Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungguh menyebalkan
Keesokan harinya, tampak Vera sangat bersemangat sekali saat di ajak jalan-jalan oleh Arjuna. Duduk di mobil mewah, berkeliling kota lalu menuju ketempat wisata. Sungguh Diana merasakan bahagia,melihat adiknya bahagia.
Seulas senyum tergambar di wajah lelahnya, melihat Vera satu-satunya adik Yang jadi tangung jawabnya, meskipun mereka masih memiliki seorang Ayah.
" air terjunnya bagus sekali,"ucap Vera yang ingin sekali mandi di bawah air terjun tersebut, tapi sayang ia tak membawa baju ganti.
" cantik, secantik kalian berdua." puji Arjuna membuat Vera tersipu.
" Kak, sepertinya kita harus mandi di sana,untuk membuang sial." ucap Vera membuat Diana dan Arjuna tertawa.
Wajah senang adiknya baru sekarang Diana lihat, yang ada di pikirannya hanya ingin adiknya menjadi orang sukses. Agar kelak mereka di hargai oleh orang lain, jika memiliki banyak uang.
" Kak, aku main di pinggiran air terjun ya?"ujar Vera yang meminta ijin.
" iya, hati-hati." jawab Diana.
Terlihat seperti anak kecil yang baru melihat pemandangan baru, memang iya, karena kakak beradik ini belum pernah ke tempat wisata manapun.
" Maaf, ya jun. Kalau kami terlihat norak dan kampungan," ucap Diana samberi terkekeh.
" Biasa aja kali,lagian aku senang liat kalian bahagia seperti ini." ucap Arjuna.
" adikku,tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah,
sejak dia lahir dan ibu di nyatakan mengidap penyakit jantung. Ayah selalu menyalahkan vera sebagai pembawa sial," ucap diana setia kali mengingat tentang hidup adiknya yang Tidka pernah sekalipun merasakan belaian kasih sayang seorang ayah.
" padahal, tidak ada anak pembawa sial." sahut Arjuna.
" setelah melahirkan Vera, ibu di nyatakan mengidap penyakit jantung koroner, sejak itu ibu sudah tidak bisa kerja berat, terlalu lelah atau pun stres. Tapi, tidak apa-apa, setidaknya sekarang ibu sudah tidak merasakan sakit lagi."
Arjuna hanya diam, ia tau betul apa penyebab ibunya Diana meninggal dunia.
" sekarang kamu, fokus dengan hidupmu dan adikmu. Buat ibumu bangga di atas sana,bahwa kalian bisa berdiri di atas kaki kalian sendiri Tampa bantuan ayah kalian." ucap Arjuna memberi semangat.
Diana menanggapi dengan senyum, andai ia bisa meminta, ia tak ingin terlahir dengan takdir seperti ini. Di hinakan oleh keluarga sendiri dan di buang oleh ayah kandung sendiri, sungguh miris takdir yang Diana jalani.
" Bukan dunia yang kejam, melainkan orang-orang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, seolah mereka mempunyai kekuatan yang bisa menghina dan meremehkan orang lain." ucap Diana sambil memperhatikan adiknya yang bermain air.
Arjuna hanya diam, ada rasa penyesalan dalam hatinya. Andai dulu ia membela Diana , pasti beban yang di pikul oleh gadis ini tidak akan terlalu berat.
Perlahan kehidupan Diana dan Vera mulai membaik, meskipun kadang ada kesulitan, setidaknya kedua kakak beradik ini tidak hidup dalam tekanan.
********
Dua hari kemudian, restoran sudah buka kembali seperti biasa. Diana dan karyawan yang lain tampak sibuk membersihkan restoran, yang tutup selama dua hari. Apapun Diana kerjakan, meski sampai saat ini ia belum terlalu akrab dengan karyawan lainnya. Sebab Diana masih trauma.
Hingga pada akhirnya, restoran pun kembali di buka untuk pelanggan. Menjelang makan siang, satu persatu pengunjung mulai berdatangan. Karyawan mulai sibuk, termaksud Diana.
" Diana?" guman Sera, saat ia berpapasan dengan Diana.
Sontak saja Hendra dan Eka menghentikan langkah kaki mereka, yang ingin masuk ke dalam.
" ternyata,kamu jadi babu di tempat ini, ya ampun. Kasian sekali," ucap Sera,tak lupa dengan hinaannya.
" memang basisnya jadi babu, jadi di manapun, yaa tetap jadi babu." ejek eka sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
" kenapa memangnya? Salah?" tanya Diana dengan perasaan dongkol.
" Aduh, mas. kamu harus malu deh punya keponakan seperti ini," ucap Sera pada suaminya.
"Mending kita pura-pura gak kenal aja ya? Bisa-bisa jatuh harga diri kita kalau orang tahu dia itu keponakanmu." ujar Sera yang hanya di tanggapi dengan senyum sinis oleh Diana.
" Itu lebih baik, saya juga malu punya Tante yang mulutnya tidak pernah berhenti menghina orang." sebelum beranjak pergi Diana berkata," jangan lupa anda yang terlebih dahulu menyapa saya, Bukan saya yang menyapa anda."
Diana berlalu begitu saja, hal ini membuat harga diri Sera yang tinggi merasa di injak-injak dengan sikap berani gadis itu.
" sudah, biarkan saja dia" ucap Hendra lalu mengajak anak dan istrinya untuk duduk.
Panas hati Sera, wanita ini beranjak dari duduknya, ia beralasan ingin pergi ke toilet, tapi justru meminta pada salah satu pelayan di restoran itu untuk memanggil Diana.
Kebetulan sekali pak Adi, ada di sana ia mendengar kan semua ocehan Sera sembari mengecek rekaman cctv.
" lalu, ibu maunya apa?" tanya pak Adi yang merasa heran.
" saya ingin bapak pecat gadis itu, dia sudah bersikap kurang ajar sama saya. Jangan sampai restoran anda tutup, hanya karena satu pelayan yang tidak memiliki sopan santun." pinta Sera yang berharap Diana di pecat dari tempat ini.
Belum sempat pak Adi menjawab, pintu ruangan di ketuk,dan ternyata Diana yang masuk. Sudah beberapa bulan kerja di restorannya, tentu saja pak Adi mengenal Diana, apalagi gadis ini berteman dengan keponakannya.
Melihat Diana yang masuk ke dalam ruangan, Sera mendadak membuang muka. Ia tak menyangka pak Adi memanggil diana masuk, padahal ia sudah meminta agar Diana tidak di panggil.
" ibu ini, meminta saya memecat kamu Tampa alasan,...Diana apa kamu kenal dengan ibu ini?" tanya pak Adi yang tidak mau mengambil keputusan sepihak.
" ibu ini, adalah istri om saya yang lagi duduk menikmati makanannya di luar," jawab Diana dengan hati yang sangat sangat dongkol.
" ayolah, Tante jangan pernah mengusik hidup saya lagi, karena saya tidak pernah mengusik kehidupan Tante dan keluarga Tante."
Sera membuang nafas kasar. Tampa mengatakan sepatah kata, ia keluar begitu saja dari ruangan pak Adi. Ada perasaan jengkel di hati Diana tapi ia malas untuk mempermasalahkannya.
" tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja,"ucap pak Adi yang menenangkan Diana.
" terima kasih pak."ucap Diana lalu memaksakan untuk tersenyum.
Diana pun keluar untuk melanjutkan pekerjaannya. begitupun Sera yang kembali menikmati makanannya, mereka tidak tahu tentang Vera yang kuliah, andai tahu sudah pasti akan mereka ganggu.
setelah selesai makan siang, Hendra dan Sera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Indra yang katanya ada acara pesta. mereka yang diundang sudah pasti datang sebab yang memiliki uang pasti akan dipandang.
" anakmu kerja di restoran," ucap Hendra memberitahu indra.
" Anak yang mana?" tanya indra yang linglung. Lupa jika ia masih punya dua putri yang ia abaikan.
" Diana." jawab Hendra .
" Oh. Biarkan saja, biar dia belajar mandiri dan tidak menyusahkan orang,"sahutnya yang yang sama sekali tidak merasa kasihan pada Diana.
" sesekali temui lah mereka, sudah berapa tahun kau tidak menemui Mereka? Apa tidak kasihan pada Diana dan Vera? mereka anak perempuan yang bertahan dengan kedua kakinya sendiri," ucap Hendra yang sok menasehati, tapi dirinya sendiri tak bisa menolong kedua keponakannya sendiri.
Indra membuang nafas kasar, lalu menatap adiknya dengan kesal.
" jangan menyebut nama mereka di rumah ini, Yuni tidak suka mendengarnya."
" Oke, tapi jangan menyesal kalau sudah tau nanti."ucap Hendra yang memperingati.
" aku masih memiliki Tika dan Leo, mereka anak-anakku yang kelak akan mengurusku."
" mereka hanya anak sambung, anak kandung jauh lebih penting,"
Indra hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian berlalu begitu saja. Tampa mendengarkan apa yang adiknya katakan.
sungguh tak berhati,wajar saja Diana dan vera sangat membenci Indra. yang tidak pernah bertanggung jawab kepada anak-anaknya.
" menyebalkan sekali!!" kesal Hendra.
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.