NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Ginetik

2 bulan kemudian.

Ruang pemeriksaan itu sunyi.

Hanya ada bunyi detak kecil dari mesin—cepat, rapuh, namun nyata. Lian berbaring dengan tubuh setengah tertutup tirai biru muda. Gel dingin masih menempel di perutnya, membuat kulitnya sedikit menggigil.

Haikal berdiri di sudut ruangan.

Ponselnya bergetar.

Ia menatap layar—nama atasannya—lalu menoleh sekilas ke arah Lian. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Haikal mengangguk kecil, seolah berkata sebentar, lalu melangkah menjauh ke dekat pintu dan menjawab panggilan itu dengan suara rendah.

Dokter wanita itu menatap punggung Haikal sejenak, lalu kembali memusatkan perhatian pada Lian.

“Lian,” ucapnya pelan, tidak tergesa, tidak pula berbelit.

“Apa yang akan saya sampaikan ini… berat. Dan saya ingin kamu mendengarnya dengan tenang.”

Jantung Lian berdetak lebih keras.

Bukan karena takut.

Ia sudah terlalu sering hidup berdampingan dengan rasa itu.

“Iya, Dok,” jawabnya lirih.

Dokter menatap layar USG, lalu mematikannya. Suara mesin berhenti, dan keheningan terasa semakin menekan.

“Kehamilanmu bukan hanya berisiko keguguran,” kata dokter itu jujur.

“Kehamilan ini berisiko pada nyawamu.”

Lian terdiam.

Tangannya yang sejak tadi berada di perutnya mengeras. Jari-jarinya mengepal pelan.

“Kenapa?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Dokter membuka map medis di tangannya.

“Kami menemukan sesuatu dari hasil pemeriksaan lanjutan,” katanya.

“Kamu memiliki riwayat penyakit genetik dari ayahmu.”

Nama itu—ayah—jatuh seperti batu ke dada Lian.

“Masalah jantung,” lanjut dokter itu.

“Bukan tipe yang terlihat jelas seperti pada kebanyakan pasien. Tidak ada pembesaran ekstrem, tidak ada sesak napas yang konstan.”

Lian mengangguk pelan.

“Makanya… nggak pernah ketahuan.”

“Ya,” jawab dokter.

“Tapi detak jantungmu sering tidak stabil. Kadang terlalu keras, kadang melambat drastis. Dan ada saat-saat tertentu… rasa sakitnya bisa sangat hebat.”

Lian menelan ludah.

Ia tahu rasa itu.

Terlalu tahu.

“Aku sering mikir itu cuma capek,” katanya lirih.

“Atau karena emosi.”

Dokter menatapnya dengan empati.

“Kehamilan memberi tekanan besar pada sistem jantung,” katanya pelan.

“Dalam kondisi normal saja berat. Dalam kondisimu… risikonya jauh lebih tinggi.”

“Risiko apa, Dok?” tanya Lian, meski jawabannya sudah bergetar di ujung lidahnya.

Dokter menghela napas perlahan.

“Risiko gagal jantung mendadak,” katanya jujur.

“Dan… risiko kematian ibu.”

Kalimat itu tidak menghantam.

Ia tenggelam.

Seperti air dingin yang masuk perlahan ke paru-paru.

Lian tidak menangis.

Ia hanya menatap kosong ke depan, napasnya terasa berat, tapi wajahnya tetap tenang—tenang yang terlalu sunyi.

“Kalau aku memilih mempertahankan kehamilan ini?” tanyanya pelan.

Dokter itu tidak langsung menjawab.

“Kami akan mengawasi ketat. Sangat ketat,” katanya akhirnya.

“Istirahat total. Tanpa stres. Tanpa kelelahan. Tanpa risiko sekecil apa pun.”

Ia menatap Lian lurus.

“Tapi saya harus jujur… tidak ada jaminan.”

Lian mengangguk.

Pelan.

Seolah ia sudah menduga jawaban itu sejak lama.

Dan saat Lian kembali menunduk, tangannya otomatis kembali melindungi perutnya—

gerakan naluriah, lembut, penuh ketakutan—

ia berbisik, hampir tak terdengar:

“Tapi aku tetap mau dia.”

Di ruang kecil itu,

di antara jantung yang rapuh dan kehidupan yang baru tumbuh—

takdir mulai meminta harga yang sangat mahal.

Siap. Kita revisi dengan kebohongan Lian — halus, manusiawi, dan menyakitkan secara pelan.

Fokusnya: Lian memilih diam demi melindungi Haikal dan kehamilan itu sendiri.

Ruang pemeriksaan kembali sunyi.

Mesin USG sudah dimatikan, tirai setengah terbuka. Gel dingin masih terasa di perut Lian, tapi dingin itu kalah oleh sesuatu yang lebih menusuk—kata-kata dokter yang masih bergema di kepalanya.

Risiko kematian ibu.

Tangannya bergerak refleks, melindungi perutnya.

Bukan karena takut mati.

Tapi karena takut Haikal tahu.

Di sudut ruangan, Haikal masih menerima panggilan dari atasannya. Nada suaranya rendah, tegas, profesional—seperti biasa.

“Siap, Komandan.”

“…Saya mengerti.”

“Perintah diterima.”

Panggilan berakhir.

Haikal berbalik, melangkah cepat ke sisi ranjang. Alisnya berkerut saat melihat ekspresi Lian yang terlalu tenang, terlalu diam.

“Dok,” ucapnya, “bagaimana kondisi istri saya?”

Dokter wanita itu melirik Lian sejenak.

Tatapan mereka bertemu.

Dan Lian menggeleng pelan.

Sangat pelan.

Permintaan tanpa suara.

Dokter menghela napas pendek, lalu memilih kata-kata paling aman.

“Kondisi janin… untuk saat ini baik.”

Haikal langsung menatap Lian.

“Dengar?” katanya, ada senyum kecil yang nyaris runtuh di wajahnya.

“Anak kita baik-baik saja.”

Lian tersenyum.

Tipis. Terlalu tipis.

“Iya, Mas,” jawabnya lembut.

“Anak kita kuat.”

Jantungnya berdebar lebih keras—seolah memprotes kebohongan itu.

Lian menelan rasa nyeri yang tiba-tiba menjalar dari dada ke punggungnya.

Haikal menggenggam tangannya.

“Kalau kamu capek, bilang,” katanya pelan.

“Kalau ada apa-apa, bilang ke aku.”

Lian mengangguk.

Padahal…

ada begitu banyak hal yang tak bisa ia katakan.

Dokter melanjutkan dengan nada netral.

“Hanya perlu lebih banyak istirahat. Kurangi aktivitas berat. Jangan stres.”

“Siap, Dok,” jawab Haikal cepat.

“Saya yang akan jaga.”

Lian tersenyum lagi.

Kali ini bukan karena bahagia.

Tapi karena ia tahu—

jika Haikal tahu kebenarannya, pria itu akan:

mengabaikan tugas

menantang atasan

bahkan memilih kehilangan karier demi dirinya

Dan Lian tidak mau menjadi alasan itu.

Haikal membantu Lian duduk. Saat ia berdiri, dunia Lian sedikit berputar, tapi ia menahannya dengan senyum yang tetap terjaga.

“Mas,” katanya pelan,

“jangan khawatir berlebihan. Aku baik-baik saja.”

Haikal menatapnya lama.

Tatapan seorang tentara yang terbiasa membaca bahaya.

Tapi kali ini… ia percaya.

Karena yang berdiri di depannya adalah istrinya.

Orang yang paling ia percaya di dunia.

Di balik punggung Haikal, Lian menutup mata sejenak.

Tangannya kembali ke perutnya, lalu naik sedikit ke dada kirinya—menekan ringan, seolah menenangkan jantung yang berdebar tidak beraturan.

Dalam hati ia berbisik:

> Kalau harus memilih…

biarlah aku yang menanggung risikonya.

Asal anak ini lahir…

dan Haikal tidak hancur karenanya.

Di luar ruangan itu, Haikal menggenggam tangan istrinya erat.

Tak tahu…

bahwa wanita yang ia jaga mati-matian

sedang menyembunyikan taruhan nyawanya sendiri.

 

Lian menatap wajah suaminya lama.

Wajah itu—yang biasanya keras, dingin, dan selalu waspada—kini terlihat berbeda. Ada cahaya kecil di matanya. Hangat. Gugup. Bahagia dengan cara yang tidak pernah Haikal tunjukkan di medan mana pun.

Seorang calon ayah.

Dada Lian menghangat, bercampur nyeri yang samar namun ia abaikan.

Tangannya bergerak pelan, meremas perutnya lembut, penuh kehati-hatian, seolah di sana ada sesuatu yang rapuh sekaligus paling berharga di dunia. Bibirnya tersenyum—senyum yang tulus, tanpa kebohongan, tanpa topeng.

“Lihat dia, Mas,” ucap Lian pelan, nyaris berbisik.

“Dia bikin kamu keliatan… bahagia banget.”

Haikal terdiam. Lalu tersenyum kecil, canggung. Tangannya ikut menutup tangan Lian di atas perut itu.

“Aku nggak pernah nyangka,” katanya lirih,

“aku bisa pengen pulang secepat ini hanya karena pengen lihat kalian.”

Kata kalian membuat jantung Lian bergetar—keras, tidak beraturan. Ia menarik napas perlahan, menahannya, lalu mengembuskannya dengan senyum yang tetap terjaga.

Dalam hati, Lian berbisik:

> Nak…

Ayahmu sebaik ini.

Jadi kamu harus kuat, ya.

Ia tidak meminta hidup panjang.

Ia tidak meminta mukjizat.

Yang ia minta hanya satu—

biarkan Haikal menjadi ayah yang utuh, walau mungkin tanpa dirinya.

Namun senyum di wajah Lian tetap cerah.

Karena untuk saat ini,

ia bahagia.

1
panjul man09
ibu berpikiran apa itu, menikahkan anaknya hanya 2 orang saksi tidak undang tetangga adakan syukuran kek, ibu pelit emang lian hamil? sampe nikah sembunyi2 ,haikal jg mau aja dia ikutim maunya bu maya.
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 semangat lian
dyah EkaPratiwi
semoga keduanya selamat
munaroh
nanti tak cobane, rujak bertabur keju. wes kemecer dhisik 🤤
munaroh
good job Lian👏
munaroh
🤣🤣🤣. begitulah pas nikah di hari-hari pertama, banyak kejutan😭
Nyai Nung: sifat yang berlawanan 🤣🤭
total 1 replies
munaroh
🤣🤣🤣 ada ada aja dah😆
munaroh
cie cie, pesonanya abang ga bisa ditolak ya lian🤣
Nyai Nung: banget beb, rasanya jantungku mau copot 🤭🤣
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
pecemburu sekali pak haikal
Nyai Nung: Sejuta sekali🤭
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
Nyai Nung: Siap bos, ditunggu ya👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!