Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Suara yang Mulai Terlihat
Marcus mulai berubah sejak malam itu.
Bukan perubahan besar yang bisa langsung ditunjuk, melainkan detail-detail kecil yang biasanya luput. Cara ia berhenti berbicara di tengah kalimat, seolah pikirannya tersangkut pada sesuatu yang tak terlihat. Cara matanya lebih sering menyipit ketika Elena berada di dekatnya. Cara tangannya mengetuk meja terlalu lama—ritme yang tidak beraturan, seperti sedang menghitung kemungkinan yang tidak ingin ia akui.
Elena menyadarinya.
Ia hanya memilih tidak menunjukkannya.
Pagi itu, Elena menyajikan sarapan seperti biasa. Telur, roti panggang, kopi hitam tanpa gula—kesukaan Marcus. Gerakannya tenang, terukur, tidak ada satu pun yang tampak tergesa. Rumah terasa normal… terlalu normal.
Marcus berdiri beberapa detik sebelum duduk. Tatapannya menelusuri meja makan, lalu berhenti pada wajah Elena.
“Kau yakin tidak ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya akhirnya.
Elena mengangkat wajah. Ekspresinya lembut, suaranya stabil. “Tentang apa?”
Jawaban itu datang terlalu cepat. Terlalu rapi.
Marcus tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. “Tidak apa-apa.”
Namun setelah percakapan singkat itu, keheningan terasa berbeda. Bukan sunyi yang nyaman, melainkan ketegangan yang menggantung di udara. Seolah setiap dinding menyimpan kata-kata yang belum diucapkan.
Di kantor, pikiran Marcus terus kembali ke rumah. Laporan yang biasanya ia kuasai kini terasa asing. Angka-angka terlihat benar, tapi nalurinya mengatakan sebaliknya.
Ia memanggil Selene sore itu.
“Kau mengubah sesuatu?” tanyanya tanpa basa-basi.
Selene terdiam sepersekian detik. Waktu yang sangat singkat—namun cukup untuk memicu kecurigaan.
“Tidak,” jawabnya. “Kenapa?”
Marcus menatapnya lebih lama dari yang diperlukan. “Karena aku merasa ada yang hilang.”
Selene memaksakan senyum kecil. “Mungkin hanya file lama yang dipindahkan.”
Marcus tidak langsung merespons. Ia hanya mengangguk pelan, tapi tatapannya belum melepas.
Untuk pertama kalinya, Selene keluar dari ruangan itu dengan telapak tangan basah oleh keringat.
Malam turun pelan ketika Marcus akhirnya pulang. Rumah tampak sama seperti biasanya. Lampu menyala hangat. Tidak ada suara aneh. Tidak ada tanda gangguan.
Namun rasa tidak nyaman itu masih ada.
Elena berdiri di dekat jendela kamar, ponsel di tangan. Layar menyala sebentar—satu pesan masuk dari nomor tanpa nama.
Tenang. Semua berjalan sesuai rencana.
Elena membaca tanpa perubahan ekspresi. Jarinya bergerak cepat, menghapus pesan itu seolah tidak pernah ada.
Langkah Marcus terdengar di lorong.
Elena meletakkan ponsel dan kembali ke tempat tidur, napasnya teratur, wajahnya damai. Ketika pintu terbuka sedikit, Marcus hanya berdiri di ambang. Matanya mengamati ruangan dalam diam.
Terlalu tenang.
Ia menutup pintu kembali tanpa suara.
Di ruang kerja, Marcus duduk sambil menatap layar laptop yang kosong. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak mencari data—ia mencari kepastian.
Dan tidak menemukannya.
Perasaan itu bukan sekadar curiga.
Itu ketakutan yang datang perlahan… namun pasti.
Ketakutan bahwa ia mungkin tidak lagi berada di atas permainan.
Di kamar, Elena membuka mata.
Ia tidak bergerak. Tidak juga tersenyum.
Ia hanya mendengarkan ritme rumah yang perlahan berubah.
Karena ketika suara mulai terlihat, kebenaran tidak perlu berteriak.
Ia hanya menunggu waktu—
untuk menjatuhkan mereka yang terlalu lama merasa aman.
Dan malam itu, tanpa disadari oleh siapa pun, langkah pertama telah diambil.
Tidak ada yang bisa kembali.