Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Saran Yang Harus di Pikirkan.
"Baik Aluna, aku akan menuruti apa yang kamu katakan, kamu santai saja," Melly terlihat berjalan di lorong perpustakaan sembari kepalanya melihat-lihat buku yang tersusun tapi rak.
"Baiklah, good luck untuk hari-hari kamu," ucap Melly dengan menutup telepon tersebut.
"Huhhh, sahabatku yang satu ini, benar-benar," gumam Melly dengan menghela nafas.
Tiba-tiba saja arah pandang Melly melihat ke salah satu meja.
"Bukankah itu Firman!" ucapnya sudah pasti mengenali salah satu sosok pria terlihat prestasi itu dengan memijat kepalanya dan matanya fokus pada buku di hadapan.
"Benar, itu Firman," gumam Melly memastikan.
Tanpa sisa dari Firman Melly sudah berdiri di belakangnya dan melihat ke arah buku yang ditulis oleh Firman.
"Istri diyakini solehah tetapi tidak bisa melayani suami," Firman kaget mendengar suara tersebut membuatnya menoleh ke belakang dan lebih kaget lagi ketika melihat Melly.
"Upss sorry, aku tidak sengaja membacanya," ucap Melly menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya dan firman langsung menutup buku tersebut.
Melly menarik nafas panjang dengan membuang perlahan kedepan dan kemudian duduk di samping Firman.
"Jika kamu sudah berada di perpustakaan dan artinya, kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Melly.
"Jangan sok tahu," sahut Firman.
"Aku, kamu dan Aluna sudah saling mengenal sejak dulu dan kita saling mengetahui kepribadian masing-masing dan kebiasaan dalam hidup kita," ucap Melly tidak direspon oleh Firman.
"Jadi istri kamu tidak bisa melayani kamu dan bukankah selama ini dia selalu berperan sebagai istri yang sempurna di depan orang lain," tebak Melly.
Firman menoleh ke arah Melly.
"Melayani dalam hal apa? melayani secara fisik atau justru tidak juga melayani secara batin!" tebak Melly benar-benar penasaran.
"Aku tidak perlu menceritakannya kepada kamu," sahut Firman.
"Hehehe!" Melly tiba-tiba saja tertawa pelan membuat Firman mengerutkan dahi.
"Kamu tahu tidak Firman aku melihat banyak perbedaan dari kamu, di saat masih bersama Aluna dan ketika kamu sudah menikah. Ketika bersama dengan Aluna kamu menjadi diri sendiri, tetapi saat ini aku melihat sosok kamu berada di bawah kuasa seorang istri," ucap Melly.
"Terkadang kita sebagai suami jangan menjatuhkan harga diri, derajat seorang suami itu jauh lebih tinggi daripada seorang Istri. Masa iya ketika seorang istri tidak bisa tidak bisa melayani suaminya dan kita sebagai suami harus diam saja. Itu artinya kamu sudah menjatuhkan harga diri seorang laki-laki," ucap Melly.
Firman sepertinya begitu mendengarkan kata-kata dari Melly sampai membuatnya terdiam.
"Jika aku menjadi laki-laki, aku tidak akan peduli dengan apapun yang dia katakan, tidak dosa juga jika memaksa, karena apa yang kita lakukan adalah kewajiban dan juga menjaga harga diri seorang pria. Wanita memang kadang-kadang harus diberi pelajaran untuk menekankan kepadanya bahwa pria tidak bisa dipermainkan begitu saja," lanjut Melly.
"Astaga, aku terlalu banyak berbicara. Aku berdoa untuk kebaikan rumah tangga kalian. Aku yakin kamu pasti bisa menghadapi istri seperti dia. Oke, aku pergi dulu. Assalamualaikum mantan sahabatku," ucap Melly dengan mengedipkan sebelah matanya dan kemudian langsung pergi.
Firman tiba-tiba saja mengingat semua perkataan Jiya kepadanya, merendahkan dirinya seolah-olah Firman tidak dihargai sebagai suami dan tidak pantas menyentuh Jiya.
"Mungkin aku harus tegas kepada Jiya, semakin lama harga diriku semakin dijatuhkannya. Aku harus mendapatkan hak ku, walau harus memaksanya," batin Firman secara tiba-tiba saja memiliki rencana telah mendapat arahan dari Melly.
Melly keluar dari perpustakaan itu dengan buru-buru.
"Astagfirullah...."
"Jadi sebenarnya rumah tangga mereka tidak sebaik apa yang Aluna pikirkan. Firman orang yang tidak bisa berbohong, apa yang dia tulis sudah pasti terjadi. Tetapi aneh sekali rumah tangga mereka selama bertahun-tahun dan belum pernah berhubungan suami istri,"
"Isss, Jiya benar-benar wanita manipulatif, dia memperlihatkan dirinya di depan banyak orang seolah-olah menjadi wanita paling solehah, paling suci dan paling sempurna menjadi istri, tetapi untuk melayani suaminya saja dia tidak bisa melakukannya,"
"Jangan-jangan ini yang membuat Jiya menyuruh Aluna menikah dengan Firman. Bukan karena tidak bisa memberikan anak dan bagaimana bisa memberikan anak jika dia saja tidak melakukan tugasnya sebagai seorang istri,"
"Aku harus memberitahu Aluna," Melly sejak tadi mengoceh terus sembari menuruni anak tangga menuju parkiran.
Brukkk.
Melly harus bertabrakan dengan ponselnya yang terjatuh.
Melly dengan cepat berjongkok mengambil ponselnya tersebut dan cukup kaget ketika layar ponsel itu retak.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja!" Melly mengangkat kepalanya mendengar suara pria tersebut dan tak lain adalah Egar.
"Mengatakan tidak sengaja setelah ponsel saya seperti ini?" ucap Melly terlihat begitu kesal menatap pria setengah bungkuk di hadapannya itu.
"Hmmm, bukankah kamu yang berjalan tidak melihat jalan, Jadi kenapa harus menyalahkan saya?" tanya Egar dengan mengangkat kedua bahunya.
Melly terlihat begitu kesal dan langsung berdiri, wajahnya tampak marah dengan merapatkan giginya menatap tajam Egar.
"Laki-laki memang tidak pernah ingin disalahkan," ucap Melly kemudian langsung pergi dari hadapan Egar.
"Hah!" Egar mendengus kasar dengan berkacak pinggang.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Jelas-jelas wanita itu yang berjalan sembari mengoceh dan melihat ponselnya, lalu menyalahkanku begitu saja. Astaga wanita memang selalu saja benar," ucap Egar dengan geleng-geleng kepala.
*****
Aluna seperti biasa sibuk dengan pekerjaannya di mejanya.
"Aluna, bagaimana dengan harapan kamu? Kamu berharap perjalanan bisnis tahunan kita akan kemana?" tanya Olivia yang sengaja menggeser kursinya di samping Aluna ingin mengajaknya berbincang-bincang.
"Perjalanan untuk tahunan, memang ada?" tanya Aluna.
"Sudah pasti ada Aluna. Setiap tahun perusahaan akan mengirim beberapa karyawan ke Luar Negeri dalam tema bekerja santai, meski konsepnya bekerja, tetapi bisa sembari liburan," jawab Olivia.
"Semua orang yang ada di perusahaan ini?" tanya Aluna.
"Tidak dong, kalau semua orang yang ada di perusahaan terus yang mengurus perusahaan siapa, setiap tahun itu akan bergantian dan yang berangkat sekitar 40 orang. Tahun ini adalah giliranku dan kamu juga. Pekerjaan awal tahun," jawab Olivia.
"Bagaimana mungkin aku bisa mendapat giliran, bukankah aku baru saja masuk ke perusahaan ini?" tanya Aluna merasa tidak masuk akal.
"Hey, walau karyawan baru tetap akan ikut merasakan perjalanan bisnis tahunan. Aku melihat list kamu masuk daftar, biasanya setiap tahun itu pasti ada karyawan yang resign dipecat atau tidak bergabung lagi di perusahaan ini dan pasti akan digantikan dengan karyawan baru. Jadi ini merupakan awal tahun keberuntungan kamu karena kamu terdaftar dalam list," jelas Oliva.
"Aku sudah menunggu-nunggu tahun ini dan aku berharap kita bisa liburan ke Kanada," ucap Olivia.
"Kanada?" tanya Aluna.
"Hmmm, soalnya sedang musim dingin dan terlebih lagi kita akan dapat bonus melihat Arora," jawab Olivia.
"Aurora," pekik Aluna sepertinya tertarik dengan perkataan temannya itu membuat Olivia menganggukkan kepala.
"Wau, itu indah sekali, aku juga memiliki impian untuk bisa melihat secara langsung Aurora," ucap Aluna tiba-tiba saja tertarik untuk berbicara lebih serius lagi kepada Olivia padahal pekerjaannya sangat banyak.
"Nah, benar. Itu juga merupakan salah satu impianku," sahut Olivia.
"Tapi Kamu yakin tidak jika aku sudah terdaftar?" tanya Aluna ragu.
"Jelas Aluna, masa iya mataku sudah buta dan itu tidak mungkin," jawab Olivia.
Bersambung......