NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 – RUMAH YANG MENOLAK

Pagi datang tanpa matahari.

Awan menggantung rendah, kelabu, menekan langit seperti beban yang tak pernah diangkat. Defit Karamoy terbangun di atas kasur tipis di gudang belakang ruangan yang awalnya hanya tempat menyimpan alat kebun, tapi kini menjadi kamarnya.

Ia membuka mata dengan tubuh kaku. Tulang punggungnya nyeri, seolah semalam ia tidur di atas batu. Bau lembap dan kayu lapuk memenuhi hidungnya. Atap seng meneteskan sisa hujan, tik… tik… tik, suara yang terus mengingatkannya bahwa ia bukan bagian dari rumah utama.

Dari kejauhan, terdengar suara piring beradu. Sarapan.

Defit bangkit, merapikan bajunya yang sudah pudar warnanya. Ia berdiri di depan cermin kecil yang retaknya membelah wajahnya jadi dua. Wajah lelaki dua puluh delapan tahun yang tampak lebih tua dari usianya. Mata cekung. Rahang tegang. Senyum yang sudah lama hilang.

“Bertahanlah,” bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Entah pada siapa kalimat itu ditujukan.

Ia melangkah masuk ke rumah utama. Ruang makan sudah ramai. Aroma kopi hitam dan roti panggang menyebar. Maya duduk di kursinya, rambut diikat rapi, wajah cantik yang kini terasa jauh.

Pak Armand membaca koran, kacamata bertengger di hidung. Bu Ratna sibuk menuang teh, seperti ratu yang mengatur istana.

Defit berdiri. Tidak ada kursi untuknya.

“Ambilkan koran bagian ekonomi,” kata Pak Armand tanpa menoleh.

Defit menurut. Ia menyerahkan halaman yang diminta.

“Kamu tahu kenapa saya baca ini?” tanya Pak Armand, akhirnya menatapnya.

Defit menggeleng.

“Karena hidup itu soal nilai,” katanya pelan, tajam. “Dan orang yang tidak punya nilai… hanya jadi beban.”

Bu Ratna tersenyum tipis, puas.

“Setidaknya kalau tidak bisa membanggakan,” sambungnya, “jangan memalukan.”

Defit merasakan panas menjalar ke dadanya. Tangannya mengepal, tapi ia segera melonggarkannya. Ia tahu, satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuatnya diusir lagi atau lebih buruk.

Maya menatapnya sekilas. Cepat. Lalu kembali menunduk.

Sarapan selesai tanpa Defit menyentuh makanan apa pun.

Siang hari, Defit membersihkan halaman. Menyapu daun basah, memotong rumput. Peluh bercampur tanah menempel di kulitnya. Tak satu pun dari mereka bertanya apakah ia sudah makan.

Menjelang sore, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Kerabat datang.

Tawa pecah. Suara langkah ramai. Bu Ratna bergegas menyambut dengan wajah paling ramah yang bisa ia pasang.

Defit masih di halaman ketika salah satu paman Maya meliriknya dari ujung kaki sampai kepala.

“Oh,” katanya sambil tertawa kecil, “ini menantu itu ya?”

Yang lain ikut menoleh. Tatapan penasaran bercampur meremehkan.

“Masih tinggal di sini?”

“Kirain sudah kabur.”

“Hebat juga tahan banting.”

Tawa meledak.

Defit menunduk. Ia ingin menghilang. Menjadi debu di sela-sela keramik.

“Defit,” panggil Bu Ratna dari dalam, suaranya manis tapi memerintah. “Ambilkan minum untuk tamu.”

Ia masuk. Mengantar gelas satu per satu. Setiap langkah terasa seperti menapak di duri.

Saat ia menyodorkan gelas terakhir, seseorang sengaja menyenggol tangannya.

Prang!

Gelas jatuh. Pecah.

Semua mata tertuju padanya.

“Maaf… saya” Defit berlutut spontan, memungut pecahan kaca.

Pak Armand berdiri. Wajahnya mengeras.

“Lihat?” katanya kepada para tamu. “Inilah hasil memilih menantu sembarangan.”

Kalimat itu seperti pisau.

Maya berdiri setengah, bibirnya bergetar. “Ayah”

“Duduk,” potong Pak Armand.

Maya menurut.

Defit menatap pecahan kaca di tangannya. Darah menetes, merah pekat, jatuh ke lantai putih.

Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.

Dan di sela keheningan itu, Defit mendengar sesuatu.

Bukan dari luar.

Dari dalam kepalanya.

Rasa sakit ini… belum seberapa.

Ia tersentak. Napasnya memburu. Jantungnya berdetak terlalu keras.

Bu Ratna mengibaskan tangan. “Bersihkan. Jangan buat lantai ini kotor.”

Defit mengangguk. Ia selalu mengangguk.

Malam turun cepat.

Setelah para tamu pulang, rumah kembali tenang tenang yang menyesakkan. Defit kembali ke gudang. Luka di tangannya masih perih. Ia membungkusnya asal-asalan dengan kain.

Hujan kembali turun, lebih deras dari kemarin.

Defit keluar. Langkahnya membawanya ke pohon tua di belakang rumah, entah kenapa selalu ke sana. Akar-akar itu basah, mengilap, seperti urat hidup yang terbuka.

Ia bersandar pada batangnya, napas berat.

“Kalau memang hidupku tidak diinginkan…” suaranya serak, hampir pecah, “…kenapa aku masih di sini?”

Angin berputar lagi. Daun-daun bergeser tanpa sebab jelas.

Tanah di bawah kakinya terasa hangat.

Dan kali ini, bisikan itu terdengar lebih jelas.

Karena penderitaanmu belum selesai.

Defit terjatuh berlutut. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut hebat.

Dari balik hujan, bayangan pohon tampak bergerak bukan tertiup angin, tapi seolah… mencondongkan diri ke arahnya.

Defit menutup mata, menggigit bibirnya sampai berdarah.

Ia tidak tahu bahwa malam ini, sesuatu telah menandainya.

Dan bahwa rumah yang menolaknya… sedang menyiapkan jalan menuju kehancuran.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!