"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam itu, kesunyian kabin pecah oleh ketukan pintu yang terburu-buru.
Gladis, yang pikirannya masih kalut dengan pengkhianatan Pamannya, langsung bangkit dengan perasaan was-was.
Begitu pintu dibuka, wajah tegang Gerald menyambutnya.
"Gerald? Ada apa?" tanya Gladis cepat, jantungnya berdegup kencang.
"Nyonya, mohon ikut saya sekarang. Ini tentang Kapten Arkan," jawab Gerald singkat tanpa penjelasan lebih lanjut.
"Kapten Arkan? Kapten Arkan kenapa?! Lukanya terbuka lagi? Gerald, jawab!"
Gladis mulai panik. Bayangan buruk kembali menghantui pikirannya.
Gerald tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat agar Gladis mengikutinya menuju dek atas kapal.
Sepanjang jalan, Gladis sudah menangis sesenggukan.
Kakinya yang masih sakit tidak ia hiraukan.
Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya setelah semua perjuangan yang mereka lalui.
Begitu pintu dek terbuka, suasana gelap gulita.
Namun, sedetik kemudian...
DOR! DOR!
Lampu sorot berwarna-warni menyala terang benderang.
Puluhan kru kapal dan orang tua Arkan sudah berdiri di sana dengan senyum lebar.
"HAPPY BIRTHDAY, NYONYA ARKAN!" seru mereka serempak.
Di tengah-tengah mereka, Arkan berdiri tegak meski masih bertumpu pada tongkatnya.
Ia mengenakan seragam putih kebesarannya, tampak sangat tampan dan gagah.
Di depannya terdapat sebuah kue besar dengan lilin yang menyala terang, serta buket bunga mawar merah yang sangat besar.
Gladis berdiri mematung. Tubuhnya bergetar hebat.
Air mata yang tadinya merupakan air mata ketakutan, kini berubah menjadi air mata haru yang luar biasa.
Ia kembali menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Arkan berjalan perlahan mendekati istrinya, lalu membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat lembut.
"Maafkan aku karena membuatmu takut, Sayang. Aku ingin hari ulang tahunmu kali ini menjadi pengingat, bahwa setelah badai yang paling besar sekalipun, akan selalu ada perayaan yang indah. Selamat ulang tahun, pahlawanku."
Arkan menyerahkan bunga itu dan mengecup kening Gladis di hadapan semua orang.
Nyonya Siska dan Tuan Baskoro bertepuk tangan dengan tulus, sementara Gerald tersenyum puas karena rencana kejutan ini berhasil total.
Gladis membenamkan wajahnya di dada Arkan, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan harum mawar merah di pelukannya.
Rasa haru itu masih membuncah, membuat dadanya terasa sesak namun bahagia.
"Aku benar-benar lupa kalau hari ini ulang tahunku," bisik Gladis di sela tangis bahagianya.
"Terima kasih, Arkan. Ini hadiah terindah yang pernah aku terima."
Arkan mengelus punggung Gladis lembut, lalu menatap hamparan laut yang tenang di bawah sinar rembulan.
Ia merangkul bahu istrinya, memberikan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus pelan.
"Masih delapan bulan lagi kita di atas kapal ini, Sayang," ucap Arkan sambil menatap cakrawala.
"Perjalanan keliling dunia ini baru saja dimulai. Setelah badai kemarin, aku berjanji sisa waktu kita di sini hanya akan berisi kenangan indah."
Gladis menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tantangan besar mungkin masih menanti di daratan—terutama urusan Paman Dayu namun di atas kapal pesiar ini, di bawah perlindungan suaminya, ia merasa tak terkalahkan.
"Delapan bulan..." Gladis tersenyum kecil.
"Itu waktu yang cukup lama untukku belajar menjadi istri Kapten yang sesungguhnya. Dan mungkin belajar navigasi sedikit?"
Arkan tertawa renyah, suara tawanya yang berat terdengar sangat menenangkan.
"Tentu, tapi janji jangan melompat pagar kapal kalau kamu bosan belajar, ya?"
Para kru mulai memutar musik yang lembut. Nyonya Siska mendekat dan menggenggam tangan Gladis.
"Setelah ini, jangan panggil aku Nyonya lagi. Panggil Mama. Kita akan menjadi keluarga yang utuh, Gladis."
Malam itu, di tengah Samudera Hindia, kapal pesiar mewah itu terus melaju membelah ombak.
Bukan lagi sebagai tempat pelarian, tapi sebagai saksi bisu lahirnya seorang wanita baru yang tangguh dan cinta yang telah teruji oleh maut.
Pintu kabin tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh kemeriahan pesta dan keramaian kapal di luar sana.
Ruangan itu kini hanya diterangi oleh lampu temaram yang memberikan kesan hangat dan sangat pribadi.
Arkan masih berdiri dengan bantuan satu tongkatnya, menatap Gladis yang tampak begitu memesona dalam balutan gaun pesta yang baru. pemberian dari mertuanya tadi. Namun, bukan gaun itu yang membuat Arkan tak bisa berpaling, melainkan binar keberanian dan cinta di mata Gladis.
Tanpa suara, Gladis melangkah mendekat. Ia menepis jarak di antara mereka, lalu berjinjit perlahan.
Dengan lembut, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Arkan, memberikan sebuah kecupan yang penuh dengan perasaan terima kasih dan kerinduan yang mendalam.
"Istriku sekarang mulai berani, ya?" bisik Arkan dengan suara berat yang serak, matanya berkilat menatap Gladis dengan penuh kasih.
Gladis tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan jemari yang sedikit gemetar namun pasti, ia perlahan melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya, membiarkannya jatuh ke lantai.
Setelah itu, tangannya beralih ke kancing seragam putih Arkan, membukanya satu demi satu dengan penuh kelembutan.
Arkan menarik napas panjang, mencoba menahan rasa nyeri di kakinya yang seketika terlupakan oleh debaran jantung yang kencang.
"Sebelum kamu kembali ke anjungan besok pagi untuk bertugas. Aku ingin menghabiskan malam ini sepenuhnya bersamamu, Suamiku," bisik
Gladis tepat di telinga Arkan.
Arkan tidak bisa lagi menahan gejolak di hatinya. Meski kakinya masih dibalut perban, kekuatan nakhodanya kembali sepenuhnya.
Ia melepaskan tongkat penyangganya ke lantai, lalu dengan satu gerakan tangkas, ia memanggul tubuh mungil istrinya ke atas bahunya yang kokoh.
Gladis memekik kecil sambil tertawa pelan saat Arkan membawanya menuju tempat tidur besar di tengah kabin.
Arkan membaringkan Gladis dengan sangat hati-hati di atas sprei sutra yang lembut, seolah ia sedang meletakkan harta paling berharga di dunia.
"Malam ini, hanya ada aku dan kamu, Gladis. Tidak ada badai, tidak ada Alex, dan tidak ada pengkhianatan," ucap Arkan sambil mengecup kening istrinya dalam-dalam.
Di luar, kapal pesiar itu terus melaju dengan stabil di atas samudra yang tenang, seolah merestui kebahagiaan mereka yang akhirnya kembali utuh.
Satu jam telah berlalu, dan suasana di dalam kabin kini kembali tenang, hanya menyisakan suara napas yang teratur dan detak jantung yang saling bersahutan.
Cahaya bulan yang masuk dari jendela besar memantul di atas selimut yang membungkus mereka berdua.
Gladis yang telah mengerahkan seluruh kekuatannya sejak tragedi di pulau hingga kejutan ulang tahunnya malam ini, akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang luar biasa.
Ia tertidur sangat pulas, wajahnya yang damai bersandar tepat di dada bidang Arkan.
Salah satu tangan kecilnya masih menggenggam erat kaos Arkan, seolah takut jika ia melepaskannya, semua kebahagiaan ini akan menghilang.
Arkan tidak langsung memejamkan mata. Meskipun tubuhnya juga lelah dan kakinya sesekali masih berdenyut nyeri, ia memilih untuk tetap terjaga sejenak.
Ia mengusap dahi Gladis dengan sangat pelan agar tidak mengusik mimpi istrinya.
"Tidurlah yang nyenyak, pahlawan kecilku," bisik Arkan hampir tak terdengar.
Ia merasa sangat bersyukur. Jika bukan karena keberanian Gladis di tengah laut, mungkin malam ini ia tidak akan pernah merasakan kehangatan ini lagi.
Arkan menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu istrinya, lalu mengecup puncak kepala Gladis dengan penuh rasa perlindungan.
Perlahan, Arkan pun mulai memejamkan mata, memeluk erat tubuh Gladis dalam dekapan posesifnya.
Di luar sana, radar kapal menunjukkan bahwa mereka akan segera memasuki wilayah perairan yang terhubung dengan daratan dalam beberapa jam lagi.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget