"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ayah yang Kembali dari Kematian?
Alana hampir saja tersedak udara. Ia menatap Kakek Arkan—Tuan Besar Arkananta—dengan tatapan seolah pria tua itu baru saja mengatakan kalau bumi ini sebenarnya berbentuk segitiga bermuda.
"Kek, tolong ya... saya ini baru aja selamat dari bom, hampir jadi sate di tangan Dion, dan sekarang Kakek mau bilang ayah saya masih hidup? Kakek nggak lagi casting buat sinetron 'Ayahku Ternyata Masih Ada' kan?" semprot Alana, sisi julidnya kembali meledak sebagai mekanisme pertahanan diri.
Tuan Arkananta hanya terkekeh pelan, ia menyandarkan kedua tangannya di atas tongkat kayu mahoni yang harganya pasti cukup buat beli satu komplek perumahan. "Lana, di dunia ini, kematian hanyalah status dokumen kalau kita punya cukup uang untuk memalsukannya. Ayahmu... dia bukan pria sembarangan. Dia adalah alasan kenapa ibu Arkan bisa bertahan hidup di tengah gempuran Sofia dulu."
Arkan mengerutkan kening, ia menatap kakeknya dengan tatapan menuntut. "Kek, kenapa Kakek baru bicara sekarang? Selama lima tahun ini Kakek diam melihat saya berdarah-darah sendirian!"
"Karena kamu harus belajar menjinakkan serigala-serigalamu sendiri, Arkan," sahut sang Kakek tenang. "Dan Lana, ayahmu sedang menunggumu di sebuah tempat yang tidak tersentuh oleh radar Sofia ataupun Bayu. Dia ingin melihat apakah putrinya benar-benar sehebat yang dibicarakan orang di TikTok."
Dua jam kemudian, Alana dan Arkan berada di dalam mobil yang dikawal ketat menuju sebuah perkebunan teh yang tersembunyi di perbukitan Jawa Barat. Udara dingin pegunungan menusuk pori-pori, namun Alana merasa gerah karena gelisah. Tangannya tidak bisa berhenti memilin ujung hoodie-nya.
"Lana, tenanglah," Arkan menggenggam tangan istrinya, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Tenang gimana, Mas? Aku selama dua puluh tahun ini taunya aku anak sebatang kara yang turun dari langit! Terus sekarang tiba-tiba ada ayah? Gimana kalau dia ternyata galak? Atau gimana kalau dia... nggak suka sama aku?"
"Dia pasti menyukaimu. Kamu itu magnet drama, siapa yang nggak suka hiburan gratis?" canda Arkan, mencoba mencairkan suasana.
Alana melirik tajam. "Wah, Mas Arkan udah pinter ya sekarang bercandanya. Efek sering makan mie ayam pinggir jalan ya?"
Mobil berhenti di depan sebuah villa kayu bergaya klasik. Di teras villa, seorang pria berusia sekitar awal lima puluh tahun sedang duduk sambil membaca koran. Rambutnya sudah beruban di bagian samping, namun badannya masih tegap dan auranya sangat mirip dengan Alana—tajam, waspada, dan ada kilatan nakal di matanya.
Alana turun dari mobil dengan langkah ragu. Pria itu menurunkan korannya. Matanya yang jernih menatap Alana lama, sebelum akhirnya ia berdiri dengan kaki yang sedikit pincang.
"Alana..." suaranya berat dan penuh emosi. "Kamu... benar-benar mirip ibumu saat dia sedang marah."
Alana terdiam. Ia melihat wajah pria itu. Ada bekas luka bakar tipis di rahangnya, bukti dari peristiwa tragis dua puluh tahun lalu. "Jadi... ini beneran Ayah? Bukan orang sewaan Kakek Arkan buat ngetes mental aku?"
Pria itu, yang ternyata bernama Malik, tertawa rendah. "Ciri khas keluarga kita. Selalu curiga pada hal-hal baik. Iya, Lana. Ini Ayah. Maafkan Ayah karena membiarkanmu tumbuh besar di panti asuhan. Ayah harus menghilang agar Sofia tidak bisa menemukanmu dan menggunakannya untuk menghancurkan bukti-bukti kejahatannya."
Alana tidak langsung memeluknya. Ia justru berkacak pinggang. "Yah, Ayah tahu nggak? Gara-gara Ayah menghilang, aku hampir aja nikah sama anak orang yang mau bunuh aku! Terus aku juga hampir jadi korban ledakan taksi! Ayah ini ke mana aja sih? Nonton drakor?"
Malik tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. Ia menoleh ke arah Arkan yang berdiri di belakang Alana. "Arkan, kamu pasti pusing ya punya istri seperti dia?"
"Setiap hari, Om. Tapi saya tidak akan menukarnya dengan apa pun," jawab Arkan tulus.
Sore itu, di bawah langit perbukitan yang mulai berwarna jingga, mereka bertiga duduk bersama. Malik menjelaskan semuanya—tentang bagaimana dia selamat dari kecelakaan itu dan bagaimana dia selama ini bekerja di balik layar, menjadi pemberi informasi anonim (si pengirim pesan misterius) yang membantu Alana menemukan rahasia-rahasia Arkan.
"Jadi... yang kirim pesan 'Jangan percaya Arkan' itu... Ayah?" tanya Alana kaget.
Malik mengangguk. "Ayah ingin tahu sejauh mana Arkan mau berkorban untukmu. Kalau dia langsung menyerah begitu kamu curiga, dia bukan pria yang pantas untuk putriku."
"Wah, Ayah bener-bener ya! Aku hampir jantungan tau!" Alana memukul lengan ayahnya pelan.
Namun, di tengah suasana hangat itu, Malik mendadak menjadi serius. Ia mengeluarkan sebuah berkas tua yang sudah menguning.
"Arkan, Lana... pertarungan ini belum benar-benar selesai. Sofia dan Bayu hanyalah kaki tangan. Ada organisasi besar di balik bisnis ekspor-impor keluarga Arkananta yang selama ini mencuci uang haram para pejabat. Mereka menyebutnya 'The Board'. Dan mereka tidak akan diam melihat Arkan membersihkan perusahaan."
Arkan mengambil berkas itu, membacanya sebentar, lalu wajahnya mengeras. "Jadi ini alasan Ayah tetap bersembunyi? Karena 'The Board' masih mengincar bukti ini?"
"Iya. Dan bukti itu... bukan cuma ada di chip yang dibakar Arkan semalam. Ada satu salinan lagi yang tersembunyi di tempat yang tidak akan pernah mereka sangka," Malik menatap Alana. "Di dalam liontin yang kamu pakai, Lana."
Alana meraba lehernya. Ia tidak memakai kalung. "Liontin apa? Aku nggak punya kalung, Yah."
Malik tersenyum, ia menunjuk ke arah Mochi yang sedang asyik bermain dengan lonceng kecil di lehernya. "Bukan di lehermu. Tapi di leher kucing itu. Lonceng itu bukan lonceng biasa. Itu adalah perangkat penyimpanan data tercanggih yang pernah dibuat ibumu."
Alana dan Arkan serempak menatap Mochi yang sedang mengejar kupu-kupu.
"Jadi... kunci rahasia negara selama ini ada di leher kucing tukang maling ikan?" Alana menepuk jidatnya. "Ya ampun, hidup aku bener-bener komedi!"
Baru saja Alana hendak mengambil lonceng Mochi, suara helikopter terdengar menderu sangat rendah di atas villa mereka. Beberapa pria berpakaian taktis hitam terjun menggunakan tali dari helikopter tersebut, mengepung villa dalam hitungan detik.
Seorang pria dengan setelan jas putih—pemimpin 'The Board'—melangkah maju dengan senapan di tangannya. "Terima kasih sudah mengumpulkan semua kepingan puzzle di satu tempat, Tuan Malik. Sekarang, berikan kucing itu, atau kita semua akan sarapan di neraka pagi ini."
Alana memeluk Mochi erat-erat. "Enak aja! Mau ambil kucing aku? Langkahin dulu mayat Mas Arkan!" teriak Alana nekat