Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi itu, mansion Alexander terasa lebih sibuk dari biasanya.
Jema berdiri di depan walk-in closet, tangan bersedekap, menatap deretan gaun yang menggantung rapi.
“…Aku ke pernikahan, bukan ke pertemuan kerajaan,” gumamnya.
Ia menarik satu gaun berwarna biru lembut sederhana, elegan, tanpa kesan berlebihan. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sentuhan rapi, riasan tipis tapi segar.
Berin mengamati dari samping.
“Nyonya sangat cocok,” ucapnya tulus.
“Kalau terlalu cocok nanti aku dikira pamer,” jawab Jema santai.
“Kita main aman saja.”
Beberapa menit kemudian, Jema melirik jam.
“Pria dingin itu biasanya tepat waktu kan?” gumamnya.
* * * *
Di Lantai Bawah Lucane Muncul
Tepat saat Jema menuruni tangga Lucane berdiri di ruang tamu.
Jas hitam rapi, kemeja putih tanpa cela, jam tangan berkilau sederhana. Wajahnya tetap dingin, tapi auranya… tak terbantahkan.
Jema berhenti di anak tangga terakhir.
“…Oke,” katanya pelan.
“Sekarang aku mengerti kenapa banyak wanita bisa jatuh miskin demi pria.”
Lucane meliriknya.
“Kau siap?”
“Siap,” jawab Jema cepat.
“Dan jangan khawatir, aku tidak akan bergelayut di lenganmu.”
Lucane mengulurkan tangan.
“Pegang.”
Jema terdiam sesaat… lalu menyeringai.
“Katanya tidak perlu akting.”
“Ini soal etika publik,” jawab Lucane datar.
Jema menurut, menyelipkan tangannya di lengan Lucane.
“Baiklah, Tuan Etika.”
* * * *
Perjalanan Mobil, Diam, dan Satu Kalimat
Mobil melaju tenang.
Tak ada musik. Tak ada percakapan panjang.
Hingga Jema bersuara, “Kalau ada yang tanya soal kita ”
“Aku akan jawab seperlunya,” potong Lucane.
Jema mengangguk puas.
“Cocok. Aku juga malas drama.”
* * * *
Lokasi Pernikahan Kedatangan yang Mengundang Perhatian
Begitu mereka tiba, suasana langsung berubah.
Beberapa rekan kantor terdiam.
Bisik-bisik muncul.
“Dia datang…”
“Bersama....?”
“Itu Lucane Alexander?”
Eve dan Anne berdiri dekat pintu masuk.
Mulut mereka terbuka bersamaan.
“ASTAGA,” bisik Eve.
“Dia benar-benar datang.”
Anne menelan ludah.
“Dan suaminya… bukan manusia biasa.”
Jema melirik mereka, tersenyum kecil.
“Jangan pingsan,” bisiknya saat lewat.
“Nanti aku repot.”
Vella, sang pengantin, menatap Jema dengan mata berbinar.
“Jema! Kamu datang!”
“Tentu,” jawab Jema hangat.
“Selamat ya.”
Vella menoleh ke Lucane, sedikit gugup.
“Dan ini..”
“Suami saya,” potong Jema santai.
Lucane mengangguk sopan.
“Selamat.” Singkat. Tepat. Berkelas.
Di meja tamu, Lucane duduk tenang. Jema di sampingnya.
“Kamu tidak keberatan?” bisik Jema.
“Lingkungan kantorku agak berisik.”
“Selama kau tidak ribut,” jawab Lucane.
Jema menyeringai.
“Tidak ada janji.”
Beberapa rekan mencoba mendekat, tapi tatapan Lucane cukup membuat mereka berpikir dua kali.
Eve dan Anne akhirnya duduk di depan mereka.
Anne berbisik, “Aku tidak menyangka kau bisa membawa tuan Alexander lingkungan ini?”
“bukan hal yang sulit,” jawab Jema sambil mengunyah kue.
“Aku yakin kau bisa mengambil alih tuan Alexander ” kekeh Eve
Lucane menyesap minumannya seolah tidak mendengar percakapan mereka.
“Ck!! aku tidak berniat melakukan nya .” ucap Jema santai
Anne menoleh ke arah Jema, lalu mendekat sambil berbisik dengan senyum menggoda.
“Lihat?” katanya pelan.
“Semua orang lagi mengagumi suamimu, Nyonya Alexander.”
Jema hanya melirik sekilas ke sekeliling.
Dan benar saja
Hampir semua wanita di ruangan itu mencuri pandang ke arah Lucane. Tatapan kagum, terpukau, bahkan tak sedikit yang terang-terangan memandangi pria itu. Beberapa tampak saling berbisik, jelas tidak menyangka bahwa pria yang biasa mereka lihat di layar televisi kini berdiri nyata di hadapan mereka.
Lucane tetap tenang. Posturnya tegak, ekspresinya dingin, seolah semua tatapan itu tidak ada artinya.
Jema mengangkat bahu santai.
“Oh,” katanya ringan.
“Biasa. Wajah mahal.”
Anne terkekeh, menutup mulutnya.
Jema tetaplah Jema.
Ia tidak merasa terancam. Tidak juga merasa perlu cemburu berlebihan.
Sebaliknya
Jema menyelipkan lengannya ke lengan Lucane, lalu mencondongkan tubuh sedikit.
“Kamu tidak bosan kan?” bisiknya cukup keras untuk terdengar oleh orang-orang terdekat.
“Kalau mau sesuatu, bilang ya.”
Lucane meliriknya singkat.
“Aku baik-baik saja.”
“Yakin?” Jema tersenyum manis.
“Kamu kelihatan terlalu serius. Nanti orang-orang mikir kamu robot.”
Beberapa wanita di sekitar mereka tampak terdiam.
Ada yang mendengus pelan. Ada yang tersenyum kaku.
Jema lalu merapikan kerah jas Lucane dengan gerakan natural terlalu natural untuk sekadar akting.
“Nah,” katanya puas. “Sekarang sempurna.”
Lucane tidak menepis tangannya.
Dan itu saja sudah cukup.
Tatapan kagum berubah sedikit… menyebalkan.
Anne dan Eve nyaris tertawa terbahak.
“Kamu jahat,” bisiknya.
“Halus, tapi jahat.”
Jema mengangkat alis.
“Aku cuma istri yang perhatian.”
Lucane akhirnya berkata pelan, tanpa menoleh,
“Kau sengaja.”
Jema tersenyum makin lebar.
“Tentu,” jawabnya santai.
“Biar jelas. Kamu pulang sama siapa.”
Lucane terdiam.
Namun sudut bibirnya bergerak sangat tipis
nyaris tidak terlihat.
Dan di ruangan itu, tanpa drama berlebihan,
semua orang akhirnya paham satu hal
Pria dingin itu mungkin milik publik…
tapi posisinya di sisi Jema tidak bisa diganggu gugat.
* * * *