Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu Mati Raga
Dokter Setyo menatap Sekar seolah melihat mayat yang bangkit dari kubur.
Tidak masuk akal.
Secara medis, gadis ini seharusnya mengalami depresi pernapasan akut.
Dia seharusnya membiru, kejang, atau setidaknya muntah-muntah karena reaksi penolakan lambung.
Namun, yang ada di hadapannya kini adalah sosok dengan kulit seputih pualam yang bersinar, mata yang jernih, dan aura yang... menindas.
"A-apa yang Anda bicarakan?" suara Dr. Setyo terdengar mencicit, wibawanya sebagai dokter senior Keraton runtuh seketika.
"Anda baru saja mengalami syok anafilaktik atau mungkin... overdosis zat psikotropika. Saya harus menyuntikkan diazepam sebelum otak Anda, "
"Simpan diagnosis amatir Anda, Dokter."
Sekar turun dari ranjang.
Kakinya menapak lantai marmer yang dingin tanpa keraguan sedikitpun.
Tidak ada limbung. Tidak ada pusing.
Analisis motorik: Keseimbangan 100%. Koordinasi otot: Optimal. Residua racun: Nihil.
Sekar berjalan perlahan mendekati Dr. Setyo.
Setiap langkahnya tenang, namun bagi dokter itu, rasanya seperti didekati predator puncak.
"Anda menyebut ini overdosis?" Sekar menyeringai tipis, namun matanya sedingin es.
"Coba periksa nadi saya. Sekarang."
Dr. Setyo ragu, melirik Arya yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan wajah pucat.
Pangeran itu mengangguk kaku, memberi isyarat agar dokter itu menurut.
Dengan tangan gemetar, Dr. Setyo menempelkan tiga jarinya ke pergelangan tangan Sekar.
Detik berlalu. Mata dokter itu membelalak.
"Enam puluh denyut per menit," gumam Dr. Setyo, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Kuat. Teratur. Sempurna."
"Tentu saja," jawab Sekar datar.
"Karena saya tidak pingsan, Dokter. Saya bermeditasi."
"Me-meditasi?" Dr. Setyo menarik tangannya seperti tersengat listrik.
"Tapi tadi Anda kejang! Ada ledakan angin! Itu gejala epilepsi grand mal atau reaksi obat terlarang!"
Sekar tertawa kecil. Suara tawanya merdu, tapi tidak mencapai matanya.
"Anda dokter Barat, wajar jika Anda buta pada kearifan lokal," ucap Sekar, mulai melancarkan serangan psikologisnya.
Dia memadukan istilah medis modern dengan mistisisme Jawa untuk menciptakan kebohongan yang tak bisa dibantah.
"Gamelan Kyai Guntur Madu yang dimainkan di Bangsal Kencana tadi memiliki frekuensi Infrasound rendah. Bagi orang awam, itu hanya musik. Tapi bagi seseorang dengan sensitivitas neuro-plastisitas tinggi seperti saya, itu adalah pemicu."
Sekar menatap Arya sekilas, lalu kembali menatap dokter itu tajam.
"Saya masuk ke dalam kondisi Trance State atau yang leluhur kita sebut sebagai Mati Raga."
"Mati Raga..." ulang Arya, suaranya parau.
Dia melangkah maju, menatap Sekar dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kekaguman dan ketakutan purba.
"Benar, Gusti Pangeran," Sekar beralih menatap Arya, melembutkan suaranya.
"Tubuh fisik saya melambatkan metabolisme hingga titik nol untuk menyerap energi spiritual. Itu sebabnya napas saya seperti berhenti."
Sekar kembali menatap Dr. Setyo dengan tatapan membunuh.
"Dan Anda, Dokter... Anda hampir saja membunuh saya. Jika Anda menyuntikkan sedatif itu saat jiwa saya sedang 'keluar', Anda akan memutus tali sukma saya secara permanen. Dalam istilah medis Anda, itu akan memicu Brain Death instan."
Wajah Dr. Setyo berubah menjadi abu-abu.
Dia mundur selangkah, menabrak meja nakas.
Logika medisnya bertarung dengan takhayul yang mendarah daging di lingkungan keraton.
"Tapi... tapi hasil tes pupil tadi..." Dr. Setyo mencoba membela diri, suaranya lemah.
"Pupil dilatasi adalah tanda fokus otak yang ekstrem, bukan cuma tanda kematian batang otak," potong Sekar cepat.
"Anda hampir melakukan malpraktik spiritual, Dokter.
Apa Anda mau bertanggung jawab jika saya cacat mental karena ketidaktahuan Anda?"
"S-saya... saya hanya menjalankan protokol..." Dr. Setyo tergagap. Dia menatap Arya, memohon perlindungan.
"Gusti Pangeran, sungguh, saya tidak bermaksud..."
Arya mengangkat tangannya, menghentikan racauan dokter itu.
Pangeran muda itu masih terbayang ledakan angin yang menghempaskan dokter itu ke dinding.
Dia melihat sendiri bagaimana kulit Sekar berubah dari merah padam menjadi bercahaya dalam hitungan detik.
Itu bukan medis.
Itu Pulung.
Wahyu.
Arya tahu sejarah keluarganya.
Nenek buyutnya konon bisa memanggil hujan.
Apakah mungkin Sekar juga memiliki darah itu?
"Cukup, Dokter," suara Arya rendah tapi tegas, mengandung otoritas seorang bangsawan tinggi.
"Diagnosa Anda salah. Sekar Ayu tidak sakit. Dia... dia mendapatkan pencerahan."
"Ta-tapi Gusti, protokol medis mengharuskan observasi 24 jam di Rumah Sakit Sardjito untuk kasus suspek intoksikasi..."
"Tidak ada intoksikasi!"
bentak Arya, membuat Dr. Setyo terlonjak.
"Kau dengar sendiri penjelasannya. Itu Mati Raga. Jika kau bawa dia ke rumah sakit, media akan mencium ini. Mereka akan menulis judul 'Calon Istri Pangeran Overdosis Narkoba'. Kau mau menghancurkan nama baik Keraton?"
Dr. Setyo menelan ludah susah payah. "Ampun, Gusti. Saya tidak berani."
"Keluar," perintah Arya dingin.
"Dan bawa semua peralatanmu. Jika ada satu kata pun bocor tentang kejadian di kamar ini, tentang angin itu, atau tentang kondisi Sekar, aku pastikan izin praktikmu dicabut seumur hidup."
Dr. Setyo mengangguk panik.
Dengan gerakan kikuk, dia memungut suntikan yang jatuh di lantai, memasukkannya asal-asalan ke dalam tas kulitnya, lalu membungkuk dalam-dalam pada Arya dan Sekar sebelum bergegas keluar dari paviliun seperti dikejar setan.
Pintu jati tertutup berat. Hening kembali menyelimuti ruangan.
Sekar menghembuskan napas panjang, bukan karena lelah, tapi karena lega sandiwaranya berhasil.
Adrenalin turun ke level normal. Detak jantung stabil di 70 bpm.
"Sekar," panggil Arya lembut.
Dia berdiri dua langkah dari Sekar, seolah takut menyentuhnya.
"Apa... apa yang sebenarnya terjadi padamu? Angin tadi... matamu yang berubah warna..."
Sekar menatap Arya.
Dia melihat ketulusan di mata pria itu. Arya tidak takut padanya; dia takut kehilangan dirinya.
"Mas Arya percaya kalau aku bilang aku cuma gadis desa biasa?" tanya Sekar pelan.
Arya menggeleng perlahan.
"Gadis desa biasa tidak membuat vas bunga meledak tanpa menyentuhnya. Gadis desa biasa tidak tahu istilah medis serumit itu."
Arya memberanikan diri mendekat, lalu menggenggam kedua tangan Sekar.
Kulit gadis itu terasa hangat dan halus, berbeda jauh dari kulit demam yang disentuhnya sepuluh menit lalu.
"Siapa pun kamu, atau apa pun kekuatan yang kamu miliki... aku tidak peduli,"
bisik Arya, menatap lekat ke dalam mata Sekar.
"Asal kamu tetap hidup. Asal kamu tetap di sini."
Sekar merasakan desiran hangat di dadanya.
Itu bukan reaksi kimiawi obat, itu murni emosi manusia.
"Aku di sini, Mas. Dan aku tidak akan pergi kemana-mana."
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" bujuk Arya, kembali ke mode protektif.
"Lewat pintu belakang. Aku akan panggil dokter pribadiku yang lain, yang bisa tutup mulut. Hanya untuk memastikan tidak ada efek samping."
Sekar menggeleng tegas. Dia melepaskan genggaman tangan Arya dan berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan.
Dia melihat pantulan dirinya. Kebayanya sedikit kusut, tapi wajahnya...
Wajah itu bersinar. Efek detox paksa dari Mata Air Spiritual membuat kulitnya tampak sehalus porselen, seolah dia memakai filter kamera secara live.
Matanya tampak lebih dalam dan tajam.
"Tidak, Mas. Kita tidak ke rumah sakit."
"Sekar, jangan keras kepala. Kau baru saja tidak sadarkan diri!"
"Justru karena itu," Sekar berbalik, menatap Arya dengan sorot mata nyalang.
"Mawar dan Dhaning ada di sana, di Bangsal Kencana. Mereka menunggu kabar aku dilarikan ambulans. Mereka menunggu berita bahwa 'gadis desa' itu memalukan Keraton karena sakau di tengah pesta."
Sekar melangkah mendekati Arya, merapikan kerah beskap pria itu yang sedikit berantakan.
"Jika aku pergi sekarang, mereka menang. Besok pagi, seluruh Jogja akan mengira aku pecandu narkoba. Reputasiku hancur, bisnisku hancur, dan Mas Arya akan dipaksa menikahi Mawar demi memulihkan nama baik keluarga."
Rahang Arya mengeras mendengar nama Mawar.
"Mereka yang melakukan ini padamu?" tanyanya, suaranya berat menahan amarah.
"Akan kubuktikan nanti. Tapi sekarang..." Sekar mengambil lipstik merah marun dari tas kecilnya yang tergeletak di meja.
Dia memoleskan warna merah berani itu ke bibirnya di depan cermin.
Gerakannya presisi, tanpa getaran sedikitpun.
"Sekarang, kita harus kembali ke pesta."
"Kau gila," desis Arya, tapi ada nada kagum dalam suaranya.
"Bukan gila, Mas. Ini strategi," sahut Sekar tenang.
Dia merapikan sanggulnya yang sedikit miring dengan satu gerakan efisien.
"Mereka berharap melihat mayat atau wanita sakit, tapi kita akan berikan mereka kejutan."
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄