Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
"Mulut aku udah gatel banget ini."
Sambil menggaruk pelan mulutnya yang bergincu.
"Gatel kenapa? Penyakit kulit bukan sih?."
Dahlia menatap bibir Lusi yang tidak kenapa-kenapa.
"Bukan itu maksudnya, Dahlia. Tapi aku gatel mau ngomong sama kamu."
Terus Dahlia tersenyum lebar.
"Ngomong tinggal ngomong aja, ada yang larang?. Biasanya juga kamu nyerocos terus."
"Benar, ni, yah?."
"Lagian mau ngomong apa sih ampe gatel begitu tu mulut?."
Lusi menatap lekat mata Dahlia sambil menarik kursi Dahlia semakin dekat dengannya.
"Kamu ada hubungan spesial, ya, sama Pak Adnan?."
Kemudian Lusi menutup rapat mulutnya.
"Oh, karena yang kamu lihat kemarin. Sebenarnya..."
"Sorry ganggu."
Tiba-tiba saja teman mereka datang memotong ucapan Dahlia.
"Ih, sebel deh, lagi asyik-asyik mau cerita eh kena potong."
Lusi menggerutu.
"Tapi Dahlia dipanggil HRD."
"Ada apa?."
Dahlia dan Lusi saling tatap.
"Nggak tahu, aku baru dari ruangan HDR dan minta kamu ke sana sekarang."
"Oke."
Dahlia segera bangkit lalu berjalan menuju HRD. Dahlia sudah duduk di hadapan ibu HRD.
"Sebenarnya aku malas mengurusi masalah pribadi orang lain, Lia."
Perasaan Dahlia mulai sedikit tidak enak, pasti ini tentang dirinya. Kalau bukan Pak Adnan pasti Ryan.
"Tapi kalau aku biarkan itu sangat menganggu, oke lah kalau telepon ke kantor, lah ini sampai ke nomor pribadiku, Lia."
Dahlia semakin takut saja namun dia tetap mendengarkan sampai ibu HRD menyampaikan intinya.
"Sudah berulang kali suamimu menelepon ke sini, mengatakan kamu ini kamu itu, pokoknya menjelek-jelekkan kamu. Dia memintaku untuk memecatmu karena dia merasa kamu berubah sekarang ini karena pekerjaan, lingkungan pekerjaan. Dan bahkan dia mengatakan kalau kamu simpanan seseorang, Pak Adnan."
Tidak salah tebakannya namun ini sudah melenceng terlalu jauh.
"Saya memang minta cerai tapi dia nggak mau jadi mungkin merembet pada kerjaan saya. Dan bisa saya pastikan kalau saya bukan simpanan Pak Adnan. Itu yang dapat saya katakan pada ibu."
"Memang ribet urusan rumah tangga itu, ya, makanya aku belum mau nikah, Lia. Yang aku suka ada sampai sekarang, tapi dia kurang respon. Eh, kenapa aku jadi curhat begini?."
Ibu HRD tersenyum.
"Sebenarnya nggak masalah kamu punya hubungan dengan siapa tapi mungkin kalau sama Pak Adnan, dia itu seorang bos, petinggi perusahaan jadi kurang etis aja kalau sama bawahannya. Sementara di luar sana banyak perempuan cantik yang ditemuinya. Bahkan mantan istrinya aja masih sangat cantik. Takutnya hanya buat seneng-seneng aja."
"Saya paham maksud ibu. Jadi apa keputusan ibu terhadap laporan yang dibuat suami saya?."
"Kita lihat satu bulan ke depan. Kalau memang sangat menganggu dan sampai membahayakanku, maka dengan berat hati aku harus memberhentikan kamu kerja. Tapi tenang aja, kamu akan mendapatkan kompensasi."
"Iya, bu."
Dahlia keluar dari ruangan HRD dan dia bertatap muka dengan Pak Adnan yang akan memasuki ruang meeting. Tidak ingin ada drama panjang dia pun segera berlalu dengan jalan yang terburu-buru.
Selama berada di ruang meeting, Pak Adnan merasa tidak tenang namun masih bisa fokus pada pekerjaan. Dia tetap berusaha profesional namun tetap Dahlia berputar-putar dalam pikirannya.
"Kamu masih utang cerita, Dahlia."
Lusi menahan Dahlia yang akan pulang.
"Besok lagi aja, Lus, kan masih ada hari."
"Ya, udah, besok."
"Iya."
Dahlia buru-buru pulang sebab tidak mau bertemu Pak Adnan. Apa yang dikatakan ibu HRD cukup memengaruhinya. Dia harus menghindari Pak Adnan demi semuanya tetap aman.
Dahlia sudah tiba di rumah, dia bisa tertawa bersama keponakannya. Menjauh dari ponsel yang sejak tadi bergetar. Dia tahu siapa yang menelepon dan mengiriminya pesan.
Pak Adnan yang masih ke meja kerjanya masih duduk sambil memegangi ponselnya, sangat berharap Dahlia meneleponnya balik atau setidaknya membalas pesannya.
"Pak Adnan belum mau pulang?."
Lalu kemudian Pak Adnan melihat jam pada layar ponselnya. Sudah hampir jam sepuluh, tapi seperti biasa jalanan masih akan selalu padat.
"Kamu pulang aja, aku masih mau di sini."
"Baik, Pak Adnan."
Kembali dia mencoba menghubungi Dahlia lagi dan hasilnya tetap sama, tidak ada respon.
Keesokan paginya.
Tahu dirinya bisa kapan saja dipecat karena masalahnya dengan suaminya, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap disiplin.
Seperti bisa Dahlia datang lebih pagi dari teman-temannya yang lain. Di sana, di meja kerjanya dia mendapati Pak Adnan sedang duduk menatap kedatangannya.
"Apa yang membuatmu menghindariku, Ia?."
"Pak, aku hanya nggak mau ada gosip ada cerita buruk tentang bapak karena aku. Jadi aku pikir kita kembali aja ke setelan awal di mana bapak atasanku dah aku bawahan bapak."
Pak Adnan tersenyum tipis.
"Kamu takut?."
"Iya, aku takut semuanya rusak karena aku."
"Apa ada yang mempengaruhimu?."
"Nggak ada, Pak, ini murni karena pikiranku sendiri."
Pak Adnan bangkit lalu berdiri sangat dekat dengan Dahlia.
"Buang jauh-jauh rasa takutmu, Ia, aku nggak akan apa-apa hanya karena cerita atau gosip buruk tentangku. Aku bahkan nggak peduli dan aku bisa pastikan nggak bakal ada cerita buruk tentang aku atau kamu di kantor ini. Aku yang megang kendali semuanya, Ia, tetap di sisiku dan percaya padaku."
Tangan Pak Adnan membelai wajah Dahlia, perempuan itu cantik apa adanya.
"Pasti kamu nggak tidur?."
Dengan cepat Dahlia menggeleng.
"Karena rindu aku?."
Dahlia tersenyum mendengar rasa percaya dirinya yang begitu besar.
Senyum itu hilang saat ibu jati Pak Adnan mengenai bibirnya namun tidak ada gerakan apa pun.
Lusi yang baru datang hanya bisa diam mematung di tempatnya, kini matanya menangkap langsung kedekatan Dahlia dan Pak Adnan yang begitu intim.
Dia tidak berani mengedipkan matanya, berharap ada adegan yang ingin dilihatnya. Namun sayang, tidak ada yang terjadi antara Pak Adnan dan Dahlia. Kedua orang itu lalu menoleh menatapnya.
"Aku nggak melihat apa-apa kok, sumpah."
Lusi tahu arti tatapan Pak Adnan karena dia sendiri diminta bosnya itu untuk selamanya tutup mulut dan tutup mata mengenai dirinya dan Dahlia jika masih mau bekerja di perusahaan.
Pak Adnan menarik Dahlia berjalan melewati Lusi yang hanya bisa menatapnya. Pak Adnan membawa Lusi ke lantai atas. Sambil menunggu Pak Adnan mandi, kali ini Dahlia yang menyiapkan sarapan sederhana untuk bosnya.
"Makan bersama kita?."
Pak Adnan yang sudah tampan dan rapi duduk di depan makanan yang sudah jadi.
"Pak Adnan aja, aku belum lapar."
"Suapai kalau begitu."
Tanpa protes dan drama, Dahlia langsung duduk dan menyuapi Pak Adnan sampai makanannya habis.
"Jangan pernah pergi dariku, Ia, konyol memang aku seperti anak kecil. Tapi aku benar-benar nggak mau kehilangan kamu."
Lalu Pak Adnan memeluk Dahlia.
"Aku akan menemanimu ke pengadilan, putusannya akan dibacakan."
"Iya."
Dahlia dan Pak Adnan sudah berada di pengadilan, Ryan pun datang untuk pertama kalinya.
Hakim bersiap membacakan putusan cerai di saat bersamaan Dahlia jatuh pingsan.