"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RADIUS SEPULUH MENIT
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang, namun ketenangan itu justru terasa menekan bagi Kanaya. Suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca terdengar sangat nyaring di tengah keheningan. Maya duduk di hadapannya, sudah rapi dengan seragam PNS cokelatnya yang disetrika licin. Wajahnya yang kemarin memerah karena amarah, kini tampak datar dan berwibawa, kembali ke sosok guru yang disegani di sekolah.
"Nanti siang kamu langsung temui teman Ibu itu," ucap Maya tanpa mendongak, suaranya tenang namun penuh penekanan yang tidak menerima bantahan. "Ibu sudah titip pesan sama dia. Kamu datang saja, bawa berkasmu. Bilang kamu keponakan Ibu Maya. Dia sudah tahu."
Kanaya menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap butiran nasi di piringnya, merasa seolah setiap suapan yang ia telan adalah beban baru yang mengendap di perutnya. "Iya, Bu," jawabnya pelan, nyaris berupa bisikan.
"Bagus," sahut Maya, kini ia mendongak dan menatap Kanaya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kepuasan di sana, namun juga ada semacam ketakutan yang disembunyikan. "Sepuluh menit dari sini itu jarak yang ideal. Kamu tidak perlu capek di jalan. Kalau ada apa-apa di rumah, kamu bisa cepat sampai. Dan yang paling penting, Ibu tahu kamu aman. Ibu tidak mau kamu jauh-jauh hanya untuk akhirnya terlantar atau salah pergaulan seperti ibumu dulu."
Kalimat terakhir itu seperti sengatan listrik bagi Kanaya, namun ia memilih untuk tetap diam. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri semalam, saat melihat guratan lelah di wajah ibunya yang tertidur, bahwa ia akan mengalah. Ia akan menelan semua keinginannya untuk terbang jauh.
"Nanti kalau sudah mulai kerja, jangan main-main," lanjut Maya sambil merapikan tas kerjanya. "Jaga nama baik Ibu. Teman Ibu itu orang terpandang. Jangan sampai dia lapor ke Ibu kalau kamu kerjanya tidak becus atau malah sibuk main ponsel terus."
Kanaya hanya mengangguk patuh. Ia merasa jiwanya seperti sedang ditarik keluar dari tubuhnya, meninggalkan sebuah cangkang yang hanya bisa berkata "iya" dan "baik, Bu." Di dalam kepalanya, bayangan tentang hutan Kalimantan dan email panggilan wawancara yang ia dambakan perlahan-lahan memudar, tertutup oleh bayangan toko grosir yang hanya berjarak sepuluh menit itu.
Saat Maya bangkit dari kursi dan bersiap berangkat ke sekolah, ia sempat berhenti di samping Kanaya dan menepuk bahunya sekilas. Sebuah sentuhan yang seharusnya terasa hangat, namun bagi Kanaya terasa seperti tanda kepemilikan. "Ibu berangkat dulu. Ingat, siang nanti jangan telat. Ibu akan telepon teman Ibu itu jam dua siang untuk memastikan kamu sudah sampai di sana."
Pintu depan tertutup dengan suara dentum yang pelan. Kanaya ditinggalkan sendirian di meja makan. Ia menatap kursi kosong di hadapannya, menyadari bahwa mulai hari ini, dunianya akan menyempit menjadi radius sepuluh menit. Ia meraih ponselnya yang layarnya masih retak, melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Hendri, namun ia tidak berniat membalasnya.
Bagi Kanaya, mencintai Hendri sekarang terasa seperti dosa, karena mencintai pria itu berarti menginginkan kebebasan, dan kebebasan adalah hal yang baru saja ia serahkan demi ketenangan ibunya.
Kanaya berdiri di depan sebuah ruko besar berlantai dua dengan papan nama "Grosir Barokah" yang terpampang mencolok. Jantungnya berdegup pelan, bukan karena gugup menghadapi pekerjaan baru, melainkan karena rasa sesak yang mulai menjalar di dadanya. Bau plastik kemasan, tumpukan kardus, dan aroma kopi sachet yang tajam menyeruak menyambut kehadirannya.
Ia melangkah masuk dan langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Wanita itu adalah Tante Rosa, teman lama ibunya yang juga sesama pensiunan guru honorer sebelum akhirnya sukses membangun usaha ini. Tatapannya tajam, menyelidik dari ujung rambut hingga ujung sepatu Kanaya.
"Oh, kamu anaknya Maya? Eh, maksud Tante, keponakannya?" tanya Tante Rosa dengan suara nyaring yang mengingatkan Kanaya pada suara ibunya saat sedang mengabsen murid. "Tadi Maya sudah telepon tiga kali. Dia bilang kamu anak yang pintar, tapi harus sering-sering diingatkan supaya tidak melamun."
Kanaya memaksakan senyum tipis. "Iya, Tante. Saya Kanaya."
"Bagus. Maya minta tolong ke Tante supaya kamu 'dijaga' benar-benar di sini. Katanya kamu baru saja lulus, jadi jangan sampai salah langkah," lanjut Tante Rosa sambil membimbing Kanaya menuju meja administrasi di sudut ruangan. "Di sini CCTV-nya banyak, Naya. Dan Tante selalu lapor ke Ibu kamu kalau ada apa-apa. Kita kan teman lama, jadi harus saling membantu menjaga anak."
Mendengar itu, Kanaya merasa dunianya seolah menciut seketika. Ia menyadari bahwa tempat ini bukan sekadar tempat kerja; ini adalah kepanjangan tangan dari ruang tamu rumahnya. Tembok-tembok ruko ini adalah perpanjangan dari kerangkeng yang dibangun Maya. Walaupun sosok ibunya secara fisik sedang berada di sekolah mengenakan seragam PNS-nya, namun "mata" dan "telinganya" tertanam kuat di setiap sudut toko ini.
Sepanjang siang itu, Kanaya hanya duduk menghadap komputer, menginput data stok barang yang masuk. Setiap kali ponsel Tante Rosa berbunyi, Kanaya bisa melihat wanita itu melirik ke arahnya sambil berbicara pelan. Ia tahu siapa yang menelepon. Ia tahu Maya sedang memastikan apakah ia benar-benar ada di sana, apakah ia tampak rajin, atau apakah ia terlihat sedang memegang ponsel untuk menghubungi Hendri.
"Naya, tadi Ibu kamu tanya, kamu sudah makan siang belum? Katanya kalau belum, kamu disuruh pulang sebentar, dia sudah masakan sayur asem," ujar Tante Rosa dari meja seberang.
Kanaya meremas pulpen di tangannya. Jarak sepuluh menit itu benar-benar terasa seperti tali yang melilit lehernya. Ia bahkan tidak diberi ruang untuk sekadar menikmati jam istirahatnya sendiri. Segala gerak-geriknya dilaporkan secara real-time. Kebebasan yang ia impikan di Kalimantan kini terasa seperti dongeng pengantar tidur yang mustahil menjadi nyata.
Di tengah kesibukannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang ia letakkan di bawah tumpukan nota.
Hendri: "Naya, aku di depan toko tempatmu kerja. Aku cuma mau antar kopi dan lihat kamu sebentar. Kamu tidak perlu keluar kalau takut, aku simpan di atas motormu ya?"
Kanaya menegang. Ia melirik Tante Rosa yang sedang asyik mencatat, lalu melirik ke arah kamera CCTV yang terpasang tepat di atas mejanya. Ia merasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Jika ia keluar menemui Hendri, atau bahkan jika Tante Rosa melihat ada pria yang mendekati motornya, laporan itu akan sampai ke telinga Maya dalam hitungan detik. Dan ia tahu, badai yang lebih besar akan menunggunya di rumah.
"Kenapa diam saja, Naya? Itu ada data masuk lagi, segera diinput," tegur Tante Rosa tanpa menoleh.
"Iya, Tante," sahut Kanaya lirih.
Ia tidak membalas pesan Hendri. Ia bahkan tidak berani menoleh ke arah pintu kaca toko. Kanaya menyadari bahwa mulai hari ini, ia harus belajar menjadi robot yang tidak memiliki keinginan. Ia harus membunuh perasaannya pada Hendri, mengubur ambisinya, dan menerima bahwa di kota ini, di bawah bayang-bayang ibunya, ia hanyalah sebuah objek yang harus selalu bisa dipantau.