Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Kecintaan dua-duanya ternyata mereka, Pak."
Xavier menoleh ketika mendengar celetukan sekretarisnya. Ia sedang mengontrol performa salah satu mal milik Wijaya Grup bersama sang sekretaris. Tidak disangka, mereka disuguhi drama manis Arion dan Lydia.
Drama dimulai saat mereka melihat Lydia memasuki area jam tangan mewah. Lydia menanyakan harga jam tangan Rolex yang paling terjangkau, lalu meminta pendapat pelayan apakah jam tangan itu cocok dijadikan hadiah untuk seseorang yang akan wisuda. Ia bahkan memastikan kembali apakah benar tidak ada harga yang lebih rendah dari itu.
Hal manis yang bisa Xavier dan sekretarisnya lihat adalah ketika Lydia tetap membeli jam tangan tersebut, meskipun sempat terlihat ragu karena harganya mungkin terlalu mahal baginya.
Tidak berhenti di situ, mereka juga melihat Arion yang diam-diam memperhatikan Lydia dari kejauhan, serta momen-momen manis lainnya setelah Lydia membeli jam tangan Rolex untuk Arion.
"Cari tahu siapa pelayan yang melayani Lydia tadi, lalu minta dia menemui saya," ucap Xavier pada sekretarisnya.
"Kenapa? Bukankah pelayan itu melakukan pekerjaannya dengan baik?" tanya Rafael, sekretaris pribadi Xavier.
Ia heran mengapa bosnya ingin pelayan itu menemuinya, padahal yang ia lihat sang pelayan telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Bahkan ia tidak memandang rendah Lydia meskipun penampilannya tampak biasa saja.
"Lakukan saja yang saya perintahkan," jawab Xavier sebelum melangkah pergi.
"Dimengerti, Pak," sahut Rafael cepat, sebelum ia kehilangan pekerjaan karena tidak patuh.
Sementara itu, Xavier sama sekali tidak memiliki niat buruk. Ia meminta pelayan itu menemuinya hanya untuk berterimakasih secara pribadi karena telah melayani calon menantunya dengan baik.
***
Lydia memperhatikan Arion yang sedang asyik dengan mesin capit boneka. Ia sempat berpikir Arion akan membelikan boneka untuknya, tapi ternyata laki-laki itu mengajaknya bermain mesin capit boneka.
"Ayo, sedikit lagi masuk!" teriak Arion sambil menekan tombol di mesin dengan panik, tangannya gemetar karena cakar mesin capit belum berhasil menangkap boneka.
Padahal ia sudah berjanji akan mendapatkan boneka untuk Lydia, tapi mesin capit itu seakan tidak mau diajak bekerja sama. Tidak ada satu pun boneka yang tersangkut di cakar, bahkan setelah lima belas menit Arion menggerakkannya.
"Haish! Kenapa benda ini susah sekali digerakkan!" serunya kesal, menyalahkan mesin capit. Ia ingin tampil keren di depan Lydia, tapi mesin itu malah membuatnya terlihat seperti pecundang.
"Tidak apa-apa. Kakak juga tidak terlalu mau bonekanya," ujar Lydia menghibur Arion.
Arion yang mendengarnya justru semakin berambisi mendapatkan boneka. Ia tidak akan membiarkan Lydia mengalah hanya karena ketidakmampuannya bermain mesin capit.
"Aku akan mencobanya lagi," ucap Arion, menatap sebentar Lydia seolah wajah itulah yang membuatnya termotivasi untuk menang.
Ia kemudian kembali fokus mengarahkan cakar pada boneka di dalam mesin. Dengan hati-hati dan penuh kesabaran, akhirnya boneka yang Lydia inginkan berhasil tercapit, perlahan ia memasukannya ke dalam lubang, dan beberapa saat setelahnya sebuah boneka keluar dari mesin.
"Yaaay... kamu berhasil, Arion!" teriak Lydia, bangga saat Arion akhirnya memenangkan boneka.
Refleks, Lydia memeluk Arion sebagai ungkapan bangganya terhadap laki-laki itu. Arion membalas pelukannya, dan kehebohan mereka pun berhasil mengundang perhatian orang sekitar.
Beberapa di antaranya tampak heran melihat orang dewasa berada di area permainan anak-anak.
Tidak lama, Arion dan Lydia melepaskan pelukan mereka. Arion lalu mengambil boneka beruang putih yang mengenakan kostum panda. Dari semua boneka yang ada, Lydia menunjuk boneka itu ketika Arion bertanya boneka mana yang diinginkannya.
Arion memperhatikan boneka itu dengan seksama sebelum diberikan pada Lydia.
"Boneka apa ini?" tanyanya merasa aneh dengan bentuknya.
"Boneka beruang," jawab Lydia, namun Arion tampak tidak setuju bahwa itu boneka beruang.
Adik Arion memiliki banyak boneka beruang di rumah, tapi tidak ada satupun yang berbentuk seperti itu. Boneka di tangannya jelas lebih mirip panda dibandingkan beruang.
"Tapi menurut aku lebih mirip panda," ujar Arion mengungkapkan pikirannya.
Tidak ada beruang yang memiliki bulu campuran putih dan hitam. Bentuk matanya juga tidak mirip beruang, justru lebih menyerupai manusia yang kekurangan tidur. Jelas, boneka itu bukan beruang.
"Iya, ini namanya Panda Bear. Boneka beruang yang memakai baju panda," jelas Lydia.
Arion menganga tidak percaya. Ia memiliki adik yang suka mengoleksi boneka, tapi baru mengetahui ada boneka yang memakai baju. Mungkin memang jenis boneka baru, atau mungkin ia yang selama ini kurang memperhatikan koleksi boneka adiknya.
"Panda Bear," Arion memperhatikan boneka itu dengan kening berkerut.
Lydia tersenyum melihat kebingungan di wajah Arion.
"Iya, namanya Panda Bear. Terima kasih, berkat kamu sekarang Kakak memiliki teman tidur," ujarnya.
Ia berniat mengambil boneka dari tangan Arion, tapi laki-laki itu dengan cepat menyembunyikannya, sehingga yang berhasil tertangkap hanyalah angin.
"Teman tidur?" ulang Arion sambil memicingkan matanya.
Ia tahu perempuan biasanya menyimpan boneka mereka di atas tempat tidur, tapi kenapa Lydia harus menyebut boneka Panda Bear itu teman tidur?
"Iya, boneka ini yang akan menemani Kakak tidur. Kakak juga bisa memeluknya kalau Kakak merindukan kamu," sahut Lydia, tanpa sadar bahwa hal itu membuat Arion cemburu.
Cemburu pada boneka terdengar tidak wajar. Namun, itulah yang Arion rasakan ketika Lydia menyebut boneka itu sebagai teman tidur dan bahkan mengatakan akan memeluk bonekanya saat merindukannya.
"Aku ada di sini dan bisa dipeluk kapan saja. Kenapa harus memeluk boneka?" tanya Arion merajuk.
Lydia berdeham pelan. Mereka masih berada di tempat umum, dan perkataan Arion bisa saja mengundang salah paham orang-orang yang tanpa sengaja mendengarnya.
"Iya, kamu benar. Kakak salah bicara tadi," seru Lydia, lalu menggandeng tangan Arion untuk pergi.
***
Pulang dari mal dan selesai membersihkan diri, Lydia langsung mencatat pengeluarannya hari ini. Sebagai seseorang yang hidup sendiri sejak kecil, ia selalu menuliskan setiap pengeluaran untuk evaluasi gajinya di bulan berikutnya.
Boneka Panda Bear yang Arion dapatkan dari mesin capit terlihat berada di atas kasur Lydia. Meskipun laki-laki itu sempat merajuk, tapi bonekanya tetap diberikan pada Lydia.
"Lagi apa sih, Ya?" tanya Rina, menghampiri Lydia yang tengah sibuk melakukan pencatatan.
Saat tiba di dekat Lydia, ia tanpa sengaja melihat nota pembelanjaan jam tangan Rolex.
"Apa ini? Seratus sembilan juta cuma buat satu jam tangan?" tanya Rina terbelalak.
Seratus juta adalah uang yang mereka hasilkan dalam setengah tahun bekerja, dan itu pun belum dikurangi pengeluaran bulanan. Bisa-bisanya Lydia membeli barang semahal itu.
"Iya, itu jam tangan buat Arion. Sebentar lagi dia wisuda, dan gue cuma bisa ngasih itu ke dia," jelas Lydia.
Mata Rina semakin terbelalak. Jam tangan Rolex baru saja dibilang cuma oleh Lydia.
"Lo bilang seratus juta ini cuma?" tanyanya tidak menyangka.
Lydia saja memakai produk lokal yang harganya tidak lebih dari satu juta. Namun, jam tangan Rolex untuk Arion malah disebut cuma.
"Iya, cuma buat Arion," sahut Lydia cepat. Jika untuk dirinya sendiri, ia pasti akan berpikir ribuan kali sebelum membeli jam semahal itu.
Ia menyebutnya 'cuma' karena Arion biasanya memakai jam tangan yang lebih mahal dari yang sudah Lydia beli.
"Haha, benar juga. Ternyata dekat sama orang kaya ada gak enaknya juga ya?" ujar Rina, merasa prihatin karena temannya kehilangan uang seratus juta demi membeli hadiah untuk laki-laki.