NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-puing Kesepakatan

Ruang aula hotel bintang lima itu berkilau oleh cahaya lampu kristal dan denting gelas sampanye. Harum parfum mahal bercampur dengan aroma cerutu, menciptakan atmosfer kemewahan yang palsu. Ria melangkah masuk di samping Arya, mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang elegan namun sederhana. Rambutnya disanggul rapi, menyembunyikan lehernya yang kini tampak lebih jenjang karena berat badannya yang menyusut.

Begitu kaki mereka melewati pintu aula, Arya melepaskan tautan tangan mereka. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melangkah menuju kerumunan pria berjas, berbaur dengan tawa maskulin dan obrolan mengenai angka-angka saham. Baginya, tugas Ria hanya satu: hadir. Setelah itu, keberadaannya tidak lebih penting dari vas bunga di sudut ruangan.

Ria terbiasa. Ia memilih duduk di sebuah meja bundar yang agak tersembunyi, mencoba menikmati hidangan pembuka yang tersaji. Setiap suapan terasa tawar di lidahnya, namun ia tetap makan. Ia butuh tenaga untuk bertahan malam ini.

Ketenangan Ria tidak bertahan lama. Sekelompok wanita dengan gaun berkilauan—beberapa kerabat jauh Arya dan istri dari kolega bisnisnya—menghampiri meja itu dengan senyum yang tidak mencapai mata.

"Oh, Ria! Hampir saja aku tidak mengenalimu. Kau tampak sangat... kurus. Apa Arya kurang memberimu jatah makan?" tanya Tante Linda, salah satu kerabat Arya yang paling vokal, sambil menutup mulutnya dengan kipas.

Ria hanya tersenyum tipis. "Saya rasa ini postur tubuh yang ideal, Tante. Tidak menumpuk lemak di bagian situ."

"Apa kau bilang?" timpal seorang wanita muda di samping Linda dengan nada tak suka, sepupu Arya yang selalu iri pada posisi Ria. "Oh, iya, sudah dua tahun, Ria. Tapi perutmu masih saja rata. Apa kau tidak tahu kalau aset terbesar seorang istri di keluarga ini adalah pewaris? Jika kau tidak bisa memberikan anak, jangan heran kalau Arya mulai melirik ke luar. Kudengar, sekretaris barunya sangat cekatan."

Sindiran itu memancing tawa kecil dari yang lain. Mereka mulai berbisik, cukup keras untuk didengar oleh Ria.

"Mungkin dia memang tidak punya daya tarik. Lihat saja, Arya bahkan tidak meliriknya sejak tadi."

"Kasihan ya, cuma jadi istri formalitas. Mungkin benar kata orang, dia hanya 'pembawa sial' yang beruntung masuk ke keluarga Wiradhinata."

Ria meletakkan garpunya pelan. Kata-kata anak, pihak ketiga, dan pembawa sial berputar di udara seperti lalat yang mengganggu. Dulu, kata-kata ini akan membuatnya gemetar atau lari ke kamar mandi untuk menangis. Tapi sekarang?

Ia menatap Tante Linda dengan pandangan kosong yang membuat wanita itu merasa tidak nyaman.

"Kenapa diam saja? Kau tidak mau membela diri?" tanya Linda ketus.

"Membela diri untuk apa, Tante?" suara Ria tenang, hampir sedingin Arya. "Jika menurut Anda menjaga aset adalah dengan memiliki anak, maka pandangan kita tentang manusia memang berbeda. Saya bukan mesin, dan Arya bukan benda yang harus saya ikat."

"Kurang ajar! Kau mulai berani menjawab ya sekarang?"

"Saya hanya sedang jujur," potong Ria. Ia merasakan cairan hangat mulai naik ke tenggorokannya—rasa besi yang familiar. Ia tahu itu darah. "Jika kalian merasa rumah tangga kami tidak harmonis, kalian benar. Jika kalian merasa ada orang lain, silakan tanyakan pada Arya. Saya tidak punya energi lagi untuk mengurusi asumsi orang-orang yang hidupnya terlalu luang."

Ria berdiri, kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa pandangannya sedikit mengabur. Ia harus segera pergi dari sana sebelum ia pingsan di depan orang-orang yang sangat membencinya ini.

Dari kejauhan, Arya yang sedang memegang gelas kristal sebenarnya tidak benar-benar fokus pada pembicaraan bisnisnya. Matanya sesekali melirik ke arah meja Ria. Ia melihat bagaimana kerabatnya mengepung istrinya. Ia melihat raut wajah Tante Linda yang marah, dan ia melihat betapa rapuhnya tubuh Ria malam itu.

Saat ia melihat Ria berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju teras luar, jantung Arya berdegup tidak beraturan. Ada rasa tidak nyaman yang semakin besar di dadanya.

Dia tampak sangat sakit, batin Arya.

Arya mengabaikan lawan bicaranya dan mulai melangkah menuju teras, mengikuti bayangan gaun hitam yang baru saja menghilang di balik pintu kaca. Ia tidak tahu bahwa malam ini akan menjadi malam terakhir di mana ia melihat Ria sebagai sosok yang bisa ia kendalikan.

Udara malam yang menusuk tulang menyambut Ria saat ia melangkah ke teras luar. Ia mencengkeram pagar balkon, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk meredakan rasa mual dan perih di dadanya. Namun, sebuah tangan kokoh tiba-tiba menangkap lengannya, memutar tubuhnya dengan paksa.

"Ria! Apa yang kau lakukan di sini? Kau mempermalukan ku dengan meninggalkan meja begitu saja!" Arya menggeram, matanya menyala tertimpa cahaya lampu taman.

Namun, kata-kata Arya tertahan di tenggorokan saat melihat wajah Ria dari dekat. Di bawah sinar rembulan, kulit istrinya tidak lagi pucat, melainkan hampir transparan. Bibirnya yang tadi dipulas lipstik merah kini mulai memutih.

Ria menatap tangan Arya yang mencengkeram lengannya, lalu dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, ia menepis tangan itu. Tenaganya tidak besar, tapi sorot matanya yang dingin memberikan kekuatan yang mengejutkan.

"Jangan sentuh aku, Mas," bisik Ria. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah Arya adalah orang asing yang tak sengaja menyenggolnya di jalan.

"Ria, jangan memancing amarahku—"

"Mas," potong Ria pelan. Ia melangkah satu tindak mendekat, mendekatkan wajahnya ke telinga Arya agar suaranya tidak terdengar oleh tamu lain. "Mari kita akhiri ini semua. Mari kita bercerai."

Lagi-lagi ucapan itu keluar membuat dunia Arya seolah runtuh di tempat ia berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena ego dan keterkejutan yang luar biasa.

"Apa kau bilang? Cerai? Kau sadar apa yang kau bicarakan? Siapa yang akan melindungi mu jika kau keluar dari rumah ini?"

Ria tersenyum getir, matanya menatap kosong ke arah kegelapan malam. "Perlindungan? Selama dua tahun, aku merasa lebih aman sendirian daripada berada di sampingmu. Transaksinya sudah selesai, Mas. Ayahku sudah kaya, dan citramu sudah sempurna. Sekarang, lepaskan aku. Aku ingin mati sebagai diriku sendiri, bukan sebagai properti mu."

Kalimat "Aku ingin mati sebagai diriku sendiri" menghantam Arya seperti godam berat.

Sebelum ia sempat membalas, Ria sudah berbalik, mengabaikannya sepenuhnya dan berjalan masuk kembali ke aula dengan langkah yang goyah namun angkuh.

Arya mematung di teras, napasnya memburu. Perasaan terganggu yang ia rasakan sejak kepulangannya kini meledak menjadi kemarahan yang tak terkendali. Namun, kemarahan itu bukan tertuju pada Ria, melainkan pada ketidakberdayaan yang tiba-tiba ia rasakan.

Ia memutar otak, mengingat bagaimana Ria keluar dari aula tadi dengan raut wajah hancur setelah dikerumuni kerabatnya. Dengan langkah lebar dan wajah yang memerah padam, Arya masuk kembali ke aula. Ia tidak menuju meja bisnis, melainkan langsung menyambar gelas dari tangan seorang pelayan dan meletakkannya kasar di atas meja tempat Tante Linda dan komplotannya masih asyik bergosip.

BRAK!

Meja itu bergetar, membuat para wanita di sana terlonjak kaget.

"Siapa di antara kalian yang menyentuh istriku dengan mulut sampah kalian?" tanya Arya dengan suara rendah yang mengancam, membuat seluruh ruangan mendadak hening.

Tante Linda terbata-bata, wajahnya pucat pasi melihat keponakannya yang biasanya tenang kini tampak seperti ingin membunuh seseorang. "Arya... kami hanya... kami hanya menanyakan soal anak, kau tahu itu penting untuk keluarga—"

"Penting untuk keluarga atau penting untuk memuaskan kedengkian kalian?" bentak Arya, mengabaikan sopan santun. "Dengar baik-baik! Ria adalah istriku. Jika ada yang berani menghina atau mengusiknya lagi, detik ini juga aku pastikan aliran dana dan semua fasilitas keluarga Wiradhinata untuk kalian akan aku putus tanpa sisa!"

Arya tidak peduli pada pandangan kaget rekan bisnisnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Ria meminta cerai. Ia merasa ada sesuatu yang berharga yang selama ini ia injak-injak, kini mulai lepas dari genggamannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arya merasa sangat takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!