kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Sore itu, Alendra mencoba sekali lagi. Ia berlutut di depan Patricia yang sedang duduk di selasar masjid, menatap hamparan sawah.
"Cia... Mas mohon. Pulang ya? Mas sudah renovasi kamar bayi di rumah kota. Fasilitas kesehatan di sana lebih baik, dokter terbaik sudah Mas pesan untuk persalinanmu nanti," ucap Alendra dengan nada memohon yang sangat dalam.
Patricia tidak menoleh. Matanya tetap kosong menatap langit senja. "Rumah kota itu penuh dengan hantu masa lalu, Mas. Di sana, aku hanya wanita yang kamu abaikan. Di sini... aku merasa punya nyawa kembali. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Aku tidak akan melarang."
"Aku tidak akan pulang tanpamu, Cia!" suara Alendra pecah.
"Kalau begitu, hiduplah seperti aku," jawab Patricia pelan namun tajam. "Tanpa mobil mewah, tanpa asisten, tanpa kartu kredit. Bisa?"
"Assalamualaikum!"
Alendra terpaku, Patricia langsung pergi meninggalkan Alendra begitu saja,.
***
Malam hari, saat hujan masih mengguyur, Alendra tiba-tiba bersimpuh, kedua lututnya menghantam lumpur. Ia tidak lagi peduli pada harga diri sang Suhadi.
Gus Azmi yang berdiri di samping nya dengan memegang payung terpaku "Gus... izinkan aku tinggal di desa ini. Bukan sebagai donatur, bukan sebagai Tuan Muda Suhadi. Izinkan aku jadi tetangganya. Izinkan aku mencari nafkah dari keringatku sendiri agar aku tahu bagaimana rasanya berjuang untuk sebutir nasi yang dimakan istriku."
"Kamu bisa mati kelaparan di sini, Alen. Kamu tidak terbiasa hidup susah," sahut Gus Azmi tegas.
"Maka biarkan aku mati dalam usaha menjadi manusia yang benar!" teriak Alendra frustrasi. "Setidaknya kalau aku mati, Patricia tahu bahwa suaminya sudah mencoba untuk berubah!" sahut Alendra.
"kalau begitu, berusahalah...kembali seperti Alendra yang dulu" ucap Gus Azmi yang sudah tahu cerita tentang Alendra dari kakek Suhadi yang diam-diam menanyakan kabar tentang cucu menantu dan Alendra.
Alendra mengambil sebuah tas ransel tua yang ia beli di pasar tempo hari. Di dalamnya hanya ada beberapa potong baju murah dan sajadah. Ia berdiri, lalu menoleh ke arah jendela asrama Patricia. Ia tahu Patricia ada di sana.
Ia memberikan sebuah penghormatan kecil, sebuah anggukan pelan yang penuh dengan penyesalan. Tanpa kata-kata, gestur tubuhnya seolah berkata, Aku melepaskan duniaku, untuk masuk ke duniamu.
Alendra berjalan menjauh dari gerbang pesantren menuju sebuah bangunan kayu kosong yang berada tepat di samping tembok pesantren. Bangunan itu adalah bekas gudang yang atapnya bocor.
Malam itu, di dalam bangunan gelap tanpa alas tidur, Alendra duduk memeluk lututnya. Ia melihat tangannya yang gemetar karena kedinginan.
"Besok... aku harus mencari cara," gumamnya pada kegelapan. "Besok, aku akan mulai menjual gas, atau beras, atau apa saja. Aku akan membuktikan padamu, Cia... bahwa cintaku tidak butuh kartu kredit untuk bertahan hidup."
___
Di kamar asramanya, Patricia menangis sejadi-jadinya. Ia melihat semua harta mewah Alendra yang ditinggalkan di tengah lapangan, tersiram hujan dan terinjak lumpur. Ia sadar, Alendra tidak sedang berakting lagi. Pria itu benar-benar sedang menghancurkan dirinya sendiri untuk dibangun kembali demi Patricia.
___
Hujan masih menderu, mengubah pelataran pesantren menjadi lautan lumpur yang dingin. Dari balik jendela, Patricia melihat siluet Alendra yang perlahan menghilang, menembus kegelapan menuju bangunan gudang tua di luar gerbang. Sosok pria yang biasanya berdiri tegak dengan dagu terangkat itu kini tampak membungkuk, rapuh, dan kehilangan segalanya.
Setelah memastikan langkah Alendra benar-benar menjauh, Patricia tidak bisa lagi menahan diri. Dengan tangan gemetar, ia menyambar payung hitam di sudut kamar dan berlari keluar, mengabaikan rasa nyeri di pinggangnya akibat beban kandungannya.
Lampu taman pesantren yang remang-remang menyinari benda-benda yang tergeletak di tanah becek itu. Sebuah pemandangan yang sangat kontras: barang-barang seharga miliaran rupiah berserakan di atas tanah merah yang kotor.
Patricia bersimpuh perlahan. Napasnya tersengal. Ia melihat jam tangan mewah itu sudah separuh terbenam lumpur. Ia memungutnya, mengusap permukaannya yang dingin dengan ujung mukenanya yang basah.
"Kamu gila, Mas... kamu benar-benar gila," bisik Patricia di tengah isak tangis yang beradu dengan suara hujan.
Ia kemudian mengambil kunci mobil, dompet kulit, dan beberapa kartu kredit yang tadi dilemparkan Alendra. Benda-benda ini adalah simbol dari semua luka yang mereka miliki, harta yang pernah membuat Alendra merasa bisa mengatur hidup Patricia layaknya sebuah transaksi bisnis.
Patricia memeluk benda-benda itu di dadanya. Air mata hangatnya jatuh membasahi kartu-kartu plastik yang kaku itu. Ia bisa merasakan sisa kehangatan dari tangan Alendra yang tadi menggenggam benda-benda ini.
Ada rasa sakit yang luar biasa melihat seorang Alendra Suhadi, pria yang paling konyol di seluruh kota, merendahkan dirinya sampai ke titik ini. Ia tidak hanya membuang hartanya, ia sedang membuang identitasnya.
"Kenapa harus sampai begini?" rintih Patricia. Ia merasa benci melihat suaminya sehancur ini, namun di sudut hatinya yang terdalam, ia merasa dihormati untuk pertama kalinya. Alendra akhirnya memilih dirinya di atas segalanya.
Dengan langkah berat, Patricia kembali ke kamarnya. Ia membersihkan barang-barang itu dari lumpur dengan kain lembut. Jam tangan itu kini kembali berkilau, namun bagi Patricia, kilaunya terasa menyedihkan.
Ia mengambil sebuah kotak kayu tua di bawah ranjangnya. Ia memasukkan semua barang itu ke sana:
Jam tangan mewah.
Kunci mobil yang kini tak ada gunanya di desa ini.
Dompet penuh kartu hitam.
Ia mengunci kotak itu rapat-rapat. Ia memutuskan untuk tidak mengembalikan barang-barang itu sekarang. Ia akan menyimpannya sebagai saksi bisu. Jika suatu saat nanti Alendra menyerah dengan hidup susahnya di desa, ia akan memberikan kotak ini agar Alendra bisa kembali ke dunianya.
Namun, jika Alendra bertahan... kotak ini akan menjadi bukti bahwa cinta mereka telah menang melawan emas dan permata.
Patricia berdiri di dekat jendela, menatap ke arah gudang tua yang kini lampunya mulai menyala redup. Ia membayangkan Alendra di sana, tidur beralaskan kayu atau tikar seadanya, tanpa selimut , tanpa bantal empuk.
Ia mengusap perutnya yang menendang pelan.
"Lihat Ayahmu, Nak," bisiknya lirih. "Dia sedang berusaha menjadi manusia baru. Kita lihat... sampai kapan dia kuat hidup tanpa semua benda di kotak ini."
Patricia tahu Alendra pasti akan mengalami nyeri otot yang hebat besok pagi setelah mengangkat beban berat. Ia mengambil sebotol minyak urut dan sebungkus roti gandum miliknya.
Meski hatinya masih terluka, sisi keibuannya tidak bisa membiarkan ayah dari anaknya menderita sendirian. Ia memanggil seorang santri kecil yang masih terjaga untuk membantunya.
"Zaid, tolong antarkan ini ke gudang depan. Taruh saja di depan pintu, jangan katakan dari siapa ya?" pesan Patricia sambil menyelipkan sedikit uang jajan untuk santri itu.
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
kasian juga ya...
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/