Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²³ — Saksi dan Bukti Hidup.
Pintu rumah Lastri baru saja terbuka ketika suara rintihan itu berubah jadi lenguhan kesakitan yang panjang.
“ARGHHTTTT…!”
Lastri refleks mundur setengah langkah.
Di bawah cahaya lampu teras yang redup, seorang perempuan muda terhuyung-huyung. Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, dan bajunya… basah. Bukan oleh hujan, tapi oleh darah.
“Ya Allah…!” Lastri langsung menahan napas.
Perempuan itu jatuh tepat di ambang pintu, tubuhnya ambruk seperti sudah tak sanggup menahan beratnya sendiri.
Lastri buru-buru berlutut, tangannya gemetar saat mencoba memegang bahu perempuan itu. “Teh! Teteh, sadar?!”
Lalu perempuan itu membuka mata setengah, napasnya tersengal-sengal. Bibirnya bergetar. “Teh Lastri… tolong aku…”
Lastri menelan ludah. Ia menunduk, dan barulah ia sadar… perut perempuan itu membesar, sedang hamil besar. Dan darah itu, mengalir dari bawah tubuhnya.
Lastri seketika merasa dingin sampai ke tulang-tulang. “Ya Allah… kamu hamil…”
Perempuan itu mengangguk lemah, lalu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Lastri kuat-kuat—sekuat tenaga yang tersisa.
“Jangan… jangan biarin aku mati…”
Lastri langsung menoleh ke dalam rumah. “Alya! Alya, keluar! Ambil kain, ambil air! Cepat!”
Di kamar, Alya sebenarnya sudah menangis ketakutan. Tapi begitu mendengar suara Lastri, ia tersentak dan langsung keluar sambil membawa selimut dan handuk.
Namun saat melihat sosok di lantai, Alya menutup mulutnya. “Ya Allah…”
Lastri menahan suara gemetar di tenggorokannya.
“Teteh kenal dia?” tanya Alya pelan.
Lastri menatap wajah perempuan itu, mencoba mengingat. Dan detik berikutnya, ia membeku. Ia mengenali wajah itu, meskipun sekarang penuh luka. Meskipun wajah perempuan itu sekarang pucat dan nyaris pingsan.
Lastri memang mengenalnya.
Perempuan itu adalah perempuan hamil yang dulu pernah dibawa oleh Ibu Surya ke hadapannya—istri siri Surya.
Lastri menatapnya seperti tak percaya. “Ini kamu….”
Perempuan itu mengangguk pelan, lalu bibirnya bergerak. “Nama... ku... Sinta…”
Lastri langsung menelan ludah. “Kenapa kamu seperti ini, Sinta…?”
Sinta berusaha bicara, tapi suaranya serak. “Ibu kang Surya… mau bunuh aku…”
Alya menjerit kecil, lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri.
Lastri menahan napas. “Kenapa?”
Sinta memejamkan mata, seolah menahan sakit, lalu ia berkata dengan suara patah-patah. “Karena, aku ini saksi. Sekaligus bukti hidup atas laporan pernikahan siri Teh Lastri... terhadap kang Surya.”
Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara datar. “Kalau aku hilang, kang Surya punya celah. Itu cukup untuk membebaskannya, dan bukti-bukti lain bisa mereka hancurkan.”
Lastri tersentak. Ia tak menyangka ibu Surya bukan hanya tajam di mulut, tapi juga kejam dalam cara berpikir.
“Ibunya kang Surya, sudah tahu sejak sidang perceraian Teteh. Dia tahu anaknya benar-benar mandul, dan dia akhirnya tau… anak ini bukan anak kang Surya. Ibu kang Surya jadi panik, ia takut... cepat atau lambat, orang-orang akan tahu selama ini anaknya mandul.“ Sinta membuka mata, menatap Lastri seperti orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi selain kebenaran.
Sinta melanjutkan. “Dia juga malu, karena sebelumnya dia sudah terlanjur yakin aku hamil cucunya. Dia bahkan sudah keliling desa, bilang aku mengandung anak kang Surya… dan teh Lastri yang mandul.”
Lastri menelan ludah. “Jadi… anak ini benar-benar bukan anak Surya?”
Sinta menggeleng cepat, langsung menangis.
“Bukan… bukan anaknya. Setelah itu, ibu kang Surya nggak mau melepaskanku.”
Lastri merasakan amarah naik, tapi ia menahan. “Dia ngapain kamu?”
Sinta memejamkan mata, bibirnya gemetar. “Dia nyiksa saya.”
Alya langsung memegang mulutnya lagi.
Lastri menatap luka di tangan Sinta. Ada bekas cambuk, memar. Juga ada bekas kuku dan banyak luka lainnya.
Sinta menggigit bibir. “Aku dengar, Ibu kang Surya bilang… kalau aku mati maka semua selesai. Teh… sebenarnya pernikahan siri itu bukan kemauanku. Aku… dijual orang tuaku ke kang Surya.”
Lastri terdiam. “Kita masuk dulu, nanti kamu ceritakan semuanya.”
Di desa seperti ini, perempuan miskin memang sering jadi korban.
Sinta memejamkan mata, menahan rasa sakit di perutnya.
Alya menatap Lastri ketakutan. “Teh… Kayaknya kita harus panggil polisi.”
Lastri mengangguk, lalu menatap Sinta. “Tapi sebelum itu, dia harus selamat dulu. Kita bawa dia ke bidan atau puskesmas sekarang.”
Alya mengangguk cepat, tapi tangannya gemetar. “Teh… kita berdua aja?”
Lastri menelan ludah, ia ingin bilang 'iya'. Tapi ia tahu, ini bahaya. Sinta bukan cuma korban, tapi juga saksi dan bukti hidup. Dan orang yang ingin membunuhnya, bukan orang sembarangan. Itu ibu dari mantan suaminya, orang yang selama ini juga menjadi akar kejahatan Surya.
Lastri menarik napas, lalu menoleh ke Alya.
“Alya, telepon Kalvin sekarang. Bilang… kita butuh bantuan. Suruh dia bawa Bang Malvin kesini.”
“Sudah, Teh. Dari tadi aku sudah telepon bang Kalvin. Aku juga sudah bilang, dia harus bawa Bang Malvin.”
Lastri menutup mata sebentar. Dalam situasi seperti ini ia tidak boleh gegabah, dan tak boleh sok kuat. Nyawa orang di depannya taruhannya. Lastri kembali berlutut, menepuk pipi Sinta pelan.
“Sinta, kamu tahan ya. Jangan tidur dulu.”
Sinta mengangguk lemah. “T-teh…”
Lastri menatapnya.
Sinta menggigit bibir, lalu berkata dengan suara sangat kecil. “Ibu kang Surya… pasti lagi nyari-nyari aku karena berhasil kabur dari rumahnya…”
Lastri merasa tengkuknya dingin, berarti jaraknya tidak jauh. Berarti orang itu bisa datang kapan saja.
Dan benar saja detik berikutnya… suara mobil terdengar. Saat mobil berhenti, beberapa orang langsung mendekat.
Alya langsung memucat. “Teh, itu siapa?!”
Lastri berdiri pelan, ia menatap ke arah jalan gelap. Lastri menelan ludah, ia tidak menjawab. Karena dalam hatinya, ia sudah tahu. Dan tepat ketika orang-orang itu berjalan masuk ke halaman rumah...
Sinta tiba-tiba menggeliat kesakitan.
“ARGH…!”
Lastri buru-buru menahan tubuh perempuan hamil itu. Sinta mencengkeram tangan Lastri kuat-kuat. “Teh… tolong… mereka… mereka datang…”
Alya menangis ketakutan.
Dan suara wanita tua yang tajam itu terdengar jelas di kegelapan—Ibu Surya. “LASTRI…! Serahkan dia padaku!”
Lastri membeku, saat ini rumah kecilnya baru saja menjadi medan perang.
mereka emang pantes di bui