Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter³² — Restu.
Sementara di kota, Mama Wina menyidang kakak beradik itu di ruang keluarga seperti hakim.
“Jadi… kalian dari mana saja beberapa hari ini?” Tatapannya tajam, suaranya dingin.
Alya menelan ludah.
Mama Wina melanjutkan, tanpa memberi celah. “Mama dengar kalian ke desa, ke lokasi proyek baru Abang kalian.”
Alya langsung menyikut Kalvin pelan, memberi kode. Namun, abangnya itu tetap diam.
Brak!
Telapak tangan Mama Wina menghantam meja. “Ngomong!”
Kalvin akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada.
“Kami cuma cari suasana baru, Mah. Desa itu masih asri, masih banyak sawah. Belum ramai bangunan, jadi udaranya seger.”
Tentu saja, itu bohong. Mereka ke sana untuk menguji Lastri, apakah perempuan itu pantas berdiri di sisi Malvin.
Kalvin memilih bohong karena ia paham betul sifat Mama Wina. Ibunya tidak akan mudah menerima wanita desa, apalagi… janda.
Mama Wina menyipitkan mata, seolah bisa mencium kebohongan dari jarak dekat. “Kalian pikir Mama bodoh?”
Alya buru-buru tersenyum manis. “Nggak gitu, Mah. Kita beneran cuma lagi jenuh di kota.”
Mama Wina tidak terpengaruh. “Kalvin.”
Kalvin menatap ibunya.
Mama Wina bicara pelan, tapi penuh tekanan. “Mama cuma tanya satu hal. Kalian ke sana… ketemu siapa?”
Kalvin tidak menjawab cepat.
Alya menahan nafas.
Mama Wina menatap keduanya bergantian, “Oh…” Ia menyandarkan tubuh ke sofa. “Berarti benar.”
Alya membeku. “Apa yang benar, Mah?”
Mama Wina menatap Alya tajam.
“Abang kalian… benar-benar dekat sama perempuan itu.”
Kalvin menghela napas kecil, tetap menjaga wajah datarnya.
Mama Wina melanjutkan, wajahnya dingin. “Perempuan desa itu, namanya Lastri kan?”
Alya langsung gelagapan. “Mama… itu—”
Mama Wina mengangkat tangan. “Cukup! Kalian boleh bohong sama siapa pun, tapi jangan pernah berani bohong sama Mama.”
Kalvin menatap ibunya dengan penuh selidik. “Mama mau apa?”
Mama Wina tersenyum tipis. “Mama mau lihat… perempuan itu seperti apa.”
“Jangan, Ma!” Alya panik.
Mama Wina menoleh. “Kenapa? Takut?”
Alya tercekat.
Mama Wina berjalan pelan, lalu berhenti tepat di depan Alya. “Dengar baik-baik! Abang kalian itu nggak bisa seenaknya milih ibu baru buat Alexa. Dia juga penerus keluarga kita. Kalau dia mau menikah…”
Ia menatap Kalvin dan Alya bergantian. “Dia harus menikah dengan perempuan yang pantas.”
Kalvin menyahut dengan suara berat. “Kali ini Bang Malvin berhak memilih perempuan yang mau dia jadikan istrinya, Mah. Nggak seperti pernikahan pertamanya, karena perjodohan.”
Kalvin menarik napas, menahan emosi. “Memang, pada akhirnya Bang Malvin bisa menyayangi Mbak Nanda. Tapi Mama tahu nggak… Abang bahkan pernah benci sama dirinya sendiri. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ia baru bisa mencintai Mbak Nanda saat semuanya sudah terlambat... saat kematian menjemput istrinya.“
Kalvin menatap ibunya dengan tatapan memohon. “Sekarang, Bang Malvin baru bisa membuka hati lagi. Jadi Kalvin mohon… Mama jangan ganggu hubungan Abang sama Teh Lastri. Dan asal Mama tau, Teh Lastri itu beda dari perempuan lain. Dia sangat peduli sama hidup orang lain. Bahkan kalaupun nyawanya jadi taruhannya, dia tetap akan menolong siapapun yang menurutnya pantas ditolong.”
Kalvin menarik napas, lalu berkata pelan tapi menusuk. “Dia juga yang ngajarin kami salat dan ngaji, apa Mama pernah ngajarin kami?”
Mama Wina menatap Kalvin tajam. Namun kali ini, lidahnya justru kelu. Beberapa detik hening menggantung, lalu Mama Wina akhirnya membuang napas kasar.
“Pergi,” katanya dingin. “Mama nggak mau bicara sama kalian lagi!”
Alya buru-buru menarik tangan Kalvin keluar ruangan. Mereka meninggalkan Mama Wina sendirian, dengan kepala penuh pikiran yang berputar-putar.
Tak lama, ia mengambil ponsel dan jarinya mengetik sesuatu. Belum sampai satu menit, ponsel Mama Wina berbunyi.
Ia mengangkat panggilan. “Halo, bagaimana?”
Orang itu menjawab cepat. “Nyonya… berita soal lokasi proyek desa itu sedang ramai. Ada anggota DPRD yang ditangkap, dan ada nama perempuan yang Nyonya suruh saya selidiki lagi…”
Mama Wina langsung diam.
Orang itu melanjutkan. “Katanya… sekarang, namanya terseret fitnah dana proyek. Tapi dari berita yang saya baca, dia justru yang membongkar kasus itu.”
“Kalau ada kabar terbaru, segera kabari saya lagi,” ucap Mama Wina.
“Baik, Nyonya.”
Mama Wina menutup telepon perlahan, ia menatap kosong beberapa detik.
“Perempuan menarik.”
Mama Wina memanggil seseorang, dia lalu berkata tegas. “Siapkan jadwal, besok antar saya ke desa tempat proyek Malvin.”
Orang itu mengangguk.
Mama Wina tersenyum tipis. “Aku mau lihat, apakah perempuan itu benar-benar berbeda. Dan... kalau dia cuma perempuan kampung yang hanya mengincar kekayaan putraku, aku akan hancurkan dia.”
Di saat yang sama di desa, Malvin menerima telepon dari Denis.
“Tuan,” suara Denis terdengar serius. “Keluarga Anda mulai bergerak. Saya dengar… Ibu Anda mencari tahu soal Bu Lastri. Kabarnya, Nyonya Wina akan datang ke desa.”
Malvin terdiam beberapa detik. “Biarkan.”
Denis ragu. “Tapi—”
Malvin memotong.
“Kalau ibuku mau datang kesini…” Ia menatap Lastri yang sedang duduk di sofa, menulis catatan bukti bersama Rendra. “Dia akan lihat sendiri… perempuan yang aku pilih nggak akan salah.”
Lastri menoleh.
“Bang, ada apa?”
Malvin menatapnya, ia tersenyum tipis. “Nggak ada.”
Lalu Malvin menutup telepon.
Namun di dalam hatinya ia tahu, medan perang baru akan terbuka. Bukan lagi soal Surya dan Pak Hadi. Tapi soal… restu.
Bisa2nya aku santai baca novel di tengah2 gempuran bom, 😁
bukan hanya di dunia novel.. di dunia nyata pun sama, kebusukan akan menghancurkan pelakunya dan pada akhir kisah, kebenaran adalah pemenangnya ( self reminder)