NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab spesial 2 : Bahasa tanpa kata

​Setiap Sabtu sore, kami memiliki sebuah ritual suci yang tidak boleh diganggu gugat, sebuah janji tak tertulis yang kami sebut sebagai Silence Date. Saat jarum jam mendekati angka empat, kami akan mulai mengemas tas ransel tua yang warnanya sudah memudar karena matahari. Isinya sederhana: botol minum stainless yang dingin, beberapa potong roti sobek cokelat, dan selembar kain tenun untuk alas duduk. Kami kemudian melangkah meninggalkan rumah, menuju bukit kecil yang berdiri kokoh di belakang perkampungan nelayan, seolah menjadi penjaga diam bagi desa ini.

​Perjalanan ke atas bukit itu sendiri adalah bagian dari meditasi yang dipaksakan alam kepada kami. Kami mendaki di antara barisan pohon kelapa yang batangnya meliuk artistik dan semak belukar yang masih liar, yang sesekali menggores betis jika kami tidak waspada. Bau tanah kering dan aroma daun sirsak hutan menemani setiap tanjakan.

​Di puncak, hanya ada sebuah pohon beringin tua yang luar biasa besar. Akar-akarnya menjuntai ke bawah seperti tirai alami yang bergerak lambat, menciptakan semacam kanopi raksasa yang melindungi kami dari sisa terik matahari sore. Di bawah naungan akar itulah, dunia kami yang sebenarnya dimulai.

​Aturannya sederhana namun mematikan bagi orang seperti aku: tidak ada ponsel, tidak ada kamera, dan yang paling penting, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir.

​Bagi seorang wanita yang menghabiskan seumur hidupnya membedah kalimat, menyunting diksi, dan mencari makna tersembunyi di balik barisan kata seperti aku, kesunyian awalnya terasa seperti beban yang menghimpit. Otakku adalah sebuah mesin ketik yang tidak bisa berhenti berisik. Aku merasa memiliki dorongan neurotik untuk mengomentari warna langit yang mulai berubah menjadi peach, ingin memuji kicauan burung kutilang, atau sekadar ingin memberitahu Biru betapa tampannya dia saat cahaya senja jatuh tepat di rahangnya yang tegas.

​Namun, setiap kali aku tampak gelisah dan hendak membuka mulut, Biru selalu tahu. Tanpa menoleh, ia akan meraih jemariku, menggenggamnya dengan mantap, lalu meletakkan jari telunjuknya sendiri di depan bibir. Ia menggeleng pelan dengan senyum yang begitu tenang hingga membuatku merasa malu pada kebisingan di dalam kepalaku sendiri.

​"Dengarkan," ia seolah berkata lewat binar matanya yang dalam.

​Maka, perlahan aku mulai menyerah. Aku mulai belajar mendengarkan bukan dengan telinga, tapi dengan seluruh permukaan kulitku. Aku mendengar gesekan dedaunan kering yang tertiup angin laut, suara yang menyerupai bisikan rahasia kuno. Aku mendengar kepakan sayap elang yang berputar-putar di atas cakrawala, mencari arah pulang. Dan yang paling intim dari segalanya—saat dunia menjadi sangat senyap—aku mulai mendengar ritme napas Biru yang beradu dengan napasku, menciptakan simfoni paling jujur yang pernah ada.

​Dalam kesunyian itu, aku belajar mengenal Biru lebih dalam daripada saat kami berdiskusi panjang tentang naskah di meja makan. Aku memperhatikan cara matanya bergetar sedikit saat menatap garis batas antara laut dan langit yang memerah—itu adalah momen ketika aku tahu ia sedang melepaskan sisa-sisa trauma masa lalunya di Jakarta, membiarkan luka itu hanyut bersama arus pasang. Aku memperhatikan cara ia sesekali mengusap bekas luka lama di lengannya dengan ibu jari. Ia tidak melakukannya dengan rasa benci atau penyesalan, melainkan dengan penerimaan yang tulus, seolah luka itu adalah medali keberaniannya untuk bertahan hidup.

​Satu jam berlalu. Mungkin dua jam. Aku benar-benar kehilangan kompas waktu karena di atas bukit ini, waktu seolah melambat, membeku, dan berubah menjadi ruang yang bisa kami huni.

​Saat langit mulai berubah menjadi ungu gelap yang dramatis, Biru bergerak sedikit. Ia menyandarkan punggungnya di batang beringin yang bertekstur kasar, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, tempat di mana aku bisa mendengar detak jantungnya yang stabil dan kuat. Itu adalah suara paling indah, paling menenangkan, melebihi puisi mana pun yang pernah kusunting.

​Di momen itu, aku menyadari sebuah paradoks: aku tidak perlu lagi menulis ribuan kata atau merangkai kalimat puitis untuk meyakinkannya bahwa aku mencintainya. Kesunyian ini, cara kami berbagi napas di bawah beringin ini, sudah mengatakan segalanya dengan jauh lebih lantang.

​"Kamu tahu," Biru akhirnya memecah kesunyian setelah sekian lama. Suaranya serak dan sangat lembut, nyaris seperti desau angin. "Dulu aku takut pada diam. Aku pikir diam berarti kekosongan—berarti tidak ada lagi cinta atau tidak ada lagi ide yang tersisa. Tapi bersamamu, Na... diam adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa paling aman dari dunia."

​Aku mendongak, menatap matanya yang kini memantulkan cahaya bintang pertama yang muncul dengan malu-malu. Aku tidak menjawab dengan suara. Aku hanya mengeratkan pelukanku, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur bau sabun dan matahari.

​Di bawah sana, dunia mungkin masih berisik dengan opini, ambisi, dan kebohongan-kebohongan yang dipoles rapi. Namun di sini, kesunyian adalah kemewahan tertinggi yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh seluruh saham Laksmana mana pun. Kami sudah cukup. Kami sudah utuh, justru karena kami tidak perlu bicara.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!