Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Ruang makan utama Mansion Aditama pagi itu bermandikan cahaya matahari yang hangat, namun suhu di sekeliling meja pualam panjang tersebut terasa beku dan luar biasa canggung.
Suara detak jarum jam grandfather clock antik di sudut ruangan terdengar begitu keras mengiris kesunyian, mengiringi denting pelan sendok perak Pak Aditama yang beradu dengan cangkir porselennya. Pria paruh baya itu sudah duduk di kursi kebesarannya di ujung meja, menyesap kopi hitam pekat sambil membaca berita ekonomi dari layar tabletnya. Di sisi kanan meja, Citra berdiri dengan anggun, menata piring dan memastikan setiap hidangan tersaji dengan sempurna. Gadis itu mengenakan gaun rumahan berlengan panjang yang rapi, wajahnya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.
Suara langkah kaki yang diseret berat terdengar menuruni tangga. Putra muncul di ambang pintu ruang makan.
Setiap kali sol sepatu pantofel mahalnya menapak di atas lantai marmer, sebuah getaran nyeri menjalar lurus ke pusat kepalanya yang masih berdenyut hebat. Cahaya matahari pagi yang memantul tajam dari perabotan perak di atas meja terasa seolah sengaja mengejek penglihatannya yang berkunang-kunang. Secara fisik, pria itu tampak sempurna seperti biasa. Setelan jas navy membalut tubuh atletisnya tanpa sehelai benang pun yang kusut, rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan dasinya terikat presisi. Namun, tidak ada yang bisa menyembunyikan wajahnya yang seputih kertas, kantung mata yang menggelap, dan rahang yang kaku menahan pening. Aroma aftershave maskulin yang ia pakai terlalu banyak pagi ini gagal sepenuhnya menutupi raut lelah dari pria yang baru tertidur beberapa jam di atas karpet.
Putra menarik kursi di seberang tempat yang biasanya diduduki Citra. Bunyi derit pelan kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuat Putra memejamkan mata sekilas, menahan denyutan di kepalanya yang kembali menyerang dengan ganas.
"Tumben kamu turun terlambat, Putra," tegur Pak Aditama tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. Suara berat pria paruh baya itu menggema di ruang makan yang sepi, membuat suasana semakin kaku. "Wajahmu juga pucat sekali. Kamu sakit?"
Putra berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya agar terdengar berwibawa. "Hanya sedikit kurang tidur, Pa. Semalam saya harus melembur memeriksa laporan kuartal dari cabang Surabaya. Banyak data mentah yang harus dicocokkan."
Sebuah kebohongan yang meluncur sangat mulus.
Citra, yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas mertuanya, sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya mendengar bualan sang suami. Tangannya sangat stabil, tidak ada setetes air pun yang tumpah. Padahal di dalam hatinya, Citra mendengus sinis. Laporan kuartal cabang Surabaya, atau laporan dari dasar botol wiski dan sisa parfum wanita murahan, Mas?
"Kerja keras itu keharusan, tapi jangan sampai merusak kesehatanmu. Perusahaan butuh pemimpin yang bugar, bukan yang gampang ambruk," nasihat Pak Aditama, akhirnya meletakkan tabletnya dan menatap putranya lekat-lekat. "Mata kamu merah. Pastikan sopir yang mengemudi ke kantor hari ini."
"Baik, Pa," jawab Putra singkat, ingin segera mengakhiri interogasi ini.
Di tengah meja, tersaji hidangan mewah khas sarapan keluarga konglomerat: scrambled egg dengan truffle, sosis sapi bratwurst panggang, dan roti sourdough berlapis mentega tebal. Bagi Putra dalam kondisi normal, itu adalah hidangan lezat. Namun pagi ini, melihat kilap minyak dan mencium aroma mentega creamy itu saja sudah membuat asam lambungnya bergolak hebat, mengancam akan memuntahkan seluruh sisa alkohol dari perutnya. Jangankan mengunyah, menelannya pun mustahil.
Tepat saat Putra bingung bagaimana cara menghindari sarapan tanpa memancing kemarahan dan kecurigaan ayahnya, sebuah mangkuk keramik putih diletakkan perlahan tepat di hadapannya.
Asap tipis mengepul dari mangkuk tersebut, membawa aroma kaldu ayam yang gurih, jahe yang menghangatkan, dan taburan daun bawang yang segar. Aroma itu anehnya sangat ramah di hidung Putra dan seketika sedikit meredakan rasa mual yang sedari tadi mencekik lehernya.
Putra mendongak. Citra berdiri di sampingnya dengan wajah datar dan mata yang menunduk sopan.
"Saya buatkan sup ayam jahe bening khusus untuk Mas Putra," ucap Citra dengan suara lembut yang terukur sempurna. "Mas Putra pulang sangat larut semalam karena lembur, pasti perutnya tidak nyaman jika langsung diisi makanan berat bersantan atau berminyak. Sup hangat ini sangat bagus untuk memulihkan tenaga dan... meredakan pusing."
Kata "pusing" itu diucapkan dengan penekanan yang sangat halus, nyaris tak kentara bagi telinga Pak Aditama, namun terdengar seperti ledakan meriam di telinga Putra.
Putra menatap mata istrinya sejenak. Di balik tatapan patuh dan wajah polos itu, Putra bisa melihat kilatan ejekan yang sangat rapi disembunyikan. Gadis ini sedang menyindirnya habis-habisan di depan sang ayah, namun mengemasnya dengan sangat brilian dalam wujud "istri yang berbakti".
"Bagus sekali, Citra," puji Pak Aditama, senyum puas akhirnya terukir di wajah tegas pria tua itu. Ia menatap Putra dengan bangga. "Kamu sangat beruntung memiliki istri yang sangat peka dan perhatian, Putra. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan suaminya bahkan tanpa diminta. Makanlah sup itu sampai habis, hargai usaha istrimu yang sudah bangun pagi-pagi buta untuk memasak khusus untukmu."
Skakmat.
Putra terjebak tanpa jalan keluar. Keangkuhannya memberontak ingin menepis mangkuk sup itu dan membentak Citra agar tidak ikut campur urusan perutnya. Namun, di bawah tatapan tajam dan penuh ekspektasi sang ayah, Putra tidak memiliki pilihan lain selain menelan egonya bulat-bulat.
Tangan Putra yang masih sedikit gemetar karena sisa hangover perlahan meraih sendok. Keheningan yang canggung dan menyesakkan kembali menyelimuti meja makan. Hanya terdengar denting pelan sendok perak yang bersentuhan dengan mangkuk keramik saat Putra menyuapkan kuah sup itu ke dalam mulutnya.
Cairan bening keemasan itu membilas tenggorokannya yang kering. Rasa hangat dari jahe kaldu ayam itu langsung mengalir ke perutnya, meredakan mual dan menenangkan saraf-sarafnya yang tegang seketika. Sup itu dimasak dengan kematangan bumbu yang luar biasa sempurna, memaksa Putra mengakui keahlian wanita yang sangat dibencinya ini. Setiap sendok yang masuk ke mulutnya justru membuktikan betapa rentan dan menyedihkannya ia pagi ini. Tubuhnya mengkhianati egonya dengan menerima hidangan itu penuh syukur, sementara harga dirinya meronta-ronta menahan malu.
Namun bagi Putra, setiap suapan kelezatan itu terasa seperti menelan kerikil tajam kekalahan yang melukai kerongkongannya. Citra tidak menuntut, tidak marah, namun serangannya pagi ini jauh lebih mematikan. Dengan satu mangkuk sup dan senyum palsu, gadis itu berhasil mengikat tangan dan kaki Putra di hadapan hakim tertinggi di rumah ini ayahnya sendiri. Ia dipaksa menerima "kebaikan" penawar mabuk dari wanita yang mengetahui rahasia paling memalukannya semalam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, kendali permainan telah berpindah tangan.
Citra kembali ke posisinya, berdiri di dekat meja saji. Ia menatap jakun suaminya yang bergerak naik-turun menelan kuah sup itu dengan sangat patuh. Pria yang biasanya melempar piring atau menghina masakannya tanpa ampun, kini tunduk tak berkutik bak pesakitan. Rasa puas mekar sempurna di dada Citra. Pagi ini, ia tidak perlu membalas dendam dengan air mata, drama, atau teriakan murahan. Semangkuk sup jahe hangat dan satu kalimat sindiran sederhana sudah cukup untuk menelanjangi ego suaminya hingga tak bersisa.
Mohon klik suka sebelum lanjut baca 🙏🙏🙏
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih