Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-H: Gagal Fokus
Suasana aula yang sibuk mendadak terasa dingin saat Axel melangkah masuk dengan kemeja flanel branded yang licin tanpa cela.
Ia berjalan menghampiri Every yang tengah berjongkok, mencoba merapikan tumpukan kabel proyektor dengan wajah yang sudah coreng-moreng terkena debu dan keringat yang menempel di pelipis.
"Every? My God, kamu lihat diri kamu sendiri," suara Axel terdengar sangat lembut, namun nadanya sarat akan penghinaan terselubung. "Kamu itu Ketua BEM, simbol kampus. Kenapa kamu harus kerja kasar kayak kuli begini? Lihat tangan kamu, Every. Kotor."
Every mendongak, menyeka keringat dengan punggung tangannya yang justru menambah noda hitam di pipinya. "Gue cuma mau mastiin semuanya beres, Axel. Nggak ada waktu buat jaga penampilan."
"Nggak, ini salah," Axel menggeleng, tangannya terulur menarik paksa pergelangan tangan Every saat gadis itu hendak mengangkat kotak peralatan kecil. "Stop. Kamu nggak pantas pegang ini."
"Axel, lepas! Ini cuma kotak baut!" Every mencoba menarik tangannya, namun tarikan Axel yang mendadak membuat kotak itu terlepas dan isinya—ratusan baut dan mur kecil—tumpah berantakan ke lantai, menimbulkan suara dentang yang nyaring.
Prang! Klunting!
Seluruh panitia berhenti bekerja. Bisik-bisik mulai menjalar.
"Tuh kan, berantakan," ujar Axel tanpa rasa bersalah. "Makanya, kamu duduk aja. Biar orang-orang kelas bawah yang urus ini."
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menyelimuti mereka. River berdiri tepat di belakang Every. Aura dominasinya meledak seketika.
Tanpa berkata-kata, River berjongkok, dengan kecepatan luar biasa mulai memunguti baut-baut itu satu per satu.
"Setiap inci pekerjaan Every di sini adalah instruksi gue," suara River rendah, penuh ancaman. "Kalau lo rasa tangan dia nggak pantas kotor, itu artinya lo ngerendahin semua orang yang lagi kerja di sini."
River berdiri, menatap Every sejenak dengan tatapan posesif yang dalam. "Eve, duduk di kursi juri. Bawa papan jalan lo. Nilai kerjaan gue. Biar gue yang kerjain semuanya, termasuk bagian yang lo kerjain tadi."
River langsung bergerak. Apa pun yang Every lirik—kabel yang menjuntai, spanduk yang miring, atau kardus yang menghalangi jalan—River langsung menyikatnya habis. Ia bekerja seperti mesin, otot lengannya menegang hebat setiap kali ia mengangkat beban, seolah ingin menunjukkan pada Axel siapa pria yang sebenarnya dibutuhkan di sana.
Axel yang merasa tersinggung lantas menghadang jalan River. "Lo cuma jadiin dia alasan buat pamer kekuatan. Lo pikir dengan kerja kasar begini lo lebih baik dari gue?"
River berhenti, menjatuhkan kotak kayu yang ia bawa dengan dentuman keras. Ia maju satu langkah, menipiskan jarak hingga dadanya bersentuhan dengan dada Axel.
"Gue nggak pamer," desis River. "Every itu pemimpin. Dia kerja karena dia peduli. Sedangkan lo? Lo datang ke sini cuma buat ngerusak fokus dia dengan kalimat-kalimat sampah lo."
"Gue cuma jagain martabat dia sebagai wanita!" balas Axel sengit.
"Martabat dia ada pada kerja kerasnya, bukan pada bedak di mukanya!" River mencengkeram kerah Axel, membuat suasana benar-benar mencekam. "Sekali lagi lo tarik tangan dia sampai barang-barangnya jatuh... gue pastiin tangan lo nggak akan bisa dipake buat benerin kerah baju lo lagi."
Every berdiri mematung di tengah aula. Ia melihat River yang begitu beringas membelanya, dan Axel yang terlihat pucat namun tetap menantang.
"CUKUP!" teriak Every, suaranya menggelegar di aula yang sunyi. "River, lepasin dia! Axel, pergi dari sini sekarang sebelum gue coret nama lo dari daftar tamu VVIP!"
---
Malam lembur H-1 berubah menjadi ajang komedi dadakan.
Di sudut aula, beberapa anak BEM Teknik sedang mendemokan robot pembersih debu yang malah berputar-putar menabrak kaki Bimo, membuat Every tertawa lepas sampai matanya menyipit.
"Bimo! Robotnya tahu mana sampah mana manusia ya?" Every tertawa renyah, wajahnya yang tadi coreng-moreng kini terlihat sangat manis di bawah lampu aula yang temaram.
"Enak aja! Ini robotnya kurang sensor rasa hormat sama senior!" gerutu Bimo sambil melompat-lompat menghindari tabrakan robot.
River, yang sedang duduk di atas kotak peralatan sambil menyesap kopi hitam, diam-diam memperhatikan Every dari jauh.
Setiap kali Every tertawa, sudut bibir River ikut terangkat, meski ia segera menutupinya dengan cangkir kopi begitu Recha melirik ke arahnya.
"Cie, ada yang matanya lengket ke arah kursi Ketua," goda Recha.
"Kopi gue pait, Cha. Jangan ditambahin drama," sahut River datar, tapi matanya tetap tidak bisa bohong.
Jam menunjukkan pukul satu pagi. Satu per satu anggota tumbang.
Every yang sejak tadi sibuk merevisi naskah pidato, akhirnya menyerah. Ia meringkuk di sofa kulit tua di tengah aula, kepalanya terkulai dalam posisi yang sangat tidak nyaman, hampir merosot ke lantai.
River berdiri, berniat mendekat, tapi langkahnya terhenti.Gengsi. Kalau dia yang membenarkan posisi kepala Every, besok satu kampus bakal gempar.
River menyenggol lengan Recha yang sedang asyik main ponsel. "Cha. Tuh, liat Ketua lo. Lehernya bisa patah kalau tidurnya kayak gitu."
"Ya lo lah yang benerin, Riv. Kan lo yang paling deket," balas Recha cuek.
"Gue tangan gue kotor bekas oli, nanti mukanya jadi item semua. Buruan, benerin pake bantal leher gue di dalem tas," perintah River dengan nada otoriter, padahal alasannya dicari-cari.
Recha mendengus tapi tetap berjalan menghampiri Every, membenarkan posisi kepalanya dan menyelimutinya dengan jaket milik... River.
River hanya memantau dari jauh, memastikan "musuh besarnya" itu tidur nyenyak sebelum ia sendiri kembali berkutat dengan kabel-kabel.
---
Hari festival tiba. Seluruh kampus berubah menjadi lautan warna dan teknologi. Namun, pusat gravitasi hari itu hanya satu: Every Riana.
Every muncul dengan balutan blazer formal berwarna putih gading yang dipadukan dengan rok plisket senada. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipulas make-up natural. Ia tampak sangat profesional, sangat cantik, dan sangat... jauh dari jangkauan.
River yang sedang bertugas di depan pintu masuk utama, mendadak berhenti bernapas saat Every berjalan melewatinya dengan aroma parfum stroberi yang memabukkan.
"River, semua pos aman?" tanya Every, berhenti tepat di depan River sambil merapikan name tag-nya.
River terdiam selama tiga detik penuh. Matanya menyisir wajah Every—dari bibir merah mudanya hingga tatapan matanya yang tajam. "Ekhm... aman. Semuanya terkendali."
"Lo... kok nggak pake seragam BEM yang gue kasih?" Every mengerutkan kening melihat River tetap memakai kemeja tangan panjang yang lengannya digulung hingga menonjolkan otot lengannya.
"Seragam lo terlalu sempit di bahu gue. Nanti kalau gue harus gerak cepet malah robek," jawab River asal, padahal sebenarnya dia hanya ingin terlihat berbeda.
"Alasan! Bilang aja lo mau pamer otot tangan lo itu!" Every mendesis, tapi wajahnya memerah.
River mendekat, berbisik tepat di telinga Every hingga gadis itu merinding. "Kenapa? Lo gagal fokus liat otot gue? Padahal gue dari tadi udah gagal fokus liat lo yang tiba-tiba berubah jadi manusia, bukan lagi jadi macan BEM."
"River! Gue serius!"
"Gue juga serius, Every," River mundur selangkah, kembali ke mode sweet enemy. "Jangan senyum terlalu lebar ke tamu-tamu itu. Fokus ke pidato lo, jangan sampai lo gagap gara-gara grogi diliatin gue."
"Gue nggak akan grogi gara-gara lo!" Every menghentakkan kakinya dan berjalan pergi menuju panggung.
River menatap punggung Every dengan pandangan intens. Ia sadar, Every adalah musuh paling manis yang pernah ia ciptakan sejak hari pertama pemilihan ketua.
Baginya, Every bukan sekadar gadis cantik; dia adalah tantangan, lawan debat yang sepadan, dan satu-satunya orang yang bisa membuat seorang River Armani merasa "kalah" hanya dengan satu senyuman.
"Cantik sih... tapi tetep aja rewelnya nggak ilang," gumam River pelan, tersenyum kecil sambil kembali mengatur barisan keamanan dengan tangan yang terselip di saku celana.