Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Chen Li
Ketika semuanya terdiam beberapa saat, pelayan tuan putri melangakah, menyentuh bahu tuan putri seraya membisikkan sesuatu. Mata tuan putri menyimpit karena serius lalu setelah mendengar semuanya dia kembali dingin. Memandang Chen Li dan Yun Xiao berkata, “anak muda, apa maksudmu?”
Tuan putri mengambil jeda dan pelayannya mundur tiga langkah. Setelahnya melanjutkan, “Tuan Li memang seperti itu tapi dari keluarga baik-baik. Sementra gadis ini sebaliknya.”
“Yang mulia.” Chen Li sedikit membungkuk memberi hormat. Dia berkata seraya mengabaikan Yun Xiao yang ada di belakangnya sedang menarik bajunya, “Tuan Li telah melahirkan banyak puisi namun pada akhirnya dia bersama pangeran berkhianat melakukan pemberontakan pada pemerintahan Kaisar Zhao ketiga, menurutmu apa hal yang baik? Namun pada akhirnya namanya tetap besar dan hormati. Lagi pula siap yang peduli entah seberapa banyak perasaan kebencian atau pemberotakan yang ada di dalam puisi? Aku harus mengingatkan anda jika puisi yang baik harus menjadi perahu bagi perasaan penulisnya. Anda...”
Chen Li diam dan mengamati orang-orang sekitarnya lalu berkata, “Hanya orang bodoh yang tahu mengocek. Menyebut menangkap demi keamanan dan pencegah penularan. Anda hanya orang tidak tahu malu dengan pemerintahan anda sendri.”
Tuan putri semakin dingin. Pelayan yang berdiri di belakangnya menyempitkan matanya dan pandanganya semakin tajam. Kusir yang ada kereta hanya mengusap, menurunkan capilnya dan memejamkankan matanya.
Chen Li berkata lagi, “Temanku telah menulis puisi di usianya yang muda dan telah terbang mencapai ibukota melalui tangan anda. Seharusnya anda senang jika ada bibit baru yang menulis dengan perasaan bukan kata-kata kosong. Yang mulia... Tolong.” Chen Li bersimpuh dan menyentuhkan kepalanya ke tanah sembari berkata, “jangan tangkap orang yang tidak bersalah meskipun ayahnya seorang pemberontak.”
Kata-katanya lembut dan caranya bersujud membuat hati semua orang bergetar. Mereka tanpa sadar ikut dalam perasaan itu.
Yun Xiao bergumam memanggil Chen Li. Dia seperti melihat orang yang berbeda di depannya.
Sementara tuan putri semakin dingin dan lebih dingin.
Pelayan yang ada di belakangnya melangakah maju lalu membisikkan sesuatu. Setelah itu tuan putri diam sebentar sebelum berkata, “Aku hanya melakukan tugasku. Jika kamu mau melindungi gadis ini, maka kamu punya dua pilihan. Apa kamu mau ditangkap atau gadis itu? Jangan pernah bilang kami dari keluarga kekaisar akan bertindak semena-mena.”
Yun Xiao terkejut dan matanya gemetar. Dia langsung berwujud dan memohon, “Bawa aku yang mulia, Chen Li tidak ada hubungan denganku!”
Tuan putri berkata, “Baik, siapa yang akan kamu pilih?”
Chen Li mengangkat kepalanya dan berkata, “Ibukota... Tuan putri apa anda akan membawaku untuk di interogasi?”
Tuan putri mengangguk. “Gadis kecil itu tidak akan sanggup menerimanya jika dia aku tangkap. Sebenarnya seharusnya kalian berdua harus di tangkap. Tapi mengapa aku harus menangkap menangkapmu dan menginterogasinya? Aku sebenarnya lebih tertarik dengannya. Jadi menangkapmu terasa membosankan. Tapi karena pelayanku menginginkanmu jadi aku tidak akan masalah.”
Yun Xiao tidak terima dan segera menarik jubah Chen Li dan berkata, “Apa yang kamu katakan? Yang mulia ingin membawaku bukan kamu, kamu tidak perlu berkorban seperti ini.”
Chen Li berkata, “Aku punya tujuanku dan kamu punya cita-citamu. Aku akan selalu mendukungmu, buatlah banyak tulisan dan bilang ibuku aku pergi ke ibukota dan ibumu...”
Chen Li berbisik dan membuat Yun Xiao terkejut dan sedikit merenung. Dia ingin bertanya tapi Chen Li memotong, “Tidak perlu seperti itu, seorang ibu pasti ingin melindungi anaknya.”
Yun Xiao jadi pendiam setelah mendengar itu.
Chen Li kemudian berdiri. Pelayan di samping tuan putri menjentikan jarinya dan muncul borgol yang mengikat kaki dan tangannya.
Chen Li tersenyum dan membungkuk pada semua orang. “Maafkan aku dan terima kasih. Aku akan pergi ke ibukota. Aku telah melihat banyak wanita cantik dan ketika aku pergi ke ibukota pasti banyak wanita yang akan muncul.”
Dia lalu berbalik dan berjalan pergi.
Tuan putri masuk ke dalam keretanya dan Chen Li masuk ke jeruji besi yang disiapkan pelayan tuan putri.
Dengannya kereta lewat membawa Chen Li.
Semua orang mulai berbisik-bisik lalu perlahan-lahan mulai pergi. Nyonya penjual perhiasan mendengus lalu pergi. Peralamal menghela nafas sebelum kembali ke kiosnya. Yun Xiao paling akhir dan memandang kepergiannya. Dia seperti bertanya mengapa ini yang terjadi? Selain itu mungkin juga karena apa yang di bisikan Chen Li kepadanya.