Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beradaptasi dengan kehidupan baru
Tiga hari sudah berlalu sejak pernikahan dramatis itu.
Tiga hari Mayra tinggal di penthouse mewah Dev sebagai istrinya, secara legal.
Tiga hari yang terasa seperti mimpi yang panjang dan aneh.
Mayra duduk di sofa besar ruang tamu dengan laptop di pangkuan, mencoba fokus pada presentasi proposal untuk klien barunya. Tapi pikirannya terus melayang.
Kehidupan barunya dengan Dev... sangat berbeda dari yang dia bayangkan.
Mereka punya rutinitas yang cukup teratur: Dev bangun jam 5.30 pagi untuk olahraga di ruang gym pribadinya selama satu jam, lalu mandi dan sarapan. Mayra bangun sekitar jam 7, kadang bergabung untuk sarapan bersama yang ternyata cukup nyaman.
Mereka jarang bicara banyak saat sarapan. Dev biasanya membaca berita bisnis di iPad-nya, dan Mayra mengecek email dan media sosial. Tapi keheningan itu tidak canggung. Malah... akrab.
Setelah sarapan, Dev pergi ke kantor, kadang pulang jam 8 malam, kadang lebih larut. Mayra juga kembali bekerja di Luminary Events, menghadapi tatapan penasaran dan pertanyaan-pertanyaan dari rekan kerjanya.
Dina tentu saja yang paling gigih.
*"Mayra! Cerita dong! Kamu dan Dev Armando itu gimana sih sebenarnya?! Kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau gimana?!"* Dina sudah bertanya berkali-kali.
Mayra hanya bisa bilang, *"Situasinya rumit, Din. Tapi aku bahagia, kok."*
Yang ternyata... tidak sepenuhnya bohong.
Mayra memang tidak jatuh cinta pada Dev. Ini kontrak. Tapi hidup dengannya... tidak seburuk yang dia bayangkan.
Dev sangat menghormati batasan Mayra. Kamar terpisah, seperti yang dijanjikan. Tidak ada tuntutan fisik. Tidak ada pelanggaran privasi. Dev bahkan jarang masuk ke kamar Mayra kecuali untuk memberitahu sesuatu.
Tapi yang membuat Mayra sedikit terkejut, Dev perhatian dengan cara yang halus.
Kemarin pagi, saat Mayra bilang dia suka croissant, besok paginya sudah ada croissant segar dari toko roti favorit Mayra di meja makan.
Dua hari lalu, saat Mayra kedinginan karena AC terlalu kencang, keesokan harinya temperatur AC sudah disesuaikan.
Dan setiap kali Mayra pulang dari kantor terlihat lelah, Dev akan menyiapkan wine dan berkata, *"Hari yang berat? Mau cerita?"*
Kadang Mayra cerita, kadang tidak. Tapi tawaran itu sendiri sudah cukup.
Mayra tidak tahu apa yang harus dia pikirkan tentang semua ini.
Ponselnya kemudian berbunyi, menampilkan nama "Papa" di layar.
Mayra mengangkat dengan cepat. "Halo, Pa?"
"Sayang, Papa mau tanya... kamu sibuk Minggu besok?" suara Bambang terdengar hati-hati.
"Tidak, Pa. Kenapa?"
"Papa mau ajak kamu makan siang. Berdua aja. Papa kangen sama kamu," kata Bambang dengan suara yang bergetar sedikit.
Mayra merasakan dadanya sesak. Sejak pindah tiga hari lalu, dia memang belum ketemu ayahnya.
"Tentu, Pa. Aku juga kangen Papa. Jam berapa?"
"Jam 12 siang? Di Union, restoran favorit kita?"
"Oke, Pa. Sampai jumpa di sana."
Setelah menutup telepon, Mayra tersenyum kecil. Setidaknya ayahnya tidak memutuskan hubungan dengannya karena skandal kemarin.
Tidak seperti sebagian besar keluarga besar Kusumo yang sekarang mendiamkannya, atau lebih parah, menggosipkannya di belakang.
Pintu penthouse terbuka. Dev masuk dengan blazer di lengan, kemeja putihnya sedikit kusut, terlihat lelah.
"Kamu sudah pulang? Jam segini?" tanya Mayra terkejut sambil melirik jam, baru jam 6 sore. Biasanya Dev pulang jam 8 atau 9.
"Rapat sore dibatalkan," jawab Dev sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja konsol. "Jadi saya putuskan pulang lebih awal."
Dia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, mengambil botol air mineral dan meneguknya. Lalu dia melirik Mayra yang duduk di sofa dengan laptop.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Dev.
"Belum. Aku sibuk dengan proposal ini," jawab Mayra sambil menunjuk layar laptopnya.
Dev menatap jam di dinding. "Jam 6 lewat. Kamu harus makan. Tidak baik melewatkan waktu makan."
"Aku tahu, aku tahu. Nanti makan kok," kata Mayra sambil kembali fokus ke laptop.
Dev terdiam sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa seberang Mayra.
"Saya sudah pesan makanan. Akan sampai dalam 30 menit," kata Dev sambil membuka laptopnya sendiri.
Mayra mengangkat kepala. "Kamu tidak perlu--"
"Saya juga belum makan. Jadi kita makan bersama," potong Dev tanpa mengangkat mata dari laptop.
Mayra tersenyum kecil. "Oke. Terima kasih."
"Hmm."
Mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman, masing-masing fokus pada pekerjaan sendiri, tapi ada rasa kebersamaan yang membuat ruangan tidak terasa sepi.
Tepat 30 menit kemudian, bel pintu berbunyi. Dev bangkit untuk mengambil pesanan makanan, ternyata dari restoran Chinese food yang cukup mewah.
Dia menyusun makanan di meja makan: ikan asam manis, ayam kung pao, mapo tofu, nasi putih, dan lumpia.
"Wah, banyak banget," komentar Mayra sambil menutup laptopnya dan bergabung di meja makan.
"Saya tidak tahu kamu suka yang mana, jadi saya pesan beberapa macam," jelas Dev sambil menyendokkan nasi ke piring Mayra.
Mereka makan dengan nyaman sambil sesekali berbincang ringan.
"Bagaimana kerjamu hari ini?" tanya Dev.
"Lumayan. Ada klien baru yang mau pesta pernikahan dengan anggaran yang besar sekali. Senang tapi juga gugup," jawab Mayra sambil menyuap mapo tofu. "Kamu?"
"Ada kesepakatan akuisisi yang hampir gagal tapi akhirnya berhasil diselesaikan. Melelahkan tapi sepadan," kata Dev.
"Kehidupan CEO," komentar Mayra dengan senyum.
"Kehidupan istri CEO juga tidak mudah," balas Dev sambil menatap Mayra. "Apalagi dengan semua gosip yang beredar."
Mayra menghela napas. "Jangan ingatkan. Instagram ku penuh dengan pesan dari orang-orang yang aku bahkan tidak kenal, tanya-tanya tentang pernikahan kita."
"Saran saya, abaikan semua. Mereka akan bosan sendiri pada waktunya," kata Dev.
"Kamu terdengar seperti sudah sering menghadapi gosip."
"Saya CEO dari perusahaan besar. Gosip adalah bagian dari paketnya," jawab Dev dengan nada datar. "Tapi biasanya tentang bisnis, bukan kehidupan pribadi. Ini... baru."
"Maaf," kata Mayra tiba-tiba.
Dev menaikkan alis. "Untuk apa?"
"Karena aku membuat hidupmu jadi... rumit. Sebelum menikah denganku, kamu pasti lebih tenang tanpa drama pribadi seperti ini."
Dev menatap Mayra lama, lalu tersenyum tipis. "Mayra, saya setuju menikahimu dengan sepenuhnya sadar akan konsekuensinya. Ini bukan salahmu. Dan jujur saja? Hidup saya memang butuh sedikit... kerumitan. Terlalu bisa diprediksi itu membosankan."
Mayra tidak bisa menahan senyum. "Jadi aku adalah 'kerumitan' yang diterima?"
"Tepat sekali," jawab Dev dengan senyum yang membuat jantung Mayra berdetak sedikit lebih cepat.
Setelah makan malam, mereka membereskan bersama. Mayra mencuci piring, Dev mengeringkan dan menyimpan. Rutinitas rumah tangga yang ternyata cukup nyaman.
"Oh iya, Minggu besok aku ada makan siang dengan Papa," kata Mayra sambil membilas piring terakhir. "Jam 12 siang. Aku mungkin pergi sendiri, kamu pasti sibuk kan?"
Dev terdiam sebentar. "Saya tidak sibuk di hari wekeend. Mau saya ikut?"
Mayra terkejut. "Kamu... mau?"
"Ayahmu adalah ayah mertuaku sekarang. Secara teknis, saya harus membangun hubungan yang baik dengannya," jelas Dev. "Kecuali kamu mau waktu berdua dengan dia? Saya mengerti kalau begitu."
Mayra berpikir sebentar. Sebetulnya dia memang ingin waktu berdua dengan ayahnya. Tapi... mungkin tidak buruk kalau Dev ikut? Biar ayahnya bisa lebih kenal dengan"suami"nya?
"Boleh, kamu ikut aja. Aku yakin Papa akan senang," kata Mayra akhirnya.
"Oke. Noted," Dev mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu, sekitar jam 10, Mayra sudah siap tidur. Dia sudah mandi, mengenakan piyama satin, dan baru saja akan naik ke tempat tidur saat dia ingat, dia lupa mengambil buku yang dia tinggalkan di ruang tamu tadi siang.
Mayra keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu yang remang-remang, hanya lampu hias yang menyala.
Tapi dia terkejut menemukan Dev masih ada di sana, duduk di sofa dengan segelas wiski di tangan, menatap keluar jendela besar yang menampilkan pemandangan Jakarta malam yang berkilauan.
"Kamu belum tidur?" tanya Mayra sambil mengambil bukunya dari meja.
Dev menoleh. "Belum ngantuk. Kamu?"
"Baru mau tidur. Tapi lupa ambil buku," jawab Mayra sambil mengangkat novel yang dia baca.
"Duduk," kata Dev sambil menepuk sofa di sebelahnya. "Kecuali kamu benar-benar sudah ngantuk."
Mayra ragu sebentar, tapi akhirnya duduk di sofa, agak jauh dari Dev, menjaga jarak yang sopan.
"Mau minum?" tanya Dev sambil menunjuk botol wiski di meja.
"Aku tidak terlalu suka wiski. Terlalu kuat," jawab Mayra.
Dev berdiri dan berjalan ke mini bar di sudut ruangan. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan segelas wine merah.
"Coba ini. Merlot, lembut," kata Dev sambil menyerahkan gelas itu.
Mayra menerimanya dan menyesap, memang enak, tidak terlalu kuat. "Terima kasih."
Mereka duduk dalam keheningan sebentar, sama-sama menatap pemandangan kota di luar.
"Dev," panggil Mayra pelan.
"Hmm?"
"Boleh aku tanya sesuatu yang... pribadi?"
Dev menatapnya dengan tatapan penasaran. "Tergantung pertanyaannya. Tapi coba saja."
Mayra menarik napas dalam. "Kamu bilang kamu pernah dikhianati 10 tahun lalu. Boleh cerita atau... terlalu pribadi?"
Dev terdiam cukup lama sampai Mayra pikir dia tidak akan menjawab.
Tapi akhirnya Dev bicara, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
"Namanya Valerie. Kami bertunangan, sudah merencanakan pernikahan. Sebulan sebelum hari pernikahan, dia datang dan bilang dia... menemukan seseorang yang lebih baik. Seseorang lebih kaya, lebih berkuasa, bisa memberinya gaya hidup yang lebih mewah dari yang saya bisa berikan saat itu." Ia bercerita langsung ke intinya.
Mayra merasakan dadanya sesak mendengar itu. "Aku turut prihatin..."
"Saat itu saya baru memulai bisnis. Belum sekaya sekarang. Masih berjuang," lanjut Dev sambil menatap gelas wiskinya. "Valerie bilang dia 'harus membuat keputusan praktis untuk masa depannya'. Seolah cinta itu bisa diukur dengan uang."
"Itu mengerikan," bisik Mayra.
"Sejak itu, saya fokus sepenuhnya pada bisnis. Membangun kerajaan bisnis saya. Membuktikan bahwa saya bisa sukses tanpa dia," kata Dev dengan nada yang lebih keras. "Dan saya menutup hati saya. Tidak ada hubungan, tidak ada drama, tidak ada risiko pengkhianatan lagi."
Mayra menatap pria di sampingnya dengan perasaan yang aneh. Dia mulai mengerti kenapa Dev begitu dingin, kenapa dia setuju dengan pernikahan kontrak yang tidak butuh cinta.
"Sampai sekarang? Masih tidak ada siapa-siapa?" tanya Mayra hati-hati.
"Sampai sekarang," jawab Dev sambil menatap Mayra dengan tatapan yang dalam. "Secara teknis sekarang ada. Kamu."
"Tapi kita kontrak," kata Mayra dengan senyum tipis yang agak sedih.
"Tapi kita kontrak," ulang Dev dengan nada yang sulit ditafsirkan.
Keheningan lagi.
Lalu Dev bertanya, "Bagaimana dengan kamu? Kamu dan Arman... sudah berapa lama?"
"Tiga tahun. Pacaran sejak aku 22," jawab Mayra. "Dia manis di awal. Romantis, perhatian. Tapi belakangan... entah sejak kapan dia berubah. Atau mungkin aku yang terlalu buta untuk melihat tanda-tandanya."
"Bukan salahmu," kata Dev dengan tegas. "Penipu yang pandai selalu bisa menyembunyikan sifat asli mereka. Arman jelas pandai berakting."
"Ya," Mayra menyesap wine-nya. "Yang paling menyakitkan bukan cuma dia selingkuh. Tapi dengan siapa. Zakia... dia kakak tiriku. Harusnya dia mendukungku, bukan tikam dari belakang."
"Keluarga bisa jadi yang paling menyakitkan," komentar Dev. "Karena kita mempercayai mereka tanpa syarat."
"Kamu juga punya masalah keluarga?" tanya Mayra.
"Besar," jawab Dev dengan senyum sinis. "Hendra, kakakku, selalu cemburu karena saya lebih sukses dari dia meskipun dia yang dapat warisan dari ayah kami. Dia pikir saya 'mencuri' perhatian keluarga."
"Itu konyol. Kamu membangun kerajaan bisnis sendiri," kata Mayra.
"Tepat sekali. Tapi dia tidak bisa menerima itu," Dev menghabiskan wiskinya. "Makanya saya tidak dekat dengan keluarga Prasetyo. Mereka beracun."
Mayra mengangguk paham. "Setidaknya kita punya satu kesamaan: masalah keluarga."
Dev tertawa kecil, suara tawa yang sangat jarang Mayra dengar. "Ya. Mungkin itu kenapa kita... cocok dalam pengaturan ini."
Cocok.
Kata itu bergema di kepala Mayra.
Mereka cocok secara... transaksional. Tapi apakah mereka bisa cocok secara personal juga?
Mayra tidak tahu. Dan dia tidak yakin dia siap mencari tahu.
"Sudah malam. Aku harus tidur," kata Mayra sambil berdiri, membawa bukunya.
"Oke. Selamat malam, Mayra," kata Dev.
"Selamat malam, Dev."
Mayra berjalan kembali ke kamarnya, tapi saat sampai di pintu, dia menoleh.
Dev masih duduk di sofa, menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh.
Kesepian.
Dia terlihat kesepian.
Dan Mayra menyadari, mungkin Dev memang punya semua yang orang inginkan. Uang, kekuasaan, kesuksesan.
Tapi dia tidak punya yang paling dasar: teman.
Mungkin itu sebabnya dia setuju menikahiku, pikir Mayra. Bukan hanya untuk balas dendam pada keluarga. Tapi juga karena dia... lelah sendirian.
Mayra masuk ke kamarnya dengan perasaan yang aneh.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia mulai melihat Dev bukan sebagai rekan transaksional.
Tapi sebagai... manusia. Dengan luka, dengan masa lalu, dengan kesendirian.
Dan entah kenapa, Mayra merasa dia ingin... mengenal pria itu lebih dalam.
Bukan sebagai suami kontrak.
Tapi sebagai... Dev.
Hanya Dev.
****
Bersambung...
menunggu mu update lagi