Dia pikir adiknya sudah tewas dibunuh 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 - Jejak Perak tak Berujung?
Kami berdua segera melangkah melewati gerbang, meninggalkan keributan itu di belakang kami. Begitu masuk ke dalam tembok Cragspire, suasana tegang langsung terasa. Kota ini cukup ramai, orang-orang berlalu-lalang, tapi ada aura ketakutan dan ketidakpercayaan yang kental di udara. Patroli Aegis Legion terlihat di mana-mana, berjalan berpasangan atau dalam kelompok kecil, tatapan mereka waspada dan curiga pada setiap orang.
Tepat di depan kami, di seberang jalan utama yang tidak terlalu lebar, berdiri sebuah bangunan batu yang tampak paling kokoh di antara yang lain—Kantor Pemerintahan Provinsi Haldara. Namun, pemandangan itu terasa janggal.
Bangunan itu dijaga sangat ketat, tidak hanya oleh Sentinel Corps seperti biasanya, tapi juga oleh beberapa prajurit Aegis Legion berpengaman lengkap. Ini bukan pemandangan normal untuk sebuah kantor administrasi sipil.
Aku asal saja bilang ada puluhan Legion di dalam kota. Tapi benar saja, ini mengerikan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kami berjalan lebih jauh masuk ke dalam kota. Aku melirik Fiora. Ia tampak cukup lelah, bukan hanya lelah fisik karena perjalanan, tapi juga lelah emosional karena antrean panjang—walaupun kurasa marah-marahnya di gerbang tadi malah jadi pelampiasan emosi yang pas. Semangatnya yang tadi, tampak meredup tertutup oleh atmosfer kota yang menekan ini.
"Lihat," kataku sambil menunjuk sebuah bangunan dua lantai di seberang jalan dengan papan nama kayu bertuliskan "Arah Lintang - Penginapan dan Kedai Makan".
"Kau istirahat saja dulu di sana. Cari kamar selagi masih ada. Dengan blokade ini, penginapan pasti cepat penuh."
Fiora menatapku. "Lalu kau?"
"Aku akan berkeliling sebentar, ada yang mau kucari di kota ini," kataku, "Setelah itu aku menyusul."
Ia tampak ragu. "Kita bisa pergi berdua..."
"Tidak usah," potongku. "Istirahatlah duluan. Lagipula, lebih baik kita amankan tempat menginap sekarang daripada nanti tidak dapat tempat sama sekali. Di tengah blokade seperti ini, kurasa banyak pejalan yang akan tertahan di kota ini"
Argumen logis itu sepertinya berhasil meyakinkannya. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Hati-hati, Zane."
"Kau juga."
. . .
Aku mulai menyusuri jalanan, mencari toko milik pedagang Mien yang disebutkan Engku Bakh'tar. Bertanya dari satu toko ke toko lain—toko rempah, toko kain, pandai besi kecil—total mungkin ada enam atau tujuh tempat yang aku kunjungi, dengan jawaban yang hampir sama.
"Pedagang Mien? Coba tanya toko Mien di depan." Atau “Maaf nak, sepertinya bukan toko ini yang kau cari. Coba Toko Mien di seberang.” Ada satu toko yang malah kocak, pemiliknya yang tuli bersikeras menawarkan Domba Aranel saat aku menanyakan tentang pedangan Mien itu.
Di setiap perhentian, aku juga mendengar keluhan yang sama dari para pemilik toko dan pelanggan: barang-barang langka, harga melambung tinggi, pemeriksaan sewenang-wenang di gerbang, dan desas-desus tentang oknum Aegis Legion yang meminta 'uang pelicin'.
“Bernapas dekat Aegis Legion juga akan dikenakan pajak”, gerutu seorang Bapak Tua di Toko ke 4. Terdengar seperti lawakan, namun sangat ironi. Suasana kota ini benar-benar suram.
Matahari sudah mulai memerah saat aku berhenti di depan sebuah toko kain yang tutup. Pencarianku sejak tadi belum membuahkan hasil. Di ujung sana, ke arah jalan yang kecil, adalah tempat terakhir yang ditunjukkan pedagang sebelumnya. Aku lanjut melangkah menuju Toko Mien itu, berharap kali ini ‘tabungan kebaikan’ di gerbang kota tadi ‘sudah bisa diambil’..
. . .
Aku berdiri sejenak di depan toko, sebuah bangunan kayu sederhana yang terjepit di antara bengkel pandai besi yang sudah tutup dan kedai minuman yang tampak sepi. Papan nama di atasnya bertuliskan "Karya Kayu Pella"—sebuah nama pecahan dari marga Pellian yang juga merupakan asal dari sukuku, marga Ellian.
Apakah ini kebetulan? Atau sebuah pertanda? Aku tidak tahu, tapi setelah seharian penuh berputar-putar tanpa hasil, harapan kecil mulai tumbuh kembali di dadaku yang lelah.
Suara lonceng kecil berdenting pelan saat aku melangkah masuk. Udara di dalamnya hangat, dipenuhi aroma kayu Aranel yang baru dipotong dan pernis alami. Rak-rak kayu memenuhi dinding, dipenuhi berbagai macam ukiran—mulai dari patung hewan kecil seperti Tupai Pendar hingga panel dinding rumit dengan motif geometris khas Mien.
Di sudut ruangan, beberapa potong perabot setengah jadi—kursi, meja kecil—menunjukkan bahwa ini bukan hanya toko, tapi juga bengkel kerja. Ada keteraturan dalam kekacauan kreatifnya; setiap alat pahat diletakkan dengan rapi, setiap tumpukan kayu disusun berdasarkan jenis dan ukurannya.
Di belakang meja kasir kayu, seorang pemuda tanggung, mungkin berusia lima atau enam belas tahun, sedang sibuk mengampelas kaki sebuah kursi kecil. Di lantai dekat kakinya, seorang anak laki-laki yang jauh lebih muda, mungkin sepuluh tahun, duduk bersila sambil dengan serius mencoba mengukir sepotong kayu kecil dengan pisau tumpul.
Mendengar lonceng pintu, keduanya mendongak serempak. Pemuda yang lebih tua meletakkan ampelasnya dan berdiri tegak. Anak yang lebih kecil buru-buru menyembunyikan kayu dan pisaunya di belakang punggung, seolah takut ketahuan bermain dengan alat berbahaya.
"Semoga keselamatan menyertaimu," sapa si pemuda, suaranya sedikit canggung namun nadanya ramah, menggunakan salam khas Suku Mien.
"Menyertaimu juga," balasku, sedikit lebih hangat dari biasanya. Aku melirik ke arah pemuda yang tampak tegang itu.
"Kalian berdua saja yang menjaga toko hari ini?" tanyaku menggunakan bahasa Mien.
Aku sengaja tidak menggunakan bahasa Inggris—bahasa universal warisan masa lalu yang dipakai semua orang di Formia untuk berkomunikasi. Entah di mana, atau apa "Inggris" itu sesungguhnya, tak ada yang tahu. Namun bahasanya menguasai lidah seluruh Formia, bahkan kabarnya sejak sebelum Moonfall.
Bunyi dialek bahasa Mien, terdengar seperti sapaan hangat bagi Pemuda itu. Ia sedikit terkejut, lalu mengangguk, tidak setegang sebelumnya.
"Ayah sedang... ada urusan di luar. Saya Mustaf," katanya juga dalam bahasa Mien sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk adiknya. "Dan ini Birna."
Birna hanya mengintip malu-malu dari balik punggung kakaknya.
Aku mendekati meja kasir. "Aku Zane Elian Kareem," kataku, sengaja menyebut nama lengkapku. Dalam tradisi Suku Mien, nama tengah menunjukkan marga, sementara nama akhir adalah nama keluarga.
Mustaf tampak mulai paham ketika mendengar nama lengkapku. "Ah, ya. Kak Zane," ujarnya, mengenali marga itu. Tampak dimatanya kalau ia mengetahui Marga Pella dan Elian berasal dari saku akar yang sama, yaitu Marga Pellian.
""Aku seorang Tarker. Aku sedang mencari informasi tentang sebuah barang... barang kecil yang mungkin pernah dijual oleh ayahmu."
Mustaf mengerutkan kening. "Barang seperti apa, Kak?"
"Sebuah perhiasan," kataku hati-hati sambil mengeluarkannya dari tas salempang kecilku ke meja kasir. "Gelang perak. Kalau aku benar... dijual sekitar dua atau tiga minggu lalu kepada seorang pedagang di Adam."
Mustaf tampak berpikir keras, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gelang perak? Ayah memang sering membawa ukiran kayu ke Adam untuk dijual, kadang juga beberapa barang antik jika ada titipan. Tapi untuk gelang itu... aku tidak tahu Kak." Ia tampak tulus, tapi jawabannya membuat harapan kecilku mulai goyah.
"Pedagang di Adam itu bernama Engku Bakh'tar," tambahku, mencoba memberikan detail lebih. "Toko logistik di dekat Markas Tarker."
Saat aku menyebut nama Bakh'tar, mata Birna tiba-tiba berbinar. Ia melompat keluar dari balik punggung kakaknya.
"Engku Bakh'tar! Aku kenal! Yang tokonya banyak Sigil itu kan, Kak?" serunya antusias. "Ayah mengajakku ke Adam dua minggu lalu!"
Mustaf menatap adiknya dengan heran. "Kau ikut ke Toko itu juga?"
"Iya! Tokonya besar sekali! Dan Engku Bakh'tar itu baik! Dia memberiku kue kelapa!" Birna bercerita dengan semangat, lalu menoleh padaku. "Kue kelapanya enak sekali, Kak Zane! Manis dan gurih!"
Deskripsi polos dari seorang anak kecil, ditambah detail waktu yang pas—dua minggu lalu. Ini tempat yang benar. Harapanku membuncah kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Aku berlutut agar sejajar dengan Birna.
" Jadi, ayahmu bertemu dengannya dua minggu lalu?" kataku sambil tersenyum tulus, senyum pertamaku sepanjang hari.
"Tentu saja!" jawab Birna bangga.
Mustaf menggaruk kepalanya pelan, "Maaf, Ayah tidak terlalu banyak bicara soal detail perdagangannya padaku."
"Tidak apa-apa," kataku cepat. "Yang penting aku sudah di tempat yang benar." Aku mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat ke meja kasir. "Mustaf, ini sangat penting bagiku. Kapan ia akan kembali? Aku harus bicara dengannya."
Ekspresi Mustaf langsung berubah. Senyum canggungnya lenyap, digantikan oleh keraguan dan sedikit ketakutan. Ia melirik ke arah pintu toko yang tertutup, lalu kembali menatapku.
"Ayah... Ayah tidak akan kembali dalam waktu dekat, Kak Zane," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik. Rasa dingin mulai menjalar di tulang punggungku.
"Apa maksudmu?"
Mustaf menelan ludah, matanya kini dipenuhi kecemasan. Birna, merasakan perubahan suasana, mendekat dan memegang tangan kakaknya. "Ayah... dia ditangkap oleh Aegis Legion tiga hari yang lalu," ucap Mustaf dengan suara pelan.
Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan telak ke ulu hati.
Ditangkap? Aegis Legion?
Semua harapan yang baru saja terhampar luas tiba-tiba sirna.
Tidak. Tidak mungkin. Setelah sedekat ini...
"Ditangkap?" ulangku, suaraku terdengar serak dan tidak percaya. "Kenapa?"
"Mereka bilang Ayah membantu ke pemberontak..." ucap Mustaf, matanya mulai berkaca-kaca, tampak ekspresi kemarahan di wajahnya. "Padahal Ayah cuma berdagang! Siapa pun yang datang ke toko, Ayah layani. Mana kami tahu siapa yang beli? Mereka hanya mencari alasan saja untuk menangkap Ayah!"
Suaranya bergetar karena campuran antara amarah, ketakutan, dan keputusasaan. Birna hanya terdiam dan memandang lantai, sembari memegang lengan Kakaknya.
Aku berdiri mematung di depan mereka, terperangkap dalam badai kekecewaanku sendiri.
Jalan buntu. Lagi-lagi jalan buntu. Satu-satunya orang yang bisa memberitahuku asal-usul gelang Serra kini berada di tangan Aegis Legion, dituduh sebagai simpatisan pemberontak—sebuah tuduhan yang di masa seperti ini sama saja dengan vonis mati tanpa pengadilan. Aku tidak akan bisa menemuinya.
“Kau tahu Ayahmu ditahan dimana?” tanyaku separuh panik, Mustaf hanya menggeleng, tak lagi memandangku.
Melihat ketakutan mereka, sebuah pertanyaan muncul di benakku. "Ibu kalian... di mana?" tanyaku pelan, sebuah nada empati yang tak terduga muncul dalam suaraku.
Mustaf menatapku dengan mata yang sembab. "Ibu... Ibu sudah meninggal saat Birna lahir."
Jawaban itu menambah lapisan tragedi pada situasi mereka. Dua anak ini kini benar-benar sendirian. Aku merogoh kantongku, mengeluarkan satu koin Auren emas yang berkilauan.
Nilainya besar, tapi rasa iba melihat cerminan kondisi masa kecilku terasa bergelayut. Atau ini adalah ‘tabungan kebaikan’ lagi? Entahlah.
Aku meletakkannya di atas meja kasir. "Ini... anggap saja sebagai imbalan atas informasi tadi," kataku pelan.
Mustaf langsung berusaha mengembalikan koin itu. "Tidak usah Kak." Orang Mien pasti tidak enak hati jika menerima uang cuma-cuma seperti ini. Kesungkanan ini adalah sebuah ciri khas sendiri bagi suku kami.
Aku pun bersikeras menahan tangannya. "Ambillah. Tidak apa. Ini untuk kalian." Aku mengambil gelang itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas salempang. Mustaf akhirnya menyerah untuk mengembalikan.
“Terima kasih Kak Zane.” Ucapnya segan.
Sebelum aku berbalik pergi, aku berhenti sejenak.
"Siapa nama ayah kalian?"
Mustaf menatapku, mungkin sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Roslan, Roslan Pella Meenir," jawabnya.
Aku mengangguk pelan.
Roslan Pella Meenir.
Nama itu kini terukir di ingatanku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, aku berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan aroma kayu Aranel dan dua anak laki-laki itu dengan beratnya kehidupan mereka.
Suara lonceng pintu yang berdenting saat aku menutupnya terdengar seperti lonceng kematian bagi harapanku. Aku kembali ke jalanan Cragspire yang mulai gelap. Langkahku berat, seolah ditarik oleh suramnya kota ini, melangkah tak tahu arah dengan kepala kosong...
Sepasang patroli Aegis Legion melintas sambil tertawa di seberang jalan. Melihat itu, kekosongan di kepalaku mulai mendidih.
Kota ini semakin kesulitan karena blokade,Roslan membusuk di sel karena fitnah, anak-anaknya sendirian, dan mereka tertawa?
Mereka Tertawa?!!
tujuan diganti dan mengesampingkan pekerjaan juga normal² aja. soalnya orang mana yang ga kangen setelah insiden mengerikan itu?/Frown/
karena aku bisa tau rasa cemasnya mengkhawatirkan satu satunya orang yang dipunya
udah biarin aja debat sampe capek /Facepalm/