NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.19

PETER!" teriak Megan melengking, memecah kebisingan alarm.

Peter muncul, senjatanya masih bersiaga. Ia terpaku melihat pemandangan di depannya, Megan yang bersimpuh di lantai yang banjir, mendekap tubuh tak berdaya pria yang paling ia benci.

"Tim medis di belakangku! Nona, menyingkir!" teriak Peter sambil menarik paksa Megan agar tim medis bisa segera menangani Bradley yang sudah kehilangan banyak darah.

***

Suara alarm masih terdengar, kepanikan dari pengunjung yang berhamburan keluar masih terlihat namun lobi hotel yang semula kacau mendadak hening saat Peter melangkah tenang menuju meja resepsionis yang dikawal ketat oleh kepala keamanan hotel.

Petugas itu sudah siap menekan tombol darurat untuk memanggil polisi namun langkahnya terhenti.

Peter tidak mengeluarkan senjata. Ia hanya meletakkan sebuah koin logam hitam dengan ukiran kepala serigala yang dikelilingi rantai “The Obsidian Syndicate.’

Manajer hotel yang baru saja tiba dengan wajah pucat seketika membeku. Matanya terbelalak menatap logo itu. Ia tahu betul, di Negaranya ada hukum. Namun begitu simbol Obsidian muncul, hukum lain ikut berdiri seolah tak memberi kesempatan kedua..

"Tuan Brown tidak suka kebisingan," ucap Peter datar, suaranya sangat tenang di tengah raungan alarm. "Matikan alarmnya. Katakan pada tamu-tamu ini bahwa itu hanya simulasi atau gangguan teknis akibat arus pendek. Tidak ada polisi dan tidak ada laporan atau pemberitaan apapun, ambil semua ponsel mereka tanpa meninggalkan jejak digital sekecil apapun.”

"Tapi... kerusakan suite itu, Tuan..." Manajer itu menelan ludah, teringat plafon yang hancur.

Peter mengeluarkan sebuah cek kosong yang sudah ia tanda tangani. "Tulis angka yang menurutmu cukup untuk membangun kembali seluruh lantai ini, lalu tambahkan nol di belakangnya untuk tutup mulutmu. Tuan Brown tidak keberatan membayar recehan untuk privasinya."

Seketika, alarm mati. Petugas keamanan hotel yang tadinya sigap kini justru berdiri tegak, membentuk barisan pagar betis untuk menutupi jalur keluar Bradley.

Melalui jalur VIP Peter, dan dua anak buah Bradley membawa tubuh bos mereka dengan tandu lipat darurat. Megan berjalan di sampingnya, masih dengan kemeja yang basah bercampur baur anyir.

Dua mobil Rolls-Royce Cullinan hitam sudah menunggu di lobi VIP dengan mesin yang menderu halus.

"Masuk, Nona," perintah Peter sambil membukakan pintu mobil dengan sopan, seolah-olah adegan berdarah di dalam kamar tadi hanyalah sebuah permainan karena Peter sudah terbiasa melihat adegan yang bahkan lebih mengerikan.

Begitu pintu mobil tertutup kedap suara, kemewahan kabin itu langsung menelan kebisingan di luar. Megan menatap Bradley yang kini dibaringkan di kursi captain seat yang luas. Tim medis yang sudah bersiaga di dalam mobil langsung bekerja dengan peralatan canggih.

Mobil melaju membelah jalanan Virginia dengan sangat mulus. Tidak ada sirine, tidak ada pengejaran.

"Hanya beberapa blok dari sini adalah rumahku..." batin Megan perih, menatap keluar jendela ke arah jalanan yang familiar. "Aku berada di rumahku sendiri, tapi kenapa terasa seperti aku sedang dibawa menjauh ke dasar neraka?"

Megan menoleh ke arah tangan Bradley. Bahkan dalam kondisi nyaris tak sadarkan diri, pria itu tetap menggenggam jemarinya. Genggaman seorang penguasa yang tidak akan pernah membiarkan miliknya lepas.

***

Mobil Rolls-Royce itu berhenti dengan sentakan halus di depan sebuah Clinic swasta bertuliskan.

Pintu otomatis terbuka, menampakkan beberapa perawat berseragam taktis yang sudah bersiaga dengan brankar canggih.

Dr. Matthew Collins berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan jas putihnya yang mahal, wajahnya tampak sangat tidak terkesan.

"Apalagi yang dilakukan pria gila itu sekarang, Pet?" tanya Matthew dengan nada bosan yang dibuat-buat saat melihat tubuh Bradley yang bersimbah darah diangkat dari mobil.

Namun, kalimat Matthew menggantung di udara saat matanya menangkap sosok wanita yang keluar dari mobil. Megan Ford berdiri di sana, tetap angkuh meski pakaiannya basah kuyup dan penuh noda merah pekat.

"Sudah biasa, Dok. Sudah pasti akan ada drama baru," jawab Peter sambil mengatur anak buahnya. Ia kemudian melirik Megan dengan tatapan yang tajam. "Sekarang, sebaiknya buang rasa penasaran Anda sebelum dia meregang nyawa dan tidak bisa menyelesaikan apa yang seharusnya ia selesaikan."

Kalimat terakhir Peter sengaja ia tekankan sambil menghadap Megan, mengingatkan wanita itu bahwa nyawa Bradley adalah satu-satunya jaminan keamanan rahasianya.

Lima belas menit berlalu suasana terasa mencekik. Megan berdiri mematung di koridor steril yang dingin, air dari pakaiannya menetes ke lantai marmer. Tiba-tiba, seorang perawat keluar dengan wajah pucat.

"Tuan Peter! Tuan Brown kehilangan terlalu banyak darah. Serpihan kristal itu merobek arteri besar di punggungnya!"

"Lalu tunggu apa lagi? Lakukan transfusi!" bentak Peter.

"Masalahnya, persediaan darah Rh-Null di bank darah kami kosong karena baru saja dikirim ke pusat di London minggu lalu. Kami tidak punya waktu untuk menunggu pengiriman balik!" perawat itu bicara dengan nada panik.

Peter melangkah mendekat, bayangannya jatuh menutupi tubuh Megan yang masih gemetar di bawah lampu halogen koridor yang pucat. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, namun setiap katanya penuh penekanan.

"Kau dengar itu, Nona Ford? Pintu kematian sudah terbuka untuknya," ucap Peter, matanya yang dingin mengunci tatapan Megan. "Jika kau menginginkan dia mati, cukup diam di sana. Rayakanlah kebebasanmu saat jantungnya berhenti berdetak. Namun, ingatlah satu hal... kematiannya tidak akan pernah bisa mengobati dahagamu akan kebenaran. Kau akan selamanya terjebak dalam teka-teki, meratapi puing-puing masa depanmu yang ia hancurkan tanpa pernah tahu penyebabnya."

Tanpa menunggu reaksi, Peter berbalik, meninggalkan Megan yang mematung. Ia mengeluarkan ponselnya, berbicara dengan seseorang di seberang sana.

Megan jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin. Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan langit Langley yang gelap, sepekat nasibnya malam ini.

"Kenapa aku merasa menjadi orang bodoh?" batinnya menjerit. "Bukankah aku bisa lari sekarang? Aku punya senjata, aku punya kesempatan untuk membiarkannya membusuk dan pergi ke neraka jahanam. Harusnya ini menjadi hari kebebasanku."

Namun, bayangan wajah ayahnya di layar tablet tadi kembali menghantuinya. Pengkhianatan ayahnya, obsesi Bradley, dan kehancuran dirinya... semua benang kusut itu berujung pada satu pria yang kini sedang sekarat di balik pintu itu.

"Benar kata Peter... bajingan itu tidak boleh mati sebelum menjelaskan semuanya padaku."

Megan menghapus kasar sisa air mata dan air sprinkler di wajahnya. Ia berdiri dengan sisa-sisa martabat yang ia miliki, melangkah tegap menghampiri Peter yang baru saja menutup ponselnya.

"Antar aku ke ruangan bangsat itu sekarang," ucap Megan. Suaranya tidak lagi bergetar. Namun datar penuh tuntutan akan jawaban. "Ambil apa pun yang kau butuhkan dari nadiku, tapi pastikan dia bangun untuk membayar setiap tetes darah yang aku berikan."

***

Di dalam ruang operasi The Vault Clinic yang dingin dan berbau antiseptik, suasana mendadak mencekam. Megan sudah berbaring di ranjang sebelah Bradley, lengannya sudah dibersihkan dengan alkohol, namun perawat senior yang baru saja masuk membawa hasil test menggeleng tegas sambil menjauhkan jarum infusion set.

"Nona, ini kegilaan! Hasil tes urin menunjukkan Anda sedang hamil dua bulan," bisik perawat itu dengan suara bergetar. "Mengambil darah dalam volume besar dari ibu hamil adalah pelanggaran kode etik berat. Anda bisa kolaps, dan janin Anda bisa dalam bahaya besar. Kami tidak bisa melakukannya!"

"Ambil. Darahku. Sekarang," desis Megan.

"Tidak, Nona. Dr. Matthew tidak akan mengizinkan—"

KLIK.

Suara kokangan senjata memutus kalimat sang perawat. Dari balik pinggang celananya yang basah, Megan menarik sebuah Glock hitam dan menempelkan moncongnya tepat di bawah dagu perawat itu. Mata Megan merah, bukan karena tangis, tapi karena amarah dan kelelahan mental yang sudah mencapai batasnya.

"Aku tidak butuh izin doktermu, dan aku tidak butuh ceramah tentang kode etik," ucap Megan dingin, matanya mengunci tatapan perawat yang kini pucat pasi. "Pria di sampingku ini tidak boleh mati sebelum dia membayar semua rasa sakitku. Jadi, masukkan jarum itu ke nadiku sekarang, atau kau yang akan pergi ke neraka lebih dulu."

Perawat itu menelan ludah, tangannya gemetar meraih kembali selang transfusi. Matthew Collins yang baru saja masuk ke ruangan hanya bisa terpaku di ambang pintu, memberi isyarat pada timnya untuk tidak melakukan gerakan gegabah.

"Lakukan saja, Suster," perintah Matthew dengan suara berat. "Dia tidak sedang bercanda."

Dengan tangan gemetar, perawat itu akhirnya menusukkan jarum ke nadi Megan.

Matthew melangkah mendekat, matanya menatap selang yang kini mengalirkan darah merah pekat dari lengan Megan.

Ia menggeleng pelan, ada kilat kekaguman sekaligus ironi di matanya.

"Apa yang sebenarnya dilakukan pria gila ini pada seorang agen sebesar Anda, Nona Ford?" tanya Matthew lembut, namun nadanya memprovokasi.

"Diam, atau kau akan ikut dia ke neraka!" desis Megan. Wajahnya semakin pucat, namun jarinya tetap kokoh pada pelatuk Glock yang ia arahkan pada perawat tadi.

Matthew mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, Nona. Saya sering melihat wajah Anda di berita internal Langley. Saya hanya... sedikit bingung. Bagaimana bisa putri kesayangan penguasa Virginia jatuh ke pelukan seorang mafia?"

"Aku tidak butuh pendapatmu tentang hidupku!" potong Megan, suaranya parau karena lemas namun tetap tajam. "Tugasmu hanya memastikan bangsat ini tidak pergi ke neraka sebelum dia membayar setiap kesalahannya padaku!"

Matthew terkekeh, suara tawanya terdengar hambar di tengah bunyi monitor detak jantung Bradley.

"Saya kenal betul siapa Brown. Kami tumbuh bersama di asrama New York sejak SMA," Matthew menjeda, menatap Bradley yang masih tak sadarkan diri. "Dia tidak pernah mengorbankan nyawanya untuk siapapun, Nona. Dia bahkan tidak segan menghabisi siapapun yang berani menyentuh miliknya. Namun, merelakan punggungnya hancur demi melindungi seseorang? Rasanya mustahil jika itu bukan cinta."

Megan membeku. Kalimat Matthew mengusik sudut hatinya. Cinta? Kata itu terdengar seperti penghinaan di telinganya.

"Kau terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain, Dokter," Megan mencoba menstabilkan napasnya yang mulai berat. Darahnya terus berkurang, membuat dunianya perlahan berputar. "Pergi dari hadapanku, atau kutembak kepalamu sekarang juga!"

Matthew kembali mengangkat tangan, melangkah mundur menjauh dari ranjang Megan yang kini tampak semakin lemas. Matanya menatap Megan dengan tatapan kasihan. "Selamat menyelamatkan iblismu, Nona Ford."

Begitu Matthew menjauh, Megan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan dingin mulai menjalar ke ujung jari-jarinya. Di sampingnya, detak jantung Bradley di monitor perlahan mulai stabil, hidup kembali karena darah yang ia berikan.

“Dia akan kembali hidup, atau aku yang akan mati setelah ini?” Megan meraba perutnya yang masih rata. “Katakan padaku, kau akan ikut bersamaku atau akan tinggal bersamanya?”

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!