*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Sigil Retak dan Variabel Tambahan
Pemandangan kacau menyambut kami.
Di tengah jalan setapak yang terbuka, seorang pria kurus sedang bergelut dengan maut. Tepat tujuh ekor Pelolong Kilat mengepungnya.Ujung kuku-kuku dan moncong anjing liar ini mengeluarkan derak listrik yang bercahaya biru ketika akan menerjang.
Pelolong Kilat. Klasifikasi D. Jika seekor, sengat listriknya tak lebih sakit dari cubit gemas seorang nenek pada cucunya. Tapi dalam kawanan terkoordinasi begini? Efek kumulatif listriknya dapat membuat jantung bahkan seekor Sapi Mederi berhenti sebelum tubuhnya terjatuh menyentuh tanah.
Gerakan pria itu tidak beraturan namun sangat efektif; ia tidak memiliki kuda-kuda yang tegap, lebih mengandalkan insting untuk mengelak, memanfaatkan batang pohon terdekat untuk pijakan, dan menyerang hanya jika ada celah yang pasti.
"Fiora! Kanan!" teriakku pada Fiora sambil menerjang maju, batonku sudah aktif dalam mode panjang. Fiora langsung bergerak, tidak banyak tanya.
Aku menerjang ke sisi kiri. Tiga ekor Pelolong memutar kepala ke arahku. Mata mereka berkilat lapar, moncongnya mendesiskan listrik.
Bagus. Perhatian mereka terpecah.
“Kemari anjing – anjing jelek,” geramku. “Ayo bermain.” Sembari mendekatkan diri, menjadikan diriku target yang mengundang.
Yang pertama mengambil umpan. Ia menerjang lurus ke depan mengincar leher, moncongnya yang berderak dengan listrik statis terbuka lebar.
Anjing bodoh.
Aku merendahkan tubuh, membiarkan tubuh kurusnya melayang tepat di atas kepala, lalu memutar poros tubuhku.
BUK!
Sikuku menghantam tulang rusuknya dengan bunyi retak yang tumpul. Ia terjungkal dengan pekikan kesakitan, napasnya tersentak keluar. Satu tumbang.
Yang kedua lebih cerdas. Ia mencoba memutar dari samping, mengincar kakiku. Aku menghindar, mengayunkan baton ke rahangnya, tapi ia mundur di detik terakhir.
Hoo... Gesit juga.
Ia melompat mundur, kini lebih waspada, menggeram rendah bersama rekannya. Kini aku menghadapi dua lawan yang siaga.
Di sudut mataku, pertarungan Fiora tampak lebih satu arah. Tendangan memutarnya menghantam rahang makhluk itu dengan suara benturan tulang yang keras. Hewan itu terlempar ke samping, kepalanya membentur tanah dan ia merintih kesakitan.
"Petrocraft Empat: Lontaran Kerikil!" teriaknya tanpa jeda.
Dari tanah di depannya, segenggam penuh kerikil dan pasir kasar meledak ke depan dalam sebaran yang lebar dan tajam, itu memaksa kedua anjing lainnya untuk melompat mundur. Mata mereka menyipit kesakitan, memberi Fiora ruang dan waktu yang ia butuhkan.
Pertarungan seolah terhenti sepersekian detik. Aku memproses seluruh medan pertempuran dengan cepat. Di sebelah kanan, Fiora menahan dua Pelolong Kilat dengan kombinasi tendangan kuat dan Petrocraft pertahanan. Di tengah, Si Pria Kurus masih terdesak oleh dua ekor terakhir. Gerakannya terukur, setiap tangkisan batonnya presisi, setiap langkah mundurnya terkalkulasi.
Ia bukan petarung terlatih, ia seorang yang terbiasa bertahan hidup.
Air adalah penghantar listrik. Satu serangan Hydrocraft-ku bisa melumpuhkan satu kawanan ini sekaligus.
Aku mencengkeram gagang batonku, jariku secara refleks hampir menarik air keluar dari Sigil airku. Retakan tipis di permukaannya seolah berdenyut di benakku.
Sial! Kehilangan Sigil ini betul-betul mengganggu!
Menggunakan Hydrocraft sekarang sama saja bunuh diri; Sigil-nya bisa pecah dan airnya malah merambat mengenaiku.
Terpaksa bertarung jarak dekat.
Melihat ku berpikir, salah satu Pelolong Kilat di depanku melihat celah. Dengan lolongan tajam, ia menerjang ke arah si Pria Kurus, mencoba memanfaatkan jumlah mereka untuk mengalahkan target yang paling terisolasi.
"Awas!" teriakku, tapi sudah terlambat. Anjing itu berhasil mendaratkan gigitan cepat di betisnya dan langsung mundur setelahnya.
Si Pria Kurus berteriak kesakitan, tapi amarah mengalahkan rasa sakitnya. Wajahnya yang tenang kini mengeras. Ia mengabaikan anjing yang baru saja menggigitnya dan fokus pada satu yang ada di depannya.
"Hydrocraft Tiga: Meriam Air!" desisnya.
Crafting barusan jelas bukan formula yang diteriakkan dengan panik. Itu adalah perintah yang dingin dan mematikan.
Dari ujung batonnya, melesat sebuah semburan air padat bertekanan tinggi. Meriam air itu meluncur dengan suara desisan kuat dan menghantam telak dada Pelolong Kilat di depannya. Hewan itu terlempar ke belakang seolah ditabrak Kuda Batu, jatuh dengan pekikan melengking, kini tak lagi menjadi ancaman.
Serangan brutal itu memecah formasi. Anjing-anjing itu ragu. Fiora melihat celah itu. Ia maju dengan cepat, melancarkan satu hempasan Petrocraft nomor enam—Sarung Tangan Batu—dengan telak ke punggung makhluk itu, membuatnya ambruk ke tanah.
Sisa dua ekor di depanku tampak bimbang antara lapar dan takut. Aku tidak memberi mereka waktu untuk memilih. Aku menerjang anjing yang tadi mencoba menyerang si Pria Kurus. Pelolong itu mencoba menggigit, aku menahan rahanngnya dengan batonku, dan di saat yang sama, lututku menghantam perutnya dengan keras.
Yang terakhir, yang telah melihat semua rekan satu kawanannya tumbang, kini benar-benar panik. Ia berbalik untuk lari. Namun, saat ia berbalik, kakiku sudah menyapu kaki belakangnya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap. Satu hantaman baton yang cepat dan efisien ke tengkuknya mengakhiri perlawanan.
Melihat lima rekan mereka tumbang dalam sekejap, dua Pelolong Kilat yang tersisa—yang ditahan oleh Fiora di awal—akhirnya kehilangan nyali. Dengan satu lolongan terakhir yang lebih terdengar seperti rengekan putus asa, mereka berbalik dan lari tunggang langgang, menjauh dari jalan setapak di padang rumput yang luas ini.
Keheningan kembali menyelimuti jalan setapak.
Pria asing itu berdiri terengah-engah, mencoba memperbaiki posisi berdirinya.
Kini aku bisa melihatnya dengan lebih jelas.
Ia tinggi dan sangat kurus, dengan kulit putih yang hampir pucat. Rambutnya sekilas tampak abu-abu, lusuh dan kusam, warnanya pudar, tampak seperti uban yang muncul terlalu cepat. Pakaian perjalanannya yang sederhana sudah compang-camping dan kotor.
"Terima kasih," katanya, dengan suara serak yang terdengar tenang meskipun napasnya masih berat. "Kalian menyelamatkanku. Aku berhutang pada kalian."
"Tidak masalah," Fiora menjawab dengan cepat, senyum ramah langsung terpasang di wajahnya. "Kau tidak apa-apa? Lukamu itu...", sembari mencoba meraih Elixir oles di tas kecilnya.
"Hanya sengatan kecil," potong pria itu halus, meskipun ia sedikit meringis saat menggerakkan lengannya. "Aku Corbin."
"Corbin?" Fiora mengulang, sedikit mengernyitkan dahi.
Pria itu mengangguk. "Ya... hanya Corbin."
Tanpa nama keluarga.
Aku menatapnya lebih lekat. Ciri fisik tinggi, putih dan rambut tak berwarna, dikombinasi dengan nama yang “hanya Corbin”.
Aku dan Fiora saling berpandangan sekilas, langsung paham. Dia seorang Gora. Di Formia, ras Gora adalah warga kelas terendah, yang tidak punya nama keluarga.
"Kami sedang dalam perjalanan menuju Cragspire," kata Fiora, dengan cerdas mengabaikan detail itu. "Aku Fiora, dan ini Zane. Berbahaya sekali bepergian sendirian di zona luar ini. Bagaimana kalau kau ikut bersama kami? Setidaknya sampai di gerbang Kota."
Ide buruk. Membawa orang asing yang tidak dikenal, apalagi seorang Gora yang biasanya membawa masalah ke mana pun mereka pergi, adalah risiko keamanan Boleh jadi dia adalah umpan bandit atau pencuri yang menunggu kita lengah. Dua orang lebih efisien; tiga orang adalah kerumunan.
Corbin menggeleng pelan. "Tak apa. Aku tidak ingin merepotkan. Kalian sudah banyak membantu."
"Sama sekali tidak merepotkan!" balas Fiora cepat. "Lihat tadi? Dengan tiga orang, tentu kita akan lebih aman.
Tentu saja merepotkan. Jumlah kelompok kecil justru lebih mudah untuk melarikan diri.
"Aku bisa menjaga diri sendiri," balas Corbin lagi dengan wajah tersenyum, kali ini nadanya lebih tegas, meskipun kakinya yang gemetar mengatakan sebaliknya.
Fiora terdiam, lalu menoleh padaku dengan tatapan mengiba. Aku bisa membaca tatapannya dengan jelas: Ayolah, Zane, tak mungkin kita tinggalkan orang yang sudah kita tolong begitu saja.
Aku menghela napas panjang. Aku menimbang opsi dengan cepat. Menolak keinginan Fiora sekarang hanya akan memicu perdebatan panjang yang membuang waktu. Lagipula, dia cukup ahli bertarung dan Hydrocraft-nya juga lumayan kuat.
Di medan terbuka seperti ini, memiliki satu orang tambahan bisa berguna. Umpan tambahan. Penjaga giliran malam ekstra. Perisai hidup jika terdesak.
"Baiklah," kataku datar, menatap lurus pada Corbin. “Anggap saja ini transaksi bisnis. Kami dapat tambahan mata untuk berjaga malam, kau dapat jaminan sampai ke Cragspire hidup-hidup."
Hhhhh. Sungguh buang-buang waktu dan tenaga. Kenapa aku malah jadi mendukung ide Fiora...
Corbin menatapku sejenak, lalu pada Fiora, dan akhirnya mengangguk pasrah. "Kalau begitu... terima kasih."
Fiora tersenyum lebar.
Dan begitulah, kelompok efisien kami dirusak oleh satu variabel tambahan. Perasaan tidak nyaman mulai merayap di benakku; kini ada satu kepala tambahan yang harus kupertimbangkan sebelum berbicara.
Situasinya menjadi semakin melelahkan.
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu