Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Raja Dunia Seberang melangkah keluar dari kegelapan, jubah hitamnya menyapu lantai gua bagai bayangan maut. Aura dingin yang dibawanya begitu pekat hingga kristal-kristal biru di sekeliling kami mulai retak dan menghitam.
"Putraku yang malang," suara Sang Raja menggelegar, "kau terjatuh ke lubang yang sama dengan kakakmu. Menghamba pada makhluk fana yang lemah."
Kaelen berdiri tegak di depanku, pedang bayangannya muncul kembali, namun kali ini ukurannya lebih besar dan berpendar dengan api biru yang membara. "Aku tidak menghamba, Ayah. Aku memilih. Dan pilihanku adalah dia!"
Tanpa peringatan, Sang Raja mengibaskan tangannya, melepaskan gelombang energi hitam. Kaelen menahannya dengan perisai bayangan, namun ia terdorong mundur, tubuhnya menghantam dinding gua.
"Kaelen!" teriakku. Aku ingin berlari ke arahnya, namun tepat saat itu, Ayahku muncul dari lorong rahasia dengan napas tersengal, tongkat kristalnya bercahaya redup.
"Kazumi, dengarkan Ayah!" seru Ayah sambil menahan dinding gua yang mulai runtuh. "Hanya ada satu cara untuk menghentikan Raja itu dan menutup gerbangnya. Kau harus menyatukan kekuatanmu dengan inti kristal ini. Tapi harganya... kau akan menghapus seluruh jejak Dunia Seberang dari ingatanmu, termasuk dia."
Aku menatap Kaelen yang sedang berjuang melawan ayahnya sendiri. Luka-luka mulai muncul di tubuh pucatnya karena serangan Sang Raja yang tak kenal ampun. Kaelen menoleh padaku, matanya yang biru elektrik menatapku dengan tatapan paling lembut yang pernah kulihat.
"Lakukan, Kazumi!" teriak Kaelen. "Tutup gerbangnya! Jangan biarkan duniaku menghancurkan keindahanmu!"
"Tapi aku akan melupakanmu!" tangisku pecah. "Aku tidak mau melupakanmu, Kaelen!"
"Lebih baik kau melupakanku tapi kau hidup, daripada kau mengingatku di dalam kehancuran," Kaelen menerjang ayahnya dengan serangan bunuh diri untuk memberiku waktu. "Aku mencintaimu, Penjaga Kecilku. Selamanya, meskipun hanya aku yang mengingatnya."
Darahku terasa membeku mendengar kalimat perpisahan itu. Kaelen melesat, tubuhnya berubah menjadi kilatan bayangan biru yang beradu langsung dengan kegelapan pekat milik Sang Raja. Ledakan energi mereka membuat gua berguncang hebat; bongkahan kristal mulai berjatuhan dari langit-langit gua seperti hujan meteor yang indah namun mematikan.
"Cepat, Kazumi! Tidak ada waktu lagi!" seru Ayah, tangannya gemetar menahan reruntuhan dengan sisa kekuatannya. "Pilih lembah ini, atau kita semua akan musnah dalam kegelapan mereka!"
Aku menatap Kaelen. Di tengah pertarungan yang brutal itu, dia sempat menoleh sekilas. Wajahnya yang pucat kini berlumuran darah biru keperakan, namun dia tersenyum—senyum tulus yang merobek hatiku. Dia seolah memberikan restu bagiku untuk menghapus dirinya dari benakku, asal aku selamat.
Dengan isak tangis yang menyesakkan dada, aku menempelkan kedua telapak tanganku pada inti kristal raksasa di tengah gua.
"Maafkan aku, Kaelen..." bisikku lirih.
Seketika, cahaya putih yang menyilaukan meledak dari dalam tubuhku. Akar-akar cahaya merambat keluar dari ujung jariku, menjalar ke seluruh dinding gua, melilit Sang Raja, dan menarik Kaelen menjauh dari kegelapan. Aku merasakan kekuatan bunga Han di seluruh Lembah Biru menyatu dalam nadiku. Suara ribuan kelopak bunga yang mekar serentak menggema di telingaku, menenggelamkan suara teriakan amarah Sang Raja yang perlahan terhisap kembali ke dalam gerbang.
Namun, seiring dengan menguatnya cahaya itu, ingatan tentang Kaelen mulai memudar.
Aku melihat bayangan saat dia menciumku di gua—hilang.
Aku melihat bayangan saat dia melindungiku dari Prajurit Api—lenyap.
Aku melihat wajahnya yang tampan dengan mata biru elektrik itu—mulai kabur.
"Kaelen!" aku menjerit, mencoba menggapai bayangannya yang mulai transparan.
Kaelen mendekat untuk terakhir kalinya, tubuhnya perlahan menjadi butiran cahaya biru. Sebelum benar-benar hilang, dia sempat membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh jiwaku: "Cari bunga biru yang mekar di bawah sinar rembulan... di sana, aku akan selalu menunggumu dalam mimpimu."
BLARRRR!
Cahaya putih itu menelan segalanya. Kesadaranku hilang dalam kehangatan aroma bunga yang luar biasa harum.