Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di kediaman Adytama, suasana sudah riuh sejak pukul enam pagi. Bianca Adytama sibuk mematut diri di depan cermin besar, mengenakan setelan tweed berwarna pastel koleksi terbaru. Ia menyemprotkan parfum berkali-kali seolah sedang bersiap untuk kencan pertama, bukan untuk magang.
"Rio! Cepat siapkan mobil! Aku tidak mau terlambat sedetik pun. Hari ini Mas Raditya pasti akan memberikan kejutan untukku!" teriak Bianca dari lantai atas.
Raditya, yang sudah berdiri di halaman samping, hanya menarik napas panjang. Ia melirik jam tangan sederhananya. Di balik ketenangannya sebagai Rio, ia baru saja selesai mengirimkan pesan singkat kepada Bram: “Beri dia kejutan yang sesungguhnya. Pindahkan semua arsip sepuluh tahun terakhir ke gudang B3. Biarkan si manja itu mencicipi debu.”
**
Setibanya di Mahardika Tower, Bianca turun dengan gaya angkuh, menyerahkan tasnya yang berat kepada Rio untuk dibawakan sampai pintu lobi. Namun, kegembiraannya sirna saat ia melapor di bagian resepsionis.
"Nona Bianca Adytama? Sesuai instruksi khusus dari kantor CEO, posisi magang Anda dipindahkan ke Departemen Arsip Strategis di lantai B3," ucap staf tersebut tanpa senyum.
"Apa?! B3? Itu kan di ruang bawah tanah dekat parkiran motor!" pekik Bianca.
Namun, ia teringat kata-kata Rio kemarin sore. Mungkin ini ujian. Dengan sisa-sisa kesombongan, ia melangkah menuju lift barang. Di sana, ia disambut oleh tumpukan boks cokelat yang menggunung. Ruangan itu pengap, remang-remang, dan aroma kertas tua yang asam menusuk hidung.
"Ini tugasmu hari ini. Rapikan dokumen dari tahun 2015 sampai 2025. Semuanya harus didata ulang di sistem," ucap seorang supervisor pria paruh baya yang tampak galak—pria yang sudah dipesan oleh Bram untuk tidak memberi ampun pada Bianca.
Saat Bianca baru saja menyentuh salah satu boks, seekor kecoa besar merayap keluar dari celah kertas.
"KYAAAAA! KECOA! MATI AKU!" Bianca melompat ke atas kursi kayu tua, wajahnya pucat pasi. Air matanya hampir tumpah.
Namun, di tengah ketakutannya, ia bergumam sendiri, "Tidak, Bianca. Tenang. Mas Raditya pasti sedang melihatmu lewat CCTV. Dia mau tahu apakah calon istrinya ini pemberani atau tidak. Ini bukan sekadar kecoa... ini adalah tes mental!"
Ia mengambil penggaris besi, mencoba mengusir serangga itu dengan tangan gemetar. Ia mulai membuka dokumen-dokumen berdebu itu, berhalusinasi bahwa Raditya Mahardika sedang tersenyum bangga melihat dedikasinya dari ruang kantor yang mewah di atas sana.
Di tempat lain, Kirana Adytama merasa tubuhnya sudah jauh lebih segar. Ia tidak bisa diam saja di rumah. Rasa penasaran dan tanggung jawab moralnya untuk berterima kasih kepada Raditya Mahardika begitu besar. Mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan celana kulot hitam elegan, Kirana berangkat menuju Mahardika Tower menggunakan taksi, tidak ingin merepotkan Rio yang sedang mengantar Bianca.
Saat Kirana memasuki lobi Mahardika Tower yang megah, ia justru berpapasan dengan Bianca yang kebetulan sedang keluar untuk mengambil botol minum di area lobi bawah. Penampilan Bianca sudah berantakan; rambutnya yang tadi rapi kini ditutupi noda debu, dan sudut matanya memerah.
"Mbak Kirana? Sedang apa Mbak di sini?" tanya Bianca dengan nada bicara yang masih berusaha sombong, meski ia tampak kelelahan.
"Mbak mau bertemu Pak Raditya, ingin berterima kasih secara langsung," jawab Kirana tenang.
Bianca tertawa mengejek, "Duh, Mbak. Pak Raditya itu sibuk sekali. Dia sedang memantauku bekerja. Dia memberiku tugas 'khusus' yang sangat rahasia dan penting karena dia mempercayai calon istrinya ini. Mbak jangan mengganggu deh."
Lalu, Bianca menunjuk ke arah parkiran luar melalui dinding kaca. "Lihat itu supirmu, si Rio. Dia cuma bisa menunggu di sana seperti anjing yang setia di bawah panas matahari. Kasihan ya, selevel Mbak Kirana cuma punya supir seperti itu, sementara aku punya calon suami penguasa gedung ini."
Kirana melihat ke arah parkiran. Hatinya mencelos melihat Rio yang berdiri di samping mobil, tampak kepanasan. Ada rasa sesak dan tidak nyaman di dada Kirana. Kenapa Bianca begitu kasar pada Mas Rio? Padahal Mas Rio sangat baik, batinnya.
Kirana memutuskan untuk menghampiri Rio sebentar sebelum naik ke lantai atas. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sesuatu yang ganjil.
Dari balik pilar besar, Kirana melihat Rio sedang berbicara dengan Kepala Keamanan Mahardika Tower—seorang pria bertubuh tegap dengan seragam lengkap yang biasanya sangat ditakuti. Namun, pemandangan itu sangat aneh. Kepala Keamanan itu tampak membungkuk hormat, berbicara dengan nada yang sangat sopan, sementara Rio—supirnya—berbicara dengan nada memerintah, tangan kirinya dimasukkan ke saku celana kargo dengan gaya yang sangat dominan.
"Mas Rio?" gumam Kirana.
Saat Rio menyadari kehadiran Kirana, ia segera merubah postur tubuhnya. Dalam sekejap, aura dominannya hilang, berganti dengan senyum kikuk khas seorang supir.
"Eh, Mbak Kirana? Sudah sampai di sini?" tanya Rio, suaranya kembali lembut.
Kirana menatap Rio dengan penuh selidik. "Mas Rio sedang bicara apa tadi sama Kepala Keamanan? Sepertinya kalian sangat akrab?"
Rio tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "O-oh, itu Mbak. Saya tadi cuma tanya arah toilet dan minta izin parkir lebih lama. Biasalah, sesama orang lapangan cepat akrabnya."
Kirana masih merasa ada yang tidak beres, tapi ia tidak punya waktu untuk mendebat. "Mas Rio tunggu di sini ya. Kalau haus, beli minum di kafe lobi, pakai uangku saja. Jangan berdiri di panas-panasan begini."
"Terima kasih, Mbak Kirana. Mbak memang sangat baik," jawab Rio dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Kirana menaiki lift menuju lantai VVIP, lantai 30. Saat pintu lift terbuka, ia disambut oleh kemewahan yang luar biasa. Bram, sang asisten pribadi, segera mengenali wajah Kirana dari CCTV yang dipantau Raditya tadi.
"Selamat siang, Nona Kirana Adytama. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bram dengan sikap yang sangat profesional.
"Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan Bapak Raditya Mahardika. Saya ingin mengembalikan kartu namanya dan mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau beberapa hari lalu," ucap Kirana sambil menunjukkan kartu nama hitam elegan itu.
Bram tersenyum simpul. Ia sudah mendapatkan instruksi dari Raditya untuk berbohong. "Mohon maaf sekali, Nona Kirana. Pak Raditya sedang tidak ada di tempat. Beliau baru saja berangkat ke luar kota untuk urusan proyek mendadak. Mungkin beliau baru kembali akhir pekan ini."
Kirana tampak kecewa, namun ia mengerti. "Oh, begitu ya. Sayang sekali."
Kirana kemudian meletakkan sebuah tas kertas kecil yang ia bawa di atas meja resepsionis. "Kalau begitu, tolong sampaikan ini pada beliau. Ini hanya sedikit oleh-oleh khas Surabaya dan surat ucapan terima kasih dari saya. Mohon jangan ditolak."
"Tentu, Nona. Saya akan sampaikan langsung kepada Pak Raditya segera setelah beliau kembali," jawab Bram.
Kirana pun pamit. Saat ia berjalan menuju lift, ia tidak tahu bahwa di balik pintu kaca besar di ujung lorong, Raditya Mahardika sedang berdiri menatapnya. Raditya mengamati punggung Kirana dengan perasaan yang campur aduk.
"Dia datang, Pak," ucap Bram saat masuk ke ruangan Raditya. "Dia meninggalkan bingkisan ini."
Raditya membuka tas kertas itu. Di dalamnya ada kotak berisi Spikoe kuno khas Surabaya yang masih hangat dan sebuah kartu ucapan tulisan tangan yang rapi.
“Terima kasih telah menyelamatkan hidup saya. Semoga kebaikan Anda dibalas oleh Tuhan. — Kirana A.”
Raditya menyentuh tulisan itu. Senyum tulus muncul di wajahnya. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini menerima hadiah, meski ia bisa membeli pabrik roti itu sekaligus jika ia mau.
"Bram," panggil Raditya tanpa mengalihkan pandangan dari bingkisan itu.
"Ya, Pak?"
"Pastikan Bianca tidak keluar dari gudang sebelum jam lima sore. Dan sampaikan pada supervisornya, besok beri dia tugas untuk memindahkan arsip digital ke bentuk fisik secara manual. Aku ingin tahu seberapa lama dia bisa bertahan dengan halusinasinya tentang 'tes cinta' ini."
"Baik, Pak."
Raditya kembali menatap ke arah parkiran bawah melalui jendela besarnya. Ia melihat Kirana keluar dari gedung dan Raditya segera mengambil ponselnya, melepaskan jas mewahnya, dan kembali bersiap menjadi sosok supir yang siap mendengarkan keluh kesah wanita yang mulai memenuhi seluruh pikirannya itu.
**
Saat di dalam mobil perjalanan pulang, Kirana lebih banyak diam. Matanya menatap kancing manset platinum di dalam tasnya yang belum sempat ia tanyakan kepada Rio. Ia juga terus memikirkan bagaimana Kepala Keamanan tadi membungkuk pada Rio.
"Mbak Kirana kenapa diam saja? Pak Raditya-nya tidak mau bertemu ya?" tanya Rio memecah keheningan.
"Beliau sedang ke luar kota, Mas Rio," jawab Kirana pendek. Ia menoleh ke arah Rio. "Mas Rio... menurut Mas, Pak Raditya itu orangnya seperti apa?"
Rio tertegun sejenak. Ia tersenyum tipis sambil terus menatap jalanan. "Mungkin dia cuma pria biasa yang sedang mencoba melakukan hal yang benar, Mbak. Hanya saja, posisinya membuatnya harus memakai banyak topeng."
Kirana mengernyit. Jawaban yang sangat filosofis untuk seorang supir, batinnya. Kecurigaan Kirana mulai tumbuh, perlahan namun pasti. Ia merasa sedang berada di dalam sebuah jaring laba-laba yang rumit, di mana sang CEO dan supirnya mungkin adalah dua sisi dari koin yang sama.
***
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
ak suka karakter kirana anggun, tegas, murah hati bersahaja. ak suka karakter raditya yg punya power, tp anak yg hormat orgtua, tegas, melindungi n sweet dgn perhatian n pengorbanannya pokoknya paket komplit versi ga lebaiii, semangat selalu dtunggu double up nya ya 😍