Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Saat Kendali Mulai Retak
Marcus tidak menyukai kejutan.
Terutama yang tidak ia ciptakan sendiri.
Pagi itu dimulai seperti biasa—setidaknya di permukaan. Matahari masuk lewat kaca jendela kantor, memantulkan cahaya bersih di meja kerjanya. Namun di kepalanya, semuanya terasa bising. Angka-angka yang ia lihat semalam masih menempel seperti noda yang tak bisa dihapus.
Nama itu.
Satu nama yang tidak seharusnya muncul.
Bukan karena berbahaya… tapi karena tidak berada di bawah kendalinya.
Marcus menatap layar laptopnya lagi. Folder yang sama. Dokumen yang sama. Ia membukanya untuk kelima kalinya, berharap hasilnya berubah.
Tidak.
Jejak itu tetap ada.
Hal kecil. Transaksi yang tampak biasa. Tapi Marcus mengenal sistemnya seperti mengenal denyut nadinya sendiri. Tidak ada yang bisa bergerak tanpa izinnya.
Kecuali ini.
Tangannya mengetuk meja pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Berhenti.
Ia menekan interkom.
“Selene. Sekarang.”
Jawaban datang terlalu cepat.
“Aku ke sana.”
Ketika Selene masuk, Marcus tidak langsung berbicara. Ia hanya memutar layar laptop ke arahnya.
“Jelaskan.”
Selene membungkuk sedikit. Matanya bergerak cepat membaca angka. Untuk sesaat—hanya sesaat—Marcus melihat sesuatu retak di ekspresinya.
“Ini…” Selene mengatur napas. “Transfer lama. Mungkin belum tersinkronisasi.”
Marcus menatapnya. Diam.
Tekanan dalam ruangan berubah.
“Kau yakin?” tanyanya pelan.
Nada itu lebih berbahaya daripada bentakan.
Selene mengangguk terlalu cepat.
“Ya.”
Marcus menutup laptop perlahan.
“Perbaiki.”
Hanya satu kata.
Namun Selene keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sedikit goyah.
Marcus bersandar. Dadanya terasa berat, bukan karena bukti… tapi karena insting.
Dan instingnya jarang salah.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena duduk di sebuah kafe yang dipenuhi suara percakapan ringan. Tangannya memegang cangkir kopi yang mulai mendingin, namun pikirannya jauh dari tempat itu.
Ia tidak datang untuk minum.
Ia menunggu.
Pintu kafe terbuka. Adrian masuk, langkahnya tenang namun matanya waspada. Ia duduk di hadapan Elena tanpa basa-basi.
“Dia mulai mencari,” katanya pelan.
Elena tidak terlihat terkejut.
“Bagus,” jawabnya.
Adrian mengernyit. “Bagus?”
“Marcus hanya merasa hidup ketika ia mengejar sesuatu,” kata Elena. “Biarkan dia berpikir itu pilihannya.”
Adrian menatapnya lebih lama.
“Kau sadar ini berbahaya.”
Elena tersenyum tipis.
“Tidak ada perubahan tanpa risiko.”
Ia meletakkan cangkirnya. Tangannya stabil. Tidak ada getaran.
“Aku tidak ingin dia jatuh karena satu pukulan,” lanjut Elena. “Aku ingin dia menyadari… semua yang ia bangun tidak pernah benar-benar miliknya.”
Adrian menghela napas pelan.
“Kau berubah.”
Elena menatap keluar jendela.
“Tidak,” katanya lembut. “Aku hanya berhenti hidup dalam versi dirinya tentang aku.”
Kalimat itu menggantung.
Dan Adrian tahu—tidak ada jalan kembali.
...****************...
Sore itu, Marcus pulang lebih awal.
Rumah terasa aneh. Terlalu rapi. Terlalu sunyi. Seolah sedang menunggu sesuatu.
Elena duduk di ruang tamu, membaca. Tongkat putihnya bersandar di samping kursi—lebih seperti properti daripada kebutuhan.
“Kau di rumah,” kata Marcus.
Elena mengangkat wajah.
“Harusnya tidak?”
“Tidak,” jawab Marcus cepat. “Hanya… tidak biasa.”
Ia memperhatikan Elena lebih seksama. Cara wanita itu duduk. Cara jarinya menahan halaman buku. Tidak ada keraguan. Tidak ada pencarian arah.
Seolah ia melihat.
Marcus menepis pikiran itu.
“Kau keluar hari ini?” tanyanya.
“Elena mengangguk kecil. “Bertemu teman lama.”
“Siapa?”
“Orang yang dulu menganggapku tidak penting,” jawab Elena ringan. “Lucu… sekarang mereka mendengarkan.”
Marcus merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Nada itu.
Bukan menantang. Bukan defensif.
Percaya diri.
Dan Marcus menyadari—ia tidak ingat kapan terakhir kali Elena terdengar seperti itu.
“Mereka selalu meremehkanmu,” katanya datar.
Elena tersenyum tipis.
“Ya,” katanya. “Dan orang yang diremehkan biasanya punya waktu paling banyak untuk belajar.”
Keheningan jatuh.
Marcus merasa seperti sedang berdiri di ruangan yang perlahan menyempit.
“Kau berubah,” katanya akhirnya.
Elena memiringkan kepala sedikit.
“Atau mungkin… aku hanya berhenti menyembunyikan diri.”
Tatapan Marcus mengeras.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa.
Dan itu membuatnya marah—bukan pada Elena… tapi pada perasaan kehilangan kendali yang semakin jelas.
Ia berbalik tanpa kata, langkahnya lebih berat dari biasanya.
Elena tetap duduk.
Tenang.
Namun ketika pintu kamar kerja Marcus tertutup, senyumnya memudar.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena ia tahu—
langkah berikutnya akan membuat semuanya jauh lebih berisik.
Dan kali ini…
Marcus tidak akan bisa berpura-pura tidak mendengarnya.
Di dalam kamar kerja, Marcus berdiri diam.
Tangannya mengepal.
Instingnya berteriak satu hal:
Ada sesuatu yang sedang bergerak.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak tahu apakah ia pemburu—
atau target.
Marcus menatap pantulan dirinya di kaca lemari arsip.
Wajah itu masih sama—tegas, terkendali, terbiasa menang. Namun ada sesuatu yang tidak ia kenali di balik sorot matanya. Sesuatu yang bergerak seperti bayangan yang tidak mengikuti arah cahaya.
Keraguan.
Ia membencinya.
Marcus membuka kembali laptopnya. Jarinya bergerak cepat, membuka lapisan demi lapisan sistem yang selama ini hanya ia sentuh saat benar-benar diperlukan. Firewall internal. Log tersembunyi. Jalur akses cadangan.
Semuanya bersih.
Terlalu bersih.
Seseorang tidak menghapus jejak.
Seseorang… merapikannya.
Marcus bersandar pelan. Nafasnya keluar berat. Itu bukan kerja amatir. Ini seseorang yang memahami ritme sistem—bukan sekadar teknisnya, tapi kebiasaannya. Cara ia memeriksa. Cara ia berpikir.
Dan pikiran itu menancap tajam:
Seseorang sedang mengantisipasinya.
Tangannya berhenti di atas keyboard.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Marcus tidak langsung bertindak. Ia menunggu. Mendengarkan detak jam di dinding yang terdengar lebih keras dari biasanya.
Tick.
Tick.
Tick.
Setiap detik terasa seperti pengingat bahwa kendali—hal yang selalu ia anggap mutlak—sedang bergeser perlahan.
Bukan direbut.
Dipindahkan.
Dan ia bahkan tidak tahu ke mana.
...****************...
Di ruang tamu, Elena menutup bukunya tanpa benar-benar membaca halaman terakhir.
Ia mendengar langkah Marcus di lantai atas. Irama yang berubah. Lebih berat. Lebih cepat. Ada ketidaksabaran yang biasanya tidak pernah ia izinkan keluar.
Elena menghela napas pelan.
Itu bekerja.
Bukan karena sistem retak.
Bukan karena rencana berjalan sempurna.
Tapi karena Marcus mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa ia ukur—ketidakpastian.
Dan bagi pria seperti dia, itu lebih menakutkan daripada ancaman terbuka.
Ponsel Elena bergetar pelan di tangannya.
Satu pesan masuk.
Dia mulai panik.
Elena mengetik balasan singkat.
Belum. Dia mulai mendengar.
Ia menyimpan ponsel itu, lalu berdiri perlahan. Tongkat putih tetap ia biarkan bersandar. Tidak diperlukan. Namun simbol itu masih penting—untuk sekarang.
Setiap langkahnya terukur.
Tenang.
Seolah rumah itu masih milik Marcus sepenuhnya.
Padahal Elena tahu—
ruang paling berbahaya bukanlah tempat seseorang kehilangan kekuasaan.
Melainkan tempat ia mulai menyadari bahwa kekuasaan itu tidak pernah absolut.
...****************...
Marcus akhirnya turun kembali.
Mereka bertemu di lorong tanpa kata.
Tatapan mereka beradu sepersekian detik—cukup lama untuk memuat ribuan pertanyaan yang tidak diucapkan.
“Kau mau keluar?” tanya Marcus.
“Hanya berjalan sebentar,” jawab Elena.
Marcus mengangguk, tapi matanya mengikuti setiap gerakannya. Mengamati. Menghitung. Seolah mencari pola yang bisa ia pahami.
Dan ketika Elena melewatinya, aroma parfumnya tertinggal—halus, familiar… namun entah kenapa terasa berbeda.
Marcus berbalik sedikit.
“Elena.”
Wanita itu berhenti.
“Ya?”
Marcus membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia tidak tahu apa yang ingin ia tanyakan.
Dan ketidaktahuan itu terasa seperti retakan kecil di fondasi yang selama ini ia bangun.
“Tidak apa-apa,” katanya akhirnya.
Elena tersenyum tipis.
Langkahnya menjauh.
Marcus berdiri diam.
Dan di tengah rumah yang seharusnya berada di bawah kendalinya—
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan ancaman.
Bukan ketakutan.
Melainkan kesadaran yang dingin dan tajam:
Permainan sudah dimulai.
Dan kali ini…
ia tidak tahu siapa yang membuat papan catur.