Pernah denger nggak ada mitos yang bilang kalau dua orang yang wajahnya mirip itu berarti jodoh ? dan itu yang dialami nadin, di hari pertama dia menginjakkan kaki di SMA Garuda dia bertemu dengan pria yang wajahnya mirip dengan nadin namanya Gavin. Sejak saat itu mereka selalu jadi pasangan yang sering mendapatkan "ciye ciye" oleh satu sekolah, Padahal yang sebenarnya Nadin dan Gavin tidak pernah akur sama sekali.
8 Tahun kemudian Nadin mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Nadin yang sangat mencintai uang memiliki misi untuk memacari salah satu petinggi di perusahaan itu. Tapi imajinasi nya akan boss yang tampan dan kaya luntur seketika saat dia mendapati kalau orang yang menerimanya sebagai sekretatis tidak lain adalah Gavin, musuh abadinya.
Dengan seringai jahat gavin berkata " ingat, gue boss lo ! gue gak terima kata tidak !"
Dan sejak saat itu nadin merasa kalau neraka ada di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NONA GINCU MERAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Gavin menatap motor kesayangan nya yang sudah lama tidak dia naiki. Motor Yamaha FZ1 berwarna hitam ini, dulu selalu gavin kendarai saat pria itu merasa galau. Tidak banyak yang tahu kalau gavin sering pergi sendiri mengendarai motor itu saat dia sedang dalam masalah. Karena itu bagi gavin, motor itu memiliki tempat special di hatinya.
Dan hari ini dia berharap motor kesayangan nya ini dapat membantu nya meluluhkan hati si cantik nadin almira queen. Karena itu, sejak pagi gavin membersihkan sendiri motor kesayangan nya . Sesekali gavin mengajak bicara motor itu mengenai rencana nya meluluhkan hati Nadin. Bahkan lelaki itu sampai merafalkan doa-doa semoga rencana nya kali ini berjalan mulus.
Dengan semangat pejuang kemerdekaan, gavin yang sudah sumringah menatap pantulan diri nya dari kaca spion, dia mengambil jaket kulit dan mengenakan helm berwarna hitam nya. Outfit tempur yang dia yakini mampu nembuat nadin terpesona. Tidak lupa dia semprotkan parfum mahal yang dia beli di Jepang tempo hari, parfum yang dia yakini mampu membuat bidadari seperti nadin lupa diri, ya walaupun tanpa itu nadin sudah jelas terpesona oleh nya. Oke gavin mulai sombong.
Sepanjang perjalanan menuju rumah nadin, sesekali gavin bersiul dan menyapa polisi lalu lintas yang sedang mengatur jalanan. Sepertinya Tuhan benar-benar merestui niat gavin hari ini untuk menjemput nadin. Satu jam yang biasa dia tempuh untuk pergi ke rumah nadin, tapi hari ini cukup menghabiskan waktu 30 menit dan dia sudah duduk manis di atas motor nya sambil menunggu nadin keluar rumah.
Gavin menatap rumah nadin dari luar pagar, membayangkan bagaimana wajah terkejut nadin saat melihat pangeran tampan di depan rumah nya. Pasti nadin akan lompat kegirangan lalu gavin akan dengan senang hati menangkap gadis itu ke dalam pelukan nya. Happy Ending
"pagi nadin "gavin langsung tersenyum saat nadin baru saja menutup pagar rumah , gadis itu nampak cantik dengan outfit nya hari ini, hoel nadin memang selalu cantik bukan.
Nadin tercengang melihat gavin sudah berada di depan rumah nya dan lebih ajaib lagi pria itu tersenyum padanya. Beberapa kali dia mengerjapkan mata nya demi meyakinkan jika apa yang dia lihat bukan lah khayalan nya saja.
"bos ?"
"pagi nadin " gavin kembali mengulang sapaan nya lengkap dengan senyuman lebar yang tidak pernah luntur dari wajah tampan nya.
"jujur deh bos, bos mau pecat saya atau mau buat saya resign duluan ?"
Gavin mengernyitkan dahi, nadin tidak membalas sapaan selamat pagi nya. Wanita itu malah bertanya sesuatu yang gavin tidak pernah fikirkan sebelumnya.
"gue kesini dengan niat baik mau jemput lo . Harusnya lo bersyukur bos lo yang tampan dan ehm kaya ini mau menjemput lo "gavin tersenyum congkak, dia sudah pede kalau nadin pasti akan terpesona dengan kehadiran nya dan penampilan nya hari ini.
"bos salah makan ya ? Atau udah mulai nggak waras. Ah saya tahu sih dari dulu emang kelakuan bos gak pernah waras "
Gavin tersenyum lebar berusaha untuk tidak menanggapi pujian manis yang baru saja nadin lontarkan, walaupun rasanya deretan kalimat yang baru saja nadin ucapkan sedikit membuat nya ingin ngedumel pada gadis itu.
"mendingan kita berangkat deh nad, keburu gue berubah fikiran "gavin memberikan helm yang sejak tadi sudah dia genggam, helm yang semalam dia beli demi melancarkan misi nya pagi ini.
Nadin hanya diam sambil menatap heran pada gavin. Wanita itu bahkan tidak menerima helm yang gavin berikan. Terlalu Aneh bagi nadin melihat kelakuan gavin yang tiba-tiba berubah baik seperti ini.
"nad.. Buruan "nada bicara gavin mulai sedikit meninggi, nadin yang tidak merespon perkataan nya membuat gavin sedikit kesal.
"nadin... "sebuah suara menginterupsi percakapan antara nadin dan gavin, mereka berdua menoleh ke si pemilik suara.
Praditra baru saja keluar dari mobil sport hitam miliknya. Dia berjalan mendekat ke arah nadin dan gavin yang sedang menatapnya. Sumpah serapah mulai di ucapkan gavin dalam hati . Lagi-lagi koki ini menggagalkan rencana gavin untuk mendekati nadin,sial.
"morning koko "nadin langsung menghampiri ditra, tanpa perduli dengan gavin yang sudah kesal setengah mati melihat tingkah wanita itu.
"lo ngapain di sini vin ? Udah beralih profesi jadi ojek online"ditra semakin menyulut api dengan meledek gavin yang sedang memelototi nya.
"sialan lo koki "umpat gavin yang dapat di dengar oleh nadin dan ditra, tapi bukan nya marah ditra malah menertawakan tingkah gavin yang sangat menunjukan kalau lelaki itu cemburu padanya.
Ditra sengaja melingkarkan tangannya di pundak nadin, beruntungnya wanita itu tidak protes ataupun menolak. Akibat kejahilan ditra wajah gavin berubah merah padam menahan amarah yang sebentar lagi meledak. Ingin rasanya gavin menghadiahkan sebuah bogem mentah pada lelaki yang dengan berani nya merangkul pundak nadin, dasar sok akrab gerutu gavin dalam hati.
"yuk nad kita berangkat "ujar ditra sambil berniat berbalik menuju mobilnya.
"let's go koko "jawab nadin dengan wajah yang berbinar.
Gavin yang merasa di abaikan tentu saja tidak terima. Dia yang lebih dulu berdiri di depan pagar rumah nadin, bangun pagi-pagi, dandan super maksimal hanya demi menjemput tuan putri, yang dengan tidak tahu diri nya malah memilih pergi bersama koki ini.
"gue masih bos lo nad, siapa tau lo lupa "gavin mengeluarkan jurus bossy nya, ya setidaknya mungkin dengan cara ini nadin akan nurut padanya.
Nadin melirik ke arah arloji yang melingkar di lengan kirinya, kemudian kembali melihat gavin.
"ini belum jam kerja saya loh bos "jawab nadin dengan santai nya.
Gavin mendengus, wanita ini sangat pintar mengembalikan kata-kata nya. Ada saja perkataan yang bisa membuat gavin mati kutu.
"tapi kan tetap saja, gue duluan yang jemput nadin. Dan lo koki gendut tahu diri lah "gavin mengeluarkan kata-kata pedas, dia berharap ditra masih cukup gentlement.
Nadin maju selangkah ke arah gavin, wanita itu bertolak pinggang sambil melotot padanya. Gavin sampai harus menelan saliva nya sendiri, merasa terintimidasi dengan tatapan nadin yang seolah berkata mau mati lo vin.
"nadin !!!! "gavin memekik saat dia baru saja mendapatkan sebuah hadiah sentilan pedas di dahi dari nadin.
"syukurin, makanya punya mulut jangan asal ngomong "bukan nya minta maaf nadin malah membenarkan perbuatan nya.
Ditra berusaha menahan agar tawa nya tidak keluar. Berada di antara pasangan absurd ini membuat ditra tidak menyesal kembali ke jakarta. Ini menarik sangat menarik, ditra membatin sambil memandang gavin dan nadin yang masih saja berseteru.
"stop stop stop !!! Oke fine gue ngalah. Nad lo berangkat sama gavin aja, gue harus ke cafe masih ada yang harus gue urus "ditra memutuskan untuk mengalah. jika tidak maka perdebatan ini tidak akan ada habis nya sampai ba'da maghrib mungkin.
Nadin mendelik ke arah ditra. "koko... "ujar nadin dengan gaya manja. Gavin yang melihat pemandangan itu langsung mencebikkan bibir, pasangan alay dasar, gerutu gavin dalam hati.
"nanti malem kita dinner, gue janji "ditra mengacak rambut nadin, wanita itu hanya tertawa di perlakukan seperti itu.
"okay "
"gue duluan, awas lo ya macem-macem sama nadin. Gue gak segan-segan cincang lo dengan pisau dapur gue "
Gavin diam saja menanggapi perkataan ditra. Sambil menyerahkan helm yang tadi dia akan serahkan pada nadin, gavin menarik pergelangan tangan wanita itu untuk mengikutinya.
Dengan terpaksa nadin mengambil helm yang di serahkan oleh gavin. Dia naik di jok belakang motor gavin kemudian melambaikan tangan pada ditra, sebelum gavin menginjak gas motor nya dan meninggalkan halaman rumah nadin.
Gavin Christopher
Diam-diam gue melirik nadin dari kaca spion motor gue. Senyam senyum sendiri merasa seperti dunia milik berdua ahay deh. Jangan iri ya kalian para kaum jomblo yang selalu menatap mupeng pada pasangan yang asik bermesraan seperti gue dan nadin ini.
Ya ya ya gue tahu kalian pasti lagi mengumpat dan menghujat gue atas ke jumawah an yang baru saja gue lontarkan. Tapi sayang beribu sayang memang, boro-boro bermesraan rangkul-rangkul manja, peluk-peluk kayak sinetron yang sering di tonton mbok nah pembantu yang biasanya bebersih di apartemen gue.
Realita dan ekspektasi selalu tidak sejalan memang . Gue malah merasa lebih mirip abang ojek online yang ganteng tentu nya. Nadin hanya memegang bahu gue dan di antara kami di halangi oleh tas wanita itu. Rusak sudah image gue sebagai pria yang sedang modus menaklukan hati gadis cantik yang terkadang cerewet bin bawel ini.
Percuma deh parfum mahal yang gue beli di Jepang tempo hari, boro-boro nadin terbuai sama wangi nya sampai lupa diri. Kalau posisi nya begini yang ada cuma aroma asap knalpot yang tercium, bagus nggak ada truck sampah, kalau sampai gue ketemu truck itu habis lah sudah daya pikat parfum yang gue beli seharga Rp.5.000.000 itu.
Tapi kesempatan langka ini tentu gak akan gue sia-siakan. kapan lagi kan bisa naik motor bareng si cantik. Untung jarak antara rumah nadin dan kantor cukup jauh, sengaja aja gue memacu motor gue dengan kecepatan super minim. Biarin aja orang-orang kesel, gue di klaksonin, dan mungkin bisa jadi dimaki-maki. Sengaja aja gue dari tadi nge rem mendadak, membuat wanita di belakang gue ini, memeluk gue tanpa sengaja. Modus yang gue pelajari dari ABG yang sering gue amati di jalan raya.
"gavin lo sengaja ya !"nadin menepuk pundak gue tapi lebih mirip tabokan sih sebenarnya. Nadin ini cantik-cantik tenaga nya udah kayak kuli bangunan, pedes rasanya pundak gue yang baru dia tabok.
"itu tadi ada kucing nyebrang nad "gue ngeles menjawab omongan nadin yang memang fakta.
"alesan ! bilang aja lo modus kan mau peluk-peluk gue. Mesum dasar "nadin makin ngedumel sambil sesekali memukul pundak gue.
"heh bawel. Nggak kebalik ?! Yang ada gue yang merasa di rugikan. Lo peluk-peluk gue, hobi atau emang mupeng nge fans boleh nad, tapi jangan main peluk-peluk dong"ucap gue mencoba membalikkan fakta.
"kampret, terserah apa kata lo vin "gue mau tertawa mendengar nadin mengumpat gue barusan. Lebih baik mendengar umpatan nadin dari pada dia diemin gue seperti kemarin-kemarin.
Kami berdua kembali hening saat gue memberhentikan motor gue di RHK. Suara mba-mba dari speaker mengatakan selamat datang di area RHK, ruang henti khusus sepeda motor.Si mba-mba itu terus berucap membacakan peraturan di RHK, gue hanya mengangguk-anguk mencoba mengerti.
Gue kembali berjalan saat lampu merah sudah berubah manjadi hijau. Ide untuk mengajak nadin sarapan bersama, tiba-tiba melintas di otak gue. Akibat bangun terlalu pagi, gue jadi melewatkan sarapan gue, yang biasanya hanya berupa kopi hitam tanpa gula dan sepotong roti panggang.
Nadin turun dari motor, bisa gue tebak sebentar lagi wanita ini akan mencak-mencak karena gue malah berhenti di Coffee Shop bukan di kantor seperti tujuan awal gue menjemput dia.
"nad kita sara.."
"laper ya vin ?"ucap nadin memotong perkataan gue, gue hanya bisa mengangguk membenarkan pertanyaan nadin.
Tanpa gue duga nadin tersenyum seraya berjalan duluan masuk ke dalam gerai Coffee Shop setelah menyerahkan helm yang tadi dia gunakan.
Gue masih melongo di samping motor gue, sambil menatap punggung nadin yang baru saja menghilang di balik pintu coffee shop. Barusan nadin senyum ? Barusan nadin ngeledek gue ?. Ingin rasanya gue berteriak i love nadin maksudnya i love monday.
Gue menyusul nadin masuk ke dalam gerai coffee shop. Wanita itu sudah duduk cantik di pojok ruangan sambil memainkan ponsel. Gue duduk di depan nadin, sambil bertopang dagu gue menikmati pemandangan di hadapan gue ini.
Entah nadin sadar atau nggak tapi mata gue nggak bisa lepas menatap wajah nadin yang gak tau kenapa hari ini jadi lebih cantik. Kemeja warna hijau tosca yang dia kenakan begitu pas di badan nadin yang proposional. pandangan gue beralih pada sepatu warna nude yang semakin menyempurnakan penampilan nadin hari ini.
"gue tahu gue cantik vin "ucapan nadin membuat imajinasi gue buyar.
"iya nad, lo cantik "jawab gue tanpa sadar, gawat gue keceplosan.
Nadin merogoh ke dalam tas nya mencari sesuatu di dalam sana.
"nyari apa nad ?"
"receh"
"buat apa "
"buat gombalan lo barusan "
Detik berikutnya gue ngakak sengakak ngakak nya. Perkataan nadin tadi ditambah ekspresi polosnya dia, semakin membuat gue gemes mau cium itu bibir yang cipokable. Tahan gavin belum resmi belum halal kalau kata pak ustadz.
"atas nama nadin "suara mas barista membuat tawa gue berhenti.
Nadin berdiri ke arah si mas barista sambil membawa pesanan nya. Setelah mengucapkan terima kasih, nadin kembali dengan membawa nampan yang di atas nya ada dua gelas kopi dan dua potong kue.
" your americano boss " nadin mengangsurkan segelas kopi hitam dan sepotong kue, cocok udah nadin jadi calon istri gue.
"thank you "
Kami berdua menikmati sarapan kami dalam diam. Gue ? Tentu aja gue curi-curi pandang ke wanita cantik di hadapan gue ini. Mo bazir mamen kalau makhluk cantik ini cuma gue pandangin doang. Gue mencoba memikirkan topik apa yang menarik untuk di bicarakan sama nadin, masa iya gue ajakin nadin bergosip secara wanita kan paling suka tuh kalau di ajak gosip, eh tapi nanti nadin mikir gue bences lagi.
"ini punya lo vin "nadin menyerahkan sebuah paperbag yang nampak familiar di mata gue.
"apa ini nad ?"gue menerima paperbag pemberian nadin, setelah gue membuka isinya gue langsung menepuk jidad sendiri. Mati gue kenapa gue bisa lupa, paperbag ini berisi sepatu yang mau gue kasih ke nadin.
Nadin tersenyum pada gue, tapi kali ini gue merasa senyum nya nadin lebih mirip senyum pembunuh bayaran yang mau membunuh target nya, gue langsung merinding dibuatnya.
"lo masih usaha ngejar aurora ? "
Gleg
Susah payah gue menelan saliva gue,entah kenapa pertanyaan nadin terasa horor di telinga gue. Kenapa juga nadin malah membahas aurora, gue mencium bau bau salah faham disini.
"makan dulu nad makan "gue tersenyum sambil mendekatkan nadin pada cake yang belum juga dia sentuh.
Gue Mencoba mengalihkan topik yang bisa memicu pertengkaran gue dan nadin. Duh gusti kenapa susah banget sih buat deket sama nadin ada aja halangan nya. Tadi pagi di ganggu si koki sekarang di ganggu sepatu itu, jadi nanti apa lagi ? .
Nadin memakan cake nya dengan santai, suapan demi suapan sampai akhirnya cake itu tandas tak tersisa.Dia tidak lagi bertanya tentang auora, setidaknya gue pastikan gue aman untuk beberapa jam kedepan.
"yuk ke kantor "
"5 menit lagi nad, gue masih ngantuk "gue tiduran di atas meja dengan bertopang pada kedua tangan gue.
Nadin yang tadinya sudah berdiri kembali duduk di tempatnya. Gue gak bisa baca ekspresi nadin sekarang, dia melihat gue tanpa berkata apapun.
"lo insomnia lagi vin ? Masih minum obat tidur lagi ?"
Gue tidak membantah atau membenarkan pertanyaan nadin. Gue memang masih mengkonsumsi obat tidur dan obat penenang itu. Bahkan dosis nya bertambah seiring dengan tekanan pekerjaan yang akhir-akhir ini nyaris membuat gue gila.
Sekujur badan gue mendadak menegang, saat gue merasakan sebuah tangan mengelus lembut pucak kepala gue. Syaraf-syaraf gue masih shock dan jangan ditanya irama jantung gue yang sudah berdentum seperti suara musik EDM.
Saat ini tepat di pukul 08:00 di hari senin, seorang nadin almira queen mengelus kepala gue dengan lembut super lembut, sampai membuat gue ngantuk. Gue harus mencatat moment berharga ini di buku diary gue harusnya, ah gue berharap ada handphone jadul yang mengabadikan moment manis ini.
"pasti setiap hari kepala lo sakit ya vin karena kurang tidur"nadin masih mengelus puncak kepala gue, ah coba tolong ada yang punya alat pembuat waktu berhenti gue mau pinjem.
Gue menganggukkan kepala, masih dengan posisi kepala yang tiduran di meja sambil bertopang pada tangan.
Nadin menghentikan gerakkan nya, kecewa gue di buatnya, baru juga merasakan enak nya di belai, eh nadin malah berhenti.
"maaf vin "nadin menyandarkan punggung nya di kursi, membuat jarak yang cukup jauh dari gue.
Ingin rasanya gue berkata kenapa berhenti nadin, gue kan masih pengen lo belai-belai sayang kayak tadi.
"kita sudah terlambat bos "nadin beranjak dari bangku nya, berjalan menuju pintu keluar.
"gue bos lo, lupa ?"gue mengikuti nadin keluar dari dalam gerai coffee shop.
Beruntung coffee shop ini letaknya persis di depan kantor gue jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk pergi ke kantor. Cukup dengan berjalan kaki selama 7 menit kami berdua sudah sampai di lobi kantor. Security kantor yang gue kenal dengan nama pak margo menyapa kami saat kami baru saja tiba. Gue menganggukan kepala membalas sapaan dari beliau dan beberapa karyawan yang berpapasan dengan kami.
Nadin berjalan mendahului gue masuk ke dalam lift, wanita itu masih menahan tombol lift agar gue dapat masuk ke dalam nya. Kami berdua berada di dalam lift, untung saja ini sudah lewat dari jam masuk kantor jadi kantor sudah lumayan sepi.
Ting
Lift sampai di lantai tempat ruangan gue berada. Gue dan nadin berjalan beriringan dalam diam. Hanya suara ketukan heels nadin yang beradu dengan lantai yang terdengar di sepanjang koridor menuju ruangan gue.
Kami berdua sampai di depan pintu ruangan gue, nadin hendak berbelok kiri karena ruangan dia dan gue memang berbeda. Tapi bukan gavin namanya kalau kesempatan emas ini gue sia-siakan begitu aja. Gue menggenggam tangan nadin sampai dia berbalik badan sambil melihat gue.
"what else ?"
"gue mau kita..."
"jadi begini kelakuan seorang CEO, main sama sekretaris nya. Haha like father like son "gue dan nadin berbalik badan, gue tau persis suara siapa yang baru saja menyindir kelakuan gue. Tapi nadin .. Wajah gadis itu berubah pucat, gue yakin dia ketakutan.
Nadin Almira Queen
Gue mengetikkan laporan bulanan di laptop, sesekali gue melirik ke arah ruangan gavin. Lelaki itu masih berbicara dengan papah nya, sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Gavin nampak kesal bahkan sampai menggebrak meja kerja nya.
Gue tahu perbuatan gue yang diam-diam mengintip pertengkaran antara bapak dan anak itu tidak sopan. Tapi gue juga tidak bisa menahan perasaan gue untuk tidak menghkawatirkan pria di dalam sana. Beberapa saat kemudian pintu ruangan gavin terbuka, pak christopher melirik gue sekilas sebelum berjalan pergi menunggu lift.
Jujur saja gue takut dengan pria paruh baya itu, dia memiliki kharisma yang membuat siapa saja segan terhadapnya. Tapi anehnya gavin sama sekali tidak mewarisi kharisma seorang christopher hadinata sama sekali.
"nad... Tolong bilang sama pak surya untuk meeting hari ini saya tidak bisa hadir. Saya pulang dulu "gavin berlalu begitu saja, wajahnya nampak tidak baik-baik saja. Gue mulai khawatir.
Sepeninggal gavin gue tidak bisa konsentrasi bekerja sama sekali. Fikiran gue di kacaukan oleh wajah gavin yang nampak suram tadi. Gue jadi menduga-duga pertengkaran hebat apa yang sudah terjadi tadi.
Dasar nadin lemah, kenapa juga gue berfikir gue ingin berada di sisi gavin saat ini. Mungkin gue bisa menghibur atau setidaknya gue bisa jadi tempat pelampiasan kekesalan dia. Begini nih kalau wanita mau mencoba move on cobaan selalu datang begitu saja.
Apalagi kalau ingat tadi gavin sebut gue cantik. Coba kalian jadi gue, apa nggak melayang rasanya disebut cantik oleh pria yang sudah lama kita cintai. Tapi gue cukup tahu diri kok, pujian gavin ke gue bukan berarti dia cinta gue. Satu hal yang selalu gue ingat di otak gue yang cerdas ini, mau gue jungkir balik seperti apapun untuk menaklukan seorang gavin, pria itu tetap saja tidak menyukai gue.
Pukul 17:00 ditra sudah berdiri sambil bersandar di samping mobil nya. Gue baru saja keluar dari lobi bersama dengan beberapa rekan kerja gue. Bisa di tebak dong betapa heboh nya rekan kantor gue melihat seorang celebrity chef nongkrong manis di depan lobi.
"nad itu pacar lo ?"rika bertanya setengah berbisik, gue tahu nona lambe ini bahagia dapat isu baru.
Gue menggelengkan kepala."hm.. Teman baik "gue tersenyum lebar,mencoba meyakinkan si nona lambe ini tapi gue juga tahu gak semudah itu membuat si biang gosip ini percaya.
"gue duluan ya ka "gue melambaikan tangan pada rika saat kami sudah berada di hadapan ditra.
"gak mau dikenalin dulu nad si abang ganteng nya ?"rika mengerling manja ke arah ditra.
Sejujurnya gue enggan memperkenalkan ditra pada rika, gue tahu banget rika ini tipe wanita yang gak bisa lihat cowok ganteng sedikit. Pasti dia akan keppo dan langsung minta nomor telfon ditra di kemudian hari, percayalah karena rika juga begitu saat gue ajak hang out di sebuah club.
"ko.. Ini rika temen satu kantor gue "
"rika"
"praditra "mereka berdua selesai bersalaman, gue yakin banget si rika pasti nggak bakal cuci tangan. Setidaknya sampai besok.
Setelah berpamitan dengan rika, gue dan ko ditra langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan kantor gue. Di sepanjang perjalanan ko ditra banyak bercerita tentang petualangan nya keliling dunia lewat masak. Pria itu selalu bersemangat setiap kali bercerita tentang passion nya. Gue sekarang jadi faham alasan seseorang gak bisa move on dari ko ditra.
Gue dan koko pergi ke restaurant milik ko ditra. Dia baru cerita kalau alasan dia pulang ke indonesia setelah bertahun-tahun merantau ke negeri sebrang, adalah untuk mengurus bisnis restaurant nya.
"jadi gue makan di sini gratis kan ??"gue tersenyum memperlihatkan gigi gue yang putih efek dari scaling minggu lalu.
"pesen apapun yang lo mau nad "lampu hijau nih, langsung aja gue ambil buku menu dan berniat memesan beberapa menu yang menggugah selera makan gue.
Gak tahu kenapa saat melihat menu bubur ayam, kenapa gue jadi inget gavin. Apa dia udah makan ? Dia baik-baik aja nggak ya ? . Mendadak nafsu makan gue yang tadi menggebu menguap begitu saja. Gue jadi kehilangan nafsu makan.
"jadi mau pesen apa nad ?"ulang ko ditra.
Gue menggeleng."gue mau jus alpukat aja ko "
"nggak makan ? Banyak menu favourite lo nih "ko ditra tersenyum, gue tahu banget ko ditra sengaja menggoda gue dengan menu-menu favourite gue.
Gue menggeleng lagi."mendadak nggak nafsu makan "
"yakin nggak tergoda dengan sop buntut goreng ?"
Gue menggeleng
"fetuchini carbonara ? Tenderloin steak ?
Gue kembali memggeleng, walaupun makanan yang di sebutkan ko ditra masuk ke dalam list daftar menu favourite gue. Tapi jujur hari ini makanan itu sama sekali tidak bisa membuat gue bernafsu makan sama sekali.
Ko ditra bertopang dagu melihat gue. Lihat saja sebentar lagi pasti dia akan bisa menebak kenapa gue bisa kehilangan selera makan. Sejak bersahabat dengan ko ditra di antara kami memang tidak pernah ada rahasia yang nggak terbongkar.
"gimama rasanya kerja bareng cinta pertama, CLBK dong lo "
See... Gue bener kan ko ditra langsung membahas orang yang udah buat gue gak nafsu makan. Tunggu aja ini masih bagian prolog.
"biasa aja, lagian gue udah nggak ada rasa sama dia "gue mengalihkan pandangan gue, gawat kalau gue menatap mata koko di depan gue ini, bisa tahu dia kalau gue bohong.
"mata gak usah kemana-mana. Ketahuan kok kalau lo lagi bohong "ko ditra menyentil kening gue, sahabat macam apa dia ini.
"ini tindakan kekerasan dalam rumah tangga"protes gue yang langsung di hadiahi tawa renyah dari si pemilik restaurant ini.
"ngarep banget ya jadi istri gue ?"
"hiy.. Cukup sekali berhubungan sama lo "
"haha lucu ya nad, kita itu salah satu jenis spesies langka loh"
"maksud lo kita sejenis badak berculah satu, lo aja ko gue sih lebih mirip kucing anggora"gue mengerjap-ngerjapkan mata dengan gaya genit.
Ko ditra memeluk dirinya sendiri."merinding gue nad lo begitu"
"kampfreto..."gue sedikit tertawa menanggapi tingka ko ditra.
Gue mengalihkan tatapan gue pada layar ponsel, sejak tadi tangan gue sudah gatal ingin mengirimkan pesan pada gavin. Gue penasaran apa lelaki itu baik-baik saja atau tidak. Tapi kalau gue lakukan, semakin jatuh harga diri gue di hadapan cowok itu. Dia pasti makin leluasa memanfaatkan perasaan gue yang selalu gak tega dengan semua permintaan aneh-aneh nya dia. Duh tuhan gue harus gimana.
"koh..."
"hm..."
"gue boleh bungkus makanan nggak ? "
"tumben. Pasti mau begadang nonton drama tengah malam nih "
Gue tertawa, biarin aja deh ko ditra berfikir begitu. "iya... Gue lagi kangen liat wajah tampan para oppa "
"bungkus apa aja yang lo mau nad"ko ditra tersenyum sambil melambaikan tangan pada seorang pelayan.
Si pelayan yang gue nilai agak sedikit kemayu, datang bersiap mencatat pesanan gue. Gue membolak balik buku menu, mempertimbangkan makanan apa yang bisa membangkitkan mood seseorang.
"bubur ayam nya satu ya "
"yakin cuma pesen bubur doang nad ?"
Gue mengangguk. "iya "
Ditra mantuk mantuk aja padahal dia bukan burung perkutut. Gue yakin banget dia lagi kegirangan gara-gara gue batal ngerampok resto nya. Hm mungkin next time gue gak akan menyia-nyiakan kupon makan gratis dari si koko tampan ini.
Beberapa menit kemudian si mas mas pelayan yang agak kemayu itu kembali datang dengan membawa bungkusan yang berisi pesanan gue. Gue tersenyum aja melihat dia yang diam-diam senyum senyum centil ke arah ditra.
"gue pergi dulu koh "
"eh mau kemana ?"
"mau pulang lah nonton drama korea "
"oh.. Iya iya "ditra senyam-senyum nggak jelas seolah bisa melihat gelagat gue yang bohong padanya.
"thanks buat bubur nya"gue tersenyum seraya mengangkat bungkusan bubur ayam di tangan gue.
"oke.. "ko ditra mengacungkan jempolnya."salam ya buat gavin bilang cepet cepet deh pergi ke akhirat"
Gue yang baru saja mau meninggalkam cafe, langsung berbalik badan ke arah koko. Enak aja dia nyumpahin gavin cepet ke akhirat. Nanti gue jodoh nya siapa kalau bukan gavin ? Duh halu halu
Gue mengepalkan tangan kemudian melayangkannya di udara, ingin rasanya gue tinju itu muka koko yang malah ngakak melihat ekspresi gue yang kesal karena 'pria idola' nya baru di sumpahin cepet mati.
Dari pada gue meladeni koko ganteng tapi ngeselin itu, lebih baik gue buru-buru pergi ke rumah gavin. Jangan sampai aja apa yang di omongin ko ditra jadi kenyataan. Gue jadi semakim panik, gimana kalau gavin bener-bener bunuh diri karena frustasi. Andwae...... !!!!
Bersambung