Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela apartemen Arga dan Nabila terasa hangat, namun suasana di dalamnya jauh dari kata tentram. Nabila, yang biasanya ceria sambil menyiapkan kopi, kini lebih banyak terdiam.
Matanya sesekali melirik ke arah Arga yang tampak sangat sibuk dengan ponselnya, jemarinya bergerak gelisah di atas layar, seolah-olah sedang menghalau sesuatu yang tak kasatmata.
Setelah kejadian parfum dan kebohongan tentang makan malam tempo hari, dinding transparansi di antara mereka mulai retak. Nabila bukan wanita yang suka meledak-ledak, sebagai pengacara, ia lebih suka mengumpulkan bukti sebelum menjatuhkan vonis. Namun, hati seorang istri memiliki insting yang melampaui logika hukum mana pun.
Sekitar pukul sepuluh pagi, saat Arga masih bersiap-siap berangkat dan Nabila sedang merapikan berkas sidangnya, bel pintu apartemen berbunyi.
Nabila membukanya dan menemukan seorang kurir membawa buket bunga yang sangat besar. Bukan sekadar buket biasa, melainkan rangkaian mawar merah darah yang dikelilingi oleh bunga lili putih, kombinasi yang mencolok, mahal, dan sangat provokatif.
"Kiriman untuk siapa, Pak?" tanya Nabila, matanya menyipit.
"Untuk Bapak Arga Mandala, Bu. Di alamat ini benar?" jawab kurir itu sopan.
Nabila menerima buket itu. Beratnya terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Harum bunga lili yang menyeruak seketika memenuhi indra penciumannya, aroma yang sama dengan parfum yang menempel di jas Arga beberapa hari lalu. Tangan Nabila gemetar saat ia menemukan sebuah kartu kecil yang terselip di antara kelopak mawar.
Ia membukanya. Tulisan tangan di dalamnya sangat rapi, menggunakan tinta emas yang elegan.
"Untuk pria yang paling mengerti aku di kantor. Terima kasih untuk malam yang tak terlupakan itu."
Darah Nabila seolah berhenti mengalir. Kalimat itu bukan sekadar ucapan terima kasih, itu adalah deklarasi perang. "Malam yang tak terlupakan?" Pikiran Nabila langsung melayang ke malam saat Arga mengaku makan malam dengan kolega karena dipaksa Pak Roy.
"Siapa yang datang, Nabila?" suara Arga muncul dari arah kamar, ia sudah rapi dengan kemejanya.
Arga terpaku di tempatnya saat melihat buket raksasa di tangan Nabila. Wajahnya yang semula tenang mendadak pucat pasi. Ia mengenali gaya rangkaian bunga itu. Itu adalah gaya favorit Siska, selalu berlebihan dan selalu ingin mendominasi ruangan.
Nabila menyerahkan kartu kecil itu kepada Arga tanpa sepatah kata pun. Matanya menatap Arga dengan sorot yang dingin, menuntut penjelasan yang lebih dari sekadar alasan teknis.
Arga membaca kartu itu dan merasa dunia di bawah kakinya runtuh. "Nabila... ini... ini pasti salah kirim. Aku tidak tahu apa-apa tentang ini. Mungkin ini untuk Arga yang lain di kantor," ucap Arga, suaranya terdengar sangat rapuh bahkan di telinganya sendiri.
"Arga Mandala yang lain? Di unit 12B apartemen ini?" suara Nabila bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang membuncah. "Dan 'paling mengerti di kantor'? Berapa banyak Arga Mandala yang bekerja di Airborne Group, Mas?"
"Sayang, tolong dengar aku. Siska... maksudku Bu Siska, dia memang sering bertindak aneh. Ini mungkin hanya cara dia untuk berterima kasih karena proyek kemarin sukses besar," Arga mencoba mendekat, namun Nabila mundur satu langkah.
"Berterima kasih dengan mawar merah? Dan dengan kalimat 'malam yang tak terlupakan'?" Nabila tertawa pahit. "Kau menganggapku bodoh, Mas? Sebagai pengacara, aku tahu persis arti dari diksi seperti ini. Ini bukan hubungan profesional!"
Tepat di saat ketegangan mencapai puncaknya, ponsel Arga yang tergeletak di meja makan bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang sekarang menjadi mimpi buruk bagi Arga - SISKA ROY.
Arga tidak ingin mengangkatnya. Ia ingin mematikan ponsel itu dan melemparnya ke luar balkon. Namun, Nabila justru meraih ponsel itu terlebih dahulu.
"Angkat," perintah Nabila singkat. "Gunakan speakerphone. Aku ingin mendengar suara wanita yang 'paling kau mengerti' di kantor."
Arga menelan ludah. Keringat dingin mengucur di punggungnya. Dengan tangan yang sangat gemetar, ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara.
"Halo..." suara Arga terdengar sangat tipis.
"Halo, Arga-ku..." suara Siska terdengar sangat merdu, namun bagi Arga itu adalah lonceng kematian. Siska sengaja memberikan jeda yang panjang. "Sudah terima bunganya ? Mawar itu mengingatkanku pada gaun yang kupakai semalam saat kita makan malam. Kau ingat kan, bagaimana kau bilang warna itu sangat cocok untukku ?"
Arga mematung. Siska sedang melakukan gaslighting tingkat tinggi. Dia tahu Arga sedang berada di rumah, dan dia tahu kemungkinan besar Nabila sedang mendengarkan.
"Bu Siska, tolong jangan bicara sembarangan. Saya sedang bersama istri saya," ucap Arga tegas, mencoba memberikan sinyal pada Siska untuk berhenti.
Namun, Siska justru tertawa. Suara tawanya yang renyah dan penuh kemenangan terdengar sangat jelas di seluruh penjuru ruang tamu. Itu adalah tawa seorang pemenang yang sedang menikmati kehancuran mangsanya.
"Oh, hai Nabila! Maaf ya kalau aku mengganggu waktu kalian," Siska bicara seolah-olah mereka adalah teman lama. "Arga benar-benar pria yang hebat di kantor. Dia sangat... perhatian. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa bantuannya semalam. Dia benar-benar mengerti bagaimana cara 'menenangkan' atasannya."
Siska sengaja menekankan kata 'menenangkan' dengan intonasi yang sangat ambigu.
"Siska! Cukup!" Arga berteriak dan langsung mematikan sambungan telepon itu.
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Napas Nabila tersengal. Ia meletakkan ponsel Arga kembali ke meja dengan perlahan, seolah-olah benda itu adalah benda beracun.
"Menenangkan?" bisik Nabila. "Mas... apa yang sebenarnya kau lakukan semalam? Kenapa dia bicara seolah kalian punya hubungan yang sangat intim?"
"Nabila, dia bohong! Dia gila! Dia sengaja ingin menghancurkan kita karena dia adalah..." Arga nyaris mengatakan bahwa Siska adalah mantan kekasihnya, namun ia ketakutan. Ia takut kebenaran itu akan menjadi paku terakhir di peti mati pernikahan mereka.
"Dia adalah apa, Mas? Katakan!" Nabila menuntut.
"Dia adalah wanita yang terobsesi pada kekuasaan, Nabila. Dia ingin semua orang di kantor tunduk padanya, termasuk aku. Dia melakukan ini untuk mengetes kesetiaanku pada perusahaan," Arga memberikan alasan yang paling masuk akal yang bisa ia pikirkan dalam kondisi panik.
Nabila menatap bunga-bunga itu, lalu menatap Arga. "Kesetiaan pada perusahaan tidak butuh mawar merah, Mas. Dan kesetiaan pada istri tidak butuh kebohongan."
Nabila masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Arga berdiri sendirian di ruang tamu, dikelilingi oleh harum bunga lili yang sekarang terasa seperti bau busuk. Ia melihat ke arah buket bunga itu dan dalam kemarahan yang meluap, ia menyambar rangkaian bunga itu dan melemparnya ke tempat sampah di lorong apartemen.
Di dalam kamar yang terkunci, Nabila tidak menangis. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil laptopnya, dan mulai mengetik. Jika suaminya tidak bisa memberikan kebenaran, maka ia akan menemukannya sendiri.
Sebagai pengacara, Nabila memiliki akses ke beberapa jaringan detektif swasta dan database publik. Ia mulai menelusuri sejarah Siska Roy sebelum dia menikah dengan Pak Roy. Ia menemukan data bahwa Siska pernah tinggal di London sepuluh tahun lalu, waktu yang sama saat Arga seharusnya berangkat ke London namun gagal.
Nabila mengerutkan kening. Kebetulan ini terlalu besar untuk diabaikan.
Ia kemudian membuka akun media sosial lama Siska yang sudah tidak aktif. Ia melakukan teknik scrolling mendalam hingga ke unggahan sepuluh tahun silam. Dan di sana, ia menemukan sebuah foto buram. Seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Siska sedang berdiri di depan sebuah bandara, menggandeng tangan seorang pria yang wajahnya sengaja dipotong dari bingkai foto. Namun, pria itu mengenakan jam tangan yang sangat familiar di mata Nabila.
Jam tangan tua merek Seiko dengan goresan kecil di bagian kaca, jam tangan yang sering dipakai Arga saat mereka masih kuliah dan akhirnya rusak.
Tangan Nabila membeku di atas trackpad laptopnya. "Jadi... ini bukan sekadar teror atasan pada bawahan. Ini adalah masa lalu yang kembali."
Nabila menutup laptopnya perlahan. Ia merasa dadanya sesak, bukan hanya karena cemburu, tapi karena dikhianati oleh kejujuran Arga. Ia tidak keberatan jika Arga punya masa lalu, setiap orang punya. Namun, ia tidak bisa memaafkan jika Arga membiarkan masa lalu itu masuk ke dalam rumah tangga mereka dan merusaknya dengan kebohongan demi kebohongan.
~~
Sementara itu, di kantor megahnya, Siska Roy sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memutar-mutar ponsel di tangannya. Ia melihat ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Senyum di bibirnya tidak memudar sejak ia menutup telepon tadi.
"Satu buket bunga, satu panggilan telepon, dan satu tawa... cukup untuk membuat retakan besar di surga kecil kalian," gumam Siska.
Ia tidak peduli jika Arga membencinya sekarang. Baginya, kebencian adalah bentuk perhatian yang paling murni. Selama Arga masih merasakan emosi terhadapnya, entah itu marah, takut, atau benci, artinya Arga belum melupakannya. Dan Siska akan memastikan bahwa dalam setiap hembusan napas Arga, akan ada bayangan Siska yang menghantuinya.
Siska menekan tombol di interkomnya. "Sekretaris, batalkan semua jadwal rapat Pak Arga Mandala untuk sore ini. Katakan padanya ada 'pertemuan darurat' di ruanganku untuk membahas audit proyek Kalimantan. Pastikan dia tidak punya alasan untuk pulang cepat."
Siska bersandar di kursinya, matanya berkilat penuh obsesi. Permainan kucing dan tikus ini baru saja dimulai, dan dia sudah menyiapkan jebakan-jebakan berikutnya yang jauh lebih berbahaya.
Dia akan membuat Arga kehilangan segalanya, sampai Arga tidak punya pilihan lain selain kembali ke pelukannya, seperti sepuluh tahun lalu, namun kali ini, Siska-lah yang akan memegang kendali atas hidup dan matinya pria itu.
Di apartemen, Arga mengetuk pintu kamar berkali-kali, memohon maaf, namun yang ia dengar hanyalah keheningan yang dingin. Arga tidak tahu bahwa di dalam sana, istrinya tidak sedang meratapi nasib, melainkan sedang menyiapkan berkas pembelaan untuk mempertahankan martabatnya.
Malam itu, kiriman tanpa nama itu telah berhasil melakukan tugasnya, memisahkan dua hati yang sebelumnya tak terpisahkan.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰