NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: LABIRIN KEPUTUSASAAN DAN TAHTA DARAH

Di puncak Menara Matsuda, Renji Matsuda duduk di depan jajaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru dingin pada wajah porselennya. Di usianya yang baru sepuluh tahun, ia tidak sedang bermain gim atau belajar sejarah; ia sedang mengoperasikan sistem pertahanan Sektor 7 seperti seorang konduktor orkestra maut.

"Target telah memasuki zona pembantaian," suara Renji datar, tanpa nada emosi manusiawi. Di layar, ia melihat Miyu dan kelompok pemberontaknya merangsek masuk ke aula utama kantor cabang.

Renji tidak langsung melepaskan tembakan. Baginya, kematian yang cepat adalah pemborosan sumber daya. Ia ingin menguji "integritas mental" subjeknya. Dengan jari-jari kecilnya yang lincah, ia mengaktifkan rangkaian jebakan yang telah ia desain secara personal.

Miyu memimpin pasukannya melewati lorong koridor yang tiba-tiba berubah menjadi labirin kaca. Di sinilah kegilaan dimulai. Renji mengaktifkan proyeksi frekuensi audio yang meniru suara Shizuka dan Renzo—suara rintihan kematian mereka yang diproses secara digital agar terdengar nyata di telinga Miyu.

"Miyu... kenapa kau membiarkan kami mati?" bisik suara digital Shizuka dari dinding-dinding lorong.

"Ini hanya trik!" teriak Miyu, namun tangannya bergetar. Tiba-tiba, lantai di bawah rekan-rekan pemberontaknya terbuka. Tanpa teriakan, mereka jatuh ke dalam lubang pembuangan limbah kimia yang dikelola oleh sistem otomatis. Satu per satu, Miyu kehilangan pengikutnya bukan karena pertempuran, tapi karena "kesalahan sistem" yang diatur oleh Renji.

Renji memperhatikan dari layar saat Miyu mulai histeris. Ia mengirimkan serangkaian robot mini yang tidak menyerang, melainkan menyemprotkan gas halusinogen dosis rendah. "Kakak Miyu," suara Renji menggema di lorong melalui pengeras suara, "Kau berbicara tentang kebenaran, tapi kau bahkan tidak bisa membedakan antara pantulan kaca dan kenyataan. Kau terlalu emosional untuk menjadi ancaman."

Jebakan terakhir Renji adalah sebuah pintu yang tampaknya menuju ruang server utama, namun itu adalah ruang dekompresi. Saat Miyu masuk, tekanan udara turun drastis, membuat paru-parunya yang memang sudah rusak terasa seperti akan meledak. Saat itulah, pasukan Red Samurai masuk dan melumpuhkannya dengan kejutan listrik tingkat tinggi yang merusak saraf motoriknya.

Dua jam kemudian, Miyu diseret ke dalam ruang interogasi bawah tanah yang dingin. Tangannya dirantai ke langit-langit, kakinya nyaris tak menyentuh lantai yang basah. Wajahnya yang hancur kini ditambah dengan memar kebiruan akibat penangkapan brutal tersebut.

Pintu geser terbuka dengan desis hidrolik. Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema. Kenzo Matsuda masuk, tetap gagah dalam setelan jas hitamnya, diikuti oleh Renji yang berjalan di sampingnya dengan tangan di belakang punggung—posisi seorang penguasa kecil.

Kenzo berdiri tepat di depan Miyu. Ia tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak; yang ada hanyalah penghinaan yang mendalam. Ia mengangkat dagu Miyu dengan ujung sepatu kulitnya yang mahal.

"Kau seharusnya tetap menjadi bangkai di lubang tempat aku membuangmu sepuluh tahun lalu, Miyu," suara Kenzo berat dan penuh ancaman.

"Kenzo... kau... iblis..." Miyu meludah, namun hanya darah yang keluar. "Putramu... dia akan... menghancurkanmu juga suatu hari nanti. Dia tidak punya hati... sama seperti dirimu."

Kenzo tertawa pelan, sebuah tawa yang mengirimkan hawa dingin ke tulang belakang. "Dia tidak menghancurkanku, Miyu. Dia adalah penyempurnaan dariku. Dia menangkapmu seperti menangkap tikus di dapur, sementara kau merasa sedang memimpin revolusi."

Kenzo kemudian memberi isyarat kepada teknisi di balik kaca. Sebuah alat pemancar saraf dipasang di pelipis Miyu. "Kau ingin bicara tentang penderitaan? Mari kita bicarakan tentang ingatan."

Kenzo mengaktifkan Neural Re-Writer. Alat itu tidak hanya menyiksa secara fisik dengan mengirimkan gelombang rasa sakit ke pusat saraf, tetapi juga memaksa otak Miyu untuk memutar ulang memori kegagalannya secara terus-menerus dalam putaran waktu yang dipercepat. Miyu dipaksa melihat kematian Shizuka dan Renzo ribuan kali dalam hitungan menit, namun di setiap pengulangan, wajah pelakunya berubah menjadi wajah Miyu sendiri.

"Ini adalah siksaan yang layak untukmu," desis Kenzo. "Bukan hanya tubuhmu yang akan hancur, tapi identitasmu. Kau akan lupa siapa dirimu, dan kau hanya akan ingat bahwa kau adalah penyebab kehancuran semua orang yang kau cintai."

Secara fisik, Kenzo mengambil pisau bedah laser dan secara perlahan mulai menghapus tato identitas lama yang masih tersisa di lengan Miyu, menggantinya dengan kode batang budak korporat. Rasa sakitnya luar biasa—panas laser membakar kulit hingga ke saraf tanpa bius.

Renji memperhatikan proses itu dengan mata yang tidak berkedip. "Ayah," interupsi Renji dengan suara datarnya, "Efisiensi detak jantungnya menurun 40%. Jika dilanjutkan, dia akan mati sebelum kita bisa mengekstraksi data sisa pemberontak lainnya."

Kenzo berhenti, menatap putranya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau benar, Renji. Kita harus menjaga 'mainan' ini tetap utuh untuk sementara."

Miyu yang sudah hancur secara mental dan fisik, yang kini tidak lebih dari rongsokan manusia, dilemparkan ke dalam sel isolasi di Deep Sea Prison—fasilitas bawah laut milik Matsuda Corp yang tidak terdeteksi oleh peta dunia.

Di sana, tidak ada cahaya. Hanya ada suara tetesan air dan rekaman suara Kenzo yang diputar ulang: "Kau bukan siapa-siapa. Kau tidak pernah ada."

Di atas permukaan, Kenzo dan Renji berdiri di balkon menara mereka, melihat fajar yang menyingsing di Tokyo.

"Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, Renji," kata Kenzo sambil menepuk bahu putranya. "Tapi ingat, musuh seperti Miyu adalah pengingat bahwa masa lalu akan selalu mencoba merangkak naik. Tugasmu adalah memastikan tanah di atas kuburan mereka cukup berat untuk menahan mereka di sana."

Renji menatap matahari terbit dengan mata peraknya yang kosong. "Aku sudah menyiapkan protokol penguburan digital untuknya, Ayah. Di mata dunia, serangan semalam adalah simulasi keamanan rutin. Miyu tidak pernah ada di sana. Dia tidak akan pernah ada lagi."

Hana Sato muncul dari balik bayangan, memeluk putranya dari belakang. Ia tersenyum puas, melihat betapa "sempurnanya" karya yang mereka ciptakan. Dinasti mereka aman, bukan karena cinta, tapi karena ketakutan yang dikelola secara sistematis.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!