Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dunia Sekar seakan berhenti berpusat saat kelopak matanya perlahan terbuka. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya. Cahaya lampu neon di langit-langit rumah sakit terasa begitu menyilaukan, seolah mengejek kegelapan yang mulai merayap di dadanya. Di samping brangkar seorang dokter wanita bersama perawat berdiri dengan gurat wajah yang tak sanggup menyembunyikan duka.
"Bayi saya mana, Dok?" Lirih Sekar ketika tangannya meraba perut yang sudah rata menyisakan rasa nyeri bekas jahitan. Tidak mendapat jawaban dari dokter, jantung Sekar berdegup kencang, sebuah firasat buruk mencengkeram lehernya hingga terasa sulit untuk bernapas. "Dok..." lanjutnya parau.
Dokter Siska menarik napas panjang, menunduk sesaat sebelum menatap langsung ke manik mata Sekar yang mulai berkaca-kaca. "Maaf Mbak Sekar, kami sudah melakukan yang kami bisa. Namun, Tuhan berkehendak lain, putra Ibu tidak bisa kami selamatkan."
"Tidak... Itu tidak mungkin!" Pekik Sekar. Kalimat 'tidak bisa diselamatkan' seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanan Sekar.
"Yang ikhlas, Mbak," lanjut perawat ikut larut dalam kesedihan, ibu mana yang rela kehilangan buah hatinya padahal dinanti-nanti.
"Tidak mungkin, Sus..." ulang Sekar serak, tangis kecil pun terdengar hingga berubah raungan besar yang terdengar menyayat hati dokter dan suster.
Sesaat ruangan menjadi hening, satu tangan Sekar yang tidak terdapat selang infus mengepal kuat. Ingatanya kembali kepada Ilham sang suami. Seandainya pria kejam itu mau menolongnya ketika kontraksi mulai terasa, air ketuban tidak akan pecah terlebih dahulu tentu saja putranya bisa tertolong. Hancur. Kata itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana rasanya ketika harapannya yang ia kandung selama sembilan bulan tidak bisa dia peluk.
"Semua sudah menjadi kehendaknya Sekar..." ucap Siska lembut di samping Sekar.
"Ini salah saya, Dok. Seharusnya begitu kontraksi terasa segera ke rumah sakit," Sesal Sekar merasa bodoh. Seharusnya tidak usah menunggu belas kasihan Ilham, berangkat sendiri minta ditemani bibi. Ingat bibi, Sekar pun ingat malam tadi ketika telepon suster rekan kerjanya setahun yang lalu, saat masih bekerja di rumah sakit ini. Entah dia atau bukan yang membawa ke rumah sakit ia tidak ingat lagi. "Siapa yang mengantar saya ke rumah sakit ini Dok?"
"Untuk itu, saya tidak tahu, Mbak," pungkas dokter Siska, sebelum berjalan keluar meninggalkan Sekar.
Hanya tinggal Sekar di ruangan itu, isak tangis kecil pun ia dengar sendiri. Baju bayi yang dia beli sudah tersusun di lemari, bedak dan semua perlengkapan sudah siap. Tetapi miris sekali, bayangkan memandikan bayi mungil dan lucu semua berputar di kepala terasa sangat menyiksa.
Air mata kembali membanjiri pipinya, Sekar memejamkan mata. Mencoba mengumpulkan serpihan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Di dalam keheningan kamar itu seolah Sekar ikut mati bersama hembusan napas terakhir putranya. Jangankan menyapa namanya melihat wajah si bayi pun belum.
"Awas Ilham, kamu akan memetik karma mu sendiri. Kematian anak aku harus kamu bayar lunas!" Sekar mencengkeram seprai. Di tengah isak tangis yang memilukan, ribuan dendam muncul di benak Sekar.
Wajah Ilham yang selalu dingin dan ucapannya yang begitu kasar bagai monster itu tidak akan pernah Sekar lupakan. Kemarahan mulai mendidih di balik rasa dukanya. Sekar teringat bagaimana semalam mengerang kesakitan, memohon di bawah kaki Ilham agar pria itu melakukan sesuatu. "Mas, tolong Mas..." ucap Sekar di teras rumah malam tadi hingga jatuh tak sadarkan diri.
Sekar tidak berharap dianggap istri, hanya ingin diperlakukan seperti semua pasien Ilham saat di rumah sakit. Tetapi Ilham sama sekali tidak menganggapnya, bahkan membiarkan darah dagingnya sendiri meregang nyawa.
Sekar mengepal kuat-kuat hingga kukunya mengenai telapak tangan. Namun, sesaat kemudian tangisnya pecah kembali.
"Dia bukan hanya membiarkan bayiku mati, dan menggunakan ilmunya untuk menyakiti aku. Tapi dia juga membunuh anaknya sendiri!" Monolog Sekar. Matanya yang sembab kini menatap lurus ke depan dengan sorot yang mengerikan. Dendam berkorban di hatinya.
Sesaat pintu kamar terbuka, dan sosok Ilham melangkah masuk dengan jubah yang tampak putih. Kontras oleh baju Sekar yang masih amis karena duka. Sekar tidak lagi menangis, menatap pria yang berjalan ke arahnya seperti orang asing.
Ilham mendekati Sekar dengan wajah duka formalitas yang sering ia berikan kepada pasien. "Aku turut berduka, Sekar. Sepertinya kondisimu memang terlalu lelah untuk..."
"Cukup Tuan, Ilham!" Potong Sekar, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Jangan berani-berani menilai kondisi tubuhku yang kamu anggap sudah mati sejak malam pertama kamu ambil masa gadisku!" Sekar menahan tangis, tidak mau lagi terlihat rapuh di mata Ilham.
Tidak ada lagi yang terucap dari bibir Ilham, pria itu mengeluarkan alat untuk memeriksa Sekar. Namun, tidak ada takut lagi bagi Sekar, dia tepis tangan Ilham yang akan menempelkan alat di dadanya.
"Kamu harus diperiksa Sekar, tubuh kamu demam."
"Stop!" Sekar lagi-lagi memotong. "Dan jangan lagi-lagi menggunakan istilah medis hanya untuk menutupi jiwa pembunuhmu!" Serang Sekar tanpa ampun.
"Mbak... tenang Mbak..." ucap perawat yang membantu Ilham.
"Suruh keluar pria ini Sus, lagi pula siapa yang menyuruh dokter gadungan seperti Dia lancang memeriksa saya?!" Sekar berteriak mengusir Ilham seperti mengusir ayam khawatir kotorannya jatuh ke lantai itu.
Dokter Ilham mendelik gusar lalu balik keluar diikuti perawat.
Sekar bersumpah dalam hati, mulai detik ini ia akan memastikan, suatu saat nanti Ilham mengalami kehancuran yang jauh lebih hebat daripada yang ia rasakan saat ini.
...~Bersambung`...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....