Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUEL DI ATAS TANAH SUCI
Suasana di Lembah Para Leluhur kini layaknya medan perang antara dua kutub energi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pendar merah saga dari tubuh Mayangsari menyatu dengan cahaya perak keemasan milik Tirta, menciptakan gradasi warna yang indah namun mematikan. Di sisi lain, aura hitam pekat dari pria berzirah perunggu—yang dikenal sebagai Sang Penarik Jiwa—menggulung kabut perak lembah menjadi pusaran kegelapan yang menyesakkan.
"Jangan hanya berdiri di sana, Bocah! Cahaya pinjaman tidak akan bisa menahan gada kematianku!" raung Sang Penarik Jiwa.
Ia melesat maju, gadanya yang raksasa diayunkan dalam gerakan melingkar yang menciptakan angin puyuh hitam. Tirta tidak membalas dengan benturan kasar. Ia merasakan aliran energi Mayangsari yang mengalir lembut ke dalam sukmanya melalui prasasti kuno. Ia melompat, kakinya berpijak pada kelopak bunga perak yang diterbangkan oleh kekuatan Mayang.
"Mayang! Sekarang!" teriak Tirta.
Mayangsari, dengan rambut putih keperakannya yang melambai ditiup energi, menghentakkan tangannya ke arah Sang Penarik Jiwa. "Penjara Rembulan Merah!"
Seketika, akar-akar pohon perak di bawah kaki sang algojo berubah warna menjadi merah darah dan melesat ke atas, melilit kaki dan lengan zirah perunggu itu dengan kekuatan yang luar biasa. Sang Penarik Jiwa meraung marah, mencoba memutuskan akar-akar itu dengan tenaga dalamnya, namun setiap kali akar itu putus, ia tumbuh kembali dua kali lebih cepat.
Tirta mengambil kesempatan itu. Ia meluncur dari udara, Sasmita Dwipa terangkat tinggi di atas kepala. "Ini untuk semua nyawa yang kau injak-injak!"
TRANG!
Benturan antara pedang Tirta dan gada perunggu itu menciptakan ledakan energi yang menghancurkan beberapa batu nisan kuno di sekitar mereka. Tirta terdorong mundur, namun kali ini ia tidak jatuh. Sepasang tangan transparan berwarna merah—perwujudan dari energi Mayangsari—menahan punggung Tirta, memberinya stabilitas yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Terima kasih, Mayang," bisik Tirta, merasakan kehangatan di dadanya.
"Kita selesaikan ini bersama, Tirta," jawab Mayang, suaranya kini terdengar tenang namun penuh otoritas.
Sang Penarik Jiwa berhasil melepaskan diri dari lilitan akar, namun helm perunggunya kini retak, menyingkap sepasang mata merah yang memancarkan kebencian murni. "Kalian pikir kerja sama kecil ini bisa menghentikan kehendak Mata Meratap? Aku akan menumbangkan seluruh lembah ini bersama kalian!"
Pria itu mengangkat gadanya ke langit. Langit malam yang tadinya cerah mendadak tertutup awan hitam yang memutar. Petir-petir berwarna ungu menyambar ke arah gada tersebut, mengisi senjata itu dengan energi penghancur yang masif.
"Dimas! Sekar! Menjauh dari pelataran!" perintah Tirta dengan nada mendesak.
Dimas yang sedang bertarung melawan sisa-sisa Algojo Bayangan segera menarik Sekar Wangi untuk berlindung di balik reruntuhan prasasti kecil. "Tirta! Dia akan meledakkan tempat ini!"
Sang Penarik Jiwa menghantamkan gadanya ke tanah. Gelombang energi ungu gelap melesat ke segala arah, menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya. Pepohonan perak tumbang, dan tanah lembah mulai amblas.
Tirta dan Mayangsari saling berpandangan sejenak. Tanpa perlu kata-kata, mereka saling menggenggam tangan kiri mereka di depan prasasti darah. Tangan kanan Tirta memegang pedang, sementara tangan kanan Mayang teracung ke depan.
"Sinar Gadhing..." gumam Tirta.
"...Rembulan Merah," sambung Mayang.
"JURUS PENGGABUNGAN: GERHANA DARAH ABADI!"
Sebuah kubah cahaya berwarna merah-emas meledak dari tubuh mereka berdua, meluas dengan cepat untuk menahan gelombang ungu milik musuh. Saat kedua energi itu beradu, suara yang dihasilkan bukan lagi suara ledakan, melainkan suara dengungan tinggi yang memecahkan bebatuan.
Tirta merasakan seluruh syarafnya seolah terbakar, namun ia tidak melepaskan tangan Mayangsari. Ia membagi beban energi itu bersamanya. Perlahan tapi pasti, cahaya merah-emas mereka mulai mendesak balik energi ungu tersebut.
Mayangsari meneriakkan mantra terakhir yang muncul dari memori darahnya. "Kembalilah ke tempat asalmu, wahai pembawa maut!"
Cahaya di ujung pedang Tirta memanjang hingga mencapai tiga tombak, berubah menjadi bilah cahaya murni yang membelah udara. Tirta menebas lurus ke arah Sang Penarik Jiwa.
SLASH!
Bilah cahaya itu membelah gada perunggu, zirah, dan tubuh sang algojo dalam satu gerakan bersih. Pria itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya pecah menjadi ribuan partikel bayangan hitam yang segera dimurnikan oleh aura suci lembah.
Keheningan yang luar biasa kembali menyelimuti Lembah Para Leluhur. Pasukan Algojo Bayangan yang tersisa segera melarikan diri ke dalam hutan saat melihat pemimpin mereka binasa.
Tirta dan Mayangsari jatuh berlutut secara bersamaan. Cahaya merah saga di tubuh Mayang meredup, rambutnya kembali menjadi hitam, dan ia pingsan karena kelelahan yang luar biasa. Tirta menangkapnya, meskipun ia sendiri merasa penglihatannya mulai mengabur.
Dimas dan Sekar Wangi berlari mendekat. "Kalian gila! Benar-benar gila!" seru Dimas, antara kagum dan cemas.
Sekar Wangi memeriksa nadi Mayangsari. "Dia hanya pingsan. Tubuhnya belum terbiasa menampung energi sebesar itu dalam waktu lama. Tapi lihat..."
Sekar menunjuk ke arah prasasti darah. Batu hitam itu kini tidak lagi berdenyut merah. Ia telah berubah menjadi batu putih yang indah dengan ukiran yang bercahaya keemasan.
"Kalian tidak hanya mengalahkan musuh," bisik Sekar dengan nada takjub. "Kalian telah memurnikan Lembah Leluhur. Segel kutukan yang selama ini mengikat tempat ini telah lepas."
Tirta menatap wajah Mayangsari yang tertidur damai di pelukannya. Ia menyadari satu hal: mereka bukan lagi sekadar pelarian yang dikejar-kejar. Mereka adalah ancaman nyata bagi siapa pun yang mencoba mengusik kedamaian nusantara.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum mereka mengirim pasukan yang lebih besar," ujar Tirta lemah namun tegas. "Tujuan kita bukan lagi hanya Padepokan Lingga. Kita harus menemukan markas besar Fraksi Mata Meratap sebelum mereka memulai ritual gerhana yang sesungguhnya."
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka meninggalkan lembah yang kini telah kembali suci itu. Tirta menoleh ke belakang sekali lagi, melihat prasasti yang kini bersinar lembut seolah memberikan restu pada perjalanan mereka.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa harapan baru sekaligus tantangan yang jauh lebih berat bagi sang Pendekar Gerhana dan Putri Rembulan.