NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Sore hari itu, cahaya matahari yang kekuningan menerobos masuk melalui celah gorden kamar, menyinari butiran debu yang menari di udara. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas teratur Hilman yang masih terlelap.

​Nayla terbangun lebih dulu. Ia merasa jauh lebih segar, meski tubuhnya masih terasa sedikit kaku. Ia menoleh ke samping dan mendapati Hilman tidur dengan posisi miring menghadapnya. Tanpa kacamata, wajah suaminya itu terlihat jauh lebih muda dan... sangat manis.

​Nayla tidak tahan untuk tidak jahil. Ia mengambil ujung rambutnya sendiri, lalu mengelitik hidung Hilman pelan-pelan.

​"Eungh..." Hilman melenguh kecil, hidungnya kembang kempis menahan gatal.

​Nayla menutup mulutnya, menahan tawa. Ia melakukannya lagi, kali ini lebih lama.

​"Hasyim!" Hilman bersin pelan dan langsung membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum menyadari wajah Nayla yang hanya berjarak beberapa senti darinya sedang tertawa cekikikan.

​"Nayla... kamu ini benar-benar nggak bisa lihat Mas tenang sebentar ya?" suara Hilman terdengar sangat serak khas orang bangun tidur, yang menurut Nayla terdengar sangat seksi.

​"Abisnya Mas ganteng banget kalau tidur. Sayang kalau nggak diganggu," jawab Nayla tanpa rasa bersalah. Ia lalu mencoba duduk, dan ajaibnya, rasa nyeri tadi pagi sudah jauh berkurang. "Wah! Mas, pijatan minyak zaitun Mas manjur! Aku sudah bisa duduk tegak nih!"

​Hilman ikut bangkit dan bersandar di kepala ranjang sambil mengucek matanya. "Alhamdulillah kalau sudah mendingan. Berarti 'olahraga sore' tadi membuahkan hasil ya?" goda Hilman balik dengan senyum miring yang jarang ia tunjukkan.

​Wajah Nayla langsung panas. "Ih, Mas Hilman ketularan aku ya jadi mesum!"

​Baru saja mereka hendak bercanda lebih jauh, suara ketukan pintu yang agak brutal terdengar dari luar.

​TOK TOK TOK!

​"Nay! Mas Hilman! Bangun woii! Udah Ashar!" suara Arkan menggelegar dari balik pintu. "Keluar cepetan, Ayah manggung di teras, ada tamu penting nih. Buruan rapi-rapi!"

​Nayla mengernyit. "Tamu penting siapa sih, Bang? Rian lagi?" teriak Nayla balik.

​"Bukan! Ini lebih gawat dari Rian! Buruan pokoknya!" sahut Arkan misterius lalu terdengar suara langkah kakinya menjauh.

​Nayla dan Hilman saling pandang. Perasaan mereka mendadak tidak enak. Hilman segera menyambar kacamata dan kopiahnya, sementara Nayla buru-baru merapikan jilbabnya yang berantakan.

​Begitu mereka keluar dan menuju teras rumah, jantung Nayla seolah berhenti berdetak. Di sana, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan wajah yang sangat tegas, didampingi dua orang berbadan tegap.

​"Papa?" gumam Nayla lemas.

​Ternyata itu adalah Papa Nayla dari Jakarta, yang selama ini tidak merestui Nayla tinggal di desa, apalagi menikah mendadak dengan seorang Gus. Beliau datang dengan wajah dingin, menatap Hilman dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi.

​"Jadi ini laki-laki yang membuat kamu menolak balik ke Jakarta dan memilih hidup di kampung ini, Nayla?" suara Papa Nayla terdengar menggelegar.

Suasana di teras rumah mendadak mencekam. Papa kandung Nayla, Pak Baskoro, berdiri dengan angkuh, sementara Pak Lurah (Ayah tiri Nayla) bangkit dari kursinya dengan raut wajah yang tak kalah tegas.

"Nayla anak saya juga, Baskoro. Terserah dia mau tinggal di sini atau tidak. Dia sudah menemukan kebahagiaannya di desa ini," gumam Pak Lurah dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Pak Baskoro tertawa sinis, matanya melirik tajam ke arah Pak Lurah. "Anak kamu? Jangan lupa siapa yang membiayai dia sejak lahir sampai dia bisa lari ke kampung ini. Kamu hanya pria yang menikahi ibunya, jangan merasa punya hak penuh atas dia!"

Nayla gemetar hebat. Ia merasa seperti ditarik dari dua sisi. Hilman, yang sejak tadi diam mengamati, merasakan genggaman tangan Nayla di lengannya semakin erat dan dingin. Tanpa ragu, Hilman melangkah maju, berdiri tepat di depan Pak Baskoro untuk melindungi istrinya.

"Selamat sore, Bapak," ucap Hilman dengan nada bicara yang sangat santun namun berwibawa. "Saya Hilman. Saya mengerti Bapak adalah orang tua kandung Nayla yang sangat menyayanginya. Namun, perlu Bapak ketahui, saat ini Nayla sudah menjadi istri sah saya. Di mata hukum dan agama, tanggung jawabnya kini ada di pundak saya."

Pak Baskoro menatap Hilman dari balik kacamata hitamnya yang mahal. "Suami? Saya tidak pernah merestui pernikahan kilat ini. Kamu hanya seorang ustadz kampung, apa yang bisa kamu tawarkan untuk putri saya yang terbiasa hidup mewah di Jakarta?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!