"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELINDUNG DARAH ABADI
Mereka adalah si kembar empat yang sudah remaja, Oliver, Liam, Noah, dan si bungsu perempuan, Zara.
Keempatnya berdiri mematung, dengan air mata sudah membasahi pipi Zara, sementara Liam dan Noah hanya bisa terdiam dengan tangan mengepal. Namun, yang paling terpukul adalah Oliver.
Oliver, sang pemilik mata ungu yang legendaris, menatap Leo dengan pandangan yang sangat hancur.
Cahaya ungu di matanya meredup, memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Jadi, itu alasannya?" tanya Oliver, dengan suara bergetar.
"Alasan kenapa Kak Leo tidak bisa berubah menjadi serigala? Alasan kenapa Kak Leo selalu sakit setiap kali aku mengeluarkan energiku?" tanya Oliver, mengepalkan tangannya kuat.
"Oliver, tidak, jangan berpikir begitu," ucap Jasmine berusaha mendekat, namun Oliver mundur satu langkah.
"Ibu pernah bilang, Kak Leo adalah pahlawanku sejak dalam kandungan, tapi Ibu tidak pernah bilang kalau aku adalah pencuri!" teriak Oliver frustrasi.
"Aku mencuri masa depan Kak Leo! Aku mencuri jiwa serigalanya!" teriak Oliver, dengan air mata yang membasahi wajah nya.
Leo, yang melihat adiknya mulai menyalahkan diri sendiri, langsung melangkah maju, dia tidak peduli dengan rasa pening di kepalanya.
"Lihat aku, Oliver! Tatap mataku," ucap Leo, memegang kedua bahu Oliver dengan kuat.
Oliver mendongak, matanya yang ungu bertemu dengan mata cokelat Leo yang kini memiliki semburat perak di tepiannya.
"Ini bukan salah mu! Dan tidak akan pernah menjadi salahmu!" ucap Leo tegas.
"Aku melakukannya karena aku menyayangimu, aku ingin kamu lahir, aku ingin kamu melihat dunia!" ucap Leo, tersenyum tulus.
"Dan lihat dirimu sekarang, kamu adalah kebanggaan klan kita! Kamu punya mata ungu yang agung!" lanjut Leo, bangga.
"Tapi Kakak jadi tidak murni lagi! Kakak harus terikat dengan vampir itu karena aku!" ucap Oliver, terisak.
Leo tersenyum, senyum nakal khas Leo yang sudah lama tidak terlihat.
Tuk
Leo menjentik dahi Oliver pelan.
"Bodoh! Kau pikir menjadi serigala biasa itu keren? Sekarang aku punya kekuatan vampir, aku bisa bergerak lebih cepat darimu, dan aku punya penyembuhan yang sangat cepat, aku ini spesial, Oliver, aku adalah versi terbaru dari kalian semua," ucap Leo, menepuk dada nya bangga.
Meskipun Leo bercanda, Liam dan Noah mendekat, memeluk kakak kedua mereka itu dari belakang.
"Apapun yang terjadi, Kak Leo tetap kakak kami," ucap Liam pelan.
"Darah vampir atau bukan, kamu tetap Alistair," sambung Noah.
Zara, si bungsu, menghambur memeluk pinggang Leo sambil menangis tersedu-sedu.
"Jangan pergi lama-lama, Kak, siapa yang akan menjagaku kalau Kak Lucian sibuk dengan prajurit nya?" ucap Zara, manja.
"Dengarkan aku, kalian berempat, jaga Ayah dan Ibu! Jaga kediaman ini! Aku pergi bukan untuk dibuang, tapi untuk menuntaskan takdirku!" ucap Leo mengusap rambut Zara dengan lembut, lalu menatap adik-adiknya satu per satu.
Lucas mendekat, berdiri di belakang anak-anaknya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia meletakkan tangannya di bahu Oliver dan Leo secara bersamaan.
"Kalian adalah satu darah," ucap Lucas dengan suara berat yang penuh wibawa.
"Oliver, jangan biarkan pengorbanan kakakmu menjadi beban, tapi jadikan itu kekuatan untuk melindungi apa yang dia sayangi di sini. Dan Leo..." ucap Lucas, menjeda ucapan nya.
"Kembalilah sebagai pemenang, jangan biarkan darah Arion mengendalikan mu, tapi kendalikan lah darah itu," lanjut Lucas, Lucas menatap Leo dengan tatapan seorang pria kepada pria lainnya.
Leo mengangguk mantap, dia melepaskan pelukan adik-adiknya, mengambil jubah hitam tebal yang biasa dia gunakan untuk menghalau matahari, dan mengenakannya.
"Aku berangkat sekarang," ucap Leo, dingin.
Saat dia berjalan melewati ambang pintu, dia sempat menoleh ke arah Oliver yang masih sesenggukan.
"Oliver, mata ungu itu diberikan padamu bukan untuk menangis, gunakan itu untuk menjaga Ibu selagi aku pergi," pesan Leo, sebelum pergi.
Dengan satu lompatan yang sangat cepat, kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh mata serigala biasa, Leo menghilang dari koridor, meninggalkan kehangatan keluarga Alistair menuju kegelapan hutan utara yang menantinya.
Sementara itu di waktu yang sama, ditempat yang berbeda, di wilayah utara yang selalu diselimuti salju abadi, suasana sangat mencekam.
Suara gesekan pedang dan ledakkan kekuatan memecah keheningan malam yang dingin.
TRANG
TRANG
DUARRRRRR
Sesosok gadis dengan rambut hitam legam yang berkibar tertiup angin tampak bergerak lincah di antara pepohonan.
Gadis yang memiliki gerakan secepat angin itu adalah Aurora Zuhaimi, putri mahkota Kerajaan Vampir.
TRANG
BRAKKK
"Aaaaaaaaaaakkkkkhhhhhh!"
"Hanya segini kemampuan kalian, para pengkhianat?" suara Aurora terdengar dingin dan tajam, persis seperti pedang perak yang digenggamnya.
Tiga prajurit vampir dari faksi pemberontak mengepungnya, mereka adalah vampir murni yang bertubuh besar, namun gerakan Aurora jauh lebih tak terduga.
BRAK
Dengan satu putaran tubuh yang sangat cepat, Aurora menghindari tebasan kapak salah satu lawan.
Aurora tidak hanya menggunakan kekuatan vampir, tetapi juga teknik bela diri yang mematikan, teknik yang dulunya dimiliki oleh sang nenek moyang, Ratu Ivara.
"Dia bukan vampir biasa! Gerakannya, seperti sang legenda terlatih!" teriak salah satu pengejar dengan napas tersengal.
Aurora tersenyum miring. Matanya berkilat perak terang di bawah sinar bulan. "Darah manusia di nadiku bukan kelemahan. Itu adalah warisan dari sang Ratu yang bisa meruntuhkan kerajaan hanya dengan tangan kosong."
DUAR
Aurora menjejakkan kakinya ke tanah, melesat maju seperti peluru.
Dalam sekejap, dia sudah berada di belakang lawan pertamanya, dengan gerakan yang sangat terlatih, dia menghantam titik saraf di tengkuk lawan tersebut hingga pingsan, lalu menggunakan kaki lawan itu sebagai tumpuan untuk melompat tinggi dan menendang dada lawan kedua hingga terpental menabrak pohon pinus.
BRAKKKKKKK
DUARR
Napas Aurora tetap teratur, dia berdiri tegak, menyeka setetes darah yang menciprat ke pipi pucat nya, meskipun dia tangguh, dia tahu jumlah musuh kali ini tidak sedikit.
Aurora tahu bahwa ada puluhan prajurit lain yang sedang mengepung hutan ini.
"Ayah bilang dia mengirimkan pelindung untukku," gumam Aurora sambil menatap liontin perak dengan inisial 'A' yang melingkar di pergelangan tangannya.
Liontin itu mendadak berdenyut hangat, memberikan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan.
"Aku tidak butuh pelindung, aku bisa mengatasi ini sendiri," lanjut Aurora ketus.
Tiba-tiba, telinga tajam Aurora menangkap suara desas-desus di kejauhan.
Bukan suara langkah kaki vampir yang berat, melainkan sesuatu yang bergerak dengan kecepatan luar biasa, membelah semak belukar dari arah selatan.
Bau hutan pinus yang segar, bau serigala, namun bercampur dengan aroma dingin yang akrab dengan rasnya sendiri, mulai tercium oleh indra penciuman Aurora yang sensitif.
"Bau apa ini? Serigala? Tapi kenapa terasa begitu hangat?" batin Aurora, memegang dada nya.
Aurora tidak ingin terkecoh, dai tetap waspada, menggenggam pedangnya lebih erat, memasang posisi kuda-kuda bertarung.
Aurora tidak tahu bahwa di balik kegelapan hutan itu, Leo Alistair sedang berlari kencang menuju posisinya, ditarik oleh ikatan darah yang tidak bisa diputus oleh apa pun.