Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 - Selamat Ulang Tahun Untuk Diriku... Sendiri #4
Perang telah lama dimulai.
Tidak ada terompet.
Tidak ada panji yang robek.
Namun pada hari kesebelas sejak deklarasi perang, pasukan Duke New Gate berhenti bergerak selama enam jam penuh.
Bukan karena diserang, melainkan karena tidak tahu harus bergerak ke mana.
- -Kabut Perintah
Di perkemahan utama New Gate dan Duke Polein, tiga perintah berbeda datang dalam satu pagi:
maju ke barat daya
bertahan di jalur sungai
memutar ke selatan untuk mengamankan suplai
Ketiganya membawa segel yang sah.
Ketiganya tampak benar.
Seorang perwira muda berbisik pada rekannya:
“Hey, menurut siapa sebenarnya yang memimpin kita?”
Di sinilah dua puluh orang Borein bekerja paling rapi.
Tidak mencuri perintah, mereka menggandakannya.
Tentara Bayaran dan Rasa Lapar mereka, tentara bayaran bukan takut mati.
Mereka takut:
tidak dibayar
disalahkan
dikirim ke medan yang tidak memberi keuntungan
Pada malam berikutnya keterlambatan suplai, satu kompi bayaran Polein menolak bergerak.
“Kami tidak menandatangani kontrak ini untuk mati secara pelan-pelan ditempat menyedihkan seperti ini... tuan Duke”
teriak kapten mereka.
Kabar ini menyebar lebih cepat dari api.
Bukan pemberontakan, namun benih pembangkangan.
Florence: Arus Tenang yang Dibangun Perlahan
Di sisi lain Tirpen, Florence justru tampak tenang.
Bukan karena mereka kuat, melainkan karena tidak bereaksi berlebihan.
Arthur menyarankan:
“Jangan kirim pasukan tambahan, tuan Marquis.”
“Biarkan pasukan mereka bergerak terlebih dahulu.”
Marquis Florence mengernyit.
“Jika mereka menyerang dengan kekuatan penuh?”
Arthur menatap peta.
“Mereka belum siap menyerang dengan kekuatan seperti itu.”
Sir Hollton berdiri di belakang mereka, pedango menjejak lantai batu.
“Anak itu benar” katanya pelan.
“Orang yang bingung akan menyerang lebih dahulu… hanya setelah mereka merasa putus asa.”
-~-Seorang ayah dan Kegelisahan yang Tak Terucap
Di wilayah Marquis Moren, Isabel menghentikan langkah Moren di lorong ruangan.
“Anak kita... Arthur terlalu dekat dengan pusat badai, sayang ku...” katanya lirih.
Moren tidak menyangkal.
Ia hanya menjawab:
“Dan terlalu jauh dari jangkauan keluarga untuk kita lindungi...”
Hendry, yang ikut mendengar, menunduk sedikit.
“Tuan, Moren” ucapnya tenang, “biarkan anak itu berjalan di jalannya. Aku pernah melihat anda berjalan seperti itu.”
Moren menutup mata sejenak.
Ia tahu Hendry tidak sedang bicara tentang medan perang.
-~-Kaisar Valeris III: Diam yang Berbahaya
Di ibu kota kekaisaran Valerion - Aurellion Prime
laporan perang menumpuk di meja kaisar.
Ia membaca tanpa bereaksi.
“Belum ada bentrokan dari kedua pihak?” tanyanya.
Penasihat menjawab:
“Tidak, Yang Mulia. Tapi menurut menteri keuangan, biaya perang sudah meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya.”
Kaisar tersenyum tipis.
“Perang yang mahal sebelum darah tumpah… selalu berakhir buruk bagi yang tidak sabar.”
Ia belum campur tangan.
Namun ia mulai mencatat nama.
Enam Organisasi: Siapa Menunggu Siapa
-Clorfin mulai memindahkan asetnya ke wilayah netral
-Permo menjual suplai ke dua pihak dengan harga berbeda
-Forlen menyewa informan tambahan
-Vastorci tertawa saat mendengar kabut perintah
-Borein diam pekerjaannya berjalan baik
-Ervin menulis satu kalimat dalam catatannya:
“Arthur memaksa musuhnya menunggu...”
Ia tahu, menunggu adalah bentuk penderitaan dalam perang.
Malam itu, Arthur berdiri di balkon Florence.
Toxen di sampingnya.
“Apakah ini akan berhasil, tuan?” tanya Toxen.
Arthur tidak menjawab langsung.
“Jika mereka menyerang sekarang, kita sudah lama siap, Toxen” katanya akhirnya.
“Jika mereka menunggu… mereka akan mulai memakan diri mereka sendiri.”
Ia menatap jauh ke arah utara.
"hari berikutnya bukan tentang menang”
gumamnya.
“Ini tentang membuat mereka lupa tujuan kenapa mereka berperang.”
Tidak ada pedang beradu.
Tidak ada benteng runtuh.
Namun:
pasukan besar mulai ragu
uang mulai lebih berharga dari kehormatan dan perang mulai terasa seperti beban, bukan tujuan
Di kejauhan, meriam New Gate masih terbungkus kain.
Belum ditembakkan. Dan Arthur tahu, perang ini baru saja benar-benar dimulai.
Meriam itu akhirnya dipindahkan ke garis depan setelah sekian lama menganggur.
Empat belas unit besi raksasa, dibeli mahal dari wilayah pusat Aurellion Prime, ditarik perlahan melalui jalur tanah keras. Rantai mereka menggeram saat roda logam menggigit batu. Para teknisi New Gate menyebutnya pematah benteng.
Arthur menyebutnya: beban.
Meriam yang Terlambat
Masalahnya bukan pada daya hancur.
Masalahnya adalah waktu.
Meriam tiba ketika jalur suplai belum aman.
Meriam tiba saat moral pasukan retak.
Meriam tiba saat hujan mulai sering turun.
Satu malam hujan saja cukup membuat dua unit meriam tenggelam setengah roda ke lumpur.
Teknisi berteriak.
Kuda yang menarik meriam tersebut mulai kelelahan.
Tentara bayaran menuntut bayaran tambahan.
Di antara mereka, dua puluh mata-mata Borein bekerja dalam diam:
satu baut pengunci “hilang”
satu peta jalur dibakar “tak sengaja”
satu teknisi dipindahkan dengan alasan sakit
Tidak ada sabotase besar.
Hanya seratus kesalahan kecil.
Dan perang tidak memaafkan kesalahan kecil.
Florence: Tidak Menyerang
Marquis Florence menerima laporan pagi itu.
“Meriam mereka belum siap, tuan” kata seorang perwira.
Beberapa bangsawan muda mendesak:
“Ini saatnya bagi kita, Florence untuk menyerang!”
Arthur menggeleng.
“Tidak, kita harus bersabar sedikit lagi.”
Ruangan hening.
“Biarkan mereka menyalahkan meriam itu” lanjut Arthur.
“Jika kita menyerang sekarang, mereka akan bersatu.”
“Jika kita menunggu… mereka akan saling menuduh.”
Marquis Florence menatapnya lama, lalu berkata:
“Kau berbicara seperti orang yang sudah terlalu lama berada di perang.”
Arthur tidak menjawab.
Setelah perbincangan dari pertemuan rutin, Arthur mendapatkan sebuah Surat dari Rumah, Surat itu datang siang hari. Segelnya sederhana.
Tulisan tangan ibunya mudah dikenali.
Arthur membukanya sendirian, di ruang kecil dekat peta.
Tidak ada strategi.
Tidak ada kabar perang.
Hanya kata-kata dari seorang ibu.
Arthur, anak ku.
Hari ini kau berusia delapan belas tahun.
Kami tidak menyiapkan pesta meriah.
Kau tahu kenapa.
Ayahmu berkata kau akan membaca surat ini sambil berdiri, mungkin sambil menatap peta.
Ia selalu benar tentang hal-hal seperti itu.
Kami bangga padamu.
Bukan karena kau memimpin perang, tapi karena kau memilih tidak terburu-buru.
Jika kau lelah, duduklah sebentar.
Jika kau ragu, ingatlah bahwa rumah masih ada.
Selamat ulang tahun, anak kami.
- Ibu.
Arthur melipat surat itu perlahan.
Tidak ada senyuman.
Tidak ada air mata yang menetes.
Hanya napas panjang yang ditahan terlalu lama.
“Aku memang terbiasa, dengan hal ini” gumamnya pelan.
“Tanpa perayaan sejak kecil.”
Toxen berdiri di ambang pintu.
Ia tidak bertanya apa pun.
Ia hanya berkata:
“Tuan muda… selamat ulang tahun.”
Arthur mengangguk kecil.
Itu sudah cukup.
Ervin: Membaca Medan dengan Cara Berbeda
Di utara, Ervin berdiri di atas bukit rendah, memandang para Yetroll yang sedang memburu kawanan serigala perak salju. Ia membaca medan bukan dari jumlah pasukan, melainkan dari:
api unggun yang menyala terlalu pagi
perwira yang terlalu sering berteriak
kuda yang berdiri tanpa pelana
“Mereka tidak siap menembak...” katanya.
Seorang anak buah bertanya:
“Meriam mereka terlalu besar, tuan Ervin.”
Ervin tersenyum tipis.
“Yaa. Dan besar selalu membuat orang lupa melihat yang kecil.”
Ia menulis satu baris lagi untuk Duke New Gate:
Arthur membuat kita menunggu. Dan menunggu adalah musuh bagi tentara bayaran.
-~-Duke New Gate: Kesalahan Pertama
Surat Ervin dibaca di tenda komando.
Duke New Gate meremasnya.
“Dia pikir kita bodoh ya?” bentaknya.
Duke Polein ragu-ragu.
“Atau mungkin dia ada benarnya…”
New Gate berdiri.
“Kita tembak Florence. Sekarang juga.”
Penasihat mencoba menahan:
“Meriam belum...”
“TEMBAK!!.”
Satu meriam ditembakkan malam itu.
Bunyi ledakannya menggetarkan tanah.
Namun proyektil itu:
melenceng menghantam hutan kosong dan membuka posisi meriam ke pengintai Florence
Arthur menerima laporan itu keesokan paginya.
Ia menutup mata sebentar.
“Itu tembakan pertama mereka” katanya.
“Dan itu tembakan yang salah.”
Di kejauhan, Hendry duduk di kursi kayu tua.
Tangannya gemetar sedikit saat memegang tongkat.
Ia menatap peta kecil yang diberikan Arthur sebelumnya.
“Delapan belas tahun…” gumamnya.
Ia teringat Moren pada usia yang sama.
Sama tenangnya.
Sama keras kepala.
“Kau melangkah lebih cepat darinya” bisik Hendry.
“Semoga kau tidak membayar harga yang sama.”
Hari itu berakhir tanpa kemenangan.
Tanpa kekalahan.
Namun:
meriam telah menembak
surat telah dibaca dan Arthur telah genap delapan belas tahun
Perang belum memakan kota.
Namun sudah mulai memakan kesabaran.
Dan Arthur tahu
Hari-hari berikutnya akan menuntut darah dari orang-orang yang selalu memusuhi dirinya...
(SPOILER KAH)
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥