"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bayang-Bayang di Aspal Palermo
CAHAYA fajar di Palermo memiliki warna keemasan yang menipu, seolah-olah pulau ini adalah tempat kedamaian yang diberkati, bukan ladang pembantaian yang sudah meminum darah ribuan orang selama berabad-abad. Angin pagi bertiup kencang dari arah pelabuhan, membawa aroma air laut yang asin dan dingin, menembus kaca jendela SUV lapis baja yang membawa Dante dan Aria menjauh dari Villa delle Ombre.
Dante menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, matanya terpejam namun Aria tahu suaminya tidak sedang tidur. Otot-otot di rahangnya masih menegang, dan tangannya secara refleks masih meraba sarung pistol di balik jasnya setiap kali mobil berguncang melewati jalanan batu yang tidak rata.
Aria menoleh ke arah kaca spion samping untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit. Mobil hitam itu masih di sana. Sebuah sedan tua yang tampak biasa saja, menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakang iring-iringan mereka. Di kota sesibuk Palermo, mobil seperti itu seharusnya tidak menarik perhatian, namun ada sesuatu dalam cara mobil itu mengambil tikungan—presisi yang terlalu sempurna, terlalu tenang.
"Dante," bisik Aria, suaranya hampir tak terdengar di antara deru mesin diesel mobil.
"Hmm?" Dante menyahut tanpa membuka mata.
"Ada mobil yang mengikuti kita sejak kita meninggalkan vila Don Calogero. Sedan hitam, tiga mobil di belakang."
Seketika, suasana di dalam kabin berubah. Dante membuka matanya, dan dalam sekejap, kelelahan yang tadi tampak di wajahnya menguap, digantikan oleh kewaspadaan predator yang tajam. Ia tidak menoleh ke belakang secara langsung. Sebaliknya, ia melirik ke arah monitor kecil di dasbor yang terhubung dengan kamera belakang mobil.
"Marco," panggil Dante melalui interkom ke arah sopir.
"Saya sudah melihatnya, Bos," jawab Marco, suaranya terdengar tenang namun penuh tekanan. "Bukan milik klan lokal. Plat nomornya palsu, terdaftar atas nama perusahaan pengiriman yang sudah bangkrut dua tahun lalu."
"Berapa banyak?" tanya Dante.
"Hanya satu mobil yang terlihat. Tapi di kota seperti ini, mereka pasti punya cadangan di persimpangan depan."
Dante menghela napas panjang, lalu ia menoleh ke arah Aria. Ia mengambil tangan Aria, meremasnya dengan lembut, namun matanya memancarkan peringatan. "Pakai sabuk pengamanmu lebih kencang, Aria. Dan merunduklah jika aku memerintahkannya."
Aria mengangguk, jantungnya mulai berdegup kencang kembali. Ia pikir pertempuran malam ini sudah selesai setelah kematian Alessandro. Ternyata, pengkhianatan memiliki ekor yang sangat panjang.
"Marco, ambil jalur memutar menuju koridor pesisir," perintah Dante. "Kita lihat apakah mereka akan tetap mengikuti jika kita keluar dari rute bandara."
SUV itu tiba-tiba berbelok tajam ke arah kanan, ban mobil berdecit di atas aspal yang masih lembap oleh embun pagi. Benar saja, sedan hitam itu juga ikut berbelok, bahkan mereka kini menambah kecepatan, tidak lagi mencoba menyembunyikan niat mereka.
"Mereka mengejar!" teriak Marco.
Tiba-tiba, dari sebuah gang sempit di sisi kiri, sebuah truk pengangkut sayuran meluncur keluar, mencoba menghalangi jalan iring-iringan Moretti. Marco bereaksi dengan kecepatan luar biasa, memutar kemudi ke kiri, menabrak tumpukan kotak kayu di pinggir jalan, dan berhasil melewati moncong truk itu hanya dengan jarak beberapa inci.
Namun, mobil pengawal Moretti yang berada di belakang mereka tidak seberuntung itu. Truk tersebut berhasil menghantam mobil kedua, menciptakan suara tabrakan logam yang memekakkan telinga.
"Mobil dua lumpuh!" lapor pengawal melalui radio.
"Terus jalan! Jangan berhenti!" teriak Dante.
Sekarang, hanya ada mobil Dante dan sedan hitam yang mengejar di belakang. Jalanan pesisir Palermo yang berkelok-kelok menjadi arena balap maut. Di sisi kanan mereka adalah tebing tinggi, dan di sisi kiri adalah jurang yang langsung mengarah ke laut Mediterania yang biru pekat.
Aria mencengkeram pegangan di atas pintu mobil. Ia melihat Dante mengeluarkan senapan serbu kompak dari bawah kursinya.
"Aria, merunduk sekarang!" perintah Dante.
Aria meluncur ke lantai mobil, menutupi kepalanya dengan tangan. Detik berikutnya, suara tembakan pecah.
RAT-TAT-TAT-TAT!
Peluru-peluru menghantam kaca belakang SUV yang anti-peluru, menciptakan retakan-retakan kecil berbentuk jaring laba-laba. Dante membuka sedikit jendela samping dan mulai membalas tembakan. Suara ledakan senjata di dalam kabin yang sempit membuat telinga Aria berdenging hebat.
"Mereka menggunakan peluru kaliber besar!" teriak Marco. "Ban belakang kita terkena, tapi sistem run-flat masih bertahan! Aku tidak bisa menjaga kecepatan ini lebih lama!"
Dante kembali masuk ke dalam kabin, wajahnya dipenuhi amarah. "Mereka bukan orang-orang Alessandro. Gerakan mereka terlalu terorganisir. Ini adalah tentara profesional."
"Lucchese?" tanya Aria dari lantai mobil.
"Bisa jadi. Atau mungkin seseorang yang ingin memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Sisilia setelah malam ini," jawab Dante.
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan yang jauh lebih keras terdengar. Mobil SUV mereka terangkat sedikit dari tanah, terdorong ke depan dengan kekuatan yang luar biasa.
"Mereka menggunakan peluncur granat!" teriak Marco. "Kita harus keluar dari jalan ini atau kita akan diledakkan menjadi kepingan!"
Dante melihat ke arah peta digital. "Di depan ada terowongan kereta api tua yang sudah tidak dipakai. Masuk ke sana!"
Marco membanting setir ke arah jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar. Mobil itu berguncang hebat, membuat kepala Aria hampir terbentur dasbor. Mereka masuk ke dalam kegelapan terowongan yang lembap dan dingin.
"Matikan lampu!" perintah Dante.
Mobil itu meluncur dalam kegelapan total selama beberapa ratus meter sebelum Marco menginjak rem dengan keras. Keheningan seketika menyelimuti terowongan itu, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu dan detak mesin mobil yang panas.
"Keluar. Sekarang," bisik Dante.
Mereka turun dari mobil. Dante memberikan Aria sebuah rompi anti-peluru yang tadi ia ambil dari bagasi. "Pakai ini. Cepat."
"Dante, apa yang akan kita lakukan?" tanya Aria sambil mengencangkan tali rompi itu dengan tangan gemetar.
"Kita akan menjebak mereka di sini," jawab Dante. Ia mengeluarkan beberapa granat asap dan bom tempel dari tas taktisnya. "Marco, kau ambil posisi di balik pilar sebelah utara. Aria, kau ikut denganku ke ruang kontrol di atas."
Mereka menaiki tangga besi yang berkarat menuju sebuah ruangan kecil yang menghadap ke jalur masuk terowongan. Dari sana, mereka bisa melihat cahaya lampu depan sedan hitam yang mulai masuk ke dalam terowongan dengan perlahan.
Aria melihat Dante memasang detonator. Wajah suaminya tampak sangat tenang, seolah-olah ia sedang melakukan ritual rutin. Keberanian pria ini adalah sesuatu yang selalu membuat Aria terperangah. Di tengah maut yang mengintai, Dante Moretti tidak pernah kehilangan kendali.
"Hitung sampai tiga," bisik Dante pada Aria.
Sedan hitam itu berhenti tepat di bawah posisi mereka. Pintu-pintunya terbuka, dan empat pria dengan senapan otomatis keluar, bergerak dengan formasi yang sangat rapat.
"Satu..." bisik Dante.
"Dua..."
"Tiga."
Dante menekan tombol detonator.
BOOOOM!
Bagian atap pintu masuk terowongan runtuh, menjatuhkan berton-ton batu dan tanah, menutup jalan keluar bagi para penyerang. Di saat yang sama, bom asap yang dipasang Marco meledak, memenuhi ruangan dengan kabut putih yang tebal.
"Sekarang!" teriak Dante.
Ia melompat turun dari ruang kontrol, langsung mendarat di atas salah satu penyerang dan menusuk lehernya dengan pisau komando. Marco keluar dari balik pilar, melepaskan tembakan presisi ke arah penyerang kedua.
Aria tetap berada di atas, memegang Beretta-nya. Ia melihat penyerang ketiga mencoba mengarahkan senjatanya ke arah punggung Dante yang sedang bergulat dengan penyerang terakhir.
Tanpa ragu, Aria membidik. Ia menarik napas, mengingat setiap latihan di dermaga Como dan setiap ketakutan yang telah ia ubah menjadi kekuatan.
DOOR!
Peluru Aria mengenai bahu penyerang itu, membuatnya kehilangan keseimbangan. Dante segera berbalik dan menyelesaikan sisanya dengan satu tembakan di kepala.
Keheningan kembali melanda terowongan. Asap perlahan-lahan menipis, memperlihatkan empat mayat yang tergeletak di sekitar sedan hitam.
Dante berdiri, menyeka darah di wajahnya dengan lengan bajunya. Ia menatap ke arah Aria yang masih berdiri di ruang kontrol dengan senjata yang masih terarah ke bawah.
"Turunlah, Aria," ucap Dante, suaranya terdengar bangga sekaligus sedih.
Aria menuruni tangga dengan kaki yang lemas. Begitu sampai di bawah, Dante langsung memeluknya. "Kau menyelamatkanku lagi."
"Siapa mereka, Dante?" tanya Aria, suaranya bergetar.
Dante mendekati salah satu mayat dan merobek kerah bajunya. Di sana, terdapat sebuah tato kecil berbentuk kalajengking dengan angka 13 di bawahnya.
Wajah Dante berubah menjadi sangat pucat. "Bukan Lucchese. Bukan Alessandro."
"Lalu siapa?"
"Scorpion XIII. Kelompok tentara bayaran elit yang biasanya hanya bekerja untuk pemerintah atau... untuk organisasi bayangan yang dikenal sebagai 'The Circle'," jawab Dante.
"The Circle?" Aria belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Mereka adalah kumpulan orang-orang paling berkuasa di Eropa yang mengontrol aliran uang haram lintas negara. Ayahku dulu pernah berurusan dengan mereka, dan itu hampir menghancurkan klan Moretti," Dante menatap mayat-mayat itu dengan kebencian yang mendalam. "Jika mereka mengejar kita, itu berarti kematian Alessandro bukan sekadar urusan keluarga. Ini adalah ancaman bagi tatanan yang mereka buat."
Mereka tidak bisa kembali ke bandara utama. Marco berhasil menghubungi tim pendukung yang membawa mobil lain ke pintu keluar terowongan yang berbeda.
Dua jam kemudian, mereka berada di sebuah rumah aman di pedesaan Sisilia, sebuah pondok kecil yang tersembunyi di tengah hutan pinus. Tempat ini sangat sederhana, jauh dari kemewahan kastil atau vila. Hanya ada satu tempat tidur, sebuah dapur kecil, dan perapian kayu.
Aria duduk di kursi kayu, menatap api yang mulai menyala di perapian. Tubuhnya terasa remuk, dan pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
Dante datang membawa dua cangkir teh panas. Ia duduk di lantai di depan Aria, menyandarkan kepalanya di lutut istrinya.
"Maafkan aku, Aria," gumam Dante. "Aku berjanji padamu kedamaian setelah New York, tapi aku justru menyeretmu ke dalam badai yang lebih besar."
Aria mengusap rambut hitam Dante yang berantakan. "Kau tidak menyeretku, Dante. Aku yang memilih untuk tetap tinggal. Aku menyadari satu hal malam ini... kedamaian bagi seorang Moretti bukan berarti ketiadaan perang. Kedamaian adalah saat kita tahu siapa yang berdiri di samping kita saat perang itu datang."
Dante mendongak, menatap mata Aria. "Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku yang berdarah ini. Dan aku bersumpah, siapapun 'The Circle' itu, mereka tidak akan pernah menyentuhmu selama aku masih bernapas."
Dante berdiri dan membimbing Aria menuju tempat tidur kecil itu. Mereka berbaring berdampingan, mendengarkan suara jangkrik dan gemerisik daun pinus di luar. Di dalam rumah kecil itu, untuk sesaat, mereka merasa seperti manusia biasa, bukan pemimpin mafia atau target pembunuhan.
Namun, di dalam saku jas Dante yang ia letakkan di kursi, ponsel rahasianya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:
> "Selamat atas kemenanganmu di Palermo, Dante. Tapi ingat, pion yang terlalu berani biasanya akan dimakan oleh ratu. Kami akan menunggumu di Roma. Jangan terlambat."
Dante melihat pesan itu saat Aria sudah tertidur lelap di pelukannya. Ia tidak membalas. Ia hanya menghapus pesan itu dan mematikan ponselnya.
Ia tahu, Roma akan menjadi tempat di mana segala rahasia tentang ibunya, ayahnya, dan organisasi misterius itu akan terungkap. Dan ia juga tahu, ia harus menjadi lebih kejam daripada sebelumnya untuk melindungi wanita yang kini menjadi jantung dari dunianya.
Malam itu, di bawah langit Sisilia yang penuh bintang, Dante Moretti membuat sumpah ketiga di dalam hatinya. Sebuah sumpah yang tidak melibatkan darah musuh, melainkan pengorbanan dirinya sendiri.