NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Bunga Salju dan Bayangan yang Mirip

Kota Bunga Salju terlihat dari kejauhan saat matahari hampir tenggelam. Atap-atap genteng melengkung berwarna abu-abu dan merah bata tertutup salju tipis, seperti lukisan tinta yang diberi embun putih. Asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah, membawa aroma kayu bakar dan roti panggang. Kota kecil ini terkenal sebagai persinggahan terakhir sebelum menuju pelabuhan timur—tempat para pedagang, petualang, dan pendekar singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke lautan.

Shen Yi, Lian'er, dan Xiao Feng berjalan masuk melalui gerbang selatan. Penjaga gerbang—dua orang pria berpakaian seragam biru tua—hanya melirik sekilas. Mereka terbiasa melihat orang asing, terutama di musim dingin ketika banyak yang mencari tempat berteduh.

Xiao Feng menghela napas lega. “Akhirnya sampai juga. Aku sudah kedinginan dari tadi. Mari cari penginapan dulu, mandi air panas, makan daging panggang. Tabib Shen, kau traktir ya?”

Shen Yi tersenyum kecut. “Traktir apa? Dompetku cuma ada tiga koin perak dari obat Pak Li bulan lalu.”

Lian'er berjalan di samping Shen Yi, jubah putihnya ditutupi mantel sederhana yang Shen Yi pinjamkan dari gubuknya. Dia menarik tudung mantel lebih rendah agar wajahnya tak terlalu mencolok. “Kita cari penginapan murah saja. Yang penting aman.”

Xiao Feng mengangguk. “Aku tahu satu tempat. Penginapan ‘Bunga Salju Terakhir’. Pemiliknya teman lama, nggak akan nanya banyak kalau bayar tunai.”

Mereka berjalan menyusuri jalan utama. Kota ini hidup meski musim dingin: pedagang kaki lima menjajakan sup panas, anak kecil bermain lempar salju, dan beberapa pendekar berpakaian rapi duduk di warung teh sambil bicara pelan tentang urusan jianghu.

Shen Yi memperhatikan semuanya dengan mata polos. “Kota ini ramai sekali. Saya jarang ke sini. Terakhir datang pas guru masih hidup, beli jarum akupunktur baru.”

Lian'er meliriknya. “Kau tak pernah keluar gunung sebelum ini?”

“Jarang. Guru bilang dunia luar berbahaya buat orang seperti saya yang nggak punya ilmu silat. Tapi sekarang ya sudah terlanjur.”

Xiao Feng tertawa. “Terlanjur jatuh cinta sama dewi teratai, maksudnya?”

Shen Yi memerah. “Bukan begitu!”

Lian'er memalingkan muka, tapi sudut bibirnya sedikit naik.

Mereka sampai di Penginapan Bunga Salju Terakhir bangunan dua lantai dari kayu gelap, dengan lentera merah bergantung di depan pintu. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Mei, langsung mengenali Xiao Feng.

“Xiao Feng! Masih hidup rupanya. Lama tak kelihatan.”

Xiao Feng menyeringai. “Bu Mei, kasih kamar terbaik ya. Kami lagi buru-buru.”

Bu Mei melirik Lian'er dan Shen Yi. Matanya sempat berhenti di Lian'er seolah merasakan sesuatu yang tak biasa tapi dia tak bertanya. “Tiga kamar? Atau satu kamar besar?”

Shen Yi buru-buru angkat tangan. “Tiga kamar! Tiga kamar terpisah!”

Xiao Feng terkekeh. “Tabib Shen ini polos banget. Oke, Bu Mei, tiga kamar. Kami bayar di muka.”

Setelah membayar dengan koin yang Xiao Feng pinjamkan (Shen Yi janji balas nanti), mereka naik ke lantai atas. Kamar Shen Yi dan Lian'er bersebelahan, Xiao Feng di seberang koridor.

Shen Yi masuk ke kamarnya, meletakkan keranjang bambu di sudut. Kamar sederhana: tempat tidur kayu, selimut tebal, dan tungku kecil yang sudah disiapkan bara hangat. Dia duduk di tepi tempat tidur, menghela napas panjang.

Pintu kamar Lian'er terbuka pelan. Dia berdiri di ambang pintu, masih memakai mantel.

“Shen Yi, boleh masuk?”

Shen Yi langsung berdiri. “Masuk, Nona Lian'er. Ada apa?”

Lian'er masuk, menutup pintu pelan. Dia berdiri dekat jendela, memandang kota yang mulai diterangi lentera malam.

“Aku merasa energi es hitam semakin dekat. Mereka sudah di kota ini.”

Shen Yi mengerutkan kening. “Kita baru sampai. Bagaimana bisa?”

“Mereka punya cara melacak inti teratai. Aku bisa sembunyikan auraku sebentar, tapi tak selamanya. Kita harus bergerak cepat besok pagi ke pelabuhan.”

Shen Yi mengangguk. “Baik. Malam ini kita istirahat. Saya buatkan ramuan tambahan buat Nona.”

Dia mengeluarkan botol kecil dari keranjang, menuang cairan hijau dari Nenek Hua ke cangkir, lalu menambahkan air panas dari teko di tungku.

Lian'er menerima cangkir itu. Saat jarinya menyentuh jari Shen Yi, aliran hangat itu muncul lagi—kini lebih lembut, seperti pelukan tak terucap.

“Shen Yi,” katanya pelan. “Kenapa kau tetap baik padaku, meski tahu aku membawa bahaya?”

Shen Yi tersenyum kecil. “Karena Nona bukan bahaya. Nona orang yang sakit, yang butuh bantuan. Dan... karena aku suka melihat Nona tersenyum. Walaupun jarang.”

Lian'er menunduk ke cangkirnya. Pipinya terasa hangat lagi. “Aku tak terbiasa dengan kata-kata seperti itu.”

Shen Yi garuk kepala. “Maaf kalau kelewatan. Saya cuma bilang apa adanya.”

Lian'er menggeleng pelan. “Tidak. Terima kasih.”

Dia keluar dari kamar Shen Yi, meninggalkan pintu sedikit terbuka. Shen Yi duduk kembali, memandang api tungku dengan pikiran melayang.

Malam semakin larut. Di lantai bawah, ruang makan penginapan ramai. Xiao Feng duduk di meja pojok, memesan arak dan daging panggang. Dia minum pelan, mata sesekali melirik ke arah pintu masuk.

Tiba-tiba pintu penginapan terbuka lebar. Angin dingin masuk bersama tiga sosok berjubah hitam—topeng perak teratai retak. Mereka tak langsung bicara, hanya berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling.

Bu Mei mendekat. “Selamat malam, tuan-tuan. Mau kamar atau makan?”

Pemimpin mereka, yang paling tinggi, berbicara dingin. “Kami mencari seseorang. Wanita berpakaian putih, bersama dua pria. Satu tabib miskin, satu pemuda berpedang.”

Ruangan langsung hening. Beberapa tamu menunduk, tak berani menatap.

Xiao Feng meletakkan gelas araknya pelan. Dia tersenyum, tapi matanya tajam.

“Maaf, kakak-kakak. Di sini cuma ada pemabuk dan pelayan. Tak ada yang cocok dengan deskripsi itu.”

Pemimpin itu melangkah maju. “Kau bohong.”

Xiao Feng bangkit. “Kalau bohong, apa? Mau ribut di penginapan orang?”

Tiba-tiba, dari tangga atas, suara langkah pelan terdengar. Lian'er turun, jubah putihnya terlihat samar di bawah cahaya lentera. Shen Yi mengikuti di belakang, wajahnya tegang.

Pemimpin Sekte Es Hitam tersenyum dingin di balik topeng. “Akhirnya.”

Lian'er berhenti di tangga. Kelopak teratai mulai muncul di sekitar tangannya.

Shen Yi maju selangkah. “Nona Lian'er, mundur dulu.”

Tapi sebelum siapa pun bergerak, pintu belakang penginapan terbuka keras. Seorang pemuda berpakaian mewah, baju sutra biru dengan bordir teratai emas, masuk dengan langkah sombong. Wajahnya, mirip sekali dengan Shen Yi. Hidung sama, mata sama, bahkan senyum miringnya hampir identik. Bedanya hanya rambut yang lebih rapi, ekspresi sombong, dan aura percaya diri yang berlebihan.

Pemuda itu, Shi Jun, melihat Shen Yi dan tertawa keras.

“Wah, ini apa? Ada orang pura-pura jadi aku? Berani sekali!”

Ruangan semakin tegang. Para pemburu Sekte Es Hitam saling pandang, bingung.

Shi Jun melangkah maju, menunjuk Shen Yi. “Kau! Siapa berani pakai wajahku berkeliaran di jianghu? Aku Shi Jun, anak tunggal Sekte Langit Teratai! Identitas palsu seperti ini pantas dihukum mati!”

Shen Yi terpaku. “Eh saya Shen Yi. Saya nggak pura-pura siapa-siapa. Ini wajah asli saya dari lahir.”

Shi Jun mendengus. “Bohong! Orang bilang ada tabib miskin yang mirip aku, bawa dewi teratai. Pasti kau yang nyebar rumor jelek tentang aku!”

Xiao Feng terkekeh. “Wah, saudara kembar dadakan nih. Seru.”

Lian'er memandang Shi Jun dengan mata menyipit. Ada sesuatu di aura pemuda itu, energi teratai yang samar, mirip dengan Shen Yi, tapi lebih kacau dan tertutup ego.

Pemimpin Sekte Es Hitam maju. “Shi Jun dari Sekte Langit Teratai ini urusan kami. Mundur.”

Shi Jun menoleh, menyeringai. “Urusan kalian? Kalian lagi cari dewi teratai kan? Sayang sekali, dia lagi sama aku malam ini.”

Lian'er mengerutkan kening. Shen Yi langsung maju, berdiri di depan Lian'er.

“Nona Lian'er bukan milik siapa-siapa. Kalau kalian mau ambil dia, lewati saya dulu.”

Shi Jun tertawa lagi. “Wah, tabib miskin berani juga. Baiklah, mari kita selesaikan ini di luar. Aku mau lihat seberapa mirip kau denganku.”

Pemimpin Sekte Es Hitam mengangkat tangan. Es hitam mulai menyebar di lantai.

Xiao Feng menarik pedang. “Kalau ribut di sini, Bu Mei marah besar. Keluar semua!”

Mereka semua bergerak ke halaman belakang penginapan, tempat kosong tertutup salju tipis, dikelilingi pagar bambu.

Shi Jun menarik pedangnya, bilah panjang berwarna perak dengan ukiran teratai. “Ayo, palsu. Duel satu lawan satu. Kalau kau kalah, serahkan dewi itu padaku.”

Shen Yi menggeleng. “Saya nggak bisa berkelahi. Saya cuma tabib.”

Shi Jun mendengus. “Penakut. Kalau begitu, aku ambil dewi itu sekarang.”

Dia melompat maju, pedangnya menyala energi teratai biru. Tapi sebelum pedangnya menyentuh Lian'er, Shen Yi maju, bukan dengan serangan, tapi langsung memeluk pinggang Lian'er dari samping, menariknya mundur.

Aliran hangat kuat mengalir. Lian'er tersentak, tapi kali ini dia tak menolak. Kelopak teratai muncul di sekitar mereka berdua, membentuk perisai.

Shi Jun terhenti. Matanya membesar. “Ini energi teratai murni? Mustahil!”

Pemimpin Sekte Es Hitam juga terkejut. “Dia... kunci yang kita cari.”

Xiao Feng maju, pedangnya siap. “Kalau kalian mau ambil dia, harus lewati kami bertiga!”

Shi Jun mundur selangkah, memandang Shen Yi dengan tatapan baru, bukan marah, tapi penasaran.

“Kau... bukan palsu. Kau... mirip sekali denganku. Siapa sebenarnya kau?”

Shen Yi melepaskan pelukannya pelan. “Saya Shen Yi. Cuma tabib miskin dari gunung. Kalau kau mau tahu lebih banyak, mungkin kita bisa bicara baik-baik, bukan berkelahi.”

Shi Jun diam lama. Lalu dia menyarungkan pedang. “Baik. Malam ini aku mundur. Tapi ini belum selesai. Aku akan cari tahu siapa kau sebenarnya.”

Dia berbalik, pergi dengan langkah sombong.

Para pemburu Sekte Es Hitam saling pandang, lalu menghilang ke kegelapan, mungkin menunggu saat yang lebih tepat.

Halaman kembali hening. Xiao Feng menepuk bahu Shen Yi. “Tabib Shen, kau tadi keren banget. Peluk dewi di depan musuh. Romantis abis.”

Lian'er memandang Shen Yi dengan mata yang penuh perasaan tak terucap. “Shen Yi, kau lagi-lagi...”

Shen Yi tersenyum lelah. “Saya cuma tak mau Nona terluka.”

Mereka kembali ke penginapan. Malam itu, Lian'er tak bisa tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang pintu kamar Shen Yi yang tertutup.

Di dalam hatinya, es yang sudah ratusan tahun membeku mulai mencair, bukan karena Air Teratai Abadi, tapi karena kehangatan sederhana dari seorang tabib miskin yang tak pernah takut padanya.

Di luar kota, Shi Jun berdiri di atap sebuah rumah, memandang penginapan. Matanya penuh tanya.

“Shen Yi, kenapa kau punya wajahku? Dan kenapa, kau bisa mencairkan kutukan dewi itu?”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!