NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 1: VONIS DI RUANG BIRU

"Fungsi ginjalnya tinggal dua belas persen, Bu Aisha."

Suara dokter itu datar, profesional, tapi setiap katanya seperti palu godam yang menghunjam tepat di tengah dada Aisha. Ruang konsultasi yang sempit tiba-tiba terasa pengap. Dingin AC yang menyengat justru membuat keringat dinginnya mengalir deras di punggung.

"Duabelas... persen?" Aisha mengulangi, suaranya lebih mirip desahan angin yang tertahan.

Dokter Arman mengangguk berat, matanya penuh belas kasih yang justru membuat Aisha semakin takut. Belas kasih itu seperti pertanda buruk.

"Ya. Dialisis dua kali seminggu hanya bisa menahan, bukan menyembuhkan. Transplantasi ginjal adalah harapan terbaik untuk Arka." Dokter itu menarik napas. "Dan untuk hasil terbaik, kami butuh donor hidup yang cocok. Idealnya dari... keluarga inti. Orang tua atau saudara kandung."

Keluarga inti.

Dua kata itu menggantung di udara, berat, menusuk. Aisha menatap dokumen medis di atas meja gambar ginjal yang disorot dengan warna merah menyala, grafik yang turun drastis seperti tebing curam. Tapi yang ia lihat justru Arka. Anaknya. Cahayanya.

Di balik kaca jendela ruang konsultasi, terlihat bayangan kecil itu duduk di ruang tunggu. Kepalanya tertunduk, asyik menggambar di buku sketsa yang selalu dibawanya ke mana-mana. Sinar matahari sore menyentuh rambut ikalnya yang mulai menipis karena efek samping pengobatan. Polos. Tak bersalah.

Dan ia adalah satu-satunya "keluarga inti" yang Arka punya.

"Itu... satu-satunya jalan, Dok?" suara Aisha serak.

"Tanpa transplantasi, kualitas hidup Arka akan terus menurun. Dan..." Dokter Arman berhenti, memilih kata-katanya. "Waktunya tidak banyak, Bu. Ginjalnya bekerja terlalu keras. Kita harus bertindak cepat."

Aisha mengangguk pelan, seperti robot. Pikirannya berputar kencang biaya dialisis yang sudah menyedot tabungannya yang cuma seujung kuku, pekerjaannya sebagai buruh cuci yang tak bisa ia tinggal, janji pada bos laundry bahwa ia tidak akan bolos lagi. Dan sekarang... transplantasi. Donor.

Orang tua.

Hatinya seperti diremas. Ia berdiri, tubuhnya limbung. "Terima kasih, Dok. Saya... saya akan pikirkan."

"Pikirkan cepat, Bu. Untuk Arka."

 

Di dalam bis kota yang penuh sesak, Aisha memeluk erat tas kain usangnya. Arka tertidur lelap di pangkuannya, kepalanya bersandar di dada Aisha. Nafasnya ringan, tapi ada desis kecil yang selalu membuat jantung Aisha berdebar efek dari cairan yang menumpuk di paru-parunya.

"Bunda," bisik Arka tiba-tiba, mata setengah terbuka.

"Kenapa, sayang? Tidak nyaman?"

"Bunda pegang tangan Arka terlalu kuat."

Aisha tersentak. Ia baru menyadari tangannya menggenggam erat tangan mungil Arka, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia segera melonggarkan genggamannya, mencium kening anak itu.

"Maaf sayang, Bunda tidak sadar."

"Ga papa. Arka suka kalau Bunda pegang erat. Rasanya... aman." Arka tersenyum kecil sebelum menutup matanya kembali.

Kalimat itu seperti pisau. Aman. Apa yang ia berikan kepada Arka hanyalah ilusi keamanan. Sebuah kehidupan yang terbuat dari kontrakan rusunawa lantai tiga, uap deterjen yang menusuk hidung, dan tumpukan tagihan obat. Dan sekarang, sebuah ginjal yang sekarat.

"Keluarga inti."

 

Malam itu, setelah memastikan Arka terlelap, Aisha berdiri di depan jendela kamarnya yang sempit. Dari ketinggian tiga lantai, kota terlihat seperti lautan lampu yang berkedip asing, dingin. Di dalam kamar 3x4 meter itu, hanya ada satu tempat tidur untuk mereka berdua, sebuah meja plastik penuh botol obat, dan kardus-kardus bekas yang dijadikan lemari.

Matanya tertuju pada sebuah laci kecil di bawah tempat tidur. Laci yang dikuncinya dengan gembok kecil delapan tahun yang lalu.

Jantungnya berdebar kencang.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil kunci kecil dari kalung yang selalu ia pakai kalung murahan dengan liontin hati yang setengah pecah. Ia berlutut, membuka gembok itu. Suara 'klik' terdengar seperti ledakan di keheningan malam.

Di dalamnya, hanya ada dua benda:

Sebuah foto lama yang sudah kusam foto seorang pria muda tersenyum lebar dengan latar kampus. Matanya bersinar, penuh impian. Rafa.

Sebuah surat yang belum pernah dikirim, dilipat rapi, dengan tulisannya yang kacau di bagian amplop: "Untuk Rafa".

Aisha mengambil foto itu. Jari-jarinya menyentuh wajah pria dalam foto. Delapan tahun. Delapan tahun ia lari. Delapan tahun ia membohongi semua orang, terutama dirinya sendiri. Ia pikir dengan memotong masa lalu, ia bisa membangun hidup baru.

Tapi masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menguburnya hidup-hidup. Dan sekarang, kuburan itu harus dibongkar dengan risiko menghancurkan segalanya.

Air mata pertamanya malam itu jatuh, membasahi foto yang sudah kusam.

"Maaf," bisiknya, entah pada siapa. Pada Rafa? Pada Arka? Atau pada dirinya sendiri yang berusia delapan belas tahun yang ketakutan dan memilih untuk lari?

Dari tempat tidur, terdengar suara batuk kecil. Aisha cepat-cepat menyembunyikan foto dan surat, menutup laci, dan bergegas ke samping Arka.

"Bun..." suara Arka lemah.

"Ya sayang? Minum?"

"Bunda... Arka mimpi lagi."

"Mimpi apa?"

Arka membuka matanya, memandang Aisha dengan tatapan yang terlalu dewasa untuk anak tujuh tahun. "Arka mimpi ketemu ayah. Dia tinggi. Dia peluk Arka. Dia bilang... jangan takut. Dia akan bantu Arka."

Nafas Aisha tertahan.

"Bunda," Arka melanjutkan, tangannya meraih tangan Aisha. "Ayah Arka... orang baik, kan?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi beratnya seperti gunung.

Aisha menatap mata anaknya mata yang sama persis dengan mata pria dalam foto yang baru saja ia lihat. Mata yang dulu ia cintai, lalu ia takuti, dan kini... menjadi satu-satunya harapan.

Ia menarik Arka dalam pelukan erat, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

"Ayah Arka..." suaranya tercekat. "Ayah Arka adalah orang baik, sayang. Bunda yang... Bunda yang tidak cukup berani."

"Kalau sekarang Bunda berani?" tanya Arka, polos. "Kita bisa cari dia? Arka pengen ketemu. Pengen bilang... Arka sayang ayah."

Kalau sekarang Bunda berani.

Kalimat itu menggantung di udara kamar yang pengap. Sebuah tantangan. Sebuah pilihan.

Di luar jendela, sirene ambulans melengking menjauh, membawa nyawa-nyawa lain yang mungkin juga sedang berjuang. Di dalam kamar, dua nyawa saling berpelukan satu terlalu kecil untuk menanggung sakitnya, satu terlalu rapuh untuk menanggung beratnya kebenaran.

Aisha menatap laci yang terkunci. Lalu menatap Arka yang kembali tertidur dengan senyum kecil di bibirnya.

Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi apakah ia sanggup?

 

(Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintiknya mengetuk jendela seperti isyarat dari masa lalu yang akhirnya datang menagih janji.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!