Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi??
THE ETERNALLY; our home
Happy reading...
...Nakal boleh, tapi tolol jangan....
...-Salam hangat dari kami Arderos gang-...
.......
........
.........
Sekumpulan pemuda tampan dengan jaket hitam kebanggaan geng nya mulai memasuki gerbang SMAAB.
Jaket berlambangkan sayap dan dua pedang menjadi kan siapapun yang memakai nya merasa beruntung, karena dapat masuk kedalam perkumpulan besar itu.
Pemimpin geng Arderos berjalan paling depan, bersama keempat inti lainnya mengikuti dari belakang.
Ketampanan Astra menang sangat sulit untuk di tolak, sifatnya yang dingin menjadikan nya semakin keren di mata para kaum hawa.
"Ya Tuhan, saya mau Astraa, maksa dikit."
"Astra kamu ganteng banget."
"Satya senyuman kamu ngalahin 1 ton gula."
"Bumi, izinkan aku jadi matahari buat menyinari dunia kamu."
Begitulah kira-kira pekikan para siswi ketika melihat para inti Arderos, cukup heboh dan berisik.
Astra melangkahkan kakinya dengan tegas menuju Roftop. Kali ini, dia sendirian keempat anggota inti lainnya masuk ke kelas. Dan bukan Astra namanya jika tidak bisa kabur di saat jam pelajaran berlangsung.
Pemuda bermata setajam elang itu menatap gedung-gedung pencakar langit dengan datar, kepulan asap rokok keluar dari bibir tipis nya.
"Kamu di sini?"
Astra menolehkan kepalanya kearah sumber suara, "Ngapain lo si sini?"
"Nggak, aku cuma lagi bosen sama pelajarannya,"
"Astra aku mau ngomong sama kamu," tambahnya lagi.
"Bukanya lo lagi ngomong." balasnya datar.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, kalau bukan itu yang dia maksud, "Bukan itu maksud aku."
"Terus?"
"E-emm, besok sore kamu bisa anterin aku ke pameran lukisan nggak?"
"Gue usahain."
Vio tersenyum lembut, "Terimakasih Astra, kamu baik."
"Gue belum iya in."
"Nggak papa, pasti kamu mau,"
"Serah lo."
...~The Eternally; our home~...
Satya menghempaskan tubuhnya ke sofa markas Arderos, setelah pulang sekolah mereka tak langsung pulang ke rumah, melainkan ke markas.
"Laper banget gue, pesen makanan dong." ujar saya pada teman-temannya.
"Pesen sendiri sono, gunain noh tangan lo." balas Jaya dengan wajah sebalnya.
"Pms lu? Marah-marah mulu dari tadi,?"
Jaya menatap tajam Satya, "Diem lo! Gue lagi betmut! "
"Kenapa tu anak?" tanya Bumi yang baru kembali dari dapur dengan membawakan minuman kaleng.
Satya menggedikan bahunya, "Kaga tau gue."
"Kenapa lo Jay? " tanya Arka.
Jaya menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.
"Kalian tau, masa bokap gue mau nikah lagi, terus sama sugar baby lagi apa gue nggak betmut! Masalahnya umur calon nyokap gue tuh nggak beda jauh sama gue! Dasar aki-aki udah tua mau sama daun muda! Apa kata orang coba kalo gue punya mamud mau di taruh di mana muka gue ajir! Sumpah gue kesel banget sama bokap gue!!" cerocos Jaya bersungut-sungut tanpa henti.
Mereka yang mendengar ikut sesak napas, bukan karena ceritanya, tapi karena kemampuan Jaya bercerita tanpa panjang lebar tanpa bernafas.
"Napas, Jay, napass! " ujar Astra mengingatkan, Jaya lantas menghembuskan nafasnya perlahan.
"Udah tenang? Ayo ceritain pelan-pelan," kata Bumi, di sini dia yang paling bijak.
"Bokap gue mau nikah lagi, sama cewe usia 23th." jelas Jaya dengan wajah tertunduk menatap lantai.
"Anjayy! Bokap lo tau aja yang cakep, " celtuk Satya.
Jaya menatap tajam Satya, "Diem, lo Bang sat! "
Satya tak peduli dia tersenyum lalu merangkul Jaya, "Harusnya lo seneng bakal dapet mama baru, gak usah sok melow."
"Apa kata orang anjirr! Ya gue malu lah bego! Emak gue sepantaran sama gue! "
"Udah-udah, Jay, mungkin udah saatnya bokap lo cari pendamping hidup lagi," kata Bumi dengan bijaknya, membuat Jaya merenungi perkataan temannya barusan.
"Bener, mending Lo bicarain masalah ini sama bokap lo, dengan kepala dingin. " timpal Astra.
Satya dan Arka menepuk pundak sahabatnya, "Jangan lupa udang kita ya kalo jadi nikahannya," Satya langsung ngacir begitu saja sebelum mendapatkan amukan dari Jaya.
Brukk!
Jaya melemparkan bantal sofa pada Satya namun meleset, "DASAR BANGSAT! AWAS LO NANTI! " teriaknya menggema ke seluruh penjuru markas.
Dari kejauhan Satya menggoyang-goyangkan pantatnya meledek Jaya.
"Anjim! Tu anak ada aja tingkahnya." ujar Arka yang sudah tak kuasa menahan tawanya, begitu juga dengan yang lain bahkan Jaya juga ikut tertawa.
Satya memang mampu mencarikan suasana dengan segudang tingkah absurd nya, si playboy berhati emas itulah julukan yang selalu Satya agung-agungkan.
"Tra, kayaknya kita harus JKL lagi, tadi gue dapet kabar, kalo Carzeon mulai rusuh," kata Satya si pusat informasi.
(JKL_ jaga keamanan lingkungan)
"Lo atur, kaya biasa." balas Astra sebelum melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
Sudah cukup lama semenjak balapan waktu itu Anggota Carzeon tak membuat ulah. Dan sekarang mereka mulai membuat keributan.
Mau tak mau Arderos menangani para gangster yang berkedok sebagai geng motor itu. Menjaga keamanan para warga serta kedamaian lingkungan mereka.
Jika tidak seperti itu nama geng motor akan semakin buruk di mata para masyarakat.
Astra memijat pelipisnya sedikit pusing, banyak sekali masalah akhir-akhir ini yang membuat kepalanya pusing.
Astra memejamkan matanya sejenak, dia harap setelah bangun nanti pusingnya akan sedikit berkurang.
Prangg!!
Suara dari kaca pecah membuat tidur seorang pemuda tampan itu terganggu, dia lantas beranjak dari kasurnya memeriksa apa yang terjadi.
Kaca yang mengarahkannya langsung ke balkon pecah berkeping-keping, Astra menatap pecahan-pecahan kaca itu dengan tatapan sulit di artikan.
Netranya langsung tertuju pada sebuah kertas yang di dalamnya berisikan batu. Sepertinya benda itu yang membuat kaca jendelanya pecah.
Dengan segera Astra mengambil benda itu, tangannya bergerak membuka apa yang tertera pada kertas tersebut.
Tatapannya menjadi semakin tajam, bak elang yang tengah mengintai musuhnya.
Brakkk!
"ASTRA APA YANG PECAH?! " seru Satya saat baru sampai di lantai dua dengan terengah-engah, begitu juga dengan yang lain.
Astra dengan segera menyembunyikan kertas' tersebut dalam sakunya, "Bukan apa-apa."
"Terus kok kacanya bisa pecah? " tanya Jaya, jiwa kepo nya begitu tak bisa dia sembunyikan.
"Burung, nggak sengaja nabrak." balasnya.
Arka menengokkan kepalanya kesana-kemari, mencari burung yang Astra bicarakan, "Terus, burungnya mana? "
"Udah kabur," kilahnya, membuat bahu Arka merosot saat mendengarnya. "Yahh, kok nggak di tangkep si,"
"Mana gue sempet Arka, burungnya keburu terbang." ujar Astra memberi penjelasan pada si bungsunya Arderos ini.
Satya menarik baju Arka dari belakang, "Udah, kaga usah banyak drama, piaran lo udah banyak noh! " cerocos nya sembari menggeret anak itu keluar dari kamar Astra, pasalnya piaran anak itu sudah penuh di halaman belakang markas.
Bumi menatap Astra penuh selidik, dia tak percaya apa yang tadi di katakan oleh temannya itu. Sangat tidak masuk akal jika burung bisa memecahkan kaca setebal 3 inci itu.
Mungkin kalau burung itu sangat besar, wajar saja bisa memecahkan kaca. Tapi setahu nya hanya burung kecil yang hobi menabrak kaca.
Bumi kembali menatap Astra penuh selidik, "Ada yang Lo sembunyiin?"
Dia tak mempedulikan ucapan sahabatnya, duduk dengan santai di sofa pojok kamarnya. "Nggak ada."
Bumi mendekat lalu duduk di samping Astra, "Jangan sembunyiin apapun dari gue, bagi masalah lo sama gue."
Astra terkekeh, Bumi berkata seperti itu seolah dirinya adalah penampung cerita. Bertingkah seolah tak memiliki beban hidup, "Lo?"
"Jangan pikirin gue." ujar Bumi menyenderkan tubuhnya ke sofa dengan mata yang terpejam
Astra ikut menyandarkan tubuhnya, "Sok kuat," cibir Astra.
"Lo tuh,"
"Lo kocak!"
"Lo juga anjing! "
Keduanya sama-sama tertawa, dengan pembahasan tak berfaedah itu. Hal-hal sederhana seperti ini nyatanya jarang sekali di dapatkan di masa sekarang.
...#TBC#...
...Jangan lupa bahagia 🤗...
...Salam hangat dari mereka:)...