Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Badah Menuju Sekolah
Pagi datang lebih pelan dari biasanya. Hujan rintik-rintik turun sejak subuh, membuat udara dingin dan jalanan kampung basah berkilau. Aku terbangun saat Kak Rita mengoyang-goyangkan badanku pelan.
“Sudah bangun? Ayo ke dapur, bantu ibu bikin kue,”
ucapnya sambil menarik tanganku.
Aku mengusap mata yang masih berat lalu bangkit dari tikar. Seperti biasa, sebelum subuh rumah kami sudah ramai. Dapur kecil kembali dipenuhi suara wajan, adonan yang diaduk, dan api kompor yang menyala. Ibu berdiri di depan tungku, wajahnya lelah, tetapi tangannya tak pernah berhenti bekerja.
Setiap pagi, beginilah hidup kami. Membuat gorengan dan kue, lalu menjajakannya sebelum berangkat sekolah. Rutinitas itu sudah kujalani sejak aku berusia tujuh tahun. Hari demi hari terasa sama, dan aku tahu, kebiasaan ini akan terus menemaniku hingga aku tumbuh lebih besar.
Pagi ini hujan hanya rintik-rintik. Aku mengenakan mantel hujan dari plastik tipis buatan tangan ibu.
Jahitannya tidak rapi, tapi cukup melindungi tubuhku dari air hujan. Mantel itu dingin menempel di kulit, seolah menyatu dengan rasa malas yang diam-diam muncul di dadaku.
Sejujurnya, aku enggan berkeliling kampung pagi ini. Tubuhku masih lelah. Namun aku tahu, jika aku dan Bang Randi tidak berjualan, kami tidak tahu harus makan apa hari ini. Ayah hanya mengirim uang sekadarnya—cukup untuk bertahan, tidak lebih. Kakak-kakakku yang merantau bersama ayah pun hampir tak pernah memberi kabar, apalagi kiriman.
Aku menatap ibu yang sibuk di dapur. Dari sanalah aku mengerti—malas bukan pilihan. Hujan bukan alasan.
Di rumah ini, hidup harus tetap berjalan, meski dengan langkah yang basah dan lelah.
Aku menghela napas panjang, lalu mengambil plastik gorengan itu. Aku siap berangkat.
Kami melangkah keluar rumah saat langit masih kelabu.
Jalan kampung masih sepi. Genangan air memantulkan cahaya lampu, membuat langkah kami harus ekstra hati-hati. Mantel plastikku berderik setiap kali aku bergerak. Di tanganku, plastik gorengan terasa hangat, uapnya perlahan naik bercampur udara pagi yang dingin.
“Gorengan… gorengan…” panggil Bang Randi.
Suaranya tenggelam oleh hujan. Kami berhenti di depan rumah pertama—tak ada jawaban. Di rumah kedua, jendela terbuka sedikit. Seorang ibu mengintip, lalu menggeleng pelan. Aku menelan ludah dan melanjutkan langkah.
Di pertigaan kampung, hujan turun lebih deras. Kami berteduh di bawah pohon mangga. Air hujan menetes dari ujung daun, jatuh tepat di ujung sepatuku. Tanganku mulai dingin, meski plastik gorengan masih hangat.
“Kalau hujan begini, susah laku,” gumamku lirih.
Bang Randi tak menjawab. Ia hanya menatap jalan di depan kami, seolah sedang menghitung waktu.
Kami kembali berjalan. Di sebuah rumah kayu tua, pintu terbuka. Seorang nenek keluar sambil memeluk selendang.
“Gorengannya ada?” tanyanya.
“Ada, Nek,” jawabku cepat, suaraku sedikit bergetar.
Nenek itu membeli dua. Uang yang diberikannya terasa dingin dan basah di telapak tanganku. Namun dadaku menghangat. Itu gorengan pertama pagi ini.
Tak lama kemudian, beberapa pintu lain ikut terbuka. Tidak banyak yang membeli—ada yang satu, ada yang dua, ada pula yang hanya melihat lalu masuk kembali.
Setiap kali plastik gorengan berkurang, aku menghitungnya dalam hati, berharap cukup untuk hari ini.
Hujan mulai reda saat kami sampai di ujung kampung. Plastik gorengan terasa lebih ringan, meski masih tersisa. Kakiku pegal, bahuku berat, tetapi aku bertahan. Sejak kecil aku belajar, berhenti bukan pilihan selama kaki masih bisa melangkah.
Saat kami berbalik pulang, aku menoleh ke langit yang mulai terang. Di balik awan kelabu, pagi perlahan membuka diri.
Sesampainya di rumah, ibu sudah menunggu di dapur.
“Gimana?” tanyanya pelan.
“Lumayan, Bu,” jawab Bang Randi. Aku ikut mengangguk kecil.
Ibu menghitung sisa gorengan, lalu tersenyum tipis. Ia menyodorkan segelas teh hangat dan sepotong gorengan.
“Makan dulu. Nanti telat sekolah.”
Kami berangkat dengan sepatu yang masih lembap. Bel sekolah terdengar samar dari kejauhan. Napasku terengah saat memasuki gerbang, tetapi aku tetap melangkah.
Aku duduk di bangku paling pinggir seperti biasa. Tubuhku lelah, perutku masih lapar, tapi aku membuka buku dan mencoba fokus. Di sela pelajaran, Sari menoleh dan menawarkan roti untuk dibagi.
Aku tersenyum kecil.
Di bangku itu, aku mengerti satu hal: sekolah bukan hanya tentang belajar membaca dan menulis, tetapi tentang bertahan—meski datang dengan tubuh basah dan hati yang lelah.
Hari ini, setelah hujan dan gorengan, aku kembali memilih untuk tidak menyerah.