Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kebangkitan
Waktu berlalu dengan cepat di Desa Bambu. Sementara penduduk desa menjalani hidup yang sederhana, di balik tembok tinggi kediaman mewah yang baru saja dibeli oleh pria misterius berambut hitam itu, sebuah keajaiban kultivasi sedang terjadi.
Jian Wuyou tidak membuang sedetik pun. Setiap fajar sebelum matahari menyentuh ufuk, ia dan Jiwu sudah berada di halaman belakang, duduk bersila di bawah pohon beringin tua yang rimbun.
"Tubuh ini... jauh lebih murni dari yang kuingat." gumam Jian Wuyou saat ia menarik napas pertamanya dalam meditasinya.
Meskipun ranah kultivasinya hilang, pemahaman spiritual Jian Wuyou tetaplah berada di level seorang ahli yang pernah menembus batas langit. Ini adalah keuntungan terbesar. Ia tidak perlu mencari jalan; ia sudah tahu di mana jalan itu berada, ia hanya perlu berjalan melaluinya kembali.
Jian Wuyou dan Jiwu berlatih dengan metode yang ekstrem. Karena Jiwu kini memiliki tubuh fisik sendiri, ia bukan lagi sekadar klon pasif, melainkan partner tanding yang sempurna. Mereka saling bertukar serangan tanpa energi spiritual, hanya mengandalkan teknik fisik untuk memperkuat fondasi tulang dan otot mereka.
"Kakak, energi spiritual di alam fana ini sangat tipis, tapi kemurniannya luar biasa." ucap Jiwu sambil menyeka keringat setelah melakukan seribu pukulan dasar.
"Itu karena tidak banyak kultivator yang berebut energi di sini," balas Jian Wuyou. "Gunakan teknik Pernapasan Sembilan Langit yang aku ajarkan. Jangan terburu-buru menyerap energi ke Dantian, biarkan energi itu membersihkan setiap inci sumsum tulangmu terlebih dahulu."
Selama berbulan-bulan, mereka mengonsumsi tumbuhan obat langka yang dibeli Jiwu dari kota-kota besar menggunakan emas mereka. Mei Lian pun menjalankan perannya dengan luar biasa; ia merawat bayi Jian Han dengan penuh kasih dan memastikan gizi Jian Wuyou serta Jiwu selalu terjaga agar latihan mereka tidak terhambat.
Suatu malam, badai petir melanda desa tersebut. Di tengah gemuruh guntur, Jian Wuyou dan Jiwu duduk berhadapan di aula utama. Aura di sekitar mereka mulai bergetar. Udara di ruangan itu terasa berputar, membentuk pusaran kecil yang berpusat pada mereka berdua.
BZZZZZT!
Cahaya keunguan tipis mulai muncul di permukaan kulit Jian Wuyou. Ini adalah tanda bahwa energi spiritual telah memenuhi seluruh meridiannya dan mulai menyatu dengan jiwanya.
Dalam waktu singkat—yang seharusnya memakan waktu puluhan tahun bagi kultivator biasa—Jian Wuyou berhasil menerobos hambatan demi hambatan.
Level 1... Level 5... Level 8...
Dan akhirnya, dengan satu dentuman energi yang tertahan agar tidak merusak rumah, Jian Wuyou membuka matanya. Pupil matanya berkilat dengan cahaya yang sangat tajam.
"Ranah Penyatuan Roh Level 10," ucap Jiwu dengan nada takjub. Ia sendiri berhasil mencapai level yang sama karena koneksi batinnya dengan Jian Wuyou.
Pencapaian ini sangat gila. Di Alam Fana, seseorang di Ranah Penyatuan Roh Level 10 sudah dianggap sebagai seorang jenius. Namun bagi Jian Wuyou, ini hanyalah langkah pertama untuk kembali menantang mereka yang ada di atas sana.
Setelah menembus ranah tersebut, indra Jian Wuyou menjadi ribuan kali lebih tajam. Tanpa perlu beranjak dari tempat duduknya, ia bisa merasakan keberadaan Li Hua yang sedang beristirahat di kediaman tuan tanah, beberapa ratus meter dari rumahnya.
Ia bisa mendengar napas teratur Li Hua, merasakan kehangatan jiwanya yang masih murni. Sebuah senyum tipis—senyum tulus pertama sejak ia kembali ke masa lalu—muncul di wajahnya.
"Aku sudah cukup kuat untuk menjagamu dari balik bayangan, Li Hua," bisiknya pada kegelapan malam. "Siapa pun yang berani mengusik ketenanganmu di kehidupan ini, mereka tidak akan hanya berhadapan dengan seorang pria, tapi dengan kemurkaan yang melintasi waktu."
Jian Wuyou berdiri, menatap tangannya yang kini penuh dengan tenaga baru. Basis kultivasinya memang masih rendah dibandingkan puncaknya dulu, namun pondasinya kali ini jauh lebih sempurna. Kini, ia siap untuk mulai bergerak lebih aktif di desa ini.