NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 : Cerita palsu dan sebuah cincin

Pagi itu Alena dan Arinta masih berada dalam satu meja makan seperti biasa. Keduanya duduk bersebelahan tanpa saling bertukar kata atau pun tatap. Alena fokus dengan makanannya, pun Arinta. Sementara Alena bermain bersama Bi Yani di bawah. Ia duduk sambil bermain boneka dan sesekali disuapi.

Namun, keheningan keduanya tak berlangsung lama. Alena yang memecah kebisuan terlebih dahulu dengan satu hentakan sendok di atas piring sampai berdenting membuat Yani, bahkan Arinta agak terkejut.

"Siapa perempuan itu?" Ujarnya tajam menatap ke arah Arinta. Dia sudah tak bisa menahan kegundahan hati. Gambar foto itu terus-menerus membayangi pikirannya.

"Kamu masih menuduh aku selingkuh?" Balas Arinta mendengus. Napasnya terdengar kasar.

"Jangan bohong kamu, aku tau semuanya!" Jawab Alena dengan sebuah klaim yang membuat Arinta sedikit merasa gugup dalam hati.

Apa maksud Alena? Apa dia tau hubungan aku sama Melinda? Tapi dia tau darimana?

"Aku ga ngerti maksud kamu," ucap Arinta dan dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke makanan sambil berpura-pura serah sedang menikmati sarapan, padahal hatinya telah dilanda kekhawatiran kalau rahasianya terbongkar.

"Kamu masih bisa bilang, "gak ngerti"? Nada suara wanita itu kembali meninggi satu oktaf. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit.

Arinta tak menjawab atau pun menatap balik sang istri. Ia hanya berdalih memandang makanan seolah tak peduli seperti telah tuli.

Sikapnya yang seakan ingin menghindari masalah membuat Alena semakin kesal. Wanita itu mencoba mencari napasnya dalam-dalam sebelum kembali berkata....

"Kamu mau jujur sama aku, atau aku sendiri yang tunjukkan ke kamu? Tinggal pilih." Alena dengan tegas langsung memberikan dua pilihan.

Arinta akhirnya menatap wajah Alena yang terlihat sudah begitu marah, kecewa dan sakit hati. Semua itu dapat langsung terpancar di wajahnya sekaligus.

"Terserah mau kamu sajalah...," jawab Arinta masih bersikap cuek. Dalam pikirannya Alena gak mungkin bisa tau, dan dia terlalu percaya diri akan itu.

"Baik, akan aku tunjukkan...," jawab Alena mantap. "Bi, tolong bawa Alea makan di luar dulu," ujarnya dengan serius yang kemudian ia segera berdiri dari kursi makan.

"I-iya Bu...!" Yani yang memahami situasinya tanpa berlama-lama menggendong Alea serta membawa beberapa mainan gadis itu keluar rumah dengan langkah cepat dan tergesa.

Alena menatap tajam ke arah luar. Setelah memastikan Yani telah membawa Alea pergi, ia pun kembali memandang Arinta yang terlihat santai menikmati sarapannya sambil minum kopi.

"Kamu tunggu sini, akan aku ambil bukti itu," ujarnya dingin.

Ia pun bergegas menuju ke kamar Alea, mengambil ponsel yang masih terletak di atas laci kecil sang anak, lalu berjalan kembali keluar dengan emosi yang masih terbendung.

Namun, begitu sampai di hadapan Arinta, dia segera menunjukkan foto yang masuk ke dalam nomornya.

"Ini apa? Kamu masih mau menyangkal!?" Napasnya sudah memburu. Arinta yang melihat foto itu sontak terkejut dan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan kasar hingga airnya muncrat ke atas mengotori meja

Kok dia bisa punya foto itu? Siapa yang kirim?

Arinta memicing berusaha melihat nomor pengirim yang tertulis di atas tapi Alena cepat-cepat menjauhkan ponsel dari Arinta dan memasukkannya ke dalam saku gamis.

"Itu yang kamu sebut cuma teman?" Alena menyentil tajam.

Tapi Arinta masih saja bisa mencari alasan di tengah kepanikannya. "Oke, aku jelasin pelan ke kamu, tapi tolong jangan langsung menuduh atau emosi dulu." Arinta berusaha menenangkan Alena supaya wanita itu tidak meledak-ledak. Ia berdiri mencoba mendekati Alena yang langsung ditepis.

"Tolong duduk dulu," ujarnya kepada Alena.

Keduanya terdiam untuk sesaat. Arinta tak langsung berbicara, dan Alena mencoba tenang lalu perlahan duduk kembali agar suasana tidak semakin memanas dan lebih kondusif untuk Arinta menjelaskan.

"Dia teman kantor aku, orang yang sama makan bareng aku kemarin," ucap Arinta memulai cerita dari penjelasan kecil dulu. "Soal foto itu, ya aku memang pergi ke mall itu dan aku gak sengaja ketemu sama dia," lanjutnya.

"Gak sengaja? Kalian justru keliatan kayak orang yang habis janjian untuk ketemu di mall dan keluar dengan MESRA!" Alena memotong dengan cepat karena foto itu terlalu jelas menggambarkan kemesraan.

"Makanya kamu dengerin aku dulu!" Balas Arinta masih mencoba untuk memberi penjelasan.

"Aku gak tau kamu dapat foto itu dari siapa tapi yang jelas orang itu sengaja ingin bikin kita bertengkar." Arinta tampaknya berusaha untuk melakukan framing ke orang lain, memutar-balikkan kebenaran.

"Apa maksudmu? Bukankah foto itu sudah jelas?" Alena mengerutkan kening, menatap curiga.

"Foto itu jelas cuma menunjukkan sisi saat aku menolong teman aku itu!" Ucap Arinta yang di dalam otaknya sudah berhasil merangkai suatu kebohongan.

"Menolong...?" Sebuah rasa ingin tau muncul pas Alena. Emosinya seakan teralihkan.

"Waktu aku keluar mall turun tangga, kami memang jalan bareng, tapi saat itu Melinda terpeleset. Hal sepatunya licin menginjak pinggiran tangga, dia hampir jatuh, aku reflek memegang belakang tubuhnya dan dia reflek pegang pinggang aku, dan entah bagaimana caranya ada orang yang memotret kami dalam pose yang begitu presisi sehingga kami terlihat seperti rangkulan," ujarnya menjelaskan semua cerita penuh kebohongan itu kepada Alena dengan cara yang licik.

Akal-akalan Arinta saat mengelak dan membuat alasan benar-benar juara. Ia bahkan berhasil membuat Alena bimbang sekarang.

Ia seperti sedang mencerna semua penjelasan dari Arinta yang sebenarnya cukup masuk akal. Ia melirik ke wajah suaminya seolah sedang berusaha menyelidiki lewat tatapan mata.

"Pertanyaan terakhir, kenapa kamu bisa ada di mall itu? Untuk apa?" Ucapnya sebagai penegasan terakhir.

"Ada sesuatu yang aku beli, buat kamu," jawab Arinta dengan jujur kali ini. "Tunggu sebentar...," lanjutnya yang kemudian ia beranjak pergi menuju ke kamar.

Tak berapa lama pria itu kembali ke ruang makan sambil membawa sebuah kotak cincin dan kertas kecil yang keduanya ia letakkan di atas meja.

"Aku beli itu buat kamu, dan rencananya mau aku kasih besok buat ulang tahun pernikahan kita...," ucapnya menarik napas pelan.

Alena mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya ada sebuah cincin sederhana dengan ukuran khusus berwarna emas, sederhana namun elegan. Ada logo cartier tertulis pada cincin yang menandakan itu cincin mahal.

Kemudian ia mengambil struk belanja itu dan melihat harga di sana tertulis Rp. 20.000.000,-

Melihat harga semahal itu Alena pun langsung protes. "Ini terlalu mahal," ujarnya seperti tak berkenan lalu sedikit mendorong kotak cincin itu darinya.

"Jangan ditolak, Len...," ucap Arinta setengah memohon. "Dulu, aku pernah janji sama kamu, kalau suatu saat nanti jabatan aku naik di posisi bagus, aku bakal belikan kamu satu perhiasan mewah sebagai bukti keberhasilan aku sama kamu..., jadi tolong kamu simpan...." Arinta mengambil kotak cincin itu dan memberikannya langsung ke tangan Alena.

"Tapi aku gak pernah mau barang seperti ini, aku lebih suka kamu investasikan untuk masa depan Alea...," balas Alena yang mungkin merasa tindakan Arinta berlebihan. "Kamu juga beli ini gak bilang aku dulu...," lanjutnya yang justru terlihat kecewa dengan apa yang diberikan oleh Arinta.

"Hah...." Pria itu menarik napasnya dalam-dalam sembari memijit kening. "Yah, aku minta maaf gak bilang, karena aku tau kamu pasti bakal menolak pemberian semahal itu...," ungkapnya yang memang sengaja gak ijin.

"Jelas saja, ini pemborosan!" Sahut Alena dengan cepat.

"Sekarang terserah kamu aja, mau kamu simpan gak apa-apa, kamu pakai itu lebih bagus, tapi kalau mau kamu kembalikan ke tokonya juga bisa, aku ada kertas garansi pengembaliannya, kamu tinggal pilih...." Arinta hanya bisa mengangkat bahu pasrah. "Sekarang aku berangkat kerja dulu ya...." Pria itu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Alena terdiam bingung kenapa sikap Arinta seolah lelah dan kecewa padanya hanya karena sebuah pemberian yang tak bisa ia terima...?

Lalu, apakah benar foto yang terkirim itu hanya sebuah salah paham? Entah kenapa Alena masih belum merasa tenang. Masih ada kejanggalan yang ia rasakan entah apa....

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!