NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Amara terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Cahaya fajar masih remang-remang, namun matanya sudah terbuka lebar. Ingatannya langsung tertuju pada kejadian semalam—tentang video TikTok, tentang Nicholas yang datang membawa martabak, dan tentang bagaimana pria itu membisikkan kata "teriak histeris" tepat di telinganya.

"Duh, kalau ketemu dia pagi ini, gue mau taruh di mana muka gue?!" gumam Amara sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

Rasa malu yang luar biasa menyergapnya. Amara tahu Nicholas tipe pria yang tidak akan melepaskan kesempatan untuk menggodanya habis-habisan setelah tahu rahasia itu. Maka, sebuah rencana besar muncul di benaknya: Melarikan diri sebelum jemputan datang.

Dengan gerakan secepat kilat namun sangat senyap, Amara mandi dan bersiap. Ia sengaja tidak menyalakan lampu kamar agar Ryan tidak terbangun. Pukul enam kurang lima belas menit, ia sudah rapi dengan seragamnya. Ia tidak mengepang rambut atau memakai pita hari ini—ia ingin menjadi "tak terlihat".

Sambil mengendap-endap di ruang tengah, Amara memesan ojek online melalui aplikasi. Begitu statusnya menunjukkan pengemudi sudah dekat, ia memakai sepatu ketsnya di teras dengan terburu-buru.

"Mau ke mana lo sepagi ini?"

Suara serak khas orang bangun tidur mengagetkan Amara. Ia menoleh dan melihat Ryan berdiri di ambang pintu sambil mengucek mata.

"Sssshhh! Diem, Bang!" bisik Amara panik. "Gue mau berangkat duluan. Jangan bilang Kak Nick!"

"Lah? Kenapa? Kan dia mau jemput jam setengah tujuh?" tanya Ryan bingung.

"Pokoknya jangan bilang! Bilang aja gue ada tugas kelompok pagi atau apa kek. Dah, Abang ganteng, diem ya!" Amara segera berlari keluar pagar begitu melihat motor ojeknya sampai.

"Agak cepet ya, Pak. Saya buru-buru!" bisik Amara pada sang pengemudi begitu ia naik ke boncengan.

Motor ojek itu melaju membelah udara pagi yang dingin. Amara merasa menang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia bisa "bebas" dari pengawasan Nicholas. Ia tersenyum kecil melihat jalanan yang masih cukup sepi.

Namun, rasa menangnya hanya bertahan sepuluh menit.

Saat sedang berhenti di lampu merah perempatan besar, telinga Amara menangkap suara raungan mesin motor yang sangat ia kenali. Suara knalpot yang berat dan bertenaga. Amara menoleh ke belakang dengan perlahan, dan jantungnya hampir copot.

Di belakang sana, sekitar tiga mobil dari posisinya, Nicholas sedang memacu motor hitamnya. Pria itu tidak memakai helm cadangan, hanya helm miliknya sendiri. Wajahnya terlihat sangat dingin dan fokus menembus kemacetan.

"Mati gue! Dia tahu dari mana?!" jerit Amara dalam hati.

"Pak, Pak! Bisa lewat jalan tikus nggak? Di belakang ada... ada orang yang saya hindari!" pinta Amara panik.

"Waduh, Neng, ini jalan raya besar, nggak ada jalan tikus di sini," jawab si bapak ojol bingung.

Lampu berubah hijau. Motor ojek melaju, tapi Nicholas jauh lebih lincah. Dengan manuver yang sangat berbahaya, Nick menyelip di antara mobil-mobil hingga akhirnya ia berhasil menyejajarkan motornya dengan motor ojek Amara.

Nicholas membuka kaca helmnya. Matanya yang tajam menatap Amara dengan kilat amarah yang bercampur dengan rasa geli.

"Turun di depan," ucap Nick singkat namun penuh otoritas. Suaranya terdengar di balik deru angin.

Amara membuang muka, pura-pura tidak dengar. "Pak, jangan berhenti ya, Pak! Jalan terus!"

Nicholas mendengus. Ia memacu motornya lebih depan lagi, lalu dengan sengaja melambatkan motornya tepat di depan motor ojek tersebut, memaksa si bapak ojol untuk menepi ke pinggir trotoar jalan raya.

Si bapak ojol berhenti dengan bingung. Nicholas langsung turun dari motor, langkahnya terlihat panjang dan mengancam. Amara turun dari motor ojek dengan wajah yang ditekuk sedalam mungkin.

"Ini ongkosnya ya, Pak. Makasih," ucap Amara sambil menyerahkan uang, mencoba kabur sebelum Nicholas sampai.

Namun, tangan besar Nicholas sudah lebih dulu mencengkeram tas ransel Amara dari belakang, menariknya pelan agar gadis itu tidak bisa melangkah lebih jauh.

"Mau ke mana, Amara Lathifa?" tanya Nick dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi.

Amara berbalik, mencoba berani. "Mau ke sekolah lah! Aku ada... ada piket pagi hari ini!"

"Piket pagi jam enam lewat sepuluh? Sejak kapan sekolah lo punya aturan gitu?" Nick melepaskan tas Amara, lalu berdiri tepat di depannya, menghalangi jalan. "Kenapa kabur? Takut gue godain soal video semalam?"

"Siapa yang takut! Aku cuma mau suasana baru!" bantah Amara.

Nicholas menyeringai, ia mendekatkan wajahnya ke arah Amara. "Lo tahu nggak, gue udah ada di depan pagar rumah lo sejak jam enam kurang sepuluh. Gue liat lo keluar, gue liat lo naik ojol. Gue sengaja biarin lo jalan duluan cuma buat liat seberapa jauh 'malaikat' gue ini bisa lari."

Amara ternganga. "Kakak nungguin dari jam segitu?!"

"Gue nggak bisa tidur gara-gara kepikiran 'teriakan histeris' seseorang," goda Nick, membuat wajah Amara kembali merah padam.

Hukuman yang Manis

"Udah, jangan banyak alasan. Naik ke motor gue sekarang," perintah Nick.

"Nggak mau! Aku udah bayar ojol tadi!"

Nicholas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil helm dari motornya dan langsung memasangkannya ke kepala Amara secara paksa namun tetap hati-hati. Ia memastikan tali helmnya terkunci rapat.

"Naik, atau gue gendong lo sampai ke sekolah?" ancam Nick.

Mengingat kegilaan Nicholas, Amara tahu pria itu tidak main-main. Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur, Amara naik ke boncengan motor Nicholas.

Sepanjang perjalanan sisa menuju sekolah, tidak ada percakapan. Namun, Nicholas sesekali mengambil tangan Amara dan menariknya agar memeluk pinggangnya lebih erat.

Sesampainya di gerbang sekolah, Nicholas tidak langsung membiarkan Amara turun. Ia menahan tangan Amara saat gadis itu hendak melepas helm.

"Dengerin gue, Ra," ucap Nick serius. "Lo boleh lari ke mana pun, tapi jangan pernah coba-coba berangkat sendirian tanpa sepengetahuan gue. Dunia luar itu nggak aman buat lo."

"Tapi Kak, aku kan cuma mau mandiri—"

"Gue bakal kasih lo kemandirian setelah lo lulus UTBK dan masuk kampus. Selama lo masih pakai seragam ini, lo tanggung jawab gue," potong Nick. Ia kemudian tersenyum kecil. "Dan satu lagi... makasih buat video semalam. Itu bikin gue makin yakin kalau gue nggak salah pilih rumah buat pulang."

Amara terdiam, ia melihat Nicholas yang kemudian mengacak rambutnya sebelum pergi. Rasa kesalnya entah kenapa menguap begitu saja. Ia menyadari bahwa sekeras apa pun ia mencoba lari, magnet di dalam diri Nicholas selalu berhasil menariknya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!