedikit saja rasa kasihan di mata istrinya. Tapi yang dia temukan cuma kebencian dan rasa jijik yang luar biasa. Harapan Rangga untuk memperbaiki semuanya musnah seketika. Cinta yang dia bangun dengan susah payah selama lima tahun, hari ini diinjak-injak di depan umum oleh wanita yang paling dia cintai.

"Kamu beneran mau milih dia, Ras?" tanya Rangga pelan, suaranya terdengar sangat rapuh.

Laras melipat tangannya di dada. "Iya lah! Mas Badru bisa kasih aku segalanya, nggak kayak kamu yang cuma bisa kasih janji manis tapi hidup tetap melarat! Udah deh, mending kamu pergi sekarang. Nggak usah balik ke rumah lagi kalau perlu!"

Laras melangkah maju, mendorong bahu Rangga dengan kasar sampai Rangga hampir terjatuh. "Pergi kamu dari sini! Aku malu lihat muka kamu! Sore ini juga, aku bakal urus surat cerai kita. Aku nggak sudi lagi jadi istri ojek miskin kayak kamu!"

Teriakan Laras menggema di lorong kantor. Rangga mundur selangkah demi selangkah. Dia tidak memungut uang seratus ribu itu, dia juga tidak membereskan nasi goreng yang tumpah. Dia berbalik dengan hati yang sudah hancur menjadi debu. Setiap langkah yang dia ambil terasa sangat sakit, seolah-olah dia sedang berjalan di atas pecahan kaca.

Dia tidak tahu lagi harus pulang ke mana. Bayangan wajah Rinjani muncul di benaknya, membuat air matanya mengalir makin deras. Ternyata, kesetiaan memang tidak ada harganya di mata orang yang sudah buta karena harta. Rangga berjalan menjauhi gedung itu, meninggalkan Laras yang masih asyik memaki-makinya di depan rekan kerjanya, tanpa tahu kalau hari ini adalah awal dari kehancuran hidup wanita itu sendiri di masa depan.

"Aku lepaskan kamu, Laras... kalau itu yang kamu mau," bisik Rangga pada angin yang berhembus kencang, membawa pergi sisa-sisa harga diri yang telah lama dia pertahankan demi sebuah kata cinta yang ternyata cuma dusta.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Kar Genjreng
semoga punya istri yang ke dua amanah benar benar tulus bisa menjadi istri dan menjadi ibu pengganti yang baik
Kar Genjreng
nah ras penyesalan memang datangnya belakangan,, kalau duluan namanya lamaran,,jadi sekarang nikmat rasa yang pernah kamu torehkan kepada Rangga dan Rinjani,,, sombongmu seperti malaikat pencabut nyawa ,,, sekarang justru mirip seonggok sampah 😆👍👍
Kar Genjreng
😮😮kapok tempe mu sudah ga laku mau balik ke mantan suami yang Lo buang Lo ko enak ,,,,ketika Lo senang ninggalin Suami yang bau oli,,, sekarang begitu si bau oli sudah mandiri bersama putrinya Lo ngemis ihhh menjijikan
Kar Genjreng
sekarang mau mencari pria sampah dan menjijikan ga malu dih kalau Ak jadi mantan Amel ogah amat ga usah di terima barang sudah di jamah pria lain ,,
Kar Genjreng
👍👍harus semangat ya Mas agar kelak bisa meraih kesuksesan Aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: ya harus itu
total 1 replies
Kar Genjreng
Oalah nasib kalau beruntung baru satu malam laku hanya lima ribu,,,dan toko itu sudah di sewakan semoga ada tempat lagi yang lebih ramai dan ramah lingkungan nya 😭😭
Mistikus Kata: semoga mas
total 1 replies
Kar Genjreng
semangat. menjemput rezeki
Mistikus Kata: itu suatu kewajiban
total 1 replies
Kar Genjreng
👍👍 semogaa berhasil ya Rangga tekatmu pasti akan terwujud bismillah,,🙏
Mistikus Kata: kita berdoa saja
total 1 replies
Kar Genjreng
😭😭mudah mudahan ketemu orang baik' dan menolong ayah dan putrinya,, kelak akan hidup bahagia dan bisa membagakan ayahnya,, aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: kerasa banget di bab ini
total 1 replies
Kar Genjreng
seru dan bagus,,
Kar Genjreng
biarpun laki laki jelaskan kumuh tetapi berjuang untuk menyenangkan mu apa balasan nya Lo hina suami li dan ayah dari Putrimu,,,lihat Lo hanya berdagang barang
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
Kar Genjreng
pergi saja Rangga kalau tidak biar binimu yang suruh pergi dan kamu tinggal berdua dengan Rinjani,,
Kar Genjreng
😭😭 terkadang seperti ini suami kerja kasar wanita kerja halus,,,tapi biasanya Wanita nya baik ini beda Wanita nya kejam
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,
Kar Genjreng
mampir semoga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!