Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pemburu dan Api Hantu
Malam di Lembah Naga tidaklah gelap gulita. Tulang-tulang raksasa yang menyusun geografi lembah ini memancarkan pendaran fosfor hijau redup, menciptakan suasana dunia bawah yang angker.
Di dalam gua persembunyian, Han Luo berdiri. Dia menatap Long Tian yang sedang bermeditasi dengan tekun, memulihkan stamina.
"Long Tian," panggil Han Luo pelan.
Long Tian membuka mata. "Ya, Saudara Han?"
"Aku akan keluar sebentar untuk memasang perangkap peringatan di sekitar area ini. Kau tetap di sini. Jika aku tidak kembali dalam dua jam, jangan mencariku. Tutup pintu gua dengan batu dan tunggu sampai pagi."
"Tapi itu berbahaya! Biar aku temani!" Long Tian hendak berdiri.
"Tidak," Han Luo menekan bahu Long Tian. "Hawa dingin di luar terlalu kuat untuk kondisimu yang baru pulih dari penyimpangan Qi. Kau hanya akan menjadi beban. Percayalah padaku."
Kata "beban" selalu ampuh untuk membuat Long Tian diam. Dia mengangguk dengan wajah bersalah. "Baiklah. Hati-hati, Saudara Han."
Han Luo mengangguk, lalu melesat keluar ke dalam kegelapan hijau.
Begitu dia menjauh sekitar lima ratus meter dan bersembunyi di balik tengkorak naga raksasa yang setengah terkubur, aura Han Luo berubah total.
Dia mengeluarkan jubah hitam dari Cincin Penyimpanan. Dia mengenakan topeng putih polos Sarjana Mo.
"Waktunya bekerja."
Han Luo melompat ke atas punggung bukit tulang, berlari tanpa suara menuju arah Selatan—tempat dia melihat asap api unggun kemah utama Liu Ming tadi sore.
Perbatasan Zona Luar - Kemah Tim Ekspedisi.
Liu Ming tidak sedang tidur. Dia dan tiga Murid Dalam lainnya sedang mengepung sebuah cekungan batu.
Di tengah cekungan itu, seekor serigala setinggi dua meter dengan bulu yang terbakar api biru sedang menggeram. Tulang rusuknya terlihat menonjol keluar dari kulitnya yang hangus.
[Serigala Tulang Api Hantu] Tingkat 2 Puncak (Setara Pondasi Menengah).
"Jangan bunuh dia dengan merusak kepalanya!" teriak Liu Ming. "Aku butuh Inti Api Hantu di dahinya utuh! Itu bahan utama untuk meningkatkan Pedang Cahaya Emas adikku!"
Liu Ming sangat menyayangi adiknya, Liu Feng. Dia ingin menebus kekalahan adiknya di turnamen dengan memberikan senjata yang lebih kuat.
"Baik, Kakak Liu!"
Para Murid Dalam menyerang dengan koordinasi yang baik. Jaring energi dilemparkan, mengikat kaki serigala itu. Liu Ming melompat tinggi, pedangnya bersinar terang, siap menusuk jantung serigala itu untuk mengakhiri nyawanya tanpa merusak kepala.
Serigala itu meraung putus asa.
Sreeet!
Tiba-tiba, suara desingan halus membelah udara malam.
Bukan dari pedang Liu Ming.
Dari kegelapan di atas tebing, seutas benang tipis yang berkilauan merah dan biru melesat turun dengan kecepatan suara.
Benang itu bukan mengarah ke Liu Ming, tapi ke leher serigala itu.
Cesss!
Benang Sutra Es-Api itu membelit leher serigala. Dengan satu sentakan kuat dari si pemilik benang, leher serigala itu terpotong rapi. Kepala serigala (yang berisi Inti Roh berharga) terlempar ke udara.
"APA?!" Liu Ming terbelalak kaget. Serangannya memukul udara kosong.
Sebelum kepala serigala itu jatuh ke tanah, bayangan hitam melesat dari tebing, menyambar kepala itu di udara, lalu mendarat dengan ringan di atas batu yang menonjol.
Jubah hitam berkibar. Topeng putih polos bersinar di bawah cahaya bulan hijau.
Sarjana Mo.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan-tuan," suara Han Luo terdengar berat dan bergema, seolah-olah datang dari segala arah. "Serigala ini terlalu berisik. Aku membungkamnya untuk kalian."
"KAU!" Liu Ming mengenali topeng itu. Deskripsi di poster buronan sekte. "Aliansi Gerhana!"
Para Murid Dalam lainnya mundur selangkah, ketakutan. Reputasi "pembantai pengawal klan Liu" sudah tertanam di benak mereka.
"Kembalikan kepala itu!" Liu Ming mengarahkan pedangnya, meski tangannya sedikit gemetar. "Ini wilayah Sekte Pedang Awan!"
Han Luo memiringkan kepalanya sedikit. Dia mengangkat kepala serigala itu, lalu dengan santai mencungkil Inti Api Hantu berwarna biru dari dahinya menggunakan pisau belati.
Dia menyimpan intinya, lalu menendang sisa kepala serigala itu ke arah Liu Ming.
"Wilayah?" Han Luo tertawa rendah. "Lembah ini adalah kuburan naga. Di sini, wilayah adalah milik yang terkuat."
"Serang dia! Dia sendirian!" teriak Liu Ming, mencoba memprovokasi teman-temannya. "Hadiah kepalanya 5.000 Batu Roh!"
Keserakahan sesaat mengalahkan ketakutan. Dua Murid Dalam menerjang maju dengan teknik pedang gabungan.
"Bodoh."
Han Luo tidak mencabut pedang. Dia hanya menggerakkan jari-jarinya.
Tarian Naga Merah - Mode Jaring.
Benang sutra yang masih melayang di sekitarnya tiba-tiba menyala merah membara. Han Luo tidak mencambuk, tapi mengibaskannya membentuk jaring api di udara.
Wush!
Kedua murid itu menabrak jaring api itu.
"ARGH! PANAS!"
Mereka terpental mundur, jubah mereka terbakar, senjata mereka meleleh sebagian.
Liu Ming membeku. "Api itu... Api Bumi? Bagaimana kau bisa mengendalikan Api Bumi di luar tungku?"
Han Luo berdiri tegak di atas batu, menatap Liu Ming dengan merendahkan.
"Aliansi Gerhana memiliki pengetahuan yang melampaui pemahaman katak dalam sumur sepertimu, Liu Ming."
Han Luo berbalik.
"Inti ini kuambil sebagai pajak keamanan. Sebaiknya kalian tidur. Zona Tengah tidak ramah bagi anak-anak yang bermain api."
"Tunggu!" Liu Ming nekat. Dia mengeluarkan sebuah jimat giok dari sakunya. Jimat Ledakan Tingkat 3. "Mati kau!"
Dia melempar jimat itu ke punggung Han Luo.
Han Luo tidak menoleh. Dia menjentikkan tangan kirinya ke belakang.
Bom Asap.
POOF!
Asap hitam pekat meledak, menelan jimat itu sebelum meledak.
BLARRR!
Ledakan terjadi di dalam asap, tapi Han Luo sudah menghilang menggunakan Langkah Hantu di tengah kekacauan visual itu.
Ketika asap menipis, hanya ada kesunyian. Dan tawa samar yang terbawa angin.
Liu Ming jatuh berlutut, memukul tanah dengan frustrasi.
"Aliansi Gerhana... Aku bersumpah akan membunuhmu!" teriaknya.
Tapi di kejauhan, Han Luo yang sedang melompat antar tebing hanya tersenyum.
"Simpan sumpahmu, Liu Ming. Kau masih berguna untuk membuka pintu makam utama nanti."
Han Luo kembali ke wujud aslinya di tengah jalan, menyimpan topeng dan jubahnya.
Dia kembali ke gua persembunyian tepat dua jam kemudian.
Long Tian masih di sana, menatap pintu gua dengan cemas. Saat melihat Han Luo masuk, wajahnya cerah.
"Saudara Han! Kau kembali! Aku mendengar suara ledakan dari arah Selatan! Apa kau baik-baik saja?"
Han Luo duduk, pura-pura menyeka keringat dingin. "Aku baik-baik saja. Sepertinya ada pertarungan besar di kemah utama. Mungkin monster kuat menyerang mereka. Untung kita tidak di sana."
Long Tian menghela napas lega. "Syukurlah. Kau benar, Saudara Han. Firasatmu selalu tepat."
Han Luo merogoh sakunya, merasakan Inti Api Hantu yang hangat.
"Tidurlah, Long Tian," kata Han Luo. "Besok kita akan masuk ke Zona Tengah. Dan aku punya firasat... kita akan menemukan sesuatu yang menarik di sana."
Sesuatu yang bernama Warisan Kuno.